PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok itu Nyoman Santosa tertidur. Sementara di tengah-tengah panggung, terpasang layar, lalau pada layar itu diputar gambar-gambar videe tentang aktivitas siswa yang sedang kengikuti aktivitas di sekolah. Ternyata Nyoman Santosa sedang bermimpi. Ia mimpi bersekolah untuk menggapai cita-citanya menjadi guru.
Tayangan video itu pun meredup, Nyoman Santosa terbangun. Musik mulai dimainkan dengan perlahan dan lembut. Nyoman Santosa memanggil ibunya, Mén Madu. Kepada sang ibu ia bercerita tentang mimpinya menjadi seorang guru.
Ibunya tampak bersedih. Ia meminta Nyoman Santosa mengurungkan niatnya, dan tetap tinggal di desa menjaga ternak dan sawah yang ditinggalkan ayahnya. Nyoman Santosa tak mengihiraukan, ia meninggalkan ibunya. Ia bertekad untuk tetap bersekolah.
Itulah kisah awal sasolahan (pertunjukan) Drama Bali Modern berjudul “Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang” serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa 10 Pebruari 2026.


Drama berdurasi sekitar satu jam itu disajikan oleh Teater Jungut Sari berkolaborasi dengan Taksu Bhuana. Kisah itu diangkat dari novel karya Djelantik Santha, yang kemudian sebagai garapan seni pertunjukan dengan nuansa-nuansa baru, kekinian, mengibur, dan membuat penonton hanyut dalam kisah itu.
Drama itu berkisah tentang jalinan cinta Nyoman Santosa, Made Arini dan Gusti Ayu Jinar. Kisah cinta yang begitu dekat dengan hati penonton itu disukung oleh permainan para aktor-aktor muda, yang mampu memerankan setiap tokoh yang mereka bawakan di atas panggung dengan begitu apik sekaligus wajar.
Meski pendukung drama Bali modern ini tergolong masih muda, karena didukung siswa SMA Negeri 1 Sukawati, namun semua pemain tampak lihai membeberkan kisah yang sarat pesan itu.
Penonon memenuhi hampir semua kursi di gedung pertunjukan modern itu. Mereka tampak menikmati kisah cinta yang disampaikan di atas panggung. Terkadang, beberapa di antaranya tampak sedih, apalagi kisah cinta Nyoman Santosa itu berakhir tragis. Terkadang mereka tertawa karena adegan itu dikemas kekinian, lucu dan menghibur.
Tokoh Nyoman Santosa yang aktif di sekolahnya, bertemu dengan Made Arini teman masa kecil dulu. Kisah pertemuannya itu mirip kisah dalam Drama Korea, di mana Santosa dan Arini berjalan mundur lalu bertabrakan, dan buku yang dipegang Arini jatuh. Arini dan Santosa bersama-sama jongkok mengambil buku itu. Penonton bertepuk tangan menyaksikan adegan itu.


Di sisi, kisah cinta Nyoman Santosa dan Gusti Ayu Jinar juga juga dilukiskan secara menarik di atas panggung. Apalagi, cerita itu menyinggung soal kasta. Cinta mereka punya sekat, yakni kasta, sehingga kisah cinta mereka penuh dengan perimbangan.
Selain soal cinta, kisah ini sesungguhnya punya pesan utama tentang bagaimana seseorang, dengan penuh perjuangan, bertekad untuk menggapai cita-cita. Nyoman Santosa bercita-cita menjadi seoarang guru, dan meski melewati berbagai rintangan, tekadnya tetap kuat untuk mewujudkan cita-citanya. Ia akhirnya lulus di SGB dan SGA yang akhirnya sukses menjadi guru.
“Proses pengalihwahanan dari novel ke drama menjadi sebuah tantangan. Karena dari 10 bab kemudian dikemas menjadi drama modern dengan durasi waktu 45 menit atau 1 jam,” kata Kadek Wahyu Ardi Putra yang bertindak sebagai pembina, sutradara dan penulis naskah pada pertunjukan itu.
Meski harus dipotong sana-sini, Wahyu Ardi mengatakan pertunjukan itu tetap harus mempertahankan kompleksitas cerita sebagaimana tertulis dalam novelnya. Ia kemudian melakukan siasat dengan memainkan simbol-simbol pada adegan tertentu, dan tetap mempertahankan cerita dari awal sampai akhir sesuai dengan cerita dalam novel.
“Kami tetap membawakan komplik cinta dua kali ditinggal mati untuk mendapatkan lebur ajur itu,” kata Wahyu Ardi.


Meski mengangkat kisah cinta Nyoman Santosa yang tragis, namun kisah itu disajikan secara biasa tanpa upaya berlebihan untuk mengeksploitasi kesedihan. Ceritanya mengalir seperti yang ada dalam teks novel. Tidak ada pesan yang disampaikan secara vulgar. Justru pesan itu ada ketika adegan seorang yang rakus dengan membabat hutan untuk ditenamin sawit. Banjir itu menghanyutkan rumah dan memakan korban, termasuk Gusti Ayu Jinar, pacar Nyoman Santosa.
“Dalam drama ini, kami hanya menekankan keseriusan Nyoman Santosa belajar untuk menjadi seorang guru,” papar Wahyu Ardi.
Wahyu Ardi mengatakan, kegigihan seseorang untuk menjadi seoarang guru dengan keadaan ekonomi yang kurang dan di tengah kesedihan karena ditinggal keluarganya, juga digarap dengan serius di atas panggung. “Kerja keras dan kegigihan menjadi seorang guru memang digarap dengan serius agar pesannya bisa sampai ke penonton,” kata Wahyu Ardi.
Kisah-kisah percintaan dalam drama ini, sangat dekat dengan kehidupan anak-anak muda masa kini. Misal seseorang ditinggal mati, konflik kasta, dan lainnya, yang kemudian digarap dengan menawarkan nilai-nilai positif untuk bisa menjadi refleksi bagi anak-anak muda masa kini. “Pesan yang kami sampaikan kepada anak-anak muda kini, bisa menyikapi segala permasalahan secara positif, jangan sampai putus asa, apalagi memutuskan untuk melakukan ulah pati,” kata Wahyu Ardi. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























