SENI menjadi senjata ampuh untuk memperkenalkan Bali ke dunia melalui karya-karya senimannya. Jika sebelumnya dilakukan orang asing seperti Walter Spies, tetapi kini sudah banyak dilakukan oleh orang Bali. Salah satunya seniman Bali Ketut Putrayasa. Sosok pematung dari sebuah desa kecil di Tibubeneng, Kuta Utara, Kabupaten Badung – Bali, karya-karyanya menembus panggung internasional.
Karya Ketut Putrayasa dipercaya menghiasi Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree, Singapura. Membuat patung di luar negeri ini menjadi bagian dari promosi Bali karena karya seni tersebut menarik perhatian internasional, menampilkan keunikan budaya dan keahlian Bali, serta membuka peluang kolaborasi dan memperkenalkan seniman-seniman Bali ke kancah global, sehingga meningkatkan citra positif dan daya tarik wisata Bali.
Sejak dua bulan terakhir, tak kurang dari 14 patung logam karyanya berdiri anggun di resort mewah tersebut. Figur-figur itu bukan sekadar karya seni, melainkan pesan moral tentang konservasi. “Bentuk yang saya buat adalah hewan-hewan yang hampir punah dan dilindungi, seperti Sunda Pangolin dan Colugo,” ungkap Putrayasa, Rabu 3 September 2025.
Menurutnya, menciptakan patung hewan bukan perkara mudah. Setiap satwa punya karakter berbeda, detail tubuh yang khas, hingga ekspresi yang harus ditangkap dengan tepat. “Kerumitannya di situ. Tapi saya sangat bersyukur bisa dipercaya membuat karya yang bukan hanya dipajang, tetapi juga diapresiasi di tempat berkelas dunia,” tuturnya.
Seni yang Menyimpan Pesan Konservasi
Bagi Putrayasa, patung-patung itu bukan hanya benda hias. Ia ingin masyarakat yang melihat karyanya lebih mencintai hewan sekitar agar tidak punah. “Hewan adalah sahabat manusia yang paling purbawi. Banyak naskah kuno menuliskan sumbangsih hewan terhadap ilmu pengetahuan. Jadi setiap patung saya adalah spirit untuk memahami keberadaan mereka di bumi,” ujarnya penuh makna.

Karya patung Ketut Putrayasa yang dipajang di Mandai Rainforest Resort By Banyan Tree, Singapura | Foto: Ist
Karya Putrayasa bukan kali pertama dipamerkan di Singapura. Sebelumnya, ia dipercaya menampilkan karya monumental di kawasan konservasi ternama, Mandai Wildlife Singapore. Salah satunya adalah patung berjudul “Mother & Child”, setinggi 3 meter dengan diameter 5 meter. Patung ini menggambarkan Trenggiling Sunda (Manis javanica) yang melindungi anaknya—sebuah metafora tentang kasih sayang dan perlindungan.
Apresiasi dari Pengamat Seni
Pengamat seni sekaligus perupa Tatang B. Sp menilai karya Putrayasa melampaui batas artistik. “Patungnya bukan sekadar representasi visual, melainkan edukasi. Ia mengajak publik lebih peduli terhadap satwa langka, khususnya trenggiling Sunda yang kini terancam punah,” katanya.

Ketut Putrayasa | Foto: Ist
Menurut Tatang, seni publik seperti yang digarap Putrayasa punya peran besar membentuk kesadaran kolektif. “Melalui patung, publik tidak hanya menikmati estetika, tetapi juga memahami peran ekologis satwa dalam menjaga keseimbangan alam. Patung ini adalah ingatan yang diawetkan,” ujarnya.
Konservasi dan Spirit Bali
Trenggiling Sunda sendiri kini masuk daftar spesies terancam menurut IUCN sejak 2016, akibat deforestasi dan perdagangan ilegal. Lewat patung berbahan kuningan dengan rangka stainless, Putrayasa menghadirkan detail sisik trenggiling yang tampak hidup, seolah menyampaikan pesan: melindungi hewan adalah melindungi keseimbangan alam.
Bagi Putrayasa, kepercayaan yang diberikan kepadanya di Singapura adalah bentuk tanggung jawab. “Saya berharap karya-karya ini bisa menjadi pengingat, bahwa manusia dan hewan adalah bagian dari satu ekosistem. Seni hanyalah jembatan untuk menyampaikan pesan itu,” pungkasnya.
Kini, dari Bali untuk dunia, karya Putrayasa berdiri sebagai monumen seni sekaligus suara konservasi—mengingatkan setiap orang yang melihatnya bahwa setiap spesies berhak lestari di bumi ini. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























