25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 17, 2025
in Ulas Film
Tubuh Perempuan, Hukum, dan Kebohongan: Membaca Film “Bitter Chocolate”

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

DURASI 20 menit bagi sebuah film pendek sering kali menjadi tantangan besar. Tentu saja, sutradara harus merangkum isu yang sarat konflik, kaya makna, sekaligus menghadirkan narasi yang kuat tanpa terasa terburu-buru atau justru bertele-tele.

Itulah yang coba dilakukan Sahar Sotoodeh dalam karyanya, Bitter Chocolate, sebuah film fiksi yang diproduksi tahun 2024 dengan kolaborasi lintas negara antara Iran dan Jerman. Film ini menyentuh persoalan pelik tentang tubuh perempuan, keterbatasan hak, dan pertarungan moral dalam ruang sosial yang mengekang.

Film ini mengisahkan Yasi, seorang perempuan muda yang meninggalkan kota asalnya menuju ibu kota dengan alasan mengikuti ujian IELTS ringan. Namun, alasan itu hanyalah kamuflase. Tujuan sebenarnya jauh lebih rumit.

Yasi berusaha melakukan aborsi ilegal atas kehamilan yang tidak ia inginkan. Dari premis sederhana ini, film membuka ruang diskusi yang luas mengenai hak reproduksi perempuan, stigma sosial, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan di negara-negara dengan regulasi ketat.

Sotoodeh tidak hanya sekadar menceritakan kisah personal seorang perempuan yang berjuang dengan kehamilan tak diinginkan. Ia menyingkap persoalan struktural yang lebih luas. Yasi dipaksa untuk berbohong, menyembunyikan niatnya, dan menanggung risiko medis maupun hukum demi sesuatu yang seharusnya menjadi hak fundamental, kendali atas tubuhnya sendiri.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Pilihan menjadikan IELTS—sebuah ujian bahasa internasional—sebagai kedok perjalanan Yasi bukan tanpa alasan. IELTS kerap dipandang sebagai jalan keluar bagi kaum muda dari keterbatasan sosial dan politik, sebagai tiket menuju dunia luar.

Namun, di tangan Sotoodeh, IELTS berubah menjadi simbol paradoks. Alih-alih menuju masa depan yang lebih cerah, Yasi justru menyamarkannya untuk mengatasi masalah mendasar dalam hidupnya. Di sini terlihat kritik terhadap kondisi masyarakat terhadap mobilitas perempuan, baik dalam arti harfiah maupun metaforis, selalu dibatasi oleh norma dan hukum yang patriarkis.

Yasi digambarkan tidak heroik, juga tidak sepenuhnya putus asa. Ia adalah sosok yang berada di persimpangan. Muda, penuh potensi, tetapi terjerat keadaan. Sotoodeh menampilkan Yasi sebagai representasi banyak perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang aturan yang kaku. Ia tidak ingin melanjutkan kehamilannya, tetapi ia juga sadar betul bahwa pilihan yang diambil berisiko besar. Ketegangan psikologis ini menjadi inti dramatisasi film, meski dikemas dalam gaya penceritaan yang ringkas.

Menariknya, film ini tidak memposisikan Yasi sebagai korban semata. Ia tetap diberi ruang untuk menunjukkan kehendaknya, meskipun jalan yang ditempuh harus penuh tipu daya. Dari sinilah, Bitter Chocolate beresonansi dengan isu-isu feminis global. Perempuan kerap dipaksa menegosiasikan hidupnya di balik layar, di ruang-ruang tersembunyi, bukan dalam terang hukum dan legitimasi.

Judul film, Bitter Chocolate, terasa ironis sekaligus menyentuh. Cokelat sering diasosiasikan dengan kelembutan, cinta, dan kemanisan hidup. Namun, ditambahkan kata “bitter”, cokelat berubah menjadi metafora pengalaman getir yang tetap harus ditelan. Kehidupan Yasi seolah sama seperti itu. Manisnya kemungkinan masa depan dicampur pahitnya realitas sosial yang menindas.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Cokelat pahit juga bisa dibaca sebagai simbol kompromi. Sesuatu yang tidak sepenuhnya manis, namun tetap dikonsumsi demi bertahan. Seperti Yasi yang harus menerima risiko, menjalani kebohongan, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan pilihan judul ini, Sotoodeh menekankan ambiguitas moral dan emosional yang membungkus seluruh cerita.

Film ini menohok penonton pada satu titik krusial. Tubuh perempuan bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga arena tarik-menarik antara hukum, agama, tradisi, dan masyarakat.

Keputusan Yasi untuk mengakhiri kehamilan tidak berdiri sendiri. Ia harus menyembunyikan niatnya dari keluarga, berhadapan dengan praktik ilegal yang berisiko, bahkan berpotensi menjadi kriminal di mata negara.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di negara luar. Hal-hal semacam ini juga sering terjadi di Indonesia—bahkan di Bali. Aktivitas dalam mejalani hubungan yang tidak terkontrol antara perempuan dan laki-laki dapat menimbulkan masalah. Tidak hanya bagi perempuan muda namun juga bagi perempuan dengan usia yang lebih matang.

Terkadang, kehamilan dari suatu hubungan yang sah pun tidak diinginkan. Hingga pada akhirnya mengambil jalan pintas untuk melakukan hal yang illegal dan bertentangan. Film ini Bitter Chocolate ini berbicara tentang isu yang sudah sangat umum, terjadi di banyak negara.

Dari sisi sinema feminis, Bitter Chocolate menggarisbawahi bahwa hak reproduksi bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga isu politik. Tubuh Yasi tidak bebas. Ia berada dalam pengawasan norma, regulasi, dan pandangan masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai penjaga moral keluarga dan bangsa. Inilah yang membuat film terasa sangat relevan, bukan hanya di Iran, tetapi juga di banyak negara lain yang masih membatasi hak reproduksi perempuan.

Dengan durasi 20 menit, film ini tentu harus padat. Sotoodeh tampaknya memanfaatkan bahasa visual yang lebih banyak menyampaikan ketegangan batin Yasi lewat ekspresi wajah, gesture, dan atmosfer kota besar yang asing. Keputusan Yasi meninggalkan kota asal ke ibu kota menciptakan kontras visual. Dari keintiman ruang pribadi menuju keramaian metropolis yang penuh ancaman namun sekaligus menyimpan harapan.

Penggunaan bahasa sinema ini penting, karena alih-alih menjejali penonton dengan dialog, Sotoodeh memilih untuk “menunjukkan” ketimbang “menceritakan”. Keheningan, jeda, dan gesture kecil menjadi lebih berbicara dibandingkan penjelasan verbal. Gaya ini membuat film terasa intim, seolah penonton diajak menyelami batin Yasi secara langsung.

Namun, meski kuat dalam gagasan, Bitter Chocolate juga menyisakan pertanyaan kritis. Dalam 20 menit, ruang untuk mengeksplorasi lebih dalam dinamika sosial di sekeliling Yasi terbatas. Karakter lain—apakah keluarga, pasangan, atau tenaga medis—lebih banyak hadir sebagai bayangan daripada tokoh dengan kedalaman psikologis. Hal ini mungkin disengaja untuk menjaga fokus pada Yasi, namun di sisi lain bisa dianggap mereduksi kompleksitas jaringan sosial yang sebenarnya menopang cerita.

Adegan dalam film Bitter Chocolate | Foto: Dian

Selain itu, film ini masih terjebak dalam pola narasi personal yang cenderung universal, sehingga risiko stereotip bisa muncul. Penonton mungkin melihat kisah Yasi sebagai “kisah khas perempuan Iran”, padahal problem akses terhadap aborsi juga marak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara yang mengaku demokratis. Tantangan bagi Sotoodeh adalah bagaimana menghindari eksotisasi penderitaan perempuan di Timur Tengah dan justru membuka ruang dialog global yang lebih setara.

Di tengah gelombang perdebatan tentang hak reproduksi—dari gugatan Roe v. Wade di Amerika Serikat hingga regulasi ketat di negara-negara Asia dan Afrika—Bitter Chocolate hadir sebagai pengingat bahwa persoalan ini bersifat universal. Yasi bisa saja perempuan muda dari manapun. Dari Teheran, Berlin, New York, atau Jakarta atau mungkin dari Bali. Yang membedakan hanyalah konteks sosial dan hukum.

Film ini dengan demikian berfungsi sebagai jendela yang memperlihatkan betapa keputusan personal seorang perempuan sering kali harus melewati jalan penuh rintangan yang diciptakan masyarakatnya sendiri.

Sebagai film pendek fiksi, Bitter Chocolate berhasil menyodorkan pengalaman menonton yang intens, ringkas, namun sarat makna. Sahar Sotoodeh dengan cerdas menggunakan cerita Yasi untuk mengungkap lapisan-lapisan ketidakadilan struktural terhadap tubuh perempuan.

Meski ada keterbatasan dalam pengembangan karakter pendukung dan risiko penyempitan konteks, film ini tetap menyajikan kritik sosial yang tajam. Ia menegaskan bahwa keputusan seorang perempuan atas tubuhnya seharusnya bukan urusan negara, agama, atau masyarakat, melainkan urusan dirinya sendiri.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Jaswanto

Tags: Film Bitter ChocolateIranpatriarkiPerempuanSahar Sotoodeh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peraturan Daerah Tentang Perjanjian Nominee 

Next Post

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Awalnya Panjat Tebing Diajak Teman, Kini Made Maylia Sumbang Lima Emas untuk Buleleng di Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co