JANGAN coba-coba menulis cerita pendek (cerpen) berbahasa Bali dengan menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI), apalagi diikutkan dalam lomba. Hal itu akan mudah diketahui.
“Penggunaan AI dalam bahasa Bali sangat mudah dikenali. Berbeda dengan bahasa Indonesia atau Inggris yang masih bisa tersamarkan, dalam bahasa Bali hasil AI justru terlihat kacau,” kata I Made Sugianto, sastrawan dan juga pemerhati Bahasa Bali.
Sugianto mengatakan hal itu berkaitan dengan Lomba Cerpen Bali dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026. Sugianto menjadi juri dalam lomba itu bersama IGB Weda Sanjaya (guru dan sastrawan Bali modern), dan I Putu Supartika (sastrawan dan pengelola web Suara Saking Bali).
Usai proses penjurian, Minggu 15 Februari 2026, Sugianto mengatakan pada lomba menulis cerpen berbahasa Bali kali ini terdapat lonjakan peserta yang signifikan. Jika tahun-tahun sebelumnya hanya diikuti 50–70 orang, kini jumlahnya menembus 132 peserta.
Namun di balik peningkatan itu, muncul persoalan baru. Para juri menemukan cukup banyak cerpen yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
“Jumlah peserta lomba adalah pencapaian membanggakan karena peserta naik drastis, tapi sayangnya ada yang menggunakan AI,” ujar Sugianto.
Penggunaan AI dalam menulis cerpen berbahasa Bali akan terdeteksi dengan mudah karena bahasanya jadi aneh dan tidak wajar.
“Bahkan muncul kata-kata yang tidak dikenal dalam bahasa Bali seperti ‘dalan’, ‘wetan’, ‘kulon’. Judulnya juga terasa janggal,” kata Sugianto.
Dari hasil penilaian, sekitar 20 persen cerpen diduga dibuat atau diterjemahkan menggunakan AI. Para juri sepakat untuk langsung mendiskualifikasi karya-karya tersebut.
Weda Sanjaya menambahkan, selain bermasalah secara bahasa, cerpen buatan AI juga terasa hambar.
“Karyanya tanpa jiwa,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui banyak ide cerita yang sebenarnya potensial, tetapi belum digarap maksimal. Beberapa cerita melebar tanpa arah, sementara lainnya terlalu bertele-tele.
Di sisi lain, ada pula peserta yang menyusun cerita berbasis riset, menunjukkan keseriusan dalam penggarapan.
Sementara itu, Supartika menilai tema yang diangkat masih didominasi unsur mistik, lontar, serta upaya memasukkan tema Atma Kerthi–Udiana Purnaning Jiwa secara terpaksa.
“Sebagian terasa menggurui dan penuh petuah. Tapi ada juga yang mengejutkan, misalnya menjadikan botol plastik sebagai tokoh utama. Ada pula yang mengangkat latar sejarah 1965 di Bali hingga luar negeri,” paparnya.
Dari segi alur, mayoritas cerita masih bergerak linear dari awal hingga akhir tanpa eksplorasi struktur naratif. Banyak karya juga terasa seperti satua Bali, belum berani keluar dari pola yang sudah umum.
Adapun pemenang lomba cerpen Bali tahun ini adalah:
- Juara I: Mangmung Langit Bukarés karya I Gede Aries Pidrawan
- Juara II: Medal Medil karya Kadek Wahyu Ardi Putra
- Juara III: Kasasar di Suungé karya Pande Putu Abdi Jaya Prawira
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























