6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Rizan Panda by Rizan Panda
September 7, 2025
in Cerpen
Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Ilustrasi tatkala.co

SUNGAI yang dahulu tenang dengan air mengalir jernih, kini hitam dan bau tengik. Tidak ada lagi suara riang anak-anak yang mandi sore di sana, begitu juga dengan ibu-ibu mereka yang mencuci pakaian. Air itu pekat, bahkan ikan sapu-sapu yang terkenal bisa hidup di air terjorok sekalipun, mengapung mati di pinggiran hilir.

Sudah lebih dari seminggu aroma tidak sedap itu terendus. Aroma yang berasal dari sungai itu menyeruak, mendobrak lubang hidung siapa pun yang tinggal dekat sana. Semula, warga desa tak acuh dengan kondisi sungai, karena mereka lebih fokus pada keseharian mereka yang sudah tidak berpusat pada sungai.

Dahulu, seluruh warga desa turun ke sungai untuk mengambil air, menjala, atau hanya sekadar mandi-mandi dan mencuci. Aliran airnya yang tidak begitu deras dan penuh dengan bebatuan besar menjadikan sungai itu urat nadi desa. Seiring berkembangnya zaman, pabrik-pabrik segala jenis mulai berdiri di sekitaran sungai.

Dengan sewenang-wenang, satu demi satu dari pabrik itu membuang limbah hasil produksi ke sungai. Saat pabrik masih bisa dihitung jari, sungai masih tidak apa-apa. Masih banyak warga desa yang turun ke sungai, meski air sungai kala itu sudah mulai keruh. Anak-anak juga masih dengan marak turun, berlomba menangkapi ikan yang tinggal di sana.

Nahas bagi sungai dan warga desa, pabrik-pabrik itu kian menjamur. Jumlahnya kini tidak dapat lagi dihitung dengan jemari tangan. Hampir seluruh pabrik menggelontorkan limbah mereka ke sungai.

“Makin banyak pabrik di desa kita, berarti, desa kita semakin maju!” Pak Kades berpidato dengan lantang.

Matahari dengan semangat membagikan sinar UV pada barisan orang yang apel pagi itu. Kantor kepala desa yang letaknya tidak jauh dari sungai menyebabkan apel pagi itu begitu menyiksa. Pak Kades sendiri tidak luput dari siksaan itu. Dengan sigap, ia merogoh kantung kemeja batik birunya, mengambil masker yang sudah ia sediakan.

“Bau cuma segini, sih, tidak ada apa-apa dibanding dengan keuntungan yang dibawa pabrik-pabrik. Sudah berapa pemuda desa kita yang kini masuk pabrik?”

Pak Kades menatap pada peserta apel. Riuh rendah suara peserta apel pagi berdengung.

“Tetangga saya sudah lima orang, Pak! Semuanya di pabrik plastik yang baru buka!” ujar seseorang dari barisan.

“Anak saya juga! Jadi satpam di sana!”

“Kalo anaknya tetangga saya, keterima di pabrik obat nyamuk depan perumahan elit, yang di sana itu, lho!”

“Wah, kalau anak tetanggaku…”

Suara-suara itu semakin banyak, dengan bangga menyebut pencapaian tetangga-tetangganya atau anaknya sendiri. Pak Kades mendeham keras pada mikrofon, mengakibatkan peserta apel dengan serentak hening. Ia kemudian tertawa lantang.

“Lihat, saudara-saudara. Betapa banyak manfaatnya bagi desa kita. Bau hanya sedikit begini, sih, gampang. Pakai saja masker, selesai! Baunya tidak begitu tercium lagi, kan?”

Peserta apel pagi itu menggumam setuju dan manggut-manggut. Sebagian mulai mengenakan masker.

“Nah, kalau begitu, mari kita teruskan pembangunan desa ini dengan memperbanyak pabrik-pabrik yang maju. Semakin banyak pabrik, semakin banyak juga warga desa kita yang bisa bekerja. Kalian semua mau, kan, jadi wong sugih?”

Pak Kades kembali menatap pada peserta apel. Serempak mereka menjawab setuju dengan pertanyaan Pak Kades. Peserta apel kemudian bertepuk riuh, seraya Pak Kades turun dari podium dan kembali ke ruangannya. Apel bubar.

***

”Pak, ini surat dari pabrik plastik yang baru buka. Katanya minta Bapak datang untuk tanda tangan beberapa berkas penting!” Romlah—sekretaris desa—menyodorkan sepucuk amplop pada Pak Kades. Amplop itu tampak tebal. Pak Kades menerimanya dengan sumringah, kemudian menyuruh Romlah untuk meninggalkannya sendirian. Romlah menurut, dan segera meninggalkan Pak Kades di ruangannya.

Pak Kades duduk sambil membuka kancing celananya. Gespernya yang sedari tadi menahan buncitnya, dibiarkan menjuntai ke lantai, menyebabkan perut tambun itu tampil semaunya. Sesekali ia menggaruk perutnya yang masih terbalut kutang putih berbahan tipis. Maskernya ia lepas, lengannya meraih remot pendingin ruangan dan menyetel suhu terendah.

Tak lupa ia juga meraih pengharum ruangan dan menyemprotkannya dengan bebas ke seluruh ruangan. Amplop yang baru saja diserahkan Romlah ia pegang-pegang, diputar-putar, kemudian disobek bagian ujungnya.

Beberapa gepokan biru dan sepucuk surat lahir dari amplop itu. Dengan lihai, gepokan-gepokan biru disembunyikan Pak Kades ke laci mejanya. Ia tersenyum puas. Surat yang terdapat di dalam amplop itu tidak dibaca, melainkan diselipkan semaunya di dalam sebuah fail binder kuning bertuliskan ‘berkas penting’.

Pak Kades meregangkan badannya di atas kursi. Ia menguap lebar sembari menatap jam dinding. Belum jam makan siang, tetapi, pekerjaan sudah selesai semua, batinnya. Kini ia beranjak pada sofa yang biasa dipakai untuk menerima tamu-tamu penting, dan menyalakan televisi yang tertata di dekat sofa.

Sebuah kanal televisi menampilkan berita. Pembawa acara berita menyampaikan ribuan ikan sapu-sapu ditemukan tewas mengambang di sebuah sungai di Kabupaten Bogor. Dugaan penyebabnya adalah limbah dari pabrik yang dibuang ke sungai tanpa melalui proses pengolahan limbah yang sesuai. Tak hanya itu, pembawa acara berita juga menyiarkan liputan langsung dari lokasi kejadian terkait dengan demo warga di sebuah desa di lokasi yang sama dengan kejadian tewasnya ribuan sapu-sapu.

Tampak puluhan orang di televisi bersorak menyampaikan keinginan mereka untuk kembali menghirup udara yang layak—udara yang tidak tercemar bau limbah. Orang-orang di televisi itu juga menyampaikan protes mereka menggunakan poster-poster sederhana dari kardus dan kertas.

Pak Kades mencebik.

“Dasar orang-orang udik! Tidak tahu manfaat besar!” Pak Kades mematikan televisi. Bayangan tambun dirinya terpampang jelas di layar kaca yang hitam.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Buru-buru Pak Kades mengenakan celananya dengan rapi.

Ternyata Romlah. Di belakangnya ada dua orang berwajah kuning langsat dengan mata yang kecil. Keduanya tampak necis, mengenakan setelan jas lengkap, padahal cuaca sedang sangat terik.

“Kenapa, Rom?” ujar Pak Kades.

“Anu, ini lho, pak. Yang tadi kasih surat buat Bapak,” suara Romlah mengecil, berharap tidak didengar oleh siapapun kecuali Pak Kades.

Dengan semangat yang tiba-tiba muncul, Pak Kades menyambut mereka ramah. Mempersilakan untuk segera masuk dan duduk di sofa. Ketiganya segera masuk. Pak Kades ikut duduk di antara mereka. Romlah menyampaikan niat dua orang berjas necis itu pada Pak Kades. Pak Kades kaget bukan main, karena Romlah menyampaikan sesuatu yang berada di luar dugaannya.

Romlah mengatakan bahwa pabrik plastik milik dua orang berjas itu akan terus membuang limbah ke sungai, tentunya dengan izin dari Pak Kades. Mereka juga menyanggupi untuk terus mengirimkan amplop berisi gepokan biru dan merah kepada Pak Kades secara berkala. Namun, yang mencengangkan adalah ketika Romlah menyampaikan bahwa pabrik tersebut akan melakukan PHK besar-besaran, terutama pada karyawan baru yang berasal dari desa itu. Seluruh karyawan yang di-PHK akan digantikan dengan tenaga kerja asing dari negara asal pabrik.

Terngiang ucapan Pak Kades sendiri yang ia sampaikan ketika apel pagi tadi. Keringat dingin meremang di tengkuknya.

“Tentunya Bapak sudah membaca surat yang tadi saya berikan, ya kan, Pak?” sahut Romlah.

Pak Kades hanya tersenyum getir, kemudian mengangguk. Dua orang berjas itu tersenyum lebar, kemudian bangkit dan menjabat tangan Pak Kades bergantian. Mereka kemudian pamit, meninggalkan Pak Kades yang masih ternganga di sofa. Segera Pak Kades membuka fail binder kuningnya. Sepucuk surat yang baru diselipkan seenaknya itu ia baca. Isinya persis dengan apa yang disampaikan Romlah.

***

Keesokan harinya, Pak Kades tidak masuk kerja. Kepalanya pening, bak dijambak tiada henti. Pagi itu kantor kepala desa dipenuhi dengan warga desa yang kena PHK. Sebagian besar dari mereka marah, mencaci dan memaki Pak Kades yang telah setuju untuk pembangunan pabrik-pabrik di desa itu. Sebagian lagi menangis, karena sudah tidak memiliki pekerjaan apa pun. Massa di kantor kepala desa itu semakin menjalar. Suara mereka semakin menggelegar. Tak sedikit dari mereka yang mulai nekat merusak bangunan kantor.

Batu-batu dilempari ke arah jendela-jendela kaca, berharap Pak Kades keluar dan memberikan penjelasan. Hingga azan zuhur berkumandang, Pak Kades tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Warga desa yang resah itu mulai lelah. Beberapa sudah mencoba ikhlas dan kembali ke rumah. Namun, beberapa yang masih terbakar kesal, menyuarakan untuk ramai-ramai turun ke sungai dan memungut bangkai sapu-sapu.

“Untuk apa? Bangkai itu sudah tercemar! Sudah tidak bisa juga kita olah menjadi siomay,”

“Bukan untuk siomay, goblok! Untuk Pak Kades! Kita kasih hadiah langsung ke rumahnya!”

Warga desa berseru riuh, setuju. Ramai-ramai mereka turun ke sungai. Dengan barang bawaan seadanya, mereka mengumpulkan bangkai ikan sapu-sapu pada kantung-kantung plastik. Beberapa orang juga menyerok air sungai yang hitam dan bau itu ke dalam botol plastik bekas mineral. Mereka kemudian berbondong-bondong menghampiri rumah Pak Kades.

Pak Kades yang tengah bersantai itu dikejutkan dengan suara benturan di kaca teras rumahnya. Suara benturan itu diikuti dengan riuh warga yang mengepung halaman rumah Pak Kades. Istri Pak Kades panik, menghampiri suaminya yang tengah terbaring di sofa.

“Pah! Aduuuuuuh! Teras kita! Teras kita dihujani sapu-sapu! Aduh, Pah, gimana doooong? Rumah kita jadi bau banget!”

Pak Kades bangkit dan mengintip dari jendela. Puluhan sapu-sapu berjatuhan, menghujani teras rumahnya yang kini menghitam akibat sisa air yang juga ikut tercampak. [T]

Penulis: Rizan Panda
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Penyair Muda, Lagu Kanak-Kanak: Menanam Jagung

Next Post

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Rizan Panda

Rizan Panda

Dokter hewan yang mengaku hobi menulis dan makan siobak saat hari libur. Mukim di Singaraja.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co