14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sepi, Bali “Bertapa”

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 28, 2025
in Esai
Bali Sepi, Bali “Bertapa”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NARASI tentang Bali sepi belakangan ini seperti gema yang berulang-ulang. Ia muncul di linimasa media sosial, di percakapan para pelaku pariwisata, di warung kopi, hingga di pemberitaan media. Kata sepi mendadak menjadi momok. Ia diasosiasikan dengan hotel kosong, omzet turun, pekerja dirumahkan, dan kecemasan kolektif tentang masa depan pariwisata Bali.

Saya tidak ingin tergesa-gesa membantah atau membenarkan narasi itu. Bisa jadi Bali memang sedang sepi di titik-titik tertentu, dan ramai di titik lain. Namun yang lebih menarik bagi saya bukan soal benar atau salahnya narasi tersebut, melainkan cara kita memaknai sepi itu sendiri. Mengapa sepi selalu kita baca sebagai masalah? Mengapa sepi selalu dianggap sesuatu yang harus segera diakhiri?

Bali selama puluhan tahun hidup dalam logika ramai. Ramai wisatawan, ramai kendaraan, ramai pembangunan, ramai investasi. Dalam logika ini, sepi adalah musuh. Ia harus dilawan dengan promosi besar-besaran, festival, event, dan slogan-slogan baru yang seolah menjadi mantra pengusir kekhawatiran. Bali jarang diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan bertanya pada dirinya sendiri: kita sedang menuju ke mana?

Mungkin, justru di saat narasi Bali sepi ini mencuat, Bali sedang diberi sebuah jeda. Jeda yang tidak pernah benar-benar ia miliki sebelumnya. Dan barangkali, jeda itu bisa kita maknai sebagai sebuah undangan untuk bertapa.

Dalam tradisi Timur, terutama dalam ajaran Hindu, tapa atau tapasya bukan sekadar menyepi secara fisik. Dalam bahasa Sansekerta, tapas berarti panas batin—sebuah laku asketik, pengendalian diri, disiplin, dan proses pembakaran hawa nafsu. Tapasya adalah upaya sadar untuk menahan diri dari dorongan yang berlebihan, dari keinginan untuk terus menambah, terus memperluas, terus mengejar tanpa henti.

Tapasya bukan pelarian dari dunia. Ia justru adalah cara paling jujur untuk menghadapi dunia dengan kesadaran penuh.

Jika pengertian ini kita tarik ke konteks Bali hari ini, bertapa bukan berarti menutup pariwisata atau memusuhi wisatawan. Bertapa berarti menunda hasrat pembangunan yang serba terburu-buru, berani mengerem laju yang terlalu kencang, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selama ini kerap dihindari.

Belum lama ini, Bali meluncurkan haluan pembangunan untuk 100 tahun ke depan. Dokumen itu tentu lahir dari niat baik dan visi besar. Namun saya, sebagai orang Bali yang hidup dan menyaksikan perubahan sehari-hari, tidak bisa menahan satu pertanyaan sederhana: apa gunanya berbicara tentang seratus tahun ke depan jika persoalan hari ini belum juga selesai?

Masalah sampah masih menjadi luka terbuka. Ia hadir di sungai, di pantai, di sudut-sudut desa, bahkan di ruang-ruang yang dulu kita anggap sakral. Kemacetan lalu lintas semakin hari semakin terasa mencekik, bukan hanya di kawasan wisata, tetapi juga di jalur-jalur yang dulu tenang. Pembangunan akomodasi pariwisata berlangsung masif, sering kali tanpa jeda dan tanpa rasa cukup. Sawah-sawah perlahan menghilang, berganti beton dan papan nama berbahasa asing.

Di saat yang sama, orang Bali semakin terdesak di tanah kelahirannya sendiri. Bukan oleh senjata atau kekerasan fisik, melainkan oleh harga tanah yang melambung dan logika pasar yang dingin. Tanah yang dulu diwariskan kini dijual untuk bertahan hidup. Pelan-pelan, tapi pasti, keterhubungan orang Bali dengan tanahnya sendiri mulai terputus.

Dalam situasi seperti ini, berbicara tentang Bali 100 tahun ke depan terasa seperti melompat terlalu jauh. Bali seolah diajak berlari menuju masa depan, padahal kakinya masih berdarah oleh persoalan hari ini.

Pandemi COVID-19 sejatinya pernah memberi Bali kesempatan langka untuk bertapa. Pariwisata berhenti total. Bandara sepi. Jalan-jalan lengang. Pantai-pantai kembali sunyi. Banyak orang menyebutnya sebagai krisis, dan memang ia adalah krisis. Namun di balik itu, pandemi juga menghadirkan sebuah jeda yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sayangnya, jeda itu lebih banyak diisi dengan kerinduan untuk kembali ke keadaan lama. Energi kolektif kita tercurah pada satu tujuan: bagaimana caranya Bali bisa ramai lagi? Bukan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang perlu kita benahi sebelum Bali kembali ramai?

Kini, ketika narasi Bali sepi kembali terdengar, mungkin inilah kesempatan kedua yang tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Kesempatan untuk bertapa—dalam arti yang sesungguhnya.

Bertapa, dalam konteks Bali hari ini, bisa dimulai dari hal-hal yang sangat konkret. Memperkuat pertanian dan perkebunan, misalnya. Selama ini sektor ini sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi. Padahal, pertanian bukan hanya soal pangan, tetapi juga soal keberlanjutan, kemandirian, dan hubungan manusia dengan alam.

Perlindungan terhadap petani menjadi bagian penting dari laku bertapa ini. Petani tidak boleh terus-menerus menjadi pihak yang kalah—kalah oleh harga pasar, kalah oleh impor, kalah oleh alih fungsi lahan. Tanpa petani, Bali kehilangan salah satu pilar kebudayaannya.

Gerakan stop menjual tanah juga layak dipikirkan secara serius. Bukan sebagai larangan kaku, tetapi sebagai kesadaran kolektif. Tanah bukan sekadar aset ekonomi; ia adalah ruang hidup, ruang ingatan, dan ruang spiritual. Ketika tanah habis dijual, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga masa depan.

Bertapa juga berarti menata ulang pariwisata. Bukan untuk mematikannya, tetapi untuk mengembalikannya ke skala yang lebih manusiawi. Pariwisata yang tidak rakus ruang, tidak mengorbankan lingkungan, dan tidak menyingkirkan warga lokal dari rumahnya sendiri. Pariwisata yang tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga kualitas hidup.

Dalam laku tapa, ada unsur introspeksi yang kuat. Bali perlu bercermin, melihat dirinya sendiri dengan jujur. Melihat bagaimana pembangunan telah mengubah wajah desa, relasi sosial, dan cara orang Bali memaknai hidup. Bukan untuk meratapi masa lalu, tetapi untuk belajar darinya.

Sepi, dalam pengertian ini, bukan kekosongan. Ia adalah ruang. Ruang untuk mendengar kembali suara-suara yang selama ini tertutup oleh bising mesin pembangunan: suara petani, suara sungai, suara angin di sawah, suara desa yang pelan-pelan kehilangan ritmenya.

Mungkin Bali tidak sedang kekurangan wisatawan. Mungkin yang kurang adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah jalan yang kita tempuh selama ini benar-benar membawa kita pulang?

Dalam dunia yang serba cepat, bertapa terdengar seperti kata yang kuno. Namun justru karena dunia terlalu cepat, tapa menjadi semakin relevan. Ia mengajarkan kita untuk menahan diri, untuk tidak selalu bereaksi secara instan, dan untuk memberi ruang bagi kebijaksanaan.

Jika Bali benar-benar sedang sepi, barangkali itu bukan kutukan. Barangkali itu adalah undangan. Undangan untuk menata ulang arah, menyembuhkan luka, dan membangun kembali dengan kesadaran yang lebih matang.

Bali tidak kekurangan rencana. Bali tidak kekurangan konsep. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk berhenti, mendengar, dan mengoreksi diri. Dan mungkin, hanya lewat sepi itulah Bali bisa benar-benar bertapa—melakukan introspeksi kolektif, sebelum melangkah lebih jauh dan semakin kehilangan arah. Pada akhirnya, sepi bukan soal jumlah wisatawan. Sepi adalah soal keberanian menghadapi diri sendiri. Dan Bali, seperti manusia, juga membutuhkannya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balipariwisata baliwisatawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Next Post

Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co