SUBAK di Bali bukan hanya soal air. Ia adalah filosofi hidup. Air mengalir dari hulu ke hilir, melintasi sawah, membawa kesuburan, memberi makan manusia, sekaligus menyalurkan doa. Setiap tetesnya menyimpan makna: bahwa keseimbangan hanya terjaga ketika semua bagian mendapat aliran.
Kini, tujuh dekade setelah CIMB Niaga berdiri, saya melihat aliran lain yang diam-diam merembes masuk ke kehidupan orang Bali: aliran digital. Bukan air, melainkan data. Bukan terusan sawah, melainkan jalur transaksi. Dan sama seperti Subak, ia pelan tapi pasti mengubah wajah ekonomi.
Dari Sawah ke Ponsel
Di sebuah desa agraris di Gianyar, seorang petani muda yang juga menjual beras organik mengeluarkan ponselnya. Tangannya masih kotor oleh lumpur ketika ia menunjukkan notifikasi pembayaran.
“Dulu orang Jakarta yang mau beli beras saya harus transfer lewat rekening ayah, lalu kabari lewat SMS. Sekarang cukup klik di aplikasi OCTO Mobile, dalam hitungan detik uang masuk,” katanya, sambil terkekeh.
Baginya, perbankan digital adalah saluran irigasi baru: menghubungkan sawah dengan pasar yang jauh. “Kalau Subak mengairi padi, bank digital mengairi dagangan saya,” ujarnya.
Cerita itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak signifikansinya. Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, 65 juta UMKM Indonesia menyumbang lebih dari 60% PDB. Namun, hanya sebagian yang punya akses finansial formal. Artinya, ada jutaan kisah serupa yang menunggu saluran baru untuk mengalirkan dagangannya.
Dari Pasar Ubud ke Marketplace
Di Pasar Ubud, kontras terlihat jelas. Seorang ibu penjual canang masih enggan menerima QRIS. “Lebih enak pegang uang. Bisa buat beli sayur langsung,” katanya. Namun, di kios sebelahnya, pedagang kain dengan cekatan menempelkan stiker QRIS di meja. “Sekarang turis lebih suka bayar pakai scan,” ujarnya.
Inilah wajah Bali hari ini: tradisi dan modernitas berdampingan. Ada yang masih percaya pada genggaman koin, ada pula yang lebih nyaman pada bunyi notifikasi digital. CIMB Niaga, lewat platformnya, berada di tengah arus itu, menjembatani dua dunia.
Jejak 70 Tahun
Perjalanan CIMB Niaga sejak 1955 sebenarnya selalu menyimpan aroma pionir. Dari memperkenalkan ATM pertama di Indonesia pada 1987 hingga kini meluncurkan super-app OCTO Mobile, inovasi menjadi nafas panjangnya.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, dalam perayaan 70 tahun lalu berkata: “Digital banking bukan masa depan. Ia adalah masa kini. Dan tugas kami adalah memastikan bahwa masa kini itu bisa diakses siapa saja, dari kota besar hingga desa.”
Kutipan ini terasa nyata ketika melihat bagaimana petani di Gianyar kini bisa menjual berasnya ke luar Bali hanya dengan ponsel.
Ironi yang Menggelitik
Namun, mari jujur. Digitalisasi bukan tanpa ironi. Sementara sebagian orang menabung lewat ponsel, masih ada desa di Bali yang sinyalnya putus-putus. Sementara CIMB Niaga berbicara tentang AI dan big data, di pasar tradisional masih ada ibu-ibu yang menolak QRIS karena “takut uangnya hilang di udara.”
Tapi bukankah justru di situlah menariknya Bali? Ia selalu hidup di antara dua dunia. Sama seperti pura di tengah sawah, digital banking di Bali hadir bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi untuk melengkapinya.
Menatap Masa Depan
Di teras rumahnya yang menghadap sawah, petani muda tadi berkata: “Kalau dulu saya hanya petani, sekarang saya merasa seperti pengusaha kecil.”
Dan mungkin, inilah kontribusi sejati CIMB Niaga di usia 70: bukan pada angka di laporan tahunan, melainkan pada perubahan kecil di kehidupan nyata. Dari Subak yang menyalurkan air, hingga super-app yang menyalurkan transaksi, semua mengalir menuju keseimbangan yang sama: hidup yang lebih mudah, rezeki yang lebih lancar.
Di Bali, air selalu dianggap suci. Dan kini, siapa tahu, aliran data pun bisa menjadi semacam tirta baru.



























