Sehari setelah hari suci Galungan, pada tanggal 20 November 2025 kami di Desa Adat Beringkit, Mengwi, Badung melaksanakan piodalan di Pura Desa lan Puseh setempat. Perayaan kali ini cukup besar sebab bertepatan dengan tilem sasih keenem. Keistimewaan ditambah dengan hadirnya semeton Ida Bhatara(saudara niskala) yang berstana di Pura Dalem Gegelang, Banjar Perang-Lukluk. Momen ini dikenal dengan istilah nodya. Nodya artinya menyaksikan, yang disaksikan dalam hal ini adalah piodalan di Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Beringkit.

Tepat Pukul 16.00 Wita kami para warga Beringkit berbondong-bondong menuju jembatan batas antara Desa Adat Kapal dan Desa Adat Beringkit. Tujuan kami menuju jembatan yang berada di jalan protokol Denpasar-Gilimanuk itu adalah untuk memendak (menjemput) Ida Bhatara Pura Dalem Gegelangyang berwujud barong dan rangda. Setelah tiba, secara bersamaan iring-iringan yang panjang mulai terlihat dari ujung timur jalan raya.
Barisan terdepan adalah pengawin (senjata) berupa tombak, bandrang, umbul-umbul. Kemudian disusul oleh barisan ibu-ibu PKK dengan kostum seragam berwarna kebaya putih dan kamben ungu lengkap dengan keben yang mereka bawa di kepala. Kegiatan membawa keben dan menaruhnya di kepala dikenal dengan istilah mapeed. Kemudian di baris ketiga adalah rombongan krama yang menandu Ida Bhatara. Kemudian di baris paling terakhir adalah gambelan balaganjur yang seakan menjadi bahan bakar semangat para pengiring Ida Bhatara.


Setelah memasuki wilayah Desa Beringkit, seluruh piranti yang dibawa oleh pengiring Pura Dalem Gegelang dengan segera diambil alih oleh pengiring Desa Adat Beringkit. Ini adalah wujud empati terhadap para pengiring yang telah berjalan kaki sejauh 5 km dari Lukluk ke Beringkit. Setelah menghaturkan canang pemendak kemudian dilanjutkan dengan mengiringi Ida Bhatara menuju Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Beringkit.
Harumnya bau kemenyan dan majagau dari pasepan mengiringi perjalanan sakral Ida Bhatara, serta suara kulkul (kentongan) yang bersahutan menyambut kehadiran beliau dengan gembira. Sesampainya di jaba pura Ida Bhatara dihaturkan labaan pitik sebagai sesajen penyambut. Ritus ini dikenal dengan nyambleh.
Nyambleh dalam hal ini dapat berarti menyembelih seekor hewan baik itik maupun anakan babi jantan. Setelah dihaturkan labaan pitik Ida Bhatara memasuki areal utamaning mandala dan distanakan pada bangunan suci Bale Murda Manik. Setelah seluruh rangkaian selesai, tepat pada pukul 18.00 Wita dilanjutkan dengan rangkaian pujawali.
Hubungan Pucak Gegelang-Beringkit-Dalem Gegelang
Tradisi nodya ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi berakar pada sejarah panjang hubungan antara ketiga pura. Sampai saat ini hanya satu data tertulis yang saya temukan mengenai hubungan ketiga entitas yang berada di Pura Luhur Pucak Gegelang, Pura Desa Beringkit, dan Pura Dalem Gegelang. Sumber tertulis itu adalah prasasti yang tersimpan di Pura Luhur Pucak Gegelang, Nungnung-Petang. Ketika itu keadaan Desa Adat Nungnung dilanda musibah. Terdapat serangan dari hewan liar berupa macan.
Sontak, karena mendapatkan bahaya sedemikian, akhirnya beberapa masyarakat Nungnung mengungsi menuju beberapa wilayah. Wilayah-wilayah tersebut adalah Beringkit, Darmasaba, Buleleng, dsb. Kemudian prasasti tersebut menjelaskan bahwa, penduduk yang telah mengungsi kemudian membuat suatu altar pemujaan, yang digunakan untuk memuja entitas suci yang berstana di Pura Luhur Pucak Gegelang. Hingga saat ini altar pemujaan tersebut masih dapat ditemui di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Beringkit serta Pura Dalem Gegelang, Banjar Perang-Lukluk.
Entitas yang kami puja adalah Ida Bhatara Lingsir yang bersetana dalam satu gedong/ bangunan suci. Persamaan yang masih dapat ditemukan hingga saat ini adalah wujud fisik dari entitas suci tersebut. Seperti teteken/ tongkat pandita dan siwa upakarana/ piranti pemujaan pandita siwa. Mengapa piranti seorang pandita? Sebab diyakini wujud dari Ida Bhatara Lingsir adalah seorang brahmana/ pandita.
Sehingga teteken dapat ditemukan di Desa Beringkit, sedangkan siwa upakarana dapat ditemukan di Pura Pucak Gegelang. Pura Dalem Gegelang juga memiliki altar pemujaan yang sama untuk Ida Bhatara di Pura Luhur Pucak Gegelang. Hubungan sekala-niskala masih terjalin hingga saat ini. hal tersebut tercermin ketika salah satu pura melaksanakan piodalan maka salah satu dari mereka pasti akan nodya pujawali di pura tersebut.
Kembali pulang untuk kembali datang
Setelah marerepan (menginap) selama satu hari, Ida Bhatara Dalem Gegelang akhirnya kembali ke Stana beliau di Pura Dalem Gegelang, Perang-Lukluk. Tepat pada pukul 07.00 Wita krama kembali memadati Utamaning Mandala Pura Desa lan Puseh Desa Adat Beringkit. Rangkaian diawali dengan ngééd atau memohon ijin pada Ida Bhatara bahwa akan dilaksanakan panyineban (penyelesaian upacara).
Kemudian dilanjutkan dengan kincang-kincung dan menghaturkan penyambleh berupa itik, bersamaan dengan itu Ida Bhatara diiringi berputar searah jarum jam sebanyak tiga kali atau dikenal dengan mapurwa daksina (berputar dari timur ke selatan). Semua rangkaian selesai pada pukul 07.30 Wita.
Kemudian Ida Bhatara Pura Dalem Gegelang bersiap untuk kembali pada stana beliau. Tabuh bebarongan mulai bergemuruh di areal jaba sisi pura. Momen haru sangat terasa, para prajuru bersalaman, memohon maaf atas segala kekurangan ketika menjamu para tamu di Pura Desa Beringkit. Tegur dan salam sampai jumpa juga terlihat dilakukan oleh masyarakatdesa.


Akhirnya Ida Bhatara mawali ring yogan ida (kembali pada tempatnya semula). Namun hal tersebut menjadi penanda, bahwa kembali pulang, juga untuk kembali datang pada perayaan-perayaan berikutnya.
Makna Perjalanan Ida Bhatara Dalem Gegelang
Perjalanan yang dilakukan secara manual (berjalan kaki) dari Lukluk ke Beringkit tentu hal yang menjadi pertanyaan. Di tengah keadaan dunia yang serba canggih, tersedia kendaraan yang beragam. Lantas mengapa mereka memilih berjalan kaki? Bukan soal pawisik Ida Bhatara, namun semangat gotong royong, rasa bakti, dan sraddha (keyakinan) yang masih ingin mereka jaga. Saat ini kita seringkali berjarak dalam dekat. Hal tersebut seringkali dipengaruhi oleh gadget. Kita sering sibuk dengan dunia dalam genggaman, tanpa memperdulikan siapapun. Semua keacuhan tersebut tentu dipicu oleh ketidaksadaran (tan eling).
Sehingga momen setahun sekali ini dapat meyadarkan kita, bahwa kita masih memiliki hubungan yang luas antara manusia, lingkungan, dan tuhan. Disinilah konsep nyata Tri Hita Karana dapat berlaku. Dengan sedikit mengenyampingkan teknologi kendaraan, melakukan perjalanan adalah cara untuk menyambung perdaban ingatan. Sebenarnya jaraknya cukup jauh, jika berjalan seorang diri sejauh 5 km tentu akan merasa letih dan malas. Namun jika dijalankan beramai-ramai jarak tersebut terasa begitu dekat.
Dengan penuh rasa hormat, kami krama Desa Adat Beringkit mengapresiasi seluruh pangempon Pura Dalem Gegelang, Perang-Lukluk yang telah berjalan dengan kesadaran. Semoga limpahan anugerah Ida Bhatara senantiasa mengalir, seperti spirit pelayanan yang telah dilakukan. Serta tak lupa atas segala kekurangan yang tersedia, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Druenang sareng. [T]
Tanah Nyurang, 22 November 2025
Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole



























