4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sepi, Bali “Bertapa”

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 28, 2025
in Esai
Bali Sepi, Bali “Bertapa”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NARASI tentang Bali sepi belakangan ini seperti gema yang berulang-ulang. Ia muncul di linimasa media sosial, di percakapan para pelaku pariwisata, di warung kopi, hingga di pemberitaan media. Kata sepi mendadak menjadi momok. Ia diasosiasikan dengan hotel kosong, omzet turun, pekerja dirumahkan, dan kecemasan kolektif tentang masa depan pariwisata Bali.

Saya tidak ingin tergesa-gesa membantah atau membenarkan narasi itu. Bisa jadi Bali memang sedang sepi di titik-titik tertentu, dan ramai di titik lain. Namun yang lebih menarik bagi saya bukan soal benar atau salahnya narasi tersebut, melainkan cara kita memaknai sepi itu sendiri. Mengapa sepi selalu kita baca sebagai masalah? Mengapa sepi selalu dianggap sesuatu yang harus segera diakhiri?

Bali selama puluhan tahun hidup dalam logika ramai. Ramai wisatawan, ramai kendaraan, ramai pembangunan, ramai investasi. Dalam logika ini, sepi adalah musuh. Ia harus dilawan dengan promosi besar-besaran, festival, event, dan slogan-slogan baru yang seolah menjadi mantra pengusir kekhawatiran. Bali jarang diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan bertanya pada dirinya sendiri: kita sedang menuju ke mana?

Mungkin, justru di saat narasi Bali sepi ini mencuat, Bali sedang diberi sebuah jeda. Jeda yang tidak pernah benar-benar ia miliki sebelumnya. Dan barangkali, jeda itu bisa kita maknai sebagai sebuah undangan untuk bertapa.

Dalam tradisi Timur, terutama dalam ajaran Hindu, tapa atau tapasya bukan sekadar menyepi secara fisik. Dalam bahasa Sansekerta, tapas berarti panas batin—sebuah laku asketik, pengendalian diri, disiplin, dan proses pembakaran hawa nafsu. Tapasya adalah upaya sadar untuk menahan diri dari dorongan yang berlebihan, dari keinginan untuk terus menambah, terus memperluas, terus mengejar tanpa henti.

Tapasya bukan pelarian dari dunia. Ia justru adalah cara paling jujur untuk menghadapi dunia dengan kesadaran penuh.

Jika pengertian ini kita tarik ke konteks Bali hari ini, bertapa bukan berarti menutup pariwisata atau memusuhi wisatawan. Bertapa berarti menunda hasrat pembangunan yang serba terburu-buru, berani mengerem laju yang terlalu kencang, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selama ini kerap dihindari.

Belum lama ini, Bali meluncurkan haluan pembangunan untuk 100 tahun ke depan. Dokumen itu tentu lahir dari niat baik dan visi besar. Namun saya, sebagai orang Bali yang hidup dan menyaksikan perubahan sehari-hari, tidak bisa menahan satu pertanyaan sederhana: apa gunanya berbicara tentang seratus tahun ke depan jika persoalan hari ini belum juga selesai?

Masalah sampah masih menjadi luka terbuka. Ia hadir di sungai, di pantai, di sudut-sudut desa, bahkan di ruang-ruang yang dulu kita anggap sakral. Kemacetan lalu lintas semakin hari semakin terasa mencekik, bukan hanya di kawasan wisata, tetapi juga di jalur-jalur yang dulu tenang. Pembangunan akomodasi pariwisata berlangsung masif, sering kali tanpa jeda dan tanpa rasa cukup. Sawah-sawah perlahan menghilang, berganti beton dan papan nama berbahasa asing.

Di saat yang sama, orang Bali semakin terdesak di tanah kelahirannya sendiri. Bukan oleh senjata atau kekerasan fisik, melainkan oleh harga tanah yang melambung dan logika pasar yang dingin. Tanah yang dulu diwariskan kini dijual untuk bertahan hidup. Pelan-pelan, tapi pasti, keterhubungan orang Bali dengan tanahnya sendiri mulai terputus.

Dalam situasi seperti ini, berbicara tentang Bali 100 tahun ke depan terasa seperti melompat terlalu jauh. Bali seolah diajak berlari menuju masa depan, padahal kakinya masih berdarah oleh persoalan hari ini.

Pandemi COVID-19 sejatinya pernah memberi Bali kesempatan langka untuk bertapa. Pariwisata berhenti total. Bandara sepi. Jalan-jalan lengang. Pantai-pantai kembali sunyi. Banyak orang menyebutnya sebagai krisis, dan memang ia adalah krisis. Namun di balik itu, pandemi juga menghadirkan sebuah jeda yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sayangnya, jeda itu lebih banyak diisi dengan kerinduan untuk kembali ke keadaan lama. Energi kolektif kita tercurah pada satu tujuan: bagaimana caranya Bali bisa ramai lagi? Bukan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang perlu kita benahi sebelum Bali kembali ramai?

Kini, ketika narasi Bali sepi kembali terdengar, mungkin inilah kesempatan kedua yang tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Kesempatan untuk bertapa—dalam arti yang sesungguhnya.

Bertapa, dalam konteks Bali hari ini, bisa dimulai dari hal-hal yang sangat konkret. Memperkuat pertanian dan perkebunan, misalnya. Selama ini sektor ini sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi. Padahal, pertanian bukan hanya soal pangan, tetapi juga soal keberlanjutan, kemandirian, dan hubungan manusia dengan alam.

Perlindungan terhadap petani menjadi bagian penting dari laku bertapa ini. Petani tidak boleh terus-menerus menjadi pihak yang kalah—kalah oleh harga pasar, kalah oleh impor, kalah oleh alih fungsi lahan. Tanpa petani, Bali kehilangan salah satu pilar kebudayaannya.

Gerakan stop menjual tanah juga layak dipikirkan secara serius. Bukan sebagai larangan kaku, tetapi sebagai kesadaran kolektif. Tanah bukan sekadar aset ekonomi; ia adalah ruang hidup, ruang ingatan, dan ruang spiritual. Ketika tanah habis dijual, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga masa depan.

Bertapa juga berarti menata ulang pariwisata. Bukan untuk mematikannya, tetapi untuk mengembalikannya ke skala yang lebih manusiawi. Pariwisata yang tidak rakus ruang, tidak mengorbankan lingkungan, dan tidak menyingkirkan warga lokal dari rumahnya sendiri. Pariwisata yang tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga kualitas hidup.

Dalam laku tapa, ada unsur introspeksi yang kuat. Bali perlu bercermin, melihat dirinya sendiri dengan jujur. Melihat bagaimana pembangunan telah mengubah wajah desa, relasi sosial, dan cara orang Bali memaknai hidup. Bukan untuk meratapi masa lalu, tetapi untuk belajar darinya.

Sepi, dalam pengertian ini, bukan kekosongan. Ia adalah ruang. Ruang untuk mendengar kembali suara-suara yang selama ini tertutup oleh bising mesin pembangunan: suara petani, suara sungai, suara angin di sawah, suara desa yang pelan-pelan kehilangan ritmenya.

Mungkin Bali tidak sedang kekurangan wisatawan. Mungkin yang kurang adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah jalan yang kita tempuh selama ini benar-benar membawa kita pulang?

Dalam dunia yang serba cepat, bertapa terdengar seperti kata yang kuno. Namun justru karena dunia terlalu cepat, tapa menjadi semakin relevan. Ia mengajarkan kita untuk menahan diri, untuk tidak selalu bereaksi secara instan, dan untuk memberi ruang bagi kebijaksanaan.

Jika Bali benar-benar sedang sepi, barangkali itu bukan kutukan. Barangkali itu adalah undangan. Undangan untuk menata ulang arah, menyembuhkan luka, dan membangun kembali dengan kesadaran yang lebih matang.

Bali tidak kekurangan rencana. Bali tidak kekurangan konsep. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk berhenti, mendengar, dan mengoreksi diri. Dan mungkin, hanya lewat sepi itulah Bali bisa benar-benar bertapa—melakukan introspeksi kolektif, sebelum melangkah lebih jauh dan semakin kehilangan arah. Pada akhirnya, sepi bukan soal jumlah wisatawan. Sepi adalah soal keberanian menghadapi diri sendiri. Dan Bali, seperti manusia, juga membutuhkannya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balipariwisata baliwisatawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Next Post

Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co