22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 9, 2025
in Esai
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Foto: koleksi penulis

DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pulau, pada kanvas seorang maestro, goresan-goresan abstrak berwarna kelam menjelma menjadi gemuruh gunung berapi yang pernah disaksikannya.

Bagi mata yang tak terlatih, tarian itu hanyalah rangkaian gerak yang rumit, lukisan itu sekadar tumpahan cat yang ngasal. Bagi jiwa yang terbuka, ada sesuatu yang lain di karya tersebut, ada getaran yang melampaui logika. Inilah gerbang menuju apresiasi seni yang paling hakiki, sebuah jalan yang ditempuh melalui rasa.

Dalam kosmos seni Bali, di mana karya adalah perpanjangan dari ritual dan napas kehidupan itu sendiri, menikmati seni melalui rasa bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Puncaknya adalah sebuah momen hening dan agung ketika taksu karya berhasil mengetuk pintu kalbu, sebuah pengalaman yang resonansinya dapat kita pahami melalui konsep “jiwa ketok”.

“Rasa”, dalam konteks budaya Nusantara, adalah sebuah kata yang lebih dalam dari sekadar emosi. Ia berada di fakultas batin yang memadukan intuisi, empati, dan pemahaman. Di Bali, konsep ini berkelindan erat dengan kekuatan gaib yang menjadi urat nadi setiap penciptaan: taksu. Taksu adalah anugerah ilahi.

Taksu merupakan kharisma spiritual atau energi kosmik yang dialirkan melalui seorang seniman ke dalam karyanya. Sebuah patung bisa saja sempurna secara anatomis, memesona. Seorang penari bisa saja hafal setiap gerakan, fasih menari. Tetapi karya itu tanpa taksu, akan terasa hampa.

Taksu tidak dapat di nalar, hanya dapat dirasakan. Inilah titik temu antara sang seniman dan penikmatnya. Seniman menjadi medium mengalirnya taksu. Penikmat menjadi wadah yang menerima energi tersebut. Pendekatan ini menempatkan pengalaman seni sebagai peristiwa jiwa. Perjumpaan itu bukanlah aktivitas intelektual. Dialog yang terjadi bukanlah antara pikiran dengan objek, melainkan dialog antara jiwa dengan jiwa.

Dialog Jiwa di Seni

Istilah “Jiwa Ketok” (jiwa yang terketuk) dicetuskan oleh S. Sudjojono dalam konteks seni rupa Indonesia. Esensinya telah hidup selama berabad-abad dalam praktik seni Bali. Bagi Sudjojono, karya seni sejati adalah yang mampu memancarkan jiwa dan menyentuh jiwa penikmatnya.

Di Bali, di mana setiap topeng, patung, atau bahkan bangunan disucikan melalui upacara pasupati untuk “dihidupkan”. Sebuah karya memiliki “jiwa” adalah sebuah kebenaran yang fundamental. Maka, Jiwa Ketok menjadi momen sakral ketika percikan jiwa dari karya seni bertemu dan menyalakan percikan jiwa dalam diri kita.

Lihatlah karya-karya mendiang maestro I Made Wianta. Kanvasnya bukanlah sekadar jendela menuju pemandangan indah, melainkan medan pertempuran energi. Wianta melukis dengan rasa dari tangkapan peristiwa kecemasan, kekacauan, harapan, kekuatan alam, dan kerapuhan manusia. Melalui sapuan kuas yang liar dan kaligrafis, ia menangkap gemuruh bumi dan isak tangis langit.

Menikmati lukisan Wianta adalah sebuah pengalaman jiwa. Kita tidak perlu “memahami” artinya. Kita cukup berdiri di hadapannya dan membiarkan rasa dari energi destruktif sekaligus kreatif itu menjalari kita. Momen ketika kita merasakan getaran teror dan keagungan alam di dalam goresan cat itu, itulah Jiwa Ketok.

Berbeda, namun sama kuatnya, adalah pengalaman menikmati lukisan gaya Kamasan. Secara visual, lukisan ini bersifat naratif, datar, dan padat dengan figur-figur dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Apresiasi analitis akan fokus pada identifikasi tokoh dan alur cerita. Namun, apresiasi berbasis rasa akan menangkap suasana agung dari adegan para dewa, greget (ketegangan) dari adegan pertempuran, atau trenyuh (rasa iba) dari adegan kesedihan Sita.

Warna-warna tanah dan komposisi yang seimbang memancarkan rasa harmoni kosmik, bahkan di tengah-tengah kekacauan. Jiwa kita terketuk bukan oleh visual realis, tetapi oleh gema cerita abadi tentang dharma dan adharma yang meresap dari kanvas.

Panggung seni pertunjukan Bali adalah altar di mana “rasa” menjadi sesaji utama. Pertunjukan Calon Arang adalah contoh menarik. Ini bukan sekadar drama, melainkan sebuah ritual pengusiran kekuatan jahat. Penonton tidak datang untuk hiburan semata, mereka datang untuk merasakan benturan dua kekuatan kosmik (Rwa Bhineda).

Saat Barong yang agung muncul, suasana panggung terasa sakral dan menenangkan (tenget). Sebaliknya, kemunculan Rangda dengan tawa melengking dan kuku-kuku tajamnya menyebarkan rasa teror yang mencekam.

Puncak dari pertunjukan ini adalah saat para pengikut Rangda mengalami kerauhan (kesurupan) dan menusukkan keris ke dada mereka sendiri. Pada momen ini, nalar sepenuhnya runtuh. Para penari tidak lagi berakting; tubuh mereka telah menjadi medium bagi kekuatan tak kasat mata. Penonton yang ikut merasakan ketegangan ini: merinding, cemas, hingga merasa lega saat keseimbangan pulih. Mereka mengalami jiwa ketok dalam bentuknya yang paling komunal. Jiwa kolektif desa seolah “terketuk” dan dibersihkan bersama.

Demikian pula dalam kelembutan Tari Legong Keraton. Seorang penari legong yang mumpuni adalah ia yang memiliki taksu. Gerakannya mungkin sempurna, tetapi yang membuat penonton terpukau adalah cahaya batin yang terpancar dari ekspresinya. Jiwa ketok terjadi dalam momen-momen subtil: saat lirikan mata sang penari terasa menembus kalbu, atau saat getaran lehernya (ngeliet) selaras sempurna dengan pukulan gamelan, menciptakan sebuah keindahan yang melampaui kata-kata. Kita tidak hanya menonton tarian, kita menyaksikan penjelmaan keanggunan ilahi.

Harmoni Nalar dan Kalbu

Menempatkan “rasa” sebagai yang utama bukan berarti meniadakan peran pengetahuan (nalar). Pengetahuan justru berfungsi untuk memperdalam palung sungai agar aliran “rasa” bisa mengalir lebih deras. Mengetahui kisah Calon Arang akan membuat rasa takut dan takjub yang kita alami menjadi lebih bermakna. Memahami filosofi di balik gerakan legong akan membuat apresiasi kita terhadap taksu sang penari menjadi lebih khusyuk.

Namun, bahaya muncul ketika nalar mendahului rasa. Ketika kita terlalu sibuk memotret, menganalisis, dan membandingkan, kita membangun dinding yang menghalangi getaran taksu untuk mencapai jiwa kita. Seni Bali mengajarkan kita untuk melakukan sebaliknya: rasakan terlebih dahulu, biarkan jiwa terketuk, baru kemudian gunakan pengetahuan untuk merenungkan pengalaman itu. Tujuannya adalah harmoni, sebuah Rwa Bhineda antara intuisi dan intelek, di mana keduanya menari bersama dalam kesadaran kita.

Menikmati seni melalui “rasa” adalah sebuah laku meditatif. Ini adalah undangan untuk menanggalkan jubah arogansi intelektual dan mengenakan kepekaan batin. Karya-karya di pulau Bali bukanlah objek mati di dalam museum. Karya-karya itu merupakan entitas hidup yang bernapas, berdenyut dengan taksu, dan senantiasa mencari jiwa-jiwa yang terbuka untuk diajak berdialog. Untuk benar-benar melihat seni, kita tidak cukup hanya membuka mata. Kita harus terlebih dahulu membuka hati, menunggu dalam keheningan, hingga terdengar sebuah ketukan lembut dari jagat. Itulah jiwa ketok.

Referensi:

  • Dibia, I Wayan, 2012. Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali. Bali Mangsi: Denpasar.
  • Bandem, I Made, dan deBoer, Fredrik Eugene. 1981. Balinese Dance in Transition: Kaja and Kelod. Oxford University Press: Kuala Lumpur.

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliSenitaksu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Next Post

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co