25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Nasib Petani di Bali dalam Gemerlap Pembangunan

Bram Setiawan by Bram Setiawan
February 2, 2018
in Ulasan

Potongan gambar film dokumenter Petani Terakhir karya Sutradara Dwitra J. Ariana

Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016.

petani-PERMASALAHAN kehidupan petani di Indonesia selalu menjadi isu yang penting untuk terus disoroti. Antropolog kebangsaan Amerika Serikat Clifford Geertz pada 1960-an pernah melakukan penelitian tentang masalah pertanian di Jawa. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku berjudul Agricultural Involution: The Processes  of Ecological Change in Indonesia.

Tidak hanya dari kalangan akademikus, para seniman dari berbagai bidang juga gandrung mengangkat dilema kehidupan petani menjadi materi karya seni untuk terus digaungkan. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto lewat lagunya berjudul ‘Balada Pak Tani’ menyuguhkan refleksi penting yang melukiskan sisi senyap kehidupan petani yang selama ini terbungkus rapi oleh manipulasi citra pembangunan di Bali.

Dwitra J. Ariana melalui film dokumenter berjudul ‘Petani Terakhir’ berupaya menyuguhkan kisah kehidupan para petani di Subak Lungatad, Munduk Celuk, Banjar Peninjoan, Desa Penatih, Denpasar. Pria yang akrab disapa Dadap itu mencoba mengartikulasikan suara-suara keluh kesah petani lewat kemampuannya sebagai seorang filmmaker.

Sang sutradara menyajikan cerita tentang generasi petani yang kian menyusut. Generasi muda yang enggan bertani di sawah, hasil yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, juga petani yang tergiur alih fungsi lahan menjadi kos-kosan menjadi sorotan menarik dalam film ini.

Acara nonton bareng ‘Petani Terakhir’ digelar pada 27 Juni 2016 malam di Lingkara Photography Community dihadiri cukup banyak penonton. Ada beberapa kekurangan dalam film dokumenter yang berdurasi 47 menit itu. Percakapan para narasumber keseluruhan menggunakan bahasa Bali tanpa ada teks terjemahan bahasa Indonesia. Saat pemutaran film berjalan sepuluh menit, beberapa penonton tampak bingung menunggu teks terjemahan bahasa Indonesia yang ternyata sampai akhir film tidak muncul.

Tentu ini menyulitkan penonton untuk menangkap maksud dari penuturan masing-masing narasumber. Sebab, para penonton yang hadir dalam pemutaran film, bukan hanya orang Bali saja, termasuk saya. “Film ini bagus untuk disebarkan, tapi harus ada teks bahasa Indonesia,” kata seorang penonton asal Bandung.

Dalam sesi diskusi saat itu, Dadap mengakui tidak adanya teks terjemahan bahasa Indonesia memang menjadi kelemahan filmnya. Alasannya, penggarapan terjemahan bahasa Indonesia belum rampung. Penjelasan profil para narasumber juga tidak dicantumkan saat film sedang berjalan. Kekurangan lainnya, yakni tidak adanya riset mendalam mengenai isu yang akan diangkat sebelum penggarapan. Dadap menilai jika ia melakukan riset akan memburamkan semua ide yang ada di kepalanya. “Saya sengaja tidak melakukan riset mendalam karena saya ingin mengerjakan apa yang saya bisa, yang saya tahu, tanpa harus memunculkan sesuatu yang baru lagi.”

Setidaknya upaya Dadap untuk menyampaikan pesannya lewat film yang dibiayai grant Denpasar Film Festival 2015 ini cukup bening untuk diterima penonton. Lewat metode perekaman single shot cinema, cerita dibangun melalui perekaman kegiatan secara terus-menerus dengan kamera yang selalu bergerak. Dari metode itu film ini merujuk kepada Nyoman Sutama sebagai narasumber utama yang mampu memenuhi kebutuhan sutradara untuk memperoleh informasi yang mumpuni.

Penentuan Sutama yang berusia 40 tahun sebagai narasumber utama dalam film ini sekilas tampak tidak menarik. Dadap, agaknya ingin menyuguhkan sesuatu yang anti mainstream dalam karyanya. Biasanya dalam film, karakter-karakter orang tua yang keriput jauh lebih menarik divisualkan untuk memperkuat kesan eksotis dari latar persawahan.

Imbang

Kehadiran Sutama disajikan berimbang dengan sosok Dadong Mada yang usianya sudah lebih dari 70 tahun. Di salah satu bagian film, Dadap merekam sebuah percakapan antara Dadong Mada dan Sutama di sawah. Di sana tersirat sebuah keresahan tentang kelanjutan masa depan lahan persawahan karena generasi selanjutnya ogah meneruskannya. Maksud percakapan itu tergambar lewat raut wajah Dadong Mada. Di bagian ini pengambilan rekaman visual jari-jari tangan Dadong Mada yang kaku dilakukan terus-menerus dari berbagai sisi. Sang sutradara berusaha menegaskan sebuah pesan, bahwa seorang nenek tetap bertani walaupun usia tua dan sakit yang seharusnya dilanjutkan generasi muda.

Secara utuh rangkaian perekaman dalam film ini berhasil menggambarkan kehidupan petani dalam situasi pembangunan liar di sekitar ruang terbuka hijau. Padahal di sekitar hamparan sawah ada papan pengumuman dari Pemerintah Kota Denpasar, Dinas Tata Ruang dan Perumahan yang bertuliskan “Dilarang Membangun, Ruang Terbuka Hijau Kota”.

Dadap berhasil menyampaikan pesannya melalui pengambilan gambar antara papan pengumuman dengan adanya bangunan-bangunan yang bertolak belakang berdasarkan peraturan yang ada. Di sinilah Dadap berhasil mencuri perhatian penonton melalui visual reflektif tentang benang kusut diskursif antara pengetahuan, kekuasaan, dan uang.

Fenomena ini mengingatkan saya pada pemikiran sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat kelas dalam arti hubungan yang tidak adil dengan means of production di dunia ekonomi, tetapi lewat produksi dan reproduksi “modal simbolis”.

Kehidupan masyarakat desa yang diwarnai ritme kehidupan petani, sawah, dan sistem subak menjadi gambaran antropologis ‘tradisional’ tentang Bali. Tapi kenyataannya oleh rezim pascakolonial gambaran tersebut justru dijungkirbalikkan untuk meminggirkan penciptaan budaya kaum lemah dan melihat perjuangan sehari-hari mereka sebagai sesuatu yang tidak punya nilai, karena dihadapkan pada cermin peradaban sebuah kemajuan pembangunan. Kalau Bourdieu benar, berarti tidak ada subyek yang bebas dari kekuasaan dan tidak ada ruang sosial yang steril dari power.

Dadap sebagai seorang filmmaker konsisten dengan tema-tema berdasarkan perspektif sosial dan budaya. Walhasil, film yang diproduksi Sanggar Siap Selem ini layak dan penting ditonton oleh berbagai kalangan, terutama akademikus, jurnalis dan pengamat pertanian. (T)

https://m.youtube.com/watch?v=ORg8ldJh3EA

Tags: balifilmfilm dokumenterpetani
Share84TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pesta Kesenian Bali: Menolak Keseragaman

Next Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Bram Setiawan

Bram Setiawan

Koresponden Tempo tinggal di Denpasar, bisa dihubungi lewat e-mail setiawan.bram@gmail.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co