LANTAI bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, seakan disulap sebagai banjar adat yang sedang melakukan upacara yadnya. Ibu-ibu yang hadir tampil cantik mengenakan busana adat Bali, dengan sanggul terselip bunga cempaka emas juga bunga hidup yang tak pernah redup. Mereka tampil bungah dengan penuh semangat menuas janur yang indah penuh makna. Sementara yang lainnya menusuk buah dengan lidi, dan menyusun buah, jajan, dan bunga berbentuk kerucut (gunung).
Itu suasana dari lomba membuat gebogan dalam pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII yang dirangkaian dengan Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-38 Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Kamis 12 Pebruari 2026. Lomba ini tak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi sebuah edukasi khususnya bagi generasi muda. Sebab, yang tampil sebagai peserta lomba lebih banyak anak-anak muda yang tengah getol melestarikan budaya Bali.
Lomba membuat gebogan ini diikuti oleh 9 kelompok yang merupakan perwakilan dari anggota WHDI kabupaten dan kota di Bali. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 anggota yang masing-masing memiliki tugas, namun tetap bekerjasama untuk lebih cepat dan tepat dalam merangkai buah itu. Mereka memanfaatkan ruang yang ada, seperti di banjar. Ada yang menuas janur di lantai dan ada yang memasang buah serta jaja (kue). Semangat yang dibarengi kerjasama.

Dewan juri, I Gede Anom Ranuara peserta lomba gebogan ini sangat kreatif. Mereka mampu membuat gebogan yang tak merangkai buah dengan indah, tetapi juga sangat lengkap. Lomba ini secara tidak langsung mampu menuntun atau mengajar kembali kreativitas generasi muda. “Ini membutuhkan proses yang secara rutinitas, ketika ada proses, jelas berpijak pada etika dan aturan. Mau tidak mau, disitu ada edukasi mengembalikan tatananan etika, estetika dan logika dalam berprilaku di masyarakat, dan lomba gebogan ini salah satu medianya,” katanya.
Dalam satu kelompok, itu ada tiga orang yang menuntut sebuah kerjasama menjadi sebuah edukasi, bagaimana tim work menyikapi tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Satu orang di sampian, satu orang di buah dan satu orang merangkai merupakan latihan kerjasama yang baik. “Pembagian tugas itu pasti, sehingga saat latihan juga ada pembagian tugas. Ini sebagai implementasi dalam kehidupan masyarakat, pembagian tugas dan tanggung jawab,” ujarnya.
Sementara disebelahnya, ibu-ibu sibuk membuat pejati. Satu kelompok terdiri dari 2 anggota yang sangat kreatif dalam merangkai janur. Buktinya, pejati yang dibuatnya tak hanya dengan bahan yang lengkap, tetapi juga indah. “Lomba ini sebagai upaya menjaga kegiatan membuat pejati tidak punah, dan menumbuhkan regenerasi. Selaian itu, perlu pemahaman terhadap isi dan komponen dari pada pejati, sesuai dengan sumber dan makna filosofis,” paparnya.
Jika di lantai bawah Gedung Ksirarnawa ibu-ibu sibuk membuat gebokan dan pejati, lalu di lantai atas para wanita tengah melantunkan kidung. Peserta lomba kidung itu terfiri dari lima anggota. Sementara di Kalangan Angsoka, ibu-ibu tengah berjuang dalam memenangkan juara lomba Membaca Kekawin. Masing-masing peserta terdiri dari seorang pengwacen dan seorang peneges. Sedangkan di Kalangan Ratna Kanda, ibu-ibu memikat pengunjung dengan lomba Dharma Wacana.

Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya, mengatakan, ada pelaksanaan BUlan Bahasa Bali hari ini kegiatannya lebih beragam karena Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan bekerjasana dengan WHDI memeriahkan HUT ke-38 WHDI menyenggarakan lomba-lomba. Dari lima lomba itu, lomba membuat gebogan dan membuat pejati yang menjadi daya tarik. Lomba gebogan dan pejati itu diikuti kuala muda yang membuktikan budaya membuat gebogan sudah digemari anak-anak muda.
Pesertanya merupakan perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali yang tampil secara antusias, dan sungguh memikat. Lomba membaca kakawin pesertanya 2 orang, dharma wacana pesertanya 1 orang, kidung masing-masing duta melibatkan 5 orang, pejadi satu grup dengan 2 orang dan gebogan terdiri dari 3 orang dari masing-masing kabupaten. “Dalam lomba gebogan itu, telah disepakai menggunbakan buah local,” katanya.
Ketua panitia, dr. Made Ayu Witriasih, M.Kes,.SpKKLP mengatakan, perayaan HUT WHDI kali ini untuk Provinsi Bali kenbetulan bersamaan dengan Bulan Bahasa Bali, sehingga melakukan kerjasama dengan Dinas Kebudayaan (Disbud). Sinergi ini dilakukan karena memiliki tujuan yang sama yakni untuk pelestarian budaya, dan kebetulan pelaksanaanya juga di bulan Pebruari. “Kali ini WHDI melaksanakan lima lomba, seperti mekidung, darmawanacana, membaca kakawin, membuat gebogan dan pejadi,” upanya.
Witriasih menegaskan, sebelum lomba WHDI bersama pakar melaklukan pembinaan di kabupaten dan kota di Bali. Tujuannya untuk mensosialisasikan kepada anggota WHDI terkait lomba-lomba yang dilakukan. “Kami mengajak pakar untuk memberikan pengiartian, kapasitas dan pemahaman terhadap jenis lomba yang akan digelar. Dalam hal ini, kami mengajak narasumber yang kompeten,” sebutnya.


Tujuan pembinaan itu untuk peningkatkan kapasitas dan pemahaman termasuk penguatan peran aktif anggota WHDI di daerah. “Lomba ini bukan semata-mata kompetisi, namun yang terpenting adalah edukasi dan pelestarian budaya. Karena itu, di dalamnya itu lintas gender generasi, maka itu kebanyakan anak-anak muda, karena anggota WDI itu semua wanita anggota agama hindu yang berumur 18 tahun atau sudah menikah,” paparnya.
Sementara Wakil Ketua Made Rai Tantri mengatakan, WHDI memiliki 5 bidang oraganisasi, yaitu Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, Ekonomi, Sosial, dan Bidang Organisasi/Umum. Dalam rangka HUT ke-38 ini bukan melaksankan kegiatan lomba saja, tetapi sebelumnya sudah ada kegiatan bernuansa agama, seperti dharma wacana dalam rangka Hari Siwalatri, ngayah Rejang pada saat upacara karya Besakih dan Uluwatu.
Ikut pula dalam tim penyusunan Buku Darmagita yang akan di louncing dalam perayaan HUT tahun 2026 ini. Di bidang sosial melakukan kunjungan ke Panti Werdha, Donor Darah dan melaksanakan sosialisasi tentang pengolahan sampah serta sososliasasi prilaku hidup bersih di pura. “WHDI juga memiliki program sosialisasi pra nikah untuk umat Hindu,” tutupnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























