24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Arief Rahzen by Arief Rahzen
September 9, 2025
in Esai
Jiwa Ketok: Seni, Rasa, Taksu

Foto: koleksi penulis

DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pulau, pada kanvas seorang maestro, goresan-goresan abstrak berwarna kelam menjelma menjadi gemuruh gunung berapi yang pernah disaksikannya.

Bagi mata yang tak terlatih, tarian itu hanyalah rangkaian gerak yang rumit, lukisan itu sekadar tumpahan cat yang ngasal. Bagi jiwa yang terbuka, ada sesuatu yang lain di karya tersebut, ada getaran yang melampaui logika. Inilah gerbang menuju apresiasi seni yang paling hakiki, sebuah jalan yang ditempuh melalui rasa.

Dalam kosmos seni Bali, di mana karya adalah perpanjangan dari ritual dan napas kehidupan itu sendiri, menikmati seni melalui rasa bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Puncaknya adalah sebuah momen hening dan agung ketika taksu karya berhasil mengetuk pintu kalbu, sebuah pengalaman yang resonansinya dapat kita pahami melalui konsep “jiwa ketok”.

“Rasa”, dalam konteks budaya Nusantara, adalah sebuah kata yang lebih dalam dari sekadar emosi. Ia berada di fakultas batin yang memadukan intuisi, empati, dan pemahaman. Di Bali, konsep ini berkelindan erat dengan kekuatan gaib yang menjadi urat nadi setiap penciptaan: taksu. Taksu adalah anugerah ilahi.

Taksu merupakan kharisma spiritual atau energi kosmik yang dialirkan melalui seorang seniman ke dalam karyanya. Sebuah patung bisa saja sempurna secara anatomis, memesona. Seorang penari bisa saja hafal setiap gerakan, fasih menari. Tetapi karya itu tanpa taksu, akan terasa hampa.

Taksu tidak dapat di nalar, hanya dapat dirasakan. Inilah titik temu antara sang seniman dan penikmatnya. Seniman menjadi medium mengalirnya taksu. Penikmat menjadi wadah yang menerima energi tersebut. Pendekatan ini menempatkan pengalaman seni sebagai peristiwa jiwa. Perjumpaan itu bukanlah aktivitas intelektual. Dialog yang terjadi bukanlah antara pikiran dengan objek, melainkan dialog antara jiwa dengan jiwa.

Dialog Jiwa di Seni

Istilah “Jiwa Ketok” (jiwa yang terketuk) dicetuskan oleh S. Sudjojono dalam konteks seni rupa Indonesia. Esensinya telah hidup selama berabad-abad dalam praktik seni Bali. Bagi Sudjojono, karya seni sejati adalah yang mampu memancarkan jiwa dan menyentuh jiwa penikmatnya.

Di Bali, di mana setiap topeng, patung, atau bahkan bangunan disucikan melalui upacara pasupati untuk “dihidupkan”. Sebuah karya memiliki “jiwa” adalah sebuah kebenaran yang fundamental. Maka, Jiwa Ketok menjadi momen sakral ketika percikan jiwa dari karya seni bertemu dan menyalakan percikan jiwa dalam diri kita.

Lihatlah karya-karya mendiang maestro I Made Wianta. Kanvasnya bukanlah sekadar jendela menuju pemandangan indah, melainkan medan pertempuran energi. Wianta melukis dengan rasa dari tangkapan peristiwa kecemasan, kekacauan, harapan, kekuatan alam, dan kerapuhan manusia. Melalui sapuan kuas yang liar dan kaligrafis, ia menangkap gemuruh bumi dan isak tangis langit.

Menikmati lukisan Wianta adalah sebuah pengalaman jiwa. Kita tidak perlu “memahami” artinya. Kita cukup berdiri di hadapannya dan membiarkan rasa dari energi destruktif sekaligus kreatif itu menjalari kita. Momen ketika kita merasakan getaran teror dan keagungan alam di dalam goresan cat itu, itulah Jiwa Ketok.

Berbeda, namun sama kuatnya, adalah pengalaman menikmati lukisan gaya Kamasan. Secara visual, lukisan ini bersifat naratif, datar, dan padat dengan figur-figur dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Apresiasi analitis akan fokus pada identifikasi tokoh dan alur cerita. Namun, apresiasi berbasis rasa akan menangkap suasana agung dari adegan para dewa, greget (ketegangan) dari adegan pertempuran, atau trenyuh (rasa iba) dari adegan kesedihan Sita.

Warna-warna tanah dan komposisi yang seimbang memancarkan rasa harmoni kosmik, bahkan di tengah-tengah kekacauan. Jiwa kita terketuk bukan oleh visual realis, tetapi oleh gema cerita abadi tentang dharma dan adharma yang meresap dari kanvas.

Panggung seni pertunjukan Bali adalah altar di mana “rasa” menjadi sesaji utama. Pertunjukan Calon Arang adalah contoh menarik. Ini bukan sekadar drama, melainkan sebuah ritual pengusiran kekuatan jahat. Penonton tidak datang untuk hiburan semata, mereka datang untuk merasakan benturan dua kekuatan kosmik (Rwa Bhineda).

Saat Barong yang agung muncul, suasana panggung terasa sakral dan menenangkan (tenget). Sebaliknya, kemunculan Rangda dengan tawa melengking dan kuku-kuku tajamnya menyebarkan rasa teror yang mencekam.

Puncak dari pertunjukan ini adalah saat para pengikut Rangda mengalami kerauhan (kesurupan) dan menusukkan keris ke dada mereka sendiri. Pada momen ini, nalar sepenuhnya runtuh. Para penari tidak lagi berakting; tubuh mereka telah menjadi medium bagi kekuatan tak kasat mata. Penonton yang ikut merasakan ketegangan ini: merinding, cemas, hingga merasa lega saat keseimbangan pulih. Mereka mengalami jiwa ketok dalam bentuknya yang paling komunal. Jiwa kolektif desa seolah “terketuk” dan dibersihkan bersama.

Demikian pula dalam kelembutan Tari Legong Keraton. Seorang penari legong yang mumpuni adalah ia yang memiliki taksu. Gerakannya mungkin sempurna, tetapi yang membuat penonton terpukau adalah cahaya batin yang terpancar dari ekspresinya. Jiwa ketok terjadi dalam momen-momen subtil: saat lirikan mata sang penari terasa menembus kalbu, atau saat getaran lehernya (ngeliet) selaras sempurna dengan pukulan gamelan, menciptakan sebuah keindahan yang melampaui kata-kata. Kita tidak hanya menonton tarian, kita menyaksikan penjelmaan keanggunan ilahi.

Harmoni Nalar dan Kalbu

Menempatkan “rasa” sebagai yang utama bukan berarti meniadakan peran pengetahuan (nalar). Pengetahuan justru berfungsi untuk memperdalam palung sungai agar aliran “rasa” bisa mengalir lebih deras. Mengetahui kisah Calon Arang akan membuat rasa takut dan takjub yang kita alami menjadi lebih bermakna. Memahami filosofi di balik gerakan legong akan membuat apresiasi kita terhadap taksu sang penari menjadi lebih khusyuk.

Namun, bahaya muncul ketika nalar mendahului rasa. Ketika kita terlalu sibuk memotret, menganalisis, dan membandingkan, kita membangun dinding yang menghalangi getaran taksu untuk mencapai jiwa kita. Seni Bali mengajarkan kita untuk melakukan sebaliknya: rasakan terlebih dahulu, biarkan jiwa terketuk, baru kemudian gunakan pengetahuan untuk merenungkan pengalaman itu. Tujuannya adalah harmoni, sebuah Rwa Bhineda antara intuisi dan intelek, di mana keduanya menari bersama dalam kesadaran kita.

Menikmati seni melalui “rasa” adalah sebuah laku meditatif. Ini adalah undangan untuk menanggalkan jubah arogansi intelektual dan mengenakan kepekaan batin. Karya-karya di pulau Bali bukanlah objek mati di dalam museum. Karya-karya itu merupakan entitas hidup yang bernapas, berdenyut dengan taksu, dan senantiasa mencari jiwa-jiwa yang terbuka untuk diajak berdialog. Untuk benar-benar melihat seni, kita tidak cukup hanya membuka mata. Kita harus terlebih dahulu membuka hati, menunggu dalam keheningan, hingga terdengar sebuah ketukan lembut dari jagat. Itulah jiwa ketok.

Referensi:

  • Dibia, I Wayan, 2012. Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali. Bali Mangsi: Denpasar.
  • Bandem, I Made, dan deBoer, Fredrik Eugene. 1981. Balinese Dance in Transition: Kaja and Kelod. Oxford University Press: Kuala Lumpur.

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliSenitaksu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi Ala Leluhur Bali – Membaca Peribahasa “Clebingkah Batan Biu, Gumi Linggah Ajak Liu”

Next Post

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Arca yang Menjelma Berhala Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co