RIUH rendah suara panggul yang beradu dengan bilah-bilah perunggu memecah kesunyian malam di Balai Banjar Adat Banjar Jawa, Singaraja-Buleleng, Bali, Jumat, 26 Desember 2025. Di bawah pendar lampu temaram, nampak belasan pasang mata jernih milik anak-anak kecil hingga remaja begitu fokus mengikuti irama. Malam itu bukan sekadar pertunjukan biasa, melainkan sebuah perayaan tentang keberlanjutan napas budaya melalui Pagelaran Pasraman Kesenian yang digagas oleh Yowana Taruna Wirahita.
Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi muara dari proses panjang belajar mengajar di Pasraman Seni Tari dan Seni Tabuh Banjar Jawa. Sejak sore, suasana magis sudah terasa ketika para penari cilik mulai merapikan gelungan dan memoles wajah mereka dengan gincu merah, bersiap untuk mementaskan hasil olah tubuh dan rasa yang telah mereka pelajari selama berbulan-bulan.

Ketua Yowana Taruna Wirahita, Kadek Ega Suryani Dewi, S.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata dari rasa syukur dan tanggung jawab generasi muda terhadap warisan leluhur. Dengan nada suara yang penuh semangat namun tetap rendah hati, ia menyapa seluruh krama yang hadir.
“Tujuan dari dilaksanakannya pasraman kesenian yang dinaungi oleh yowana ini adalah untuk mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan budaya ini sebagai jati diri bangsa,” ungkap Ega di hadapan tokoh masyarakat dan orang tua siswa.


Ia menambahkan bahwa pagelaran ini bukan sekadar panggung pamer bakat, melainkan ruang aktualisasi diri. Menurutnya, melalui setiap proses yang dilakukan oleh anak-anak pasraman, terlihat bukti nyata bahwa semangat persatuan dan kearifan lokal masih tumbuh subur di tengah gempuran modernisasi yang kian kencang.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Kesenian Yowana Taruna Wirahita, Kadek Gunawan Saputra, memandang pagelaran ini sebagai wadah pengembangan karakter. Baginya, belajar seni bukan hanya soal luwesnya gerak atau tepatnya nada, melainkan tentang membentuk jati diri yang kuat.
“Ini adalah wujud nyata dedikasi kami dalam menjaga taksu budaya Bali sekaligus wadah pengembangan karakter bagi generasi muda di Banjar Jawa agar tetap memiliki jati diri yang kuat di tengah kemajuan zaman,” tutur Gunawan dengan penuh keyakinan.
Kolaborasi yang Menghidupkan Suasana
Puncak acara ditandai dengan serangkaian penampilan yang memukau mata. Salah satu yang mencuri perhatian adalah kolaborasi apik antara penari Pasraman Banjar Jawa dengan Komunitas Adi Citta Tala. Dalam Tari Pendet dan Tari Margapati, gerakan-gerakan tegas dan lincah dari para penari berpadu harmonis dengan iringan musik yang dibawakan secara kolaboratif, menciptakan atmosfer yang segar namun tetap menjaga pakem tradisional.



Kepiawaian anak-anak pasraman juga terlihat saat mereka membawakan Tari Condong dan Tari Manuk Rawa. Sorot mata yang tajam (seledet) dan gerak jemari yang lentik menunjukkan bahwa proses belajar di pasraman tidak dilakukan dengan setengah hati. Di sisi lain, Penampilan Gong Pasraman Seni Tabuh yang membawakan Tari Truna Jaya serta Tabuh Kreasi dari Komunitas Adi Citta Tala seolah menggetarkan lantai Balai Banjar, mengundang decak kagum dari para penonton.
Hadir mewakili Kelian Adat Banjar Jawa, Petajuh Prahyangan Bapak Jro Gede Putu Agus Widiada, memberikan apresiasi mendalam atas inisiatif anak-anak muda ini. Kehadiran tokoh adat di tengah-tengah para yowana memberikan legitimasi bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab kolektif yang harus didukung penuh oleh struktur formal banjar.
Lebih dari Sekadar Tontonan
Di balik gemerlap kostum dan kemeriahan suara gamelan, terselip sebuah narasi tentang harapan. Bagi para orang tua yang hadir, melihat anak-anak mereka berani tampil di atas panggung adalah sebuah kebanggaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rasa haru saat melihat generasi paling bungsu di Banjar Jawa mulai mengenal angsel dan agem, sebuah pertanda bahwa tongkat estafet kebudayaan belum akan jatuh.
Pagelaran ini membuktikan bahwa Banjar Jawa tidak hanya menjadi pemukiman di tengah kota, tetapi juga menjadi laboratorium kebudayaan yang hidup. Di sini, nilai-nilai ngayah dan kebersamaan dipupuk sejak dini melalui kesenian.

Malam semakin larut, namun semangat di Balai Banjar Adat Banjar Jawa belum juga surut. Pagelaran ini telah usai, namun gema dari bilah gamelan dan jejak langkah para penari seolah meninggalkan pesan yang jelas: selama detak jantung para yowana masih selaras dengan irama tabuh, maka taksu Bali akan tetap abadi, mekar, dan mewangi di tanah kelahirannya sendiri. [T]
Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole



























