Menipu Tuhan
Aku pernah belajar berpura-pura suci—
Menyembunyikan dosa di bawah sajadah,
Menjahit dzikir dari sisa ego
Yang tak sempat kutanam dalam malu.
Di depan Tuhan aku piawai berperan:
Mukaku menunduk,
Tapi pikiranku berdiri congkak,
Menatap langit seperti menipu cermin.
Setiap sujud jadi teater rahasia,
Tempat aku menyembah bayanganku sendiri.
Malaikat mencatat doaku,
Mungkin dengan tinta yang menertawakan.
Namun malam tahu,
Tak ada dusta yang bisa sembunyi dalam sunyi.
Ia memelukku, lalu berbisik:
“Tuhan tak bisa kau tipu,
Karena Ia hidup di balik kebohonganmu sendiri.”
Mengemis Ampun
Aku datang lagi—
Dengan dosa yang tak sempat mati,
Membawa tangan yang basah oleh niat yang gagal.
Setiap niat kupungut dari lantai waktu,
Kususun jadi doa,
Lalu kuhancurkan sebelum sempat kupanjatkan.
Tuhan mungkin jenuh mendengar suaraku,
Tapi aku tak bisa diam;
Diam membuatku gila.
Ampun bukan untuk yang suci,
Melainkan bagi yang terus datang
Meski hatinya separuh busuk.
Sebab jika aku berhenti,
Aku benar-benar percaya:
Neraka bukan tempat,
Melainkan kebiasaan yang tak bisa kutinggalkan.
Menegur Langit
Esoknya. Aku menatap langit terlalu lama,
Menunggu jawaban yang tak juga jatuh.
Barangkali Tuhan sedang menambal hatiku,
Bukan doaku.
Aku menegur-Nya—
Bukan karena berani,
Tapi karena rindu yang berubah jadi marah.
“Di mana Kau sembunyikan jawabanku?”
Teriakku,
Dan angin lewat membawa dingin
Yang menggigilkan kepercayaanku sendiri.
Kini aku berhenti menegur,
Namun belum berhenti menunggu.
Sebab kadang, iman tumbuh
Di antara dua sunyi:
Tuhan yang diam,
Dan manusia yang tetap memanggil-Nya.
Mencuri Doa
Aku pernah mencuri doa dari bibir orang lain—
Karena lidahku kelu oleh malu,
Karena hatiku takut menatap langit tanpa alasan.
Aku pinjam kata ampun,
Aku pinjam ikhlas,
Aku pinjam seluruh kalimat yang membuat manusia tampak tenang.
Kupakai di malam yang retak,
Di antara dengus napas dan kesunyian yang tak bersuara.
Namun setiap kali kuluapkan,
Kata-kata itu menjadi dingin,
Menggigil di antara rongga dada,
Menjadi doa yang kehilangan asal.
Tuhan pasti tahu,
Bahwa aku bersujud dengan suara yang bukan milikku—
Bahwa aku meniru mereka yang suci
Dengan hati yang berdebu dan tangan yang gemetar.
Mungkin Ia tersenyum getir,
Melihatku berusaha menukar dusta dengan pengampunan,
Melihatku meminjam lidah surga untuk mengakui dosa.
Dan barangkali,
Di balik segala tipu yang kubuat,
Aku hanya ingin sesuatu yang sederhana:
Tidur di telapak rahmat-Mu
Tanpa harus merasa pantas.
Menggugat Takdir
Tuhan tak adil!
Aku pernah menuduh Tuhan tak adil—
di tengah malam yang menua di dada,
ketika semua doaku tak berbuah apa-apa.
Kupukul dada sendiri,
kusalahkan hidup,
kusalatkan nasib seolah aku tahu lebih dari semesta.
Namun setelah semua marah terbakar habis,
yang tersisa hanya abu dan bisu.
Dari situ aku paham,
Tuhan tak pernah salah.
Aku saja yang ingin jalan pintas menuju tenang,
tanpa mau tersesat dulu di gelap.
Tanjung Priok, 28 Oktober 2025
.
Penulis: Faqod Faaz
Editor: Adnyana Ole



























