25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Voyage of Becoming”: Pameran Tunggal Sakde Oka di Art Space ARTOTEL Sanur

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
September 14, 2025
in Pameran
“Voyage of Becoming”: Pameran Tunggal Sakde Oka di Art Space ARTOTEL Sanur

Perupa Sakde Oka dan karya berjudul Riding Horse

DARI sekian karya seni yang dipajang di Art space ARTOTEL Sanur, mungkin pameran Voyage of Becoming yang berbeda. Sakde Oka, perupa asal Desa Katiklantang Ubud menyajikan karya seni rupa, bukan saja hanya goresan warna di atas kanvas, tetapi juga sulaman benang yang indah. Gadis ini menanam benih ide melalui benang, ia merangkum emosinya dalam jalinan sulaman, menceritakan perasaannya di setiap tusukan benang yang sangat detail dan bermakna.

“Saya tetap menggunakan teknik melukis, tetapi setelah menyelesaikan skeet, saya kemudian menyulam dengan benang. Karya ini bisa dibilang mix, karena disitu ada campuran seni lukis, dan teknik sulam,” papar Sakde disela-sela pembukaan pameran tunggal bertajuk “Voyage of Becoming”, Jumat 12 September 2025. Pameran berlangsung hingga 15 November 2025.

Belasan karya seni dengan berbagai ukuran itu mewarnai dinding di Areal Lobby ARTOTEL Sanur. Di balik setiap keindahan karya itu menawarkan pesan yang mendalam pada sebuah perenungan. Dalam karya seni itu, menampilkan objek-objek nyata, seperti pohon, manusia, dan meja secara persis ata dengan sebenarnya. Namun, ada pula objek ditampilkan dalam keadaan yang mustahil, seperti dalam mimpi atau bukan seperti biasanya.

Sakde Oka yang lahir tahun 1994 ini, seakan merangkum perjalanan personal dan artistiknya mendalami serta merefleksikan diri, baik secara internal maupun eksternal. Melalui eksplorasi transformatif ini, ia mengeksplorasi hubungan antara dirinya dengan lingkungan sekitar, alam, dan semesta secara menyeluruh. Semua itu diwujudkan dalam karya seni rupa dengan teknik sulam.

Ketekunan dan kesabaran dalam menyulam benang itu, menjadi ruang untuk berefleksi, menenun intuisi, dan menggali kembali gagasan-gagasan yang lebih jujur serta personal. Keterikatan tubuh dalam menjalin dan menyulam benang menjadi sebuah praktik yang menyatukan otak dan pikiran, jiwa dan perasaan. Proses menyulam, keterikatan kain dan benang layaknya jiwa yang tidak dapat terlepas dari raga, dan juga sebaliknya. Karya-karya itu bersifat personal, intuitif, dan penuh makna.

Pameran Tunggal Sakde Oka di Art Space ARTOTEL Sanur | Foto: Bud

Sakde menyajikan karya-karya yang merupakan hasil proses sejak tahun 2024 hingga 2025. Dalam prosesnya, ia menggunakan unsur-unsur alam sebagai medium ekspresi, menggunakan landscape dan ornamen alam yang merefleksikan sifat-sifat semesta yang memengaruhi sifat dan laku manusia. Keterhubungan antara manusia dan alam ini berakar kuat dalam ajaran Hindu, khususnya konsep Bhuana Agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrokosmos).

Keterhubungan antara manusia dan alam bukan hanya simbolis, tapi esensial dan spiritual. Manusia tidak dipandang terpisah dari alam semesta, melainkan sebagai bagian integral dari keseluruhan kosmos. Berangkat dari pemahaman ini, maka karya-karyanya kaya akan bahasa visual yang metaforis nan reflektif.

Sakde menghadirkan proses kreatif sebagai praktik yang kontemplatif, menautkan kesadaran individu dan kolektif yang lekat dengan kesadaran spiritual. Melalui benang, lanskap dan tubuh, Sakde mengajak semua orang menyadari bahwa menjadi manusia tidak luput dari keterhubungan dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan semesta yang lebih besar dari manusia.

Tiga karya dalam ukuran kecil tepat berada di depan lobby hotel, yaitu karya Here I Sit Beneath the Tree, karya Feeding Myself with Memories dan karya Until I Swim Into Infinity of Mysteries dengan media Cat akrilik,benang di atas kain kanvas merupakan tiga rangakain visualisasi puisi. Setiap baris dari puisi itu menjadi karya lukisan. “Dalam setiap barisnya itu, sebenarnya tentang introspeksi diri, dan momen untuk repleksi. Artinya, semua karya itu tentang memori. Saya buat pusisi sendiri, lalu diterjemahin ke dalam karya seni,” aku Sakde polos.

Sakde Oka dan karyanya yang berjudul The Inner Pruner (Sad Ripu) | Foto: Bud

Seri Symphony of Rain menjadi titik awal menuju proses eksperimentasi ini. Sakde Oka mulai melepaskan konstruksi konseptual dari karya sebelumnya, seperti dalam The Unbinding, sebuah karya yang merepresentasikan symbol pelepasan, sebagai jalan menuju pembaruan dan keterbukaan personal dalam proses berkarya.

Pilihan latar abu dalam karya-karyanya bukanlah kebetulan, melainkan keputusan artistik yang secara sadar dipilih oleh Sakde. Warna abu menjadi simbol kesederhanaan yang mereduksi lanskap visual, memungkinkan elemen-elemen utama dalam karya tampil lebih jujur dan intim.

Dalam karya The Inner Pruner, benang di atas kain katun sebagai gambaran kedekatan Sakde dengan identitas kulturalnya membawa pemikiran di bawah sadarnya kedalam nilai-nilai Hindu Bali dalam karyanya. Dalam The Inner Pruner, ia menmggunkan ojek 6 wajah yang tidak sama, seperti ada menangis, senih, senang, gembira dan lainnya. Keenam wajah itu sebagai simbolisasi dari Sad Ripu, 6 (enam) musuh dalam diri manusia. Di setisap ranting itu, ada tindakan pemotongan yang menjadi indikator untuk mengendalikan sifat-sifat negatif tersebut agar dapat memberikan ruang untuk pertumbuhan baru, menjadi tunas baru.

Pameran Tunggal Sakde Oka di Art Space ARTOTEL Sanur | Foto: Bud

Di sebelahnya dalam ukuran yang sama, dipajang karya berjudul The Drift of Nectar sebagai pengantar pada fase terbaru. Sakde Oka menggambarkan pendekatan alam dalam Drift of Nectar dengan menggunakan metafora penyebaran serbuk sari sebagai symbol penyebaran kebijaksaan yang semesta berikan dalam proses kreatif. Objeknya dua wanita sedang mengangkat dan menuangkan nectar, sari bunga. Kepala wanita itu ada garis merah, sebagai sebuah pengetahuan itu bisa didapat dari alam.

Eksplorasi berlanjut pada karya Where Water Burns in Color, dimana figure tubuh tidak hanya hadir sebagai representasi fisik, melainkan menjadi simbol dari kehidupan yang terus berubah dan berevolusi. Sedangkan dalam karya Vessel Beneath the Tree, tubuh membawa wadah sebagai simbol ilmu dan kebijaksanaan, hal-hal yang ditampung dan diserap sebagai bekal perjalanan hidup.

“Melalui kedua karya ini, tubuh berperan sebagai wadah untuk berlangsungnya proses penting, yaitu menjadi medium yang merekam proses pembiasan, pantulan, dan perubahan itu sendiri, suatu proses yang terus berlangsung dalam arus waktu yang konstan,” ujar Sakde.

Sementara itu dalam Perjamuan Sunyi, Sakde mengangkat kepercayaan Hindu Bali Kanda Pat–4 saudara kelahiran yang lahir bersama manusia ke bumi, 4 kursi kosong menjadi simbolis kehadiran mereka, tak terlihat namun saling berhadapan, dari luar terlihat hampa dalam sunyi namun saling menjaga dan bercakap dari dalam.

Karya “Here I Sit Beneath the Tree, Feeding Myself with Memories” dan karya “Until I Swim Into Infinity of Mysteries” lahir dari setiap baris puisi | Foto: Bud

Three Graces adalah karya penutup dari serangkaian karya, hadir tiga figur perempuan dalam kebersamaan, saling bergandengan tangan, sebuah gestur sederhana yang tidak hanya hadir sebagai representasi individu, tetapi sebagai entitas kolektif yang saling terhubung dan menopang satu sama lain. Karya ini menyadarkan bahwa proses menjadi bukan semata-mata perjalanan internal, melainkan juga melibatkan pengaruh eksternal, kehadiran orang lain, hubungan antarmanusia, dan dinamika yang terjadi di luar batas tubuh.

Dengan menghadirkan Three Graces sebagai penutup, Sakde menegaskan bahwa perjalanan transformasi bukanlah garis lurus yang tertutup, melainkan lingkaran yang terus terbuka yang senantiasa mengundang hubungan baru, pemahaman baru, dan kebersamaan baru.

Sakde Oka berfoto bersama pengunjung pameran | Foto: Bud

“Voyage of Becoming sebuah rangkuman perjalanan saya dari keberadaan. Saya memilih untuk berubah, menjadi jalinan yang terus bergejolak, menelusuri makna hidup, dan menjadi diri yang senantiasa bertumbuh. Perjalanan ini bukan sekadar proses pencarian, tetapi juga perwujudan dari kesadaran bahwa menjadi adalah sesuatu yang terus berlangsung, sebuah arus yang penuh dengan kemungkinan,” kata Sakde. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Artotel SanurlukisanPameran Seni RupaSakde OkaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karma Hijau Genzi di Bali

Next Post

Ketika Kader Terdampak Banjir, DPC IPeKB bersama Forum GenRe Denpasar pun Hadir Membawa Bantuan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kader Terdampak Banjir, DPC IPeKB bersama Forum GenRe Denpasar pun Hadir Membawa Bantuan

Ketika Kader Terdampak Banjir, DPC IPeKB bersama Forum GenRe Denpasar pun Hadir Membawa Bantuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co