DI dalam ruang kelas yang sepi, Nara duduk sendiri sambil menatap jam dinding yang terus berputar. Nara adalah gadis yang cerdas dan pendiam, ia selalu memiliki beribu pertanyaan di benaknya yang mungkin tidak akan pernah bisa ia sampaikan. Ia tak suka berbaur, terlebih lagi dia selalu merasa sendiri setelah kehilangan orang tuanya dan hanya ditemani oleh Nenek yang selalu menyayanginya.
Di saat teman-temannya bermain di waktu istirahat, ia memilih menemani bayangannya yang masuk lewat celah jendela bersama teriknya sinar matahari. Ketika jam pembelajaran dimulai pun, mata dan pikirannya hanya terfokus pada tulisan-tulisan di bukunya itu. Teman-temannya enggan untuk memulai pembicaraan dengannya, karena mereka tahu Nara hanya akan menjawab secukupnya.
Setelah bel pulang berbunyi, Nara bergegas pergi dan menyempatkan waktu untuk singgah ke perpustakaan di alun-alun kota. Ia teringat akan pesan Nenek yang memintanya untuk meminjamkan buku di perpustakaan kota tersebut.
Nenek Nara yang biasa dipanggil Nek Sari, adalah orang yang sangat menyayangi Nara. Ia selalu ada untuk Nara, terlebih setelah Nara ditinggal oleh orang tuanya. Nek Sari selalu melantunkan dongeng-dongeng legenda kepada Nara. Dongeng yang paling sering diceritakan adalah dongeng Jayaprana dan Layonsari. Hal itu membuat Nara menjadi tahu semua hal mengenai cerita tersebut, bahkan terkadang Nara merasa bosan dengan cerita itu.
Namun, kini Nek Sari jatuh sakit dan sudah tak bisa beraktivitas seperti biasanya. Nara yang kini hanya mempunyai Nek Sari sebagai keluarganya, berusaha untuk selalu memenuhi kehendak neneknya itu. Walaupun terkadang ia merasa tanggung jawabnya berat, Nara tetap berusaha setegar mungkin.
Di perjalanan Nara berusaha mengingat judul buku yang diminta oleh Nenek, tetapi tak sedikit pun terbesit di pikirannya. Langkah demi langkah ia lalui. Pikirannya yang tadi fokus mengingat judul buku itu, kini terpecah setelah mendengar suara dalang dan keramaian. Nara menghampiri titik keramaian itu. Hingga ia melihat pameran wayang yang ada di depan perpustakaan.
“Oh iya, aku baru ingat nenek kan meminta buku cerita wayang di Nusantara,” ujar Nara ketika teringat.
Ia menghela napas lega dan langsung masuk ke dalam perpustakaan. Baru saja masuk, Nara sudah merasa udara dalam perpustakaan yang pengap karena dipenuhi buku–buku berdebu. Tumpukan buku-buku itu tersusun di dalam rak yang menjulang tinggi dan memenuhi setiap sudut ruangan seperti labirin.
Dengan kondisi seperti itu, Nara merasa sangat kesusahan menemukan buku yang dipinta sang nenek. Setelah menghabiskan waktu setengah jam di dalam sana, Nara akhirnya menemukan buku itu. Bukunya tertutup debu yang sangat tebal, tetapi hanya dengan sedikit goresan kemoceng, tampak asli buku kembali terlihat. Buku itu terlihat sangat tua dengan kertas yang sudah hilang di beberapa bagian karena digerogoti rayap. Walaupun begitu, Nara senang karena dapat menemukan buku itu.
Namun di saat ia akan beranjak dari tempat itu ia melihat ada sepercik cahaya yang muncul di balik tumpukan buku-buku tersebut. Cahaya itu seakan-akan meminta Nara untuk mendekat dan memunculkan rasa penasaran Nara. Nara yang tak kuat dengan pengaruh cahaya itu pun mengambil salah satu buku yang sangat bercahaya dengan judul Jayaprana dan Layonsari, lalu ia mencari tempat yang nyaman untuk membaca isi buku tersebut.
“Wah buku ini sangatlah bercahaya, padahal tampak kulitnya seperti buku antik, aku harus membacanya.”
Waktu terus berjalan, Nara yang kelelahan membaca buku itu pun tertidur. Di saat Nara sadar dari tidurnya, ia terbangun di tempat yang asing dan mengenakan kain kemben yang melilit tubuhnya layaknya gadis Bali pada zaman dulu. Nara yang merasa hal tersebut aneh mencoba mengingat apa yang terjadi, hingga ada suara yang memanggilnya.
“Hai Nara, selamat datang di kisah Jayaprana dan Layonsari. Di sini kamu akan mendapatkan misi, jadi bersiaplah!”
“Siapa kamu? Lalu apa maksudmu dengan misi itu? Kenapa harus aku?” tanya Nara.
Suara itu pun kembali terdengar.
“Kamu bisa memanggilku Ibu Peri. Akulah yang akan menemanimu selama menjalankan misi di sini. Jika kamu bisa menjalankan misi ini dengan baik, maka kamu akan menerima hadiah yang besar. Hanya kamulah orang yang terpilih oleh pemegang kunci waktu di semesta ini.”
Meski pun Nara belum sepenuhnya paham, ia berusaha untuk menerima situasinya saat ini. Mau bagaimana pun ia sudah terjebak ke dalam alur waktu sang semesta.
Nara bertanya dengan rasa penasaran yang besar.
“Apa misiku di sini, Ibu Peri?”
Ibu Peri merasa senang dengan ketertarikan Nara, ia pun menjawab pertanyaan tersebut.
“Misimu di sini adalah menjadi Layonsari, kamu harus bisa menghentikan hal kelam yang terjadi pada Jayaprana, Layonsari, dan menyelamatkan kerajaan.”
Rasa penasaran Nara belum sepenuhnya terjawab, tetapi suara ibu peri sudah menghilang. Nara yang saat itu sudah menyadari kondisinya, langsung berusaha beradaptasi. Dengan ingatan yang samar-samar, Nara merasa tidak asing dengan kamar yang menjadi tempatnya berada sekarang, terlebih setelah ia mencium aroma dupa yang sangat khas di ingatannya.
Tanpa ia sadari ingatan Layonsari muncul di benaknya. Nara merapikan kemben yang ia pakai, lalu menambah perhiasan seperti yang Layonsari biasa lakukan. Hingga ia menyadari bahwa ia tak merasa asing dengan apa yang ia lakukan pada raga Layonsari, padahal hal tersebut tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Nara sadar jiwanya dan Layonsari sudah menyatu.
Pintu kamar Layonsari berbunyi.
“Tok.. tok.. tok…” Suara itu diiringi suara laki-laki tua yang parau.
“Nak, Ajik masuk ya…”
Nara segera membalas suara itu, karena di pikirannya itu adalah ayah Layonsari.
“Nggih, Jik, silahkan. ”
Dari luar kamar Layonsari, datanglah Jero Bendesa, ayah Layonsari dari Banjar Sekar. Ayahnya menyampaikan kabar bahwa beliau mendapat titah dari Sang Raja untuk menikahkan Layonsari dengan putra angkat sang raja, Jayaprana. Nara sebagai Layonsari menerima titah tersebut bukan karena ia lupa dengan misinya untuk menyelamatkan Jayaprana, tetapi ia sudah memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi misi ini. Namun, Layonsari akan memberikan syarat setelah menikah dengan Jayaprana. Jayaprana dan Sang Raja pun menyetujui hal tersebut.
Hari berganti dalam bisikan waktu, hingga tiba akhirnya di hari pernikahan Jayaprana dan Layonsari. Nara tahu bahwa Sang Raja menyukai paras Layonsari yang bak rembulan. Kulitnya yang sangatlah lembut, matanya yang selalu berbinar dan rambutnya yang hitam berkilau bisa membuat siapa saja yang melihatnya terpukau. Dari situlah Nara memulai rencananya untuk tampil dengan sangat sederhana agar tidak memikat perhatian Sang Raja sejak awal. Ia membuat kulitnya terlihat kering, rambutnya terlihat kusut dan ia menggunakan kain untuk menutupi bagian bawah wajahnya.
Nara sudah mengerti dirinya kini sudah bukan lagi seorang Nara tetapi Layonsari yang akan merasakan lautan duka apabila ia tak berusaha merubah jalan takdir. Dengan cahaya tekadnya, Nara berseru.
“Sudah saatnya aku sebagai Layonsari menjalankan misi ini.”
Setelah menjalin ikatan suci, Layonsari menetap bersama Jayaprana di kerajaan. Mereka menyulam hari di Bale Puri Dangin yang terletak jauh dari singgasana dan Bale Sang Raja. Namun di balik senyum lembutnya, Layonsari menyimpan syarat yang akan ia berikan kepada Jayaprana. Syarat itu masih ia pendam, karena dengan pengabdian Jayaprana yang begitu besar kepada kerajaan, ia tentu tahu Jayaprana tidak akan semudah itu menerima syarat yang diberikannya.
Dari sanalah bermula taktik Layonsari. Dengan bantuan dayang kepercayaannya, ia membiarkan kabar tentang keelokan parasnya mengalir bagaikan desir angin ke seluruh kerajaan, hingga ke telinga Sang Raja. Raja yang mendengar hal itu ingin mengabaikannya saja, tetapi kabar tersebut semakin marak di kerajaan. Sang Raja yang hanya mengingat sedikit rupa pujaan hati putranya itu pun menggetarkan rasa ingin tahunya. Hasratnya menuntun langkah dan seribu siasat untuk bisa menemui Layonsari tanpa kecurigaan. Begitu pertemuan terjadi, nyata sudah Sang Raja terhanyut dalam pesona Layonsari.
Sejak hari itu, Sang Raja kian kerap menyapa Layonsari, melantunkan pujiannya akan paras Layonsari, yang bahkan di hadapan Jayaprana yang hanya mampu menyimpan resah di dada. Sang Raja sering memuji Layonsari dengan kata manisnya.
“Layonsari, bagaimana bisa aku tidak tahu menantuku ini sangatlah berparas cantik, wajahmu itu bisa saja membuat ku ingin datang ke sini setiap hari untuk memandangimu hahaha…”
Dengan tawa Sang Raja, Jayaprana hanya bisa menganggap sebagai hiburan semata. Di sinilah misi Layonsari sudah berjalan perlahan dengan sempurna, ia sudah memikirkan hal apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya. Namun, Layonsari masih merasa ada hal yang harus ia tahu dari Ibu Peri. Ia pun memanggil Ibu Peri di kala sepinya.
“Ibu Peri, bisakah kau datang?”
Tak lama kemudian suara Ibu Peri muncul di telinga Layonsari.
“Hai Nara, bagaimana rasanya menjadi Layonsari?”
Nara dengan raga Layonsari itu menghembuskan napas yang berat dan berkata.
“Rasanya sangat berat berada di balik topeng ini, jadi aku memanggilmu sekarang ingin menanyakan sesuatu, Ibu Peri…”
“Katakanlah, Nak!” balas Ibu Peri.
Nara menyampaikan sesuatu yang membuat dadanya sesak dan meneteskan air mata.
“Apakah aku bisa kembali ke dunia asalku? Aku sangat rindu dengan Nenek. Aku takut sesuatu terjadi padanya, Ibu Peri.”
“Tenanglah, Nak, nenekmu baik-baik saja. Asal kamu tahu, alasan kamu berdiri di sini sekarang adalah nenekmu. Dialah yang meminta sang semesta untuk memberikan kesempatan kepadamu,” ucap Ibu Peri sembari tersenyum.
Nara tercengang dan merasa sangat terkejut akan hal tersebut. Ibu Peri yang melihat ekspresi Nara, langsung menambahkan ucapannya tadi.
“Mungkin ini saatnya aku menceritakan kepadamu. Nenekmu adalah pencipta permainan ini, ia membuat permainan ini untuk menyelamatkan leluhurnya di masa lalu, yaitu Layonsari. Dengan bantuan sang semesta, Nek Sari memasuki permainan ini dan berusaha mengubah jalan takdir. Namun naas, ia gagal dan terpaksa merelakan orang tuamu untuk terjebak di dalam cerita ini.”
“Lalu di mana mereka sekarang, Ibu Peri? Tolong pertemukan aku dengan mereka,” ujar Nara dengan tergesa-gesa.
“Kamu tidak bisa bertemu mereka tanpa menyelesaikan misi ini, Nara,” balas ibu peri.
Nara yang merasa energinya terkuras, hanya meminta pelita harapan untuk misinya ini. Ia merasa ibu peri tidak akan memberi tahunya tentang orang tuanya lagi, dan hal itu bisa mengurangi waktu Nara dalam menjalankan misi. Mereka pun merajut pembicaraan hingga sang baskara tenggelam diantara hamparan laut.
Di kala rembulan mengisi gelapnya malam, Layonsari memberikan perjanjian sunyinya kepada Jayaprana. Layonsari berusaha setenang mungkin karena ia tidak tahu reaksi Jayaprana nantinya, mau bagaimana pun yang berhadapan dengan Jayaprana sekarang adalah gadis kecil dari belahan waktu yang lain.
“Sebelumnya mohon maaf atas kelancanganku Bli, aku di sini hanya ingin menyampaikan syarat dari perjanjian kita sebelumnya,” ucap Layonsari.
Jayaprana mengangguk dan membalas ucapan Layonsari.
“Apa syarat itu Layonsari?”
Layonsari menyampaikan syaratnya dengan penuh kehati-hatian. Ia menjadikan sikap Sang Raja sebagai pijakan, yang diam-diam ia gunakan untuk menuntut syaratnya. Syarat itu adalah ia hanya ingin berpindah kediaman karena ia merasa risih. Jayaprana yang mendengar syarat itu, tentu saja awalnya tidak setuju, tetapi pada akhirnya ia juga yakin hubungan rumah tangganya akan menghantarkan badai apabila terus menetap di kediaman.
Dengan pemikiran serta persiapan yang matang, akhirnya Jayaprana memutuskan untuk menyampaikan hal tersebut dengan dalih ingin hidup mandiri bersama kekasih hatinya kepada Sang Raja. Ketika suara permintaan Jayaprana itu terdengar oleh Sang Raja, ia murka karena ia sudah mencintai Layonsari dan tak mau mereka meninggalkan istana. Sang Raja mencari cara agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata orang-orang di istana. Ia memberikan syarat yang mustahil kepada Jayaprana yaitu menjalankan misi untuk mencari mata-mata musuh ke dalam hutan bersama mahapatihnya agar ia tak bisa keluar dari istana maupun kembali hidup-hidup. Jayaprana menerima titah tersebut dan langsung menyampaikannya kepada Layonsari.
Tanpa diketahui, Sang Raja menemui Patih Saunggaling. Ia memerintahkan Sang Patih untuk mengakhiri hidup Jayaprana ketika sampai di tengah hutan. Sang Patih sempat ingin menolak perintah tersebut karena ia sangat menyayangi Jayaprana. Tetapi Sang Raja marah dan hanya ingin mendengar kabar kematian Jayaprana.
Gundah di hati Layonsari muncul, ia tak mau kehilangan suaminya itu. Layonsari menyatukan pikirannya dengan Jayaprana dan berkehendak untuk menjalankan misi itu bersama, lalu meninggalkan istana. Mereka pun menata segala persiapan dengan penuh cermat, seolah setiap langkah telah ditimbang oleh hati dan pikiran.
Hingga di hari keberangkatan Jayaprana, Layonsari pun sudah siap untuk menjalankan misinya. Ketika Jayaprana sampai di tengah hutan, Patih Saunggaling meneteskan air mata dan langsung menyerahkan pisau kepada Jayaprana dengan berlutut, lalu berkata:
“Mohon maaf, Tuan Jayaprana, saya tidak mampu menjalankan misi dari Sang Raja. Saya sudah menganggapmu sebagai putra sendiri, jadi tolong bunuh saya karena sudah berpikir akan membunuhmu di sini”.
Jayaprana sudah menduga hal itu akan terjadi. Ia meminta Sang Patih untuk membantunya keluar dari istana. Sang Patih diperintahkan untuk bersandiwara bahwa ia sudah membunuh Jayaprana saat kembali ke istana. Layonsari yang sudah mengikuti jejak mereka pun mendekat secara perlahan dan kembali ke sisi Jayaprana. Sang Patih yang melihat hal tersebut pun paham dengan maksud Jayaprana, lalu segera kembali untuk menyampaikan kabar pada sang raja.
Sesampainya di istana, Sang Patih langsung menyampaikan kabar yang membuat hati Sang Raja cukup puas. Setelah berita tersebut tersebar di kerajaan, Sang Raja berkehendak membuai hati Layonsari agar tidak tertalu berbalut kesedihan. Namun sesampainya di Bale Puri Dangin, Raja tidak menemukan Layonsari di sana. Ia langsung memerintahkan para kesatria untuk mencari Layonsari, tetapi kabar tentang Layonsari tak kunjung datang.
Hingga lima purnama terlewati, Sang Raja merasa sangat terpukul, ia menjadi sering berjudi, setiap hari ia selalu meminum minuman keras. Ia yang sudah linglung itu pun didera depresi. Semakin hari depresinya semakin keras hingga beliau menjadi gila. Ia sering melakukan perilaku yang tidak senonoh, kondisinya pun sudah tubuhnya pun tidak terurus. Tubuhnya yang sudah lemah itu pun jatuh sakit. Langkahnya tertatih-tatih, matanya sudah tak bisa menangkap cahaya dengan baik, bahkan ucapannya saja tidak selaras dengan pikirannya. Pada akhirnya maut memeluknya.
Kini, kerajaan pun sudah di ambang kehancuran. Keharmonisan rakyat perlahan merapuh diiringi hilangnya pemimpin yang bijaksana. Ekonomi kerajaan pun semakin parah akibat sering di jarah oleh para bandit. Grubug itu seakan-akan tak akan hilang apabila tidak ada pemimpin baru. Rakyat dengan dada yang resah, mendambakan pemimpin baru yang penuh akan tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Sang Patih berusaha mencari Jayaprana dan Layonsari ke seluruh penjuru kerajaan. Pada akhirnya mereka bertemu di ketidaksengajaan. Dengan gemuruh mendung yang menandakan akan turunnya hujan, sang patih melihat sepasang sejoli yang tidak asing di tengah keramaian pasar. Ia menghampiri pasangan itu, dan memang benar mereka adalah Jayaprana dan Layonsari.
Sang Patih, dengan hati penuh harap, memohon Jayaprana dan Layonsari meneruskan tahkta, agar kerajaan yang runtuh dilanda duka, pulih kembali. Jayaprana dan Layonsari tidak menghendaki permintaan itu secara langsung. Mereka membutuhkan waktu untuk memikirkan hal tersebut dengan jernih. Sang Patih pun bersedia menanti jawaban mereka.
Pada ujung penantian Sang Patih, Jayaprana dan Layonsari setuju menduduki singgasana untuk mengemban dharma demi sejahtera kehidupan rakyat. Dengan ketulusan dan keikhlasan hati yang suci, mereka mengemban tugas mereka dengan baik, hingga wajah kebahagiaan di kerajaan kembali hadir.
Hidup rakyat-rakyat menjadi sejahtera. Perekonomian pun kembali pulih dan membaik. Dengan pimpinan Jayaprana dan Layonsari kerajaan terbebas dari grubug.
Dengan lamanya waktu yang telah dilalui, Nara merasa misinya kini telah berhasil. Ia merasa sangat senang karena bisa menyelamatkan Jayaprana dan membawa kehidupan rakyat menjadi lebih baik. Ia merasa sudah saatnya untuk bertemu dengan orang tuanya. Nara yang merasa misinya sudah berhasil pun memanggil ibu peri.
“Ibu Peri, bisakah kau datang ke sini?”
Tak lama setelahnya, suara Ibu Peri muncul.
“Hai Nara, selamat aku ucapkan kepadamu. Kau telah berhasil menjalankan misi ini dengan baik. Sekarang kau bisa kembali ke tempat asalmu.”
Belum sempat Nara menjawab, tiba-tiba cahaya yang sangat terang menyorot Nara dan membuatnya terlupa sejenak dengan keadaannya dan tidak sadarkan diri.
Cahaya senja yang masuk lewat celah pintu membuat mata Nara silau. Nara pun terbangun kembali di tempat yang sama saat ia tertidur. Yang ia sadari, itu semua hanyalah bunga tidurnya, ia pun bergegas kembali ke rumah karena senja sudah mulai menampakkan dirinya.
Di perjalanan, perasaan Nara terasa bimbang. Di satu sisi ia merasa senang karena akan bertemu neneknya setelah bunga tidur yang terasa nyata dan sangat lama itu, tetapi di sisi lain ia merasa sedih karena ada sesuatu yang sempat hilang dan datang kembali. Sesuatu itu adalah kesepian yang pernah diisi oleh Jayaprana dan keluarga Layonsari dalam mimpinya itu. Nara berharap jika itu memang hanya sebatas bunga tidurnya, ia ingin kembali masuk untuk merasakan kasih sayang keluarga.
Sesampainya ia di rumah, Nara langsung menghampiri dari belakang dan memeluk erat Sang Nenek yang sudah sangat ia rindukan. Nenek yang sedang mengolah adonan kue untuk camilan pun tertawa tipis dan mengucapkan kalimat yang tersirat perhatian untuk Nara.
“Hahaha, sepertinya kamu sangat merindukan Nenek setelah perjalanan yang panjang, Nak. Cepatlah mandi dan beristirahatlah!”
Nara yang sudah selesai mengobati rindunya pun menuruti perkataan sang nenek dan pergi beranjak ke kamarnya. Ketika rembulan mulai memancarkan sinarnya, Nara bergegas mengambil alat tulisnya dan mempelajari buku yang akan menemaninya saat bersekolah di esok hari. Hingga sunyi melarutkan malam, Nara pun ikut terlarut dalam hangat bunga tidur yang menghantarkannya untuk terbangun bersama sang mentari.
Bel istirahat pun berbunyi. Nara kembali menemani kesendiriannya di dalam ruang kelas yang sepi itu. Namun, pikiran Nara masih dipenuhi oleh ribuan pertanyaan tentang mimpinya kemarin yang terasa sangat nyata. Pikirannya terasa penuh akan keramaian tetapi tak satu pun dapat ia sampaikan kepada orang-orang. Hingga ia terfokus pada bunyi detak jarum jam dinding yang beriringan dengan suara langkah kaki yang sangat serasi. Nara pun menatap pintu ruang kelasnya yang selalu terbuka itu sembari menanti siapa gerangan yang akan muncul di sana.
Beberapa saat kemudian, penantian Nara pun terjawab. Dengan rasa tak percaya, Nara berusaha menyadarkan diri. Hingga ibu guru yang berdiri bersama dua orang asing di sampingnya berkata.
“Nara kemarilah, orang tuamu menanti dari tadi.”
Ucapan itu memberikan kepastian kepada Nara. Derai air matanya tak kuasa ia bendung, suaranya yang bergetar itu pun ia lantunkan sembari berlari ke arah orang-orang itu.
“Ayah, Ibu…”
Dengan rasa sesak di dada, Nara memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat, seolah-olah ia tak kan membiarkan orang tuanya pergi darinya lagi. Air matanya terus mengalir dalam dekapan hangat ayah dan ibunya itu. Bahkan matanya tak sanggup menatap kedua orang tuanya. Tanpa rasa ragu, Nara yakin bahwa yang ia rasakan sekarang adalah hadiah yang diberikan oleh sang semesta kepadanya.
Ketika Nara membuka mata, ia sudah berada di ruang hampa. Di hadapannya sudah ada sosok yang ia sebut sang semesta. Dengan langkah yang pelan, Nara mendekat dan mengembalikan kunci waktu yang dipinjamnya kepada sang semesta. Nara merasa dirinya sudah cukup tenang setelah mengulang kehidupan demi bertemu orang tua yang tak ia temui hingga akhir nyawanya di kehidupan sebelumnya.
Sepercik cahaya muncul dan menutup penglihatan Nara sampai ia benar-benar hilang. Ia tak meninggalkan sedikit apa pun tentang dirinya. Raganya, jiwanya, bahkan suaranya, sudah tak ada lagi di sana.
Bel istirahat sekolah pun berbunyi. Kini ruang kelas itu benar-benar kosong tanpa bayangan seorang pun. Nara benar-benar hilang. [T]
Penulis: Anggun Vedania
Editor: Adnyana Ole



























