INSTITUT Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang akan menggelar Gala Teater 2025 pada 10–12 Oktober 2025 di Gedung Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang-Sumatera Barat.
Helatan ini menjadi ruang temu lintas budaya antara Indonesia dan Malaysia, menghadirkan kolaborasi tiga kampus kampus: Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang, Faculty of Music and Performing Arts, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) dan Fakulti Teater, Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA).
Menurut Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.A., Kaprodi Teater ISI Padangpanjang, kerja sama dengan UPSI dan ASWARA telah terjalin sejak tahun lalu. “Gala Teater adalah bentuk nyata dari kolaborasi tersebut, yang kami siapkan sejak Juni 2025,” ujarnya (9/10).
Kolaborasi ini bukan hanya bertukar karya, tetapi juga membuka percakapan kreatif lintas batas—antara pengalaman, pendekatan artistik, dan gagasan tentang teater hari ini.
Tahun ini, Gala Teater menampilkan enam pertunjukan: satu kolaborasi antara ISI Padangpanjang dan ASWARA, satu karya dari UPSI, serta empat karya hasil kurasi Open Call untuk akademisi dan alumni teater se-Indonesia.
Menurut Tatang Rusmana, S.Sn., M.Sn., koordinator acara sekaligus ketua dewan kurator, penilaian karya didasarkan pada kualitas artistik, keberagaman pendekatan kreatif, kesiapan produksi, serta relevansi gagasan dengan dinamika teater kontemporer.
Empat karya terpilih berasal dari berbagai kota dan generasi: “Pintu” karya Yusril, “The Ballad of Sumarah” oleh Enrico Alamo, “Migrasi Perempuan” garapan Wen Hendri, dan “Terbuang dalam Waktu” oleh Teater Balai Bukittinggi.
“Sebetulnya ada satu karya lagi yang lolos, 20 Tahun Ingatan oleh Willy Fwi (alumni Teater IKJ), namun berhalangan hadir di waktu yang ditentukan panitia,” jelas Tatang.
Setiap karya menawarkan cara pandang berbeda terhadap persoalan manusia hari ini.
Lewat “Pintu”, Yusril mengajak penonton merenungkan kehidupan pascapandemi—saat teknologi digital mengubah cara kita memahami batas ruang. Teknologi memang mendekatkan, tetapi juga menciptakan jarak baru yang membuat manusia kian terasing. Di sini, pintu tak lagi sekadar batas fisik, melainkan ambang virtual antara koneksi dan kesendirian—simbol dunia yang bergerak menjauh dari kenyataan.

Dari ruang personal menuju politik, Enrico Alamo lewat monolog “The Ballad of Sumarah” menghadirkan kisah perempuan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi yang menghadapi kekerasan dan hukuman mati. Latar belakang Sumarah—yang tersisih akibat trauma politik 1965—memperlihatkan bagaimana sejarah dan kekuasaan masih membentuk nasib perempuan hingga kini. Enrico menampilkan Sumarah bukan sekadar korban, melainkan sosok yang berani melawan ketidakadilan dan kekerasan yang lahir dari sistem yang menindas.
Sementara itu, Wen Hendri dalam “Migrasi Perempuan” menyoroti perempuan Minangkabau yang memilih merantau karena tanah kelahirannya tak lagi memberi ruang. Dalam adat yang menempatkan perempuan sebagai penjaga rumah gadang, keputusannya untuk pergi menjadi bentuk perlawanan halus terhadap tradisi. Namun perjalanan itu juga memperlihatkan sisi pahit perjuangan, kehilangan, dan makna pulang.
Lalu, Teater Balai dari Bukittinggi menampilkan “Terbuang dalam Waktu”, saduran bebas dari “Nyanyian Angsa” karya Anton P. Chekhov yang disutradarai Ravi Razak. Kisah tentang Vasilli, aktor tua yang hidup dari tawa orang lain namun menanggung kesepian panjang, menjadi refleksi tentang nasib seniman yang terpinggirkan oleh waktu dan sistem yang tak berpihak. Melalui tokoh ini, Ravi menghadirkan kisah tentang manusia yang terus mencari arti “pulang” di tengah dunia yang berubah dan sering melupakan mereka yang berada di pinggiran.
Selain 4 karya kurasi, UPSI Malaysia menampilkan “JEBAT”, tafsir baru atas kisah klasik Melayu. Dalam versi ini, Jebat tak lagi sekadar soal pengkhianat atau pahlawan, tetapi manusia yang berani mempertanyakan keadilan, kuasa, dan harga diri bangsanya. Di mana kejujuran kejujuran sering dihukum dan kebenaran disembunyikan atas nama ketaatan. Di antara kesetiaan dan pemberontakan, Jebat menantang pandangan lama—mengajak penonton merenung: benarkah diam itu setia, atau justru bentuk perlawanan yang paling sunyi?
Kolaborasi ISI Padangpanjang dan ASWARA akan menutup rangkaian pertunjukan dengan “Perempatan Perempuan (extended)”—lakon karya Wendy H.S. yang dikembangkan oleh Dede Pramayoza. Pertunjukan ini menyoroti empat perempuan dari latar berbeda yang menghadapi tekanan, stereotip, dan ketidakadilan, namun tetap bersuara lewat luka dan keteguhan. Karya ini menjadi refleksi universal tentang pilihan untuk bertahan di tengah dunia yang tak selalu berpihak pada perempuan.
Rangkaian pertunjukan akan dibagi menjadi tiga hari: “The Ballad of Sumarah” dan “Migrasi Perempuan” pada 10 Oktober, “Jebat” dan “Pintu” pada 11 Oktober, serta “Perempatan Perempuan” dan “Terbuang dalam Waktu” pada 12 Oktober 2025.
Tak berhenti di panggung, Gala Teater juga membuka ruang belajar lewat workshop dan diskusi interaktif. Menurut Wendy H.S, S.Sn., M.A., ketua panitia, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa ISI Padangpanjang, UPSI, dan ASWARA untuk saling berbagi pengalaman penciptaan teater.
Workshop olah tubuh, vokal, dan kolaborasi akan diisi oleh dosen serta alumni ISI Padangpanjang, diantaranya Tatang Rusmana, Sulaiman Juned, Yuniarni, Dede Pramayoza, Wendy H.S, Abdul Rosid Batubara, Fauzan Moham, Husin, dan Farido Yuda.
“Melalui sesi ini, kami ingin menghadirkan ruang kritis bagi perkembangan praktik dan pendidikan teater hari ini,” tutup Wendy. [T]
Penulis: Angelique Maria Cuaca
Editor: Adnyana Ole



























