NAMA lengkapnya Putu Ayu Suarni (18), siswi kelas 12 di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar. Hampir semua orang akrab memanggilnya Keysa ─ nama yang lahir dari dunia cosplay yang sempat digelutinya, dan kini justru menjadi bagian dari identitas dirinya.
“Lebih nyaman dipanggil Keysa, bahkan saat memperkenalkan diri, saya sebut nama Keysa,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Senyum yang juga ia tampilkan di panggung Putera Puteri Bali 2025.
Gadis kelahiran 8 Mei 2007, asal Denpasar itu sejak kecil tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi disiplin dan tanggung jawab. Kedua orang tuanya, Ni Wayan Eka Wati dan I Nyoman Weda, selalu menanamkan nilai-nilai itu. Sejak kecil ia hidup di lingkungan yang banyak berkecimpung di bidang kesehatan. Maka, ketika Keysa memilih sekolah keperawatan, tak banyak yang terkejut.
“Setelah lulus SMK nanti, saya berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana keperawatan, tapi kalau ada peluang, juga ingin menimba ilmu ke Jepang,” ujarnya.
Tetapi, dunia Keysa tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium praktik. Sejak SMP, ia sudah mengenal panggung. Awalnya ia sekadar mengikuti arahan orang tua, tapi lama-kelamaan ia jatuh cinta pada dunia itu. Lewat modeling, ia belajar tentang sikap, kepercayaan diri, dan cara menampilkan diri dengan baik.
Selain modeling, ia juga menyukai dance, cosplay, dan mendaki. Sejak duduk di bangku SMK, ia mulai menekuni hobi mendaki gunung. Hingga kini, sudah sepuluh puncak di Bali ia taklukan.
“Saya suka mendaki karena bisa merasakan ketenangan sekaligus tantangan,” ucapnya. Barangkali dari sanalah ia belajar memandang hidup seperti perjalanan ke puncak ─ harus sabar, terukur, dan tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Keysa mengakui hidupnya memang terstruktur. Tapi di balik keteraturan itu, ada sisi spontan yang kadang mengejutkan, bahkan bagi dirinya sendiri. Salah satunya adalah keikutsertaannya dalam ajang Putera Puteri Bali 2025.
“Awalnya saya ikut secara diam-diam, agar tidak ada yang tahu,” katanya sambil tertawa kecil.
Ceritanya, suatu hari, ketika ia membuat video perkenalan tentang program kerja yang ia buat untuk ajang tersebut, tanpa sengaja dilihat oleh seorang guru di sekolah. Dari situlah semuanya bermula. Sang guru kemudian mendorongnya untuk mendaftar dan mewakili sekolah.
“Banyak yang kaget, biasanya saya orang yang terbuka. Tapi kali ini, sengaja diam-diam,” ujarnya.
Tidak semua orang langsung mendukung. Orang tuanya sempat ragu karena ia sudah kelas 12 dan tengah fokus menghadapi ujian-ujian. “Mereka takut kegiatan ini bakal mengganggu sekolah saya,” kata Keysa.
Tapi, ia tetap bersikeras. “Entah kenapa, saya merasa harus ikut. Ada ketertarikan yang kuat,” tambahnya.

Akhirnya, dengan persiapan yang minim tapi niat yang besar, ia melangkah ke ajang itu. Putera Puteri Bali sendiri merupakan program di bawah naungan NGID Organization, sebuah wadah pengembangan remaja yang bertujuan melahirkan duta yang cerdas, berani, berwawasan, dan berkarakter. Peserta tidak hanya dinilai dari penampilan luar, tetapi juga dari pengetahuan umum, wawasan budaya, serta kemampuan berkomunikasi. Ajang ini dirancang untuk membentuk generasi muda Bali yang mampu mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata daerahnya dengan cara yang cerdas dan berkarakter.
Bagi Keysa, pengalaman itu menjadi perjalanan berharga. “Saya belajar banyak. Nggak cuma tampil, tapi juga memahami makna menjadi seorang remaja,” katanya. Ia juga mengaku bertemu banyak teman baru, belajar berbicara di depan publik, dan menemukan arti kepercayaan diri yang sesungguhnya.
Singkat cerita, ketika malam grand final tiba, Sabtu, 18 Oktober 2025, di Colony Plaza Renon, Keysa mengaku tak banyak berharap. Ia hanya ingin menikmati proses dan tampil sebaik mungkin. Namun ketika namanya disebut sebagai peraih kategori Puteri Bali Persahabatan, ia tak mampu menahan air mata haru.
“Terharu banget waktu itu. Sama sekali nggak nyangka bisa sampai di tahap ini,” katanya lirih. Menurutnya, kemenangan itu bukan hanya soal gelar atau selempang, melainkan tentang keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru dan bertanggung jawab pada pilihan sendiri.

Prestasi itu terasa semakin istimewa karena ini adalah kali pertama Keysa mewakili sekolah dalam sebuah ajang. “Dari kelas 10 saya belum pernah mewakili sekolah. Ini yang pertama, dan berhasil, meski belum menjadi juara utama,” ucapnya.
Kini, setelah ajang itu, Keysa tetap melanjutkan rutinitasnya di sekolah seperti biasa. Ia masih fokus belajar, sesekali mengikuti kegiatan dance atau cosplay, dan tak melupakan gunung-gunung yang menunggu untuk kembali ia daki.
“Saya ingin tetap jadi diri sendiri. Biar semua jalan beriringan, mulai dari belajar, modeling, maupun kegiatan lainnya,” kata Keysa.
Saat ditanya soal kehidupan pribadi, khususnya hubungan asmara, ia tertawa kecil. “Saya belum punya pacar,” ujarnya jujur. Lalu menambahkan dengan nada bercanda, “Tapi saya suka cowok berkacamata.” Kalimat itu menutup percakapan kami dengan ringan. Mengingatkan bahwa di balik semua kedisiplinan dan pencapaiannya, ia tetaplah remaja yang tahu cara menikmati hidup. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























