Hari yang indah untuk melempar toga setinggi-tingginya!
Deretan kursi merah Gedung Kesenian Gde Manik yang biasanya lenggang, kini berubah menjadi lautan toga bermuara di wajah-wajah yang bercahaya. Ada yang tersenyum lebar, menahan perasaan yang sulit didefinisikan—lega, dan haru yang mengendap dalam waktu yang telah lama di nanti para wisudawan.
Di luar Gedung, para orang tua berdiri berdesak dengan kerah sudah berkeringat, menunggu dengan mata yang tak pernah berhenti menanti. Mereka menatap setiap celah, barisan, berharap segera memeluk anaknya—yang kini, telah resmi menjadi sarjana.
Hari di mana bukan sekadar upacara akademik, ini sejarah. Satu bulan telah terlewatkan setelah transformasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja menjadi IAHN Mpu Kuturan, kampus ini menggelar wisuda perdananya. Sebuah tonggak, babak baru yang disambut dengan semboyan “Enlightening The Part of Life With Prabha Sastra.” Setiap langkah adalah cahaya, setiap ilmu adalah makna.

Wisudawan yang pada kali ini terdiri dari 124 orang lulusan Program Pascasarjana (S2) dan 322 orang dari Program Sarjana (S1), total sebanyak 446 wisudawan yang hadir untuk membasuh telapak tangan rektor dengan berjabat.
“Proses menuju hari ini tidak mudah, panjang sekali prosesnya. Tapi setiap kesulitan, setiap administrasi yang berliku, adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan lembaga ini. Dan hari ini, kita menyaksikan bukan sekadar akhir, melainkan awal dari segalanya,” ujar Rektor, Prof. Dr. I Gede Suwindia, S.Ag., M.A., dari podium.
Suasana riuh dengan ribuan tangan beradu, kata-katanya mengalir seperti air yang menembus pori tanah, menghidupi setiap benak yang mendengar.
Salah satu bentuk kebanggaan kepada anak-anaknya, Suwindia memberikan apresiasi kepada lima wisudawan terbaik yang mendapatkan predikat cumlaude. Terlihat dari sorot mata mereka, ada kebanggaan yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat. Barangkali, seperti bunga kamboja yang mekar diam-diam di pelataran pura—tidak banyak bicara, tapi harum semerbak bermakna.
Suasana dalam gedung mengalun dalam nada kebersamaan. Para dosen dan orang-orang penting yang duduk di barisan depan, menatap kearah mahasiswa, mereka yang kini siap terbang. Di sudut lain, tim Mpu Kuturan TV andalan kampus sedang sibuk menata visual panggung dengan nama-nama wisudawan yang akan dipanggil, dan fotografer yang berkeliaran sibuk mengabadikan momen. Setiap nama yang diujar oleh MC cantik berkebaya itu, membawa satu per satu kisah—perjuangan selama empat tahun, air mata, dan harapan.

Wisuda pertama ini bukan hanya milik mereka yang duduk di kursi dan bermahkota toga, ini milik semua yang pernah mengajar, menata, dan menjaga nyala kampus, ia milik petugas kampus penjaga kebersihan, milik pegawai lembur penyiap berkas, milik keluarga yang berdoa di rumah ketika anak mereka menempuh ilmu, milik semua yang percaya bahwa ilmu bukan hanya soal ijazah, ini juga tentang perjalanan mencari terang dalam diri.
Ketika lagu “Kita Kesana” dinyanyikan oleh para wisudawan, ruangan itu berubah menjadi semesta kecil yang penuh makna. Suara mereka tidak hanya menggema ke dinding gedung, meresap ke benak semua yang hadir. Seperti kata Suwindia selaku Rektor IAHN Mpu Kuturan “Untuk anak-anakku, jadilah pengawal nilai, pengawal moral kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara”
Ilmu tanpa amal adalah sia-sia. Amal tanpa ilmu adalah buta. Maka bawalah ilmu ke tengah masyarakat. Jadilah cahaya bagi sekitar, bukan sekadar lilin yang redup di pojok ruangan. [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole



























