3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 6, 2025
in Esai
Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Ilustrasi tatkala.co

KALAU saja kuburan Badung yang dulu dikenal dengan sebutan Setra Gandamayu bukanlah sebuah kuburan, bisa dipastikan tempat itu sudah lama berubah menjadi deretan ruko, perumahan, atau kegiatan bertanam beton lainnya. Di tengah derasnya arus komersialisasi dan alih fungsi lahan di Bali, keberadaan Setra Gandamayu sesungguhnya adalah anugerah ekologis, kultural, sekaligus spiritual. Tanah lapang itu menyimpan jejak masa kecil: ada pohon trembesi—atau di Bali disebut suar—yang merupakan produsen oksigen terbesar, menaungi area yang dulu menjadi tempat bermain bola. Kadang bola kami masuk ke lubang galian makam, dan itu dianggap biasa saja; kami tinggal mengambilnya, dan permainan berlanjut. Di tempat itu pula kami mencari buah celagi atau asam, menikmati rasa masamnya di antara canda tawa kanak-kanak.

Namun Setra Gandamayu bukan hanya ruang kenangan. Ia adalah contoh nyata bagaimana sebuah tradisi mampu berfungsi sekaligus sebagai mekanisme ekologis. Pembakaran mayat—ngaben—membuat setra tidak pernah penuh, sehingga tidak boros lahan untuk kuburan. Ketika banyak daerah di luar Bali kehabisan ruang pemakaman, masyarakat Bali sejak lama telah menghidupi cara pandang yang selaras dengan alam: tubuh kembali ke unsur-unsurnya secara cepat, tanpa menuntut ruang permanen.

Perbandingan ini tampak jelas saat masa pandemi COVID-19. Ketika banyak wilayah di Indonesia terpaksa membuka kuburan baru karena lonjakan kematian, Bali relatif tidak mengalami tekanan serupa. Ngaben, baik yang besar maupun sederhana, menjadi solusi ekologis sekaligus spiritual. Sementara ribuan hektar lahan di berbagai kota ditelan menjadi tempat pemakaman, Setra Gandamayu tetap seperti sediakala—lapang, teduh, dan hijau. Tradisi leluhur ternyata jauh lebih adaptif dibanding berbagai sistem modern yang belum tentu ramah lingkungan.

Sebenarnya, ide kremasi sendiri pernah disuarakan oleh seorang tokoh besar Indonesia: Ali Sadikin. Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia menyadari betapa borosnya ruang pemakaman. Ia bukan hanya mengusulkan, tetapi memberikan contoh: beliau dan istri tercinta ditempatkan dalam satu liang lahat. Ini adalah langkah visioner, yang hingga kini sering dilupakan. Padahal, apa yang diperjuangkan Bang Ali sejalan dengan apa yang telah dihayati masyarakat Bali berabad-abad lamanya.

Pembakaran jenazah—baik dalam bentuk ngaben maupun kremasi modern—adalah warisan Sanatana Dharma yang terbukti dan teruji oleh waktu sangat bermanfaat. Bukan saja dari sisi efisiensi lahan, tetapi juga dari sisi kesadaran. Ketika tubuh menjadi abu, sang jiwa—atau jivamtan—seolah berbisik, “Ah, ternyata aku bukan badan.” Inilah kesadaran awal yang semestinya kita capai saat masih berbadan. Tubuh hanya kendaraan sementara; keberadaan sejati tidak melekat pada materi yang fana.

Namun bagi banyak orang, kesadaran itu sering datang terlambat. Walau demikian, seperti kata seorang sahabat saya, Made Wiranata—seorang guide Korea, filsuf jalanan, dan penggemar berat Osho atau Bhagavan Shri Rajneesh—“Better late than never.” Lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sama sekali. Ngaben, dalam kedalaman simboliknya, menjadi pengingat keras bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengenali diri sejati; bukan sekadar rutinitas mengejar dunia.

Karena itu, cerita Setra Gandamayu bukanlah sekadar kisah penghijauan, atau lapangan bola masa kecil, atau deretan pohon trembesi yang memproduksi oksigen. Ia adalah cermin kesadaran para leluhur dalam tradisi Sanatana Dharma—kesadaran yang tidak hanya spiritual, tetapi juga ekologis. Leluhur kita tahu bahwa tanah harus dikembalikan kepada alam, bukan dipenuhi tumpukan beton menjuang tinggi. Mereka memahami bahwa ruang publik adalah ruang bersama, bukan komoditas.

Kesadaran ekologis para leluhur itu relevan kembali setelah bencana banjir besar yang melanda Bali pada September lalu. Banjir bukan hanya peristiwa alam; ia adalah sinyal keras bahwa kita telah melampaui batas. Alih fungsi lahan, penebangan pohon, dan pembangunan tak terkendali telah menghilangkan banyak “Setra Gandamayu” versi lain: ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi paru-paru wilayah. Ketika sawah berubah menjadi villa, kebun berubah menjadi ruko, dan tebing berubah menjadi hotel, jangan heran jika air tidak lagi punya tempat untuk meresap. Alam hanya menagih haknya yang kita cabik-cabik. Dalam konteks itu, Setra Gandamayu adalah anomali yang indah—sebuah ruang yang selamat karena tradisi melindunginya.

Ironisnya, banyak orang modern yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kolot. Padahal tradisi tertentu justru lebih maju dalam melihat relasi manusia dengan alam. Apa yang dianggap “kuno” ternyata menyimpan kebijaksanaan ekologis yang tidak dimiliki pendekatan pembangunan kontemporer. Ngaben adalah salah satu contohnya.

Dalam waktu dekat, seorang teman dari Surabaya meminta saya memfasilitasi Sudi Wadani, karena kepercayaan lamanya tidak membenarkan tindakan kremasi atau ngaben. Ia merasa tergerak kembali pada akar tradisi Nusantara yang lebih tua. Saya membuka kedua belah tangan dan mendekapnya erat sembari berkata: “Selamat kawanku, kau telah kembali ke dalam pangkuan Bunda Ilahi, Sanatana Dharma.” Ada getaran haru saat ia mengaku merasa “pulang.” Kembali ke keyakinan yang menghormati alam, menghormati kesadaran, dan menghormati perjalanan jiwa.

Di tengah dunia yang semakin sesak oleh beton, semakin panas oleh polusi, semakin bising oleh ambisi manusia, kita perlu kembali merenungi pesan sederhana dari para leluhur: tanah tidak untuk dikuasai, tetapi untuk diselarasi. Setra Gandamayu, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan hal itu.

Dan jika suatu hari kita kembali ke sana—melihat pohon trembesi tua yang masih meneduhkan, mendengar desir angin yang seakan mengenang doa-doa ngaben yang pernah bergema—kita mungkin akan mengerti bahwa penghijauan bukan hanya program lingkungan. Ia adalah wujud konkret kesadaran spiritual: kesadaran bahwa kita datang dari alam, hidup bersama alam, dan pada akhirnya kembali ke alam.

Mungkin, itu sebabnya para leluhur berkata: “Bumi bukan warisan untuk dimiliki, tetapi titipan untuk dijaga.” [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alambaliHindu Balisetra gandamayu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Next Post

‘Game’ dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

'Game' dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co