SUASANA Pura Segara, Desa Adat Buleleng, Minggu malam, 16 November 2025, dipenuhi semangat ngayah ketika STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa menampilkan sesolahan tari dalam rangkaian Piodalan Agung Segara Buleleng. Acara yang dimulai pukul 20.00 WITA ini menghadirkan empat tari secara berurutan dan diiringi oleh Komunitas Adicitatala sebagai penabuh.
Ketua STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa, Kadek Ega Suryani Dewi, S.Pd., menyampaikan bahwa ngayah kali ini merupakan bentuk bakti generasi muda kepada desa adat. Ia menuturkan bahwa persiapan dilakukan dengan singkat, namun seluruh anggota tetap berupaya memberikan penampilan terbaik. Menurutnya, ngayah bukan semata pergelaran seni, melainkan ungkapan ketulusan dan rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sementara itu, Ketua Panitia Piodalan Pura Segara, Jro Mangku Nyoman Agus Suwestra, mengapresiasi kontribusi STT dalam meramaikan piodalan. Ia menyebutkan bahwa kehadiran anak-anak muda yang terlibat dalam ngayah memberikan energi positif bagi jalannya upacara. Jro Mangku mengungkapkan bahwa masyarakat sangat menantikan penampilan ini karena menjadi salah satu rangkaian seni yang memperkaya makna spiritual piodalan.
Beberapa pemedek yang selesai sembahyang turut memberikan tanggapan atas sesolahan tersebut. I Wayan Sudiarta, salah satu pemedek asal Buleleng, mengaku bangga melihat STT Banjar Jawa tampil dengan penuh semangat. Ia mengatakan bahwa pertunjukan seperti ini membuat suasana piodalan terasa semakin hidup. Menurutnya, tari-tari yang ditampilkan memberi kesan mendalam karena disajikan dengan ketulusikhlasan ngayah.
Tari pertama yang dibawakan adalah Tari Puspanjali, sebuah tari penyambutan yang menggambarkan keanggunan dan rasa hormat. Dalam penampilan ini, para penari tampil serempak dengan gerakan halus dan ekspresi lembut, mencerminkan penghormatan kepada pemedek dan kehormatan bagi dewa-dewi. Pementasan tersebut berhasil menarik perhatian sejak awal sesolahan dimulai.


Selanjutnya ditampilkan Tari Cendrawasih, tari yang terinspirasi dari burung cenderawasih dengan karakter elegan dan penuh pesona. Para penari menunjukkan keindahan gerakan tangan dan keluwesan tubuh yang menggambarkan sifat burung tersebut. Penonton dapat merasakan suasana ceria serta keanggunan tarian yang dibawakan dengan penuh kekhusyukan.
Pada bagian ketiga, suasana berubah menjadi lebih dramatis dengan tampilnya Tari Jauk Manis. Tarian ini menghadirkan karakter raksasa namun dengan nuansa halus dan manis. Penari menunjukkan kemampuan mengontrol ekspresi topeng dan ritme gerakan, memperlihatkan perpaduan antara kekuatan dan kelembutan khas tari Bali. Banyak pemedek terlihat kagum dengan ketepatan gerakan yang ditampilkan.
Tari penutup adalah Tari Bebarongan Bangkung, yang selalu sukses mencuri perhatian karena menghadirkan karakter bangkung yang lucu dan unik. Gerakan lincah dan interaksi antarpenari memberikan suasana segar di akhir pementasan. Masyarakat yang menonton terlihat menikmati dan beberapa tertawa kecil melihat kelincahan tokoh bangkung dalam tarian ini.

Menurut Kadek Ega Suryani Dewi, keempat tari ini dipilih karena menggambarkan keragaman karakter seni tari Bali. Ia menekankan bahwa meskipun persiapan dilakukan secara singkat, seluruh anggota STT berkomitmen tampil maksimal. Ia berharap anak-anak muda tetap menjaga semangat ngayah dan terus melestarikan seni tradisi.
Jro Mangku Nyoman Agus Suwestra menambahkan bahwa sesolahan seperti ini membawa nilai spiritual sekaligus budaya. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh anggota STT yang telah ngayah tanpa pamrih. Baginya, hadirnya generasi muda dalam kegiatan adat merupakan tanda kuatnya tradisi yang tetap dijaga.
Salah satu pemedek lainnya, Ni Made Sariani, juga memberikan komentar positif. Ia mengatakan bahwa penampilan malam itu sangat menghibur serta memberikan rasa bangga terhadap generasi muda Banjar Jawa. Menurutnya, ngayah dengan tarian tidak hanya memperindah piodalan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi para remaja.
Sepanjang acara, suasana Pura Segara terasa semakin hidup. Cahaya lilin dan dupa berpadu dengan tabuhan gamelan dari Komunitas Adicitatala, menciptakan suasana sakral yang menyatu dengan pementasan tari. Banyak pemedek tampak bertahan lebih lama di jaba tengah hanya untuk menyaksikan sesolahan hingga selesai.
Para penari yang terlibat mengaku senang bisa ikut ngayah. Mereka merasa bahwa kesempatan tampil saat piodalan adalah bentuk persembahan terbaik kepada Ida Batara Segara. Meski latihan tidak berlangsung lama, kekompakan tetap berhasil ditunjukkan selama pementasan.
Komunitas Adicitatala sebagai penabuh juga memberikan dukungan besar terhadap keberhasilan sesolahan. Tabuhan yang ritmis dan padu membantu memperkuat cerita dalam setiap tarian. Kerja sama antara penari dan penabuh terlihat harmonis sepanjang malam.

Ketua STT menegaskan bahwa kegiatan ngayah ini menjadi momentum untuk mempererat kekompakan anggota. Ia mengatakan bahwa banyak anggota baru yang terlibat, sehingga pengalaman ngayah menjadi pembelajaran berharga bagi generasi penerus.
Jro Mangku kembali menekankan bahwa keberhasilan piodalan tidak lepas dari gotong royong seluruh warga, termasuk anak-anak muda yang tidak pernah lepas tangan dalam kegiatan adat. Ia berharap STT Banjar Jawa terus aktif berpartisipasi dalam kegiatan desa adat di masa mendatang.
Pemedek lainnya, Ketut Pasek, turut menyampaikan rasa syukurnya karena dapat menyaksikan penampilan yang penuh dedikasi. Ia menyebutkan bahwa penampilan itu membuat masyarakat semakin menghargai keberadaan seni tari Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Hingga sesolahan berakhir, suasana masih dipenuhi rasa bangga dan kekaguman terhadap penampilan para remaja. Tidak sedikit warga yang memberikan pujian dan dorongan agar kegiatan seperti ini terus dilestarikan oleh STT.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih dari panitia kepada seluruh pihak yang terlibat. Malam itu menjadi bukti bahwa semangat ngayah tetap terjaga dan hidup di kalangan generasi muda Banjar Jawa.
Dengan berlangsungnya sesolahan ini, Piodalan Agung Segara Buleleng terasa semakin bermakna. Kolaborasi antara STT, panitia piodalan, penabuh, dan masyarakat menunjukkan bahwa seni dan spiritualitas dapat berjalan beriringan, memperkuat ikatan budaya dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat Bali. [T]
Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole



























