23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 18, 2025
in Esai
Jalan Krishna dan Balaram: Antara Ritual dan Pengabdian di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Gambar tokohwayangpurwa.blogspot.com

KISAH Mahabharata bukan sekadar legenda berusia lima milenium; ia adalah kitab kehidupan yang terus hidup dalam dinamika manusia. Di dalamnya, dua kakak-adik—Balaram dan Krishna—menunjukkan dua jalur pilihan tindakan yang sama-sama mulia namun sangat berbeda. Balarama memilih tirthayatra, mengembara dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya demi menjaga kemurnian batin. Krishna justru mengambil sikap berlawanan: baginya, Kurukshetra—medan perang yang penuh intrik, ketakutan, dan darah—adalah tempat suci yang harus diteguhkan. Sebab dharma tidak ditegakkan di tempat-tempat sunyi, melainkan di tengah hiruk pikuk kehidupan, tanpa kehilangan kewarasan.

Kedua jalan ini sangat relevan bagi Bali dan Indonesia saat ini: apakah kita memilih jalan ritual belaka, ataukah kita siap berkarya dan berjuang di tengah keriuhan dunia nyata? Kisah ini menampar kesadaran kita, mengingatkan bahwa suci bukan hanya urusan tempat suci dan air suci, tetapi juga keberanian mengutamakan integritas di tengah dunia yang kacau.

Jalan Balaram: Antara Ritual dan Pelarian

Ketika Mahabharata mencapai puncaknya, Balaram memilih untuk tidak terlibat. Ia berkelana dari satu tempat suci ke tempat suci lain, melakukan perjalanan untuk merawat kesucian batinnya. Dalam tradisi Sanatana Dharma, jalan ini sah, benar, dan mulia. Ritual bukanlah kesalahan. Tirthayatra adalah bagian dari devosi.

Namun, persoalannya muncul ketika ritual menjadi pelarian dari tanggung jawab sosial.

Di Bali, aktivitas spiritual seperti melukat, tirtayatra, dan ratusan upacara yadnya lain dilakukan setiap hari hampir tanpa jeda. Tetapi kenyataan sosial sering kali tidak sejalan: sampah berserakan di tempat suci, antrean kacau, orang berebut tempat untuk foto, dan perilaku publik tak selalu mencerminkan kesadaran yang sama tinggi dengan ritualnya.

Bali menjadi pulau dengan ribuan pura, tetapi masih bergulat dengan:

  • korupsi dan penyelewengan dana desa,
  • ketimpangan ekonomi,
  • sampah yang menumpuk,
  • pelecehan nilai budaya demi kepentingan ekonomi,
  • masih adanya kemiskinan ekstrim,
  • serta hilangnya keteladanan moral para pemimpin maupun pemerintah.

Ritual yang seharusnya menjadi jalan transformasi diri, tak jarang berubah menjadi rutinitas kosmetik. Bahkan ada yang merasa cukup suci hanya karena sudah melukat, padahal perilaku sehari-harinya jauh dari kesucian.

Inilah bahaya jalan Balaram bila tidak diiringi kesadaran:
ritual tanpa etika hanya memperbesar ego seolah-olah sudah berada di jalur spiritual.

Jalan Krishna: Turun ke Kurukshetra Kehidupan

Krishna memilih jalan berbeda. Ketika dunia membutuhkan penegakan dharma, ia tidak pergi mencari tempat suci; justru ia menghadirkan kesucian dalam tindakan. Baginya, Kurukshetra, dengan segala kekacauannya, adalah altar pengorbanan yang sesungguhnya.

Krishna tahu bahwa menghindari perang adalah pilihan mudah. Ia juga bisa berkeliling tempat suci bersama Balaram, menikmati ketenangan bathin pribadi. Apalagi sebagai seorang Avatar, bukit Govardan saja bisa diangkat dengan jari kelingking. Dengan melepas chakra Sudarshana sekali saja, bisa jadi seluruh kubu Kurawa akan musnah. Namun, Krishana tetap turun langsung ke medan laga, bahkan “menurunkan derajat, hanya sebagai sais Arjuna”. Ia sadar:
dharma harus ditegakkan di dunia nyata — di ruang publik, dalam keputusan sulit, dalam konflik etika dan sosial.

Jalan Krishna adalah jalan yang tidak populer:

  • harus menyaksikan sahabat tersakiti,
  • harus menegur penguasa,
  • harus mengambil risiko kehilangan kenyamanan,
  • bahkan harus berjuang tanpa kehilangan kewarasan di tengah kekerasan, fitnah, dan kesalahpahaman.

Di Bali dan Indonesia hari ini, jalan Krishna sangat relevan. Kita membutuhkan lebih banyak “Krishna”—orang-orang yang berani turun tangan dalam “medan perang” zaman modern: birokrasi yang lamban, lingkungan yang rusak, pariwisata yang tidak berkelanjutan, politik uang, kekerasan struktural, hingga ketidakadilan ekonomi.

Krishna mengajarkan bahwa spiritualitas bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menghadirkan cahaya spiritual di tempat yang paling gelap.

Relevansi di Bali dan Indonesia: Ritual Tanpa Dharma adalah Kekosongan

Secara lahiriah, Bali tampak sebagai pulau sorga yang memesona. Upacara berlangsung hampir setiap hari, dupa menyala di setiap rumah, dan pakaian adat menghiasi berbagai sudut. Namun dalam praktik kehidupan publik, ada torehan luka, yang kita harus jujur mengakui bahwa:

  • etika dalam lalu lintas memburuk,
  • generasi muda terseret arus konsumerisme,
  • tanah dijual tanpa pertimbangan masa depan,
  • konflik internal desa tiada henti,
  • pejabat publik kadang lebih dekat pada kepentingan pribadi daripada dharma.

Di tingkat nasional, fenomenanya serupa: rumah ibadah bertambah, tetapi perilaku koruptif tetap menjamur; ritual keagamaan semarak, tetapi kekerasan verbal dan kebencian sosial masih marak; simbol suci ditinggikan, tetapi nilai luhur sering dikalahkan ambisi politik.

Di sinilah kita melihat dengan gamblang bahwa ritual tanpa etika dan dharma, tidak pernah membentuk peradaban.

Dharma hanya tumbuh ketika manusia hadir seperti Krishna: konsisten, berani, dan rasional, serta tetap teguh tanpa kehilangan kewarasan dalam memperjuangkan kebenaran.

Menyatukan Dua Jalan: Ritual yang Menumbuhkan Keberanian

Kita tidak perlu memilih secara ekstrem. Jalan terbaik justru menggabungkan keduanya:
kesucian batin ala Balaram dan keberanian bertindak ala Krishna.

Ritual seharusnya menjadi fondasi mental, bukan ruang pelarian.
Tempat suci seharusnya menjadi stasiun pengisian batin, bukan terminal untuk menghindari tanggung jawab.

Yang dibutuhkan Bali dan Indonesia bukan lebih banyak tempat suci atau lebih banyak upacara, melainkan lebih banyak manusia yang siap berdiri di Kurukshetra ketika dharma dipertaruhkan.

Sebab bagi Krishna, tempat suci bukan hanya di Gunung Kailash, Ganga, atau Mathura—
tempat suci adalah tempat di mana kita berjuang demi kebenaran.

Kita sedang hidup di era yang menentukan: Bali dan Indonesia berada di persimpangan antara simbol dan substansi, antara tradisi dan transformasi. Kisah Krishna dan Balaram kembali hadir sebagai cermin:

  • Apakah kita hanya ingin berjalan dari tempat suci satu ke tempat suci lainnya?
  • Atau menjadikan dunia ini sebagai medan pengabdian?

Ritual penting. Kesucian penting. Tetapi yang paling penting adalah dharma, kebenaran dan kebajikan, yang diperjuangkan dengan keberanian dan kewarasan.

Dan mungkin inilah panggilan zaman kita:
tidak sekadar menyalakan dupa, tetapi membawa cahaya dupa itu masuk ke tengah gelapnya kehidupan, seperti Krishna di Kurukshetra. Dan menentukan sikap apakah berada di jalan Balaram atau Krishna, adalah sebuah pilihan. Setiap pilihan punya konsekuensi karena hukum karma tidak pernah salah sasaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaladewafilsafatKresnaMahabharatawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Next Post

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Berkunjung ke Desa Ketapanrame dan Berbincang Bagaimana Desa Wisata Dikelola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co