25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Bali Kini

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 26, 2025
in Esai
Budaya Bali Kini

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebelum berbicara tentang Budaya Bali Kini, saya mencoba bertanya pada diri tentang Budaya Bali Kita?

Kita berarti ada saya di dalamnya, dan juga ada mereka di sisi yang lain.

Saya dan kita saya batasi terkait dengan orang yang menjalani kehidupannya di Bali dalam kurun waktu setelah tahun 1960-an atau yang sempat menikmati kemerdekaan lebih dari 50 tahun sampai tahun 2025 ini. Kita-kita inilah yang bisa melihat sawah luas, gunung hijau dan air jernih dan mendengar “dongeng” orang tua, dan kakek nenek.

Perubahan Pekerjaan Penduduk Bali

Alam Bali (tanah dan air) sejak jaman kemerdekaan relatif sama sampai saat ini. Yang berubah adalah manusia, binatang dan pohon yang hidup di dalamnya.

Data statistik menunjukkan dari luas Bali sekitar 5,880 Km2, tahun 2025 dihuni oleh sekitar 4,46 juta jiwa, dengan jumlah kunjungan wisatawan pada bulan Juli 2025 tercatat mencapai 697,11 ribu. Jadi kalau dipresentasikan akan ada peningkatan sekitar 16 persen penduduk setiap bulan. Yang kalau dirata-ratakan pertahun akan ada tambahan sekitar 8,36 juta penduduk pertahun, dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal, menetap di Bali.

Kondisi ini menimbulkan perubahan besar dan besar-besaran di Bali, terlihat dari gambaran pekerjaan penduduk Bali. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, tanggal 6 Mei 2025, jumlah penduduk Bali yang berkerja sebanyak 2.665.421 orang.

Yang bekerja sebagai tenaga profesional, teknisi dan tenaga lain, 217.820 (8,17), tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, 45.722 (1,7), tenaga usaha penjualan 218.236 (8, 2), penjualan jasa 525.852 (20,7), pertanian, perhutanan, perburuan, perikanan 470.397(17), tenaga produksi alat, oprator alat-alat angkutan, pekerja kasar, 895.364 (33,5), pekerja lain 50.000 (1,9). Kondisi ini menggambarkan perubahan besar jenis pekerjaan masyarakat Bali saat ini.

Kebiasaan, Tradisi dan Kebudayaan

Setiap mahluk, tumbuh-tumbuhan, binatang maupun manusia mempunyai kebiasaan.
Kebiasaan dikenali dalam rentang waktu hidup setiap jenis mahluk. Pada manusia ada rentang waktu lebih dari 25 tahun (jika diandaikan usia hidup rata- rata manusia Bali saat ini adalah 50 tahun lebih).

Yang paling sederhana adalah mengenali kebiasaan keluarga, pasangan dan sekitar.

Prosentase pengenalan kebiasaan sangat bergantung pada jarak dan waktu. Semakin dekat jarak dan semakin panjang waktu yang dipakai untuk mengenali kebiaasan seseorang/sekelompok orang, pengenalan kebiasaan akan semakin mendekati pemahaman, kesehimbangan, keharmonisan, kebenaran. Mungkin itu sebabnya perkawinan yang sudah memasuki usia 25 tahun disebut perkawinan perak dan perkawinan emas untuk yang sudah memasuki usia perkawinan 50 tahun.

Kumpulan kebiasaan yang baik, dalam keluarga yang mendekati kesehimbangan, keharmonisan menjadi tradisi.

Kebiasaan sekelompok manusia yang sudah dilakukan sejak lama disebut tradisi (kebiasaan yang mentradisi).Tradisi yang dianggap baik, sehimbang dan harmonis ini kemudian dilanjutkan diwariskan dan dilestarikan pada generasi berikutnya dengan cara lisan atau pembiasaan, maupun tertulis, terpahat, tergambar, terbangun, dan tervisualkan dalam berbagai jenis dan bentuk upacara, seni, kerajinan, teknologi, bahasa dan sistem organisasi sosial.

Ada 7 (tujuh) unsur Kebudayaan yang bersifat universal menurut Koentjaraningrat (1990:203), yaitu: (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sitem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) Sistem religi; dan (7) kesenian.

Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.

Yang kita sebut sebagai budaya Bali, lebih banyak lahir dari prilaku komunal masyarakat Bali jaman dahulu yang hidup sebagai petani yang menetap di suatu daerah, tidak berpindah-pindah. Pola hidup menetap menjadikan masyarakat membuat organisasi sosial, yang memudahkan pengelolaan terhadap unsur alam terutama unsur tanah dan air.

Tanah yang diam/tetap disebut pati bisa berarti mati, juga esensi. Yang tetap/mati perlu dikelola oleh bupati agar bisa memberi hidup pada masyarakat.

Air berubah, bisa dipindah, dikelola untuk menghidupi tanah, agar bisa menghidupi masyarakat.

Pengelolaan atas tanah melahirkan berbagai profesi, salah satunya adalah pengelola air, yang di Bali disebut subak. Organisasi subak melahirkan profesi sebagai: pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir).

Perkembangan manusia untuk hidup menetap, melahirkan budaya bercocok tanam, aneka seni, kerajinan, pertenunan, pertukangan dan lain-lain.

Subak dan Jaman Bali Kuno

Jaman kerajaan Bali Kuna, masyarakat Bali mengenal Subak, sebuah sistem pengelolaan air.

Arkeolog Supratikno Raharjo dalam Sejarah Kebudayaan Bali menyimpulkan bahwa kemunculan subak, ditopang oleh profesi seseorang yang terkuak dalam Prasasti Bebetin (896) dan Prasasti Batuan (1022). Menurutnya, “Dua prasasti itu menjelaskan ada tiga kelompok pekerja khusus sawah, salah satunya ahli pembuat terowongan air yang disebut undagi pangarung.” Pekerja ini biasa dipakai dalam subak masa modern.

Menurut Arkeolog I Ketut Setiawan istilah Subak, dipakai sebagai istilah untuk Organisasi Irigasi Pada Pertanian Padi Sawah Masa Bali Kuno. Kata ini ditemukan dalam Prasasti Pandak Badung (1071) dan Klungkung (1072). Subak berasal dari kata suwak terdiri atas dua kata, yaitu “su” yang berarti baik dan “wak” untuk pengairan atau sistem pengaliran air yang baik.

Keterangan lebih jelas mengenai pengelolaan sawah dan irigasi termuat dalam Prasasti Trunyan (891). Dalam prasasti itu tersua kata “serdanu” yang berarti kepala urusan air danau. Ini berarti masyarakat Bali sudah mengenal cara mengelola sawah dan irigasinya pada akhir abad ke-9.

Peradaban Air

Sistem subak Jaman Bali Kuno dapat dikatakan telah mencapai taraf perkembangan pengetahuan yang lebih tinggi terkait dengan pengelolahan air, sehingga bisa disebut sebagai Peradaban air.

Pengetahuan tinggi tentang pengelolaan air ini telah juga diwariskan kepada masyarakat Bali umumnya, dan khususnya pada Pekaseh. Tetapi seberapapun tinggi pengetahuan seseorang tak akan bermanfaat dan tak bisa dimanfaatkan dan dikembangkan jika yang bersangkutan tak menguasi air sebagai obyeknya.

Bali Sebagai NKRI

Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Persoalan tanah dan air di Bali menjadi sangat krusial untuk ditata dan kelola. Kuncinya adalah dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat semestinya menjadi prioritas, sehingga air dan tanah dijaga dan dikelola oleh wakil-wakil berkompoten yang terdekat, tetapi tetap dengan pengawasan ketat sehingga tak bisa dikuasai oleh perorangan atau kelompok.

Jika pengelolaan air negara bisa kembali memakai sistem subak maka untuk pengelolaan tanah pemerintah bisa memakai sistem Bali mula yang disebut sebagai “tanah ayahan desa” (yang hanya sesuai dengan kewajiban)

Kebudayaan Bali Kini

Pekerjaan Penduduk Bali kini makin beragam, hanya 17 persen atau 470.397 orang yang bekerja di perpertanian, perhutanan, perburuan, perikanan. Memaksakan untuk tetap berbudaya agraris tentu akan sangat memberatkan.
Sebagian besar masyarakat Bali 33,6 perse atau sebanyak 895.364 kini bekerja sebagai tenaga produksi alat, oprator alat-alat, angkutan dan pekerja kasar, sedang 20,7 persen atau sebanyak 525.852 bekerja dalam penjualan jasa.

Kita menjalani hidup di masa kini, bukan di masa lalu. Tradisi, budaya dan peradaban yang diwariskan oleh leluhur Bali masa lalu itu baik, sangat baik, akan selalu ada dalam DNA kita menjadi penuntun. Kebiasan-kebiasaan yang kita lakukan saat ini secara pribadi dalam keluarga dan kelompok pasti berubah. Mungkin akan lebih sulit dikenali karena faktor ruang yang melebar dan waktu yang menyempit, tetapi justru disanalah tantangannya.

Budaya Bali Kita adalah budaya yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan, dalam ruang yang luas tanpa batas bahkan maya, dan dalam waktu yang dimanpatkan. Kebiasaan-kebiasaan baru ini akan melahirkan tradisi baru dan budaya Bali baru. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: baliBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Next Post

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co