14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Sepi, Bali “Bertapa”

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 28, 2025
in Esai
Bali Sepi, Bali “Bertapa”

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NARASI tentang Bali sepi belakangan ini seperti gema yang berulang-ulang. Ia muncul di linimasa media sosial, di percakapan para pelaku pariwisata, di warung kopi, hingga di pemberitaan media. Kata sepi mendadak menjadi momok. Ia diasosiasikan dengan hotel kosong, omzet turun, pekerja dirumahkan, dan kecemasan kolektif tentang masa depan pariwisata Bali.

Saya tidak ingin tergesa-gesa membantah atau membenarkan narasi itu. Bisa jadi Bali memang sedang sepi di titik-titik tertentu, dan ramai di titik lain. Namun yang lebih menarik bagi saya bukan soal benar atau salahnya narasi tersebut, melainkan cara kita memaknai sepi itu sendiri. Mengapa sepi selalu kita baca sebagai masalah? Mengapa sepi selalu dianggap sesuatu yang harus segera diakhiri?

Bali selama puluhan tahun hidup dalam logika ramai. Ramai wisatawan, ramai kendaraan, ramai pembangunan, ramai investasi. Dalam logika ini, sepi adalah musuh. Ia harus dilawan dengan promosi besar-besaran, festival, event, dan slogan-slogan baru yang seolah menjadi mantra pengusir kekhawatiran. Bali jarang diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan bertanya pada dirinya sendiri: kita sedang menuju ke mana?

Mungkin, justru di saat narasi Bali sepi ini mencuat, Bali sedang diberi sebuah jeda. Jeda yang tidak pernah benar-benar ia miliki sebelumnya. Dan barangkali, jeda itu bisa kita maknai sebagai sebuah undangan untuk bertapa.

Dalam tradisi Timur, terutama dalam ajaran Hindu, tapa atau tapasya bukan sekadar menyepi secara fisik. Dalam bahasa Sansekerta, tapas berarti panas batin—sebuah laku asketik, pengendalian diri, disiplin, dan proses pembakaran hawa nafsu. Tapasya adalah upaya sadar untuk menahan diri dari dorongan yang berlebihan, dari keinginan untuk terus menambah, terus memperluas, terus mengejar tanpa henti.

Tapasya bukan pelarian dari dunia. Ia justru adalah cara paling jujur untuk menghadapi dunia dengan kesadaran penuh.

Jika pengertian ini kita tarik ke konteks Bali hari ini, bertapa bukan berarti menutup pariwisata atau memusuhi wisatawan. Bertapa berarti menunda hasrat pembangunan yang serba terburu-buru, berani mengerem laju yang terlalu kencang, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selama ini kerap dihindari.

Belum lama ini, Bali meluncurkan haluan pembangunan untuk 100 tahun ke depan. Dokumen itu tentu lahir dari niat baik dan visi besar. Namun saya, sebagai orang Bali yang hidup dan menyaksikan perubahan sehari-hari, tidak bisa menahan satu pertanyaan sederhana: apa gunanya berbicara tentang seratus tahun ke depan jika persoalan hari ini belum juga selesai?

Masalah sampah masih menjadi luka terbuka. Ia hadir di sungai, di pantai, di sudut-sudut desa, bahkan di ruang-ruang yang dulu kita anggap sakral. Kemacetan lalu lintas semakin hari semakin terasa mencekik, bukan hanya di kawasan wisata, tetapi juga di jalur-jalur yang dulu tenang. Pembangunan akomodasi pariwisata berlangsung masif, sering kali tanpa jeda dan tanpa rasa cukup. Sawah-sawah perlahan menghilang, berganti beton dan papan nama berbahasa asing.

Di saat yang sama, orang Bali semakin terdesak di tanah kelahirannya sendiri. Bukan oleh senjata atau kekerasan fisik, melainkan oleh harga tanah yang melambung dan logika pasar yang dingin. Tanah yang dulu diwariskan kini dijual untuk bertahan hidup. Pelan-pelan, tapi pasti, keterhubungan orang Bali dengan tanahnya sendiri mulai terputus.

Dalam situasi seperti ini, berbicara tentang Bali 100 tahun ke depan terasa seperti melompat terlalu jauh. Bali seolah diajak berlari menuju masa depan, padahal kakinya masih berdarah oleh persoalan hari ini.

Pandemi COVID-19 sejatinya pernah memberi Bali kesempatan langka untuk bertapa. Pariwisata berhenti total. Bandara sepi. Jalan-jalan lengang. Pantai-pantai kembali sunyi. Banyak orang menyebutnya sebagai krisis, dan memang ia adalah krisis. Namun di balik itu, pandemi juga menghadirkan sebuah jeda yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sayangnya, jeda itu lebih banyak diisi dengan kerinduan untuk kembali ke keadaan lama. Energi kolektif kita tercurah pada satu tujuan: bagaimana caranya Bali bisa ramai lagi? Bukan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang perlu kita benahi sebelum Bali kembali ramai?

Kini, ketika narasi Bali sepi kembali terdengar, mungkin inilah kesempatan kedua yang tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Kesempatan untuk bertapa—dalam arti yang sesungguhnya.

Bertapa, dalam konteks Bali hari ini, bisa dimulai dari hal-hal yang sangat konkret. Memperkuat pertanian dan perkebunan, misalnya. Selama ini sektor ini sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi. Padahal, pertanian bukan hanya soal pangan, tetapi juga soal keberlanjutan, kemandirian, dan hubungan manusia dengan alam.

Perlindungan terhadap petani menjadi bagian penting dari laku bertapa ini. Petani tidak boleh terus-menerus menjadi pihak yang kalah—kalah oleh harga pasar, kalah oleh impor, kalah oleh alih fungsi lahan. Tanpa petani, Bali kehilangan salah satu pilar kebudayaannya.

Gerakan stop menjual tanah juga layak dipikirkan secara serius. Bukan sebagai larangan kaku, tetapi sebagai kesadaran kolektif. Tanah bukan sekadar aset ekonomi; ia adalah ruang hidup, ruang ingatan, dan ruang spiritual. Ketika tanah habis dijual, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga masa depan.

Bertapa juga berarti menata ulang pariwisata. Bukan untuk mematikannya, tetapi untuk mengembalikannya ke skala yang lebih manusiawi. Pariwisata yang tidak rakus ruang, tidak mengorbankan lingkungan, dan tidak menyingkirkan warga lokal dari rumahnya sendiri. Pariwisata yang tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga kualitas hidup.

Dalam laku tapa, ada unsur introspeksi yang kuat. Bali perlu bercermin, melihat dirinya sendiri dengan jujur. Melihat bagaimana pembangunan telah mengubah wajah desa, relasi sosial, dan cara orang Bali memaknai hidup. Bukan untuk meratapi masa lalu, tetapi untuk belajar darinya.

Sepi, dalam pengertian ini, bukan kekosongan. Ia adalah ruang. Ruang untuk mendengar kembali suara-suara yang selama ini tertutup oleh bising mesin pembangunan: suara petani, suara sungai, suara angin di sawah, suara desa yang pelan-pelan kehilangan ritmenya.

Mungkin Bali tidak sedang kekurangan wisatawan. Mungkin yang kurang adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah jalan yang kita tempuh selama ini benar-benar membawa kita pulang?

Dalam dunia yang serba cepat, bertapa terdengar seperti kata yang kuno. Namun justru karena dunia terlalu cepat, tapa menjadi semakin relevan. Ia mengajarkan kita untuk menahan diri, untuk tidak selalu bereaksi secara instan, dan untuk memberi ruang bagi kebijaksanaan.

Jika Bali benar-benar sedang sepi, barangkali itu bukan kutukan. Barangkali itu adalah undangan. Undangan untuk menata ulang arah, menyembuhkan luka, dan membangun kembali dengan kesadaran yang lebih matang.

Bali tidak kekurangan rencana. Bali tidak kekurangan konsep. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk berhenti, mendengar, dan mengoreksi diri. Dan mungkin, hanya lewat sepi itulah Bali bisa benar-benar bertapa—melakukan introspeksi kolektif, sebelum melangkah lebih jauh dan semakin kehilangan arah. Pada akhirnya, sepi bukan soal jumlah wisatawan. Sepi adalah soal keberanian menghadapi diri sendiri. Dan Bali, seperti manusia, juga membutuhkannya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balipariwisata baliwisatawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Next Post

Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Menenun Taksu di Jantung Kota Singaraja: Kala Generasi Muda Banjar Jawa Merayakan Warisan Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co