12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Gading Ganesha by Gading Ganesha
September 17, 2025
in Esai
Melihat Sampah dan Demokrasi: Refleksi dari Banjir di Ibu Kota Bali

Kodisi di sebuah titik di Denpasar pasca banjir | Foto: Liputan6

BEBERAPA hari lalu, saya sangat kaget dan sedih. Tepat ketika saya di Buleleng menyambut hari raya Pagerwesi, dihari yang sama di Kota Denpasar sedang dilanda banjir besar—bahkan hingga menelan korban jiwa. Dulu, saya hanya melihat banjir itu ada di televisi, terjadi di luar Bali. Kali ini banjir hadir benar-benar nyata, menggenangi jalan yang dulu bertahun-tahun pernah saya lewati.

Bagi saya, ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ini seakan menjadi alarm keras, bahwa ada hal dalam sistem kita—orang Bali—yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Di antara arus yang mengalir deras dalam banjir itu, ada satu hal yang barangkali tidak boleh kita abaikan lagi, yakni soal sampah.

Sepedih apa pun tragedi ini, ada hal yang bisa menjadi momen refleksi kolektif. Masalah ini membuka mata saya bahwa banjir bukan hanya tentang curah hujan tinggi. Hujan yang terjadi di bulan September ini hanya dua hari. Bali di bulan tertentu punya curah hujan yang lebih tinggi. Tampak jelas ada faktor-faktor lain yang memperparahnya—dan salah satu yang paling mencolok dan banyak dibahas di media-media adalah persoalan tata kelola ruang dan juga soal pengelolaan sampah yang amburadul.

Lalu, dalam setiap tragedi seperti ini, entah kenapa saya merasa selalu menyaksikan pola yang berulang: masyarakat menyalahkan pemerintah, dan pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Ketika banjir datang dan kota penuh sampah, narasi saling tuding mulai terdengar. Dengan mudah kita lihat narasi yang menuding pemerintah tidak tegas dalam penegakan aturan tata ruang dan pengelolaan sampah. Sementara itu, di bagian lain, tidak jarang sering keluar narasi dari Pemerintah balik menyalahkan masyarakat.

Pemerintah menilai masyarakat tidak disiplin dalam membuang sampah, juga kurang peduli pada lingkungan. Begitupun sebaliknya. Padahal, jika saya coba sedikit merenung, sebenarnya akar masalah ini lebih dalam dan kompleks. Bukan hanya soal teknis, tapi soal kesadaran, partisipasi, dan juga demokrasi.

Harus mau saya akui, kesadaran individual masih sangat rendah. Kalau ada pertanyaan sampah kita apakah sudah benar kita kelola? Apakah kita sudah benar bertanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan? Ini jadi pertanyaan yang mudah tapi sulit untuk kita jawab.

Sampah sering kita buang sembarangan. Barangkali kita tidak mau disebut sembarangan. Tetapi menaruh begitu saja di tempat-tempat yang sudah ada sampah sebelumnya. Kita tidak peduli setelah itu kemana sampah itu. Padahal jelas, bukan ke tempat pengelolaan sampah.

Kita juga suka malas disuruh memilah. Ribet dan kita sibuk dengan urusan lain. Diimingi-imingi sampah bisa jadi uang pun masih belum mau. Kesadaran untuk mengelola sampah belum benar-benar hadir.

Namun, saya melihat tidak bisa berhenti di sini. Karena dalam masyarakat yang kompleks, banyak hal yang menjadi sebab susahnya kesadaran itu bisa tumbuh. Maka harusnya ada sistem dan kebijakan yang memainkan peran kunci. Tidak cukup hanya berharap semua orang sadar. Harus butuh sistem pengelolaan yang terstruktur dan kebijakan publik yang efektif. Dan di sinilah peran pemerintah menjadi amat sangat penting.

Tapi persoalan selanjutnya, bagaimana jika pemerintah yang seharusnya menyusun dan menegakkan kebijakan justru tidak hadir atau abai bahkan tidak mampu menyusun kebijakan dan mengawasi kebijakan itu? Maka bisa jadi harus kembali pada pertanyaan dasar: siapa yang memilih pemerintah? dalam sistem demokrasi yang kita anut di Indonesia. Kita diberi ruang untuk memilih para pemimpin kita sendiri.

Kita berada di negara demokratis, di mana pejabat publik—baik eksekutif maupun legislatif—dipilih melalui proses pemilu dan pilkada. Artinya, para pejabat itu adalah representasi dari pilihan kita. Maka jika kebijakan publik dibuat oleh mereka kemudian ternyata tidak berpihak pada lingkungan, jika penegakan hukum yang dilakukan lemah, kemudian jika anggaran untuk pengelolaan sampah tidak diprioritaskan, sepertinya kita tidak bisa sepenuhnya lepas tangan.

Sampai di sini, jangan-jangan masalahnya bukan hanya pada mereka yang memimpin, tetapi juga pada proses bagaimana mereka dipilih. Bisa jadi, kita telah memilih orang yang salah. Atau lebih parah lagi, kita tidak pernah peduli terhadap proses pemilihan itu.

Hubungan antara sampah dan demokrasi mungkin tampak jauh, tapi sesungguhnya sangat erat dan dekat. Sampah adalah produk harian dari kita. Pemerintah dalam hal ini eksekutif dan legislatifnya adalah produk berkala dari sistem demokrasi. Jika kedua produk ini buruk—dari sampah yang tidak terkelola dan selanjutnya pemimpin yang tidak kompeten—maka jangan-jangan akar masalahnya sama.

Untuk keluar dari lingkaran masalah ini, saya meyakini sangat tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Kesadaran ekologis harus tumbuh di tingkat individu, keluarga, komunitas, hingga pemerintah. Sistem pengelolaan sampah harus dibangun dengan pendekatan menyeluruh dan menjadi prioritas— dari proses penganggarannya, kemudian begaimana upaya pengurangan dari sumber, pemilahan hingga daur ulang. Termasuk ketegasan dan keadilan dalam melaksanakan peraturan terkait pengelolaan sampah.

Di sisi lain, demokrasi kita juga harus diperbaiki bersama. Partisipasi politik tidak boleh berhenti di bilik suara. Kita sebagai pemilih harus mulai bertanya: Siapa yang kita pilih? Apa visi mereka terhadap lingkungan? Adakah komitmen mereka terhadap kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan? Jangan sampai kita memilih karena hanya dapat bantuan sosial yang sifatnya hanya sesaat, lebih-lebih hanya karena mereka terkenal atau memiliki popularitas tanpa memiliki latar belakang yang jelas.

Tragedi banjir di Denpasar itu bisa kita jadikan peringatan. Tapi ia juga bisa menjadi titik balik. Ini saatnya tidak terfokus berpikir pada siapa yang salah. Barangkali bisa kita mulai untuk mengambil tanggung jawab bersama.

Sampah dan demokrasi ini ibarat dua sisi dari koin yang sama: keduanya adalah produk dari masyarakat. Jika kita ingin lingkungan yang bersih dan kota yang aman, maka  penguatan demokrasi, sistem politik yang bersih, dan pemerintahan yang bertanggung jawab harus diperjuangkan bersama.

Tentu sepenuhnya saya sadari perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi ia bisa dimulai hari ini—dari kesadaran kecil di rumah, hingga pilihan besar dalam pemilu dan pilkada. Karena pada akhirnya, kualitas lingkungan kita dapat mencerminkan kualitas demokrasi kita.[T]

Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

Tags: balibanjirbencana alamdemokrasidenpasarpemiluPilkadaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Next Post

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Lebih dari Sekadar Idola, Bagaimana K-Pop menjadi Sumber Semangat Positif bagi Generasi Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co