PUISI YANG AKU TULIS DI AKHIR TAHUN
12 bulan mengambang gentayangan
panas membentang dengan getir
tak ada alir air
kaliku kering.
Hujan lahir
waktu waktu pandir digerus ketakpastian
janji janji harus dicatat pada penanggalan
senyum tegar harus berkibar
berlayar angin.
Betapa sering mendengar jerit lagu pilu
hantu hantu bertamasya dengan riang
tumbuh diantara kembang yang rentan
air ditawarkan jadi suguhan tak berarti
air mata merembes aku reguk sendiri
cara hargai diri tanpa perlu dipahami
Aku menyaring pikiran
dari pinggiran sungai kecil
aku melihat
kau menjelma mata air
aku wadah kosong siap menampung
tapi kau begitu saja melintas.
Di tepian sungai aku terdiam
kau beriak melintas
tanpa tanda
tanpa senyum menyapa
tidak kuasa aku minta airmu.
12 bulan timbul tenggelam di air mata
365 matahari ditempa kesadaran
berwaktu waktu sujudkan kesabaran
pada bumi
suaraku menjadi lebih liar berjaga
tapi suaramu lebih liar untuk lupa.
Aku diam dalam ruang
menyusuri bulan bulan yang mengalir
aku hidup menjadi kali
dan kau yang menemani
tahun demi tahun
menjadi air
kaliku yang yang dulu mati
aku melihat kesegaran kembali
berkali-kali.
SKENO AKHIR TAHUN
- tiba pd Jeniffer
Desember terakhir kita tak lagi bicara
semua sudah kita kemas
di atas panggung
tentang kekurangan
-kelebihan
yang tak perlu
lagi dicatat.
Di mataku semua telah dihapus
oleh hujan semalam
juga sisa gerimis yang jatuh
ke dalam kamar
aku reguk kehangatan nasib
paling pahit
dengan kopi hitam
paling kental.
Di akhir desember aku memilih masuk
hening menikmati suara-suara sakit
yang diledakkan di atas kepala
keriangan yang direncanakan
orang-orang memecahkan penatnya
penuh bahagia.
Aku menyaksikan dari jendela
ada yang menganga sesekali tertawa
melihat cahaya di langit kalang kabut
kunang-kunang dalam pesta
musik gaduh mencari tempatnya.
Aku mengingat wajah wajah
yang mungkin riang terjerat bahagia
ikut merayakan harapan yang terpaksa
aku mengirim pesan
kusampaikan salam doa-doa harapan
orang-orang aku kasihi sedang bahagia.
Seorang gadis mengirim pesan bahagia
doa doa sederhana
ia ledakkan di kepalaku
air mata mengalir
aku reguk ditemani suara batin
sehat sehat bapak tetap semangat
selalu terlihat lebih muda.
Suara itu suara cinta
suara perih yang keras
aku tunjukkan kata-kata kehidupan
suara yang sempat melewati demam
suara yang sakit memanjati nilai nilai
Aku terbiasa membuat nasib lebih baik
aku terbiasa melepas diri dari perhatian
malam itu di awal tahun
kau pelan pelan membuat. gerimis kuat
sepahit kopi
dengan bahagia aku habis mereguknya.
Di TERAS MENJAGA USIA
: tiba pd Keyzia
adakah usia membuat jarak
sementara signal yang jauh
susah menerima
frekuensi yang sama.
maukah kau memelukku
dengan senyum paling tulus.
Di kalender mu tampak
warna warna bergerak
penuh gemerlap emosi remaja
begitu mata tertutup
semua berbenturan
pada kalenderku
sisa usia makin tampak pusat
nyalanya
Mungkin aku tanpa rasa malu
meminta
pelukan senyum kecil
paling tulus
sebab
begitu jauh perjalanan
jarak usia
sementara tanganku
terbiasa menjaga
nyala api yang membakar
apa saja.
Usiaku jauh
mengira masih muda
masih membawa banyak cinta
hingga lupa di luar
banyak orang begitu masif
membawa kecurigaan
tentang kejahatan seksualitas.
Aku juga membawa
perasaan malu
begitu angin gairah berbeturan
berbeturan berebut tempat
taklukan hati
Aku tak ingin marebut
perasaan cinta
fitrah sesungguhnya
yang bersemayam
yang kau bawa
untuk seseorang
juga untuk dua kekasih
yang menjaga dari lahir.
maukah kau memelukku
dengan senyum paling tulus
dengan jarak usia yang jauh
seperti juga dua kekasihmu
menjaga api yang kau bawa
sebagai penerang
penghangat
pengingat
usia
agar aku tetap semangat
mengingat
aku bercinta
pada karya
agar tetap
menyala.
MULAT SARIRA
- ruang teater di akhir tahun
Sini nak, dekatlah!
Kita duduk saling membuka diri
dan bertukar tangkap pandangan.
Aku ingin bicara
tentang nafas yang keluar
dari setiap mulut yang bersuara.
Seberapa lama kita membahagiakan diri
dengan kata kata yang membuat bahagia
sebelum air mata menembus ruang gelap
jantung dipacu mengacaukan perasaan.
Nafas bahagia selalu menyegarkan wajah
tapi kilatan luka yang buat sesak nafas
berlarut larut membawa tubuh pucat takut
menyentuh timbunan air mata. jadi gelap
kita diam tapi tidak sedang dalam bahagia.
Ada kedua tangan kasih yang memelukmu
sekarang sedang melesat mempersiapkan
jejak jejak kakinya bagai kuda api melesat
keduanya tidak ingin melihat kau terpaku
gerak dan lompatan tubuhnya yang lelah
tak dikatan lelah semua cepat melesat.
Lihat nafas waktu melintasi lelah wajahnya
matanya dibuka untuk lepas memandang
batu sandungan penghalang untuk terbang
air matanya dipenuh kilauan cahaya cinta
Ia terus berpacu menenggelamkan lelah
Ia melesat mengatur nafas menuju satu
teriakannya diam hingga dipuncak. tujuan.
Mari nak saling belajar membuka diri
kau dan aku bertukar tangkap pandangan
aku ingin bicara tentang nafas yang keluar
dari mulut suara yang datang lebih tenang
dengan kata kata yang membuat bahagia
seberapa lama kita memahami rasa cinta
dari dua kekasih yang menghadirkan kita
belajar mengatur ritme nafas panjang.
Setia itu janji lurus
akan menempuh jalan gelap juga
kata-kata indah diagungkan
akan juga melintasi kilau lukanya
hitam putih saling memergoki
tapi keyakinan menguatkan hati
langkah tegas membekas jejak
terbaca kesanggupan hidup
jadi manusia merdeka.
.
Penulis: Kardanis Mudawi Jaya
Editor: Adnyana Ole



























