Ada yang membanggakan pada Wimbakara (Lomba) Gending Rare peserta SD di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 8 Pebruari 2026. Seluruh peserta tampil dengan kualitas vokal, sehingga bibit dan bobot kelihatan jelas. Bahkan, dari 24 peserta yang tampil, sebagian besar sudah menyentuh paksel (nada tinggi) atau jangkauan vokal atas dengan teknik pernapasan diafragma yang tepat.
“Kami melihat, peserta lomba dari kemarin sampai sekarang, khususnya untuk lagu pilihan ada perubahan yang segnifikan dari tahun sebelunnya. Biasanya, ketika anak anak lomba jarang menyentuh paksel itu, tetapi kali ini mereka mampu membawakan nada-nada tinggi dengan sempurna,” kata Dr. I Ketut Sumerjana, S.Sn,M.Sn didampingi juri Dr. I Gusti Putu Sumerjana, S.Sn., dan dr. Luh Putu Liana Indayana Dewi, M.Biomed (AAM).
Sumerjana menegaskan, dari segi teknik, anak-anak yang tampil dalam lomba ini berkembang sekali. Kelebihannya yang lain, dimana peserta lomba kali ini membawakan aransemen yang bagus sekali, bahkan naik hingga tiga level. Artinya, dari yang biasa plet, lalu sekarang ada yang bentuknya ensemble, orkestra dan lainnya. “Kami sangat mengapresiasi semua peserta. Setelah menikmati lagu-lagu itu, kami bertiga lebih clear menikmati, pesannya jelas, penyajinya luar biasa,” sebut dosen ISI Bali ini.
Cengkok masih tampak jelas, bahkan sekarang hampir semua peserta tampak kaya sekali. Itu tampak sekali saat membawakan lagu wajib “Bebeke Putih Jambul”. Kalau orang yang tidak belajar teknik, pasti akan kewalahan dalam bernafas. Dia pendek, tetapi padat sekali. “Kalau bias, kami berhatap yang menang bisa dibuatin kompilasi karena masing-masing peserta memiliki ciri khas tersendiri. Kompilasi itu bisa dijadikan koleksi gending rare,” usulnya.
Sumerjana menegaskan, Lomba Gending Rare peserta SD ini bukan lomba semata, tetapi ajang untuk generasi muda untuk betul-betul kokoh menjaga budaya Bali. Dalam ajang lomba itu, mereka mendapat pemahaman yang sangat penting. Apalagi, sekarang adanya kotak ajaib, sehingga mereka bisa saja abai dengan spilling-nya. “Maka dengan adanya lomba seperti ini mereka bisa bergaul, kembali berintetaksi dan bersosialisasi,” harapnmya.

Hal senada dikatakan Gusti Sudarta, yang mengaskan anakanak kini memiliki vokal yang sangat bagus, sehingga bibitnya sudah kelihatan. Mereka kelihatan sangat siap mengikuti lomba, dengan melatih vokalnya secara baik, suaranya hebat dan memiliki power. “Pencapaian wilayah nada juga bagus. Walau ada yang belum sempurna atau masih rendah, itu karena umur mereka masih belia,” ungkapnya.
Dosen Teater ISI Bali ini juga memuji vocal peserta lomba yang sangat baik. Mereka, tampak berlatih secara serius sebelum mengikuti lomba ini. “Makanya persaingan sangat ketat, dan bibitnya banyak yang muncul, gara-gara adanya lomba gending rare ini. Lomba gending rare ini berbahasa Bali untuk melihat kembali bahasa dalam menghadapi persaingan global,” jelas Gusti Sudarta.
Sementara Liana mengatakan, lagu wajib dalam lomba gending rare ini lebih menantang dari tahun sebelumnya. Bebek Putih Jambul, temponya sangat cepat, sehingga membuat anak-anak untuk mengontrol napas dengan baik. “Dalam tempo cepat itu, mereka masih bisa mengeluarkan vibra dinamik dan cengkok Balinya. Saya sangat kagum sekaligus bangga,” ucapnya.


Sementara lagu pilihan kali ini sangat banyak dan beragam. Itu sangat baik, tetapi lagu-lagu Bali di jaman sekarang kok musiknya kurang Bali. “Saya berharap kepada yang menciptakan lagu lagu Bali itu jangan lupakan rindiknya, sulingnya dan gamelan lainnya, sehingga ada nuansa Bali-nya juga. Boleh tetap modern atau ke pop, tetapi jangan lupakan bahasa Bali-nya,” usul mantan penyanyi cilik di tahun 2001-an itu.
Meski hampir semua peserta tampil bagus, namun dewan juri tetap memilih yang terbaik dari yang terbaik. Ketiga dewan juri itu kemudian menetapkan Made Amisha Rheata Distmika sebagai Juara I, serta Ni Luh Putu Eka Octaviani dan Ni Made Raisa Cempaka Ariana sebagai juara II dan Juara III. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























