“I’d Rather Go Blind” versi Chicken Shack bukan sekadar cover, ia adalah deklarasi keputusasaan yang membeku. Christine Perfect tidak sedang bernyanyi, ia sedang memilih kegelapan sebagai suaka terakhir. Lagu ini mengajak kita menyelami sebuah paradoks getir: bahwa kebutaan fisik terasa lebih ringan daripada menyaksikan realitas yang runtuh di depan mata. Dirilis pada 1969, lagu ini menjadi simbol kebangkitan blues Inggris, dengan suaranya yang mentah dan efek bass yang membangun fondasi muram nan menghunjam. Di antara ruang hampa dan melodi yang lugas menyayat, ia hadir bagai cermin retak bagi setiap jiwa yang pernah merasakan siksaan batin yang tak tertahankan.
Chicken Shack, band Inggris yang digawangi Stan Webb (gitar, vokal), Andy Silvester (bas), dan Alan Morley (drum), mulai menempuh jalur keras mereka di Star-Club, Hamburg, panggung yang membentuk reputasi banyak band Inggris kala itu. Christine Perfect merapat pada 1967, membawa warna vokal dan keyboard yang khas. Setelah penampilan perdana di Festival Jazz dan Blues Nasional Inggris, serta menandatangani kontrak dengan label Blue Horizon, mereka merilis singel pertama, “It’s Okay With Me Baby / When My Left Eye Jumps,” dengan Christine menggubah dan menyanyikan sisi A. Album kedua, OK Ken? (Februari 1969), melesat hingga peringkat ke-9 di tangga lagu Inggris, mengukuhkan mereka sebagai salah satu ujung tombak booming blues kulit putih akhir 1960-an.
Di tengah kekhawatiran bahwa popularitas akan meredup tanpa single yang ramah radio, band ini memutuskan merekam “I’d Rather Go Blind”, lagu milik Etta James yang telah populer di AS. Pada Februari 1969, di studio CBS London, mereka menggarapnya dengan aransemen blues bercampur rock. Christine Perfect, sebagai vokalis utama, menghidupkan sebuah versi yang “berani dan kasar,” jauh dari sentuhan soul orisinalnya. Keberhasilan single ini tak hanya mendefinisikan identitas blues-rock mereka, tetapi juga mengantarkan Christine, satu-satunya musisi perempuan dalam gerakan blues Inggris saat itu, menjadi Penyanyi Wanita Terbaik dalam jajak pendapat pembaca Melody Maker tahun 1969 dan 1970.
Di tangan Chicken Shack, “I’d Rather Go Blind” menjelma menjadi lebih dari sekadar balada cinta; ia adalah ekspresi yang visceral tentang naluri manusia untuk bertahan, sekaligus melarikan diri, dari luka yang terlalu dalam untuk dihadapi di depan mata.
Something told me it was over
When I saw you and her talking
Something deep down in my soul said, “Cry girl”
“I’d Rather Go Blind” adalah pengakuan jujur tentang luka yang terasa mustahil terobati, sebuah pengakuan bahwa buta lebih manusiawi daripada menyaksikan kekasih berpaling pada orang lain.
Versi Christine Perfect terasa suram, seolah semua cahaya telah tersedot oleh kesedihan. Namun, di balik itu tersimpan sebuah ketegaran. Ia menyampaikan keputusasaan, kerapuhan, dan penolakannya atas akhir sebuah hubungan dengan dingin yang menakutkan. Sikap menahan diri itu justru menciptakan kedalaman yang lebih gelap: bagai seseorang yang berbicara pada bayangannya sendiri di cermin, sambil menahan setiap isak.
Keheningan dan tempo lambat yang mereka pilih melahirkan sebuah kekosongan yang menggiring pendengar pada kesepian. Jeda di antara liriknya bagai memberi ruang untuk merasakan “kebutaan” yang ia rindukan. Ada ketenangan yang mematikan di sana, bukan ratapan seorang korban, melainkan tegarnya puing-puing jiwa yang masih berdiri di tengah reruntuhan perasaan.
Christine Perfect membuat lagu ini abadi. Kesuraman yang ia pancarkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah kejujuran yang berani. Diamnya menyimpan gemuruh ketidakamanan dan ketakutan akan ditinggalkan, terutama saat ia berbisik, “I don’t want to be free.”
Liriknya menyoroti cinta yang putus asa dan menguasai, sehingga hidup tanpa sang kekasih terasa mustahil dibayangkan: “I’d rather, I’d rather go blind, than to see you walk away from me.” Sebuah pernyataan paling puitis tentang keputusasaan, diucapkan tepat di tepi jurang kehancuran.
Dan dalam setiap hening setelah lagu berakhir, kita diajak bertanya: bukankah kadang, kegelapan memang lebih ramah daripada cahaya yang menerangi luka yang tak ingin kita lihat? [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























