2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pidato” dan Kenikmatan (Tipo) Grafis

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 31, 2025
in Esai
“Pidato” dan Kenikmatan (Tipo) Grafis

Ilustrasi tatkala.co

Kawan yang baik,

Beberapa waktu lalu ada orang yang mengeluhkan “omon-omon” berupa rangkaian pidato kelewat panjang pada pembukaan pameran seni rupa. Dikatakan bahwa rangkaian pidato itu mubazir, bahkan konyol karena memaksa khalayak mendengarkan pernyataan bertele-tele yang basi dan kosong.

Semestinya khalayak cukup membaca pengantar atau penjelasan kuratorial yang tertera dalam katalogus pameran atau buku acara atau selebaran atau apapun namanya, dalam bentuk tertulis dan tak perlu “dianiaya” menyimak ucapan-ucapan basi.

Dikatakan pula bahwa tulisan kuratorial atau penjelasan isi pameran tak harus berpanjang-panjang, melainkan dapat diringkas saja, jika perlu dibuat dalam bentuk komik. Enak dilihat dan santai.

Apa boleh buat. Memang pidato pembukaan maupun tulisan dalam katalogus pameran seni rupa kadangkala tak jelas juntrungannya dan bahkan ngaco.

Tapi terlepas dari ngaco dan tidak ngaco, kita dapat bertanya: kenapa orang tidak tahan atau cenderung emoh terhadap hal-ihwal dalam wujud tulisan, apalagi yang panjang mendalam?

Kenapa orang lebih suka berselancar di dunia visual atau belantara gambar? Bahkan ada yang mengatakan bahwa bergulat dengan tulisan, menghikmati sesuatu yang “literer”, adalah tindakan dungu.

Baiklah, kawan.

Boleh jadi itu akibat kian massifnya budaya tipografis-citraan temporer, apalagi dengan membanjirnya serakan maupun timbunan narasi visual, di mana saja kapan saja.

Coba kita bayangkan. Duduk menonton video, foto, rangkaian atau kilasan gambar atau film atau berselancar di lautan info online atau aktif terlibat di media sosial, pada dasarnya memang berbeda dengan membaca sebuah buku.

Bagaimanapun aktivitas membaca (buku) cenderung membutuhkan konsentrasi tetap yang lebih soliter dan personal sementara tindakan menonton dan berselancar potongan info dan gambar lebih mirip dengan kegiatan tamasya di permukaan narasi yang berseliweran secara serempak.

Aktivitas literer lebih memungkinkan pembaca untuk menelusuri struktur dan bagian-bagian narasi dalam bentuknya yang sistematik dan menetap (fixed) sehingga juga lebih mudah menelusuri logika beserta relung-relung argumen yang saling bertautan berikut unsur-unsur pembangun koherensinya.

Di situ pembaca dapat mengulangi bagian-bagian tertentu sembari menggaris bawahinya atau mengecek relasi logis bagian yang satu dengan bagian lain, bahkan juga dapat menguji berbagai kontradiksi yang muncul.

Sebuah buku, berita di majalah dan surat kabar, sebuah “paper” atau esai, naskah cerpen dan puisi, dapat dibaca dengan memilah-milah, memberi catatan, komentar, bahkan sanggahan di sana-sini.

Tentu, kegiatan membaca juga dapat dilakukan dengan cara seperti menonton tayangan audio-visual atau kilasan-kilasan gambar atau potongan narasi di dunia virtual berikut foto-foto dan video dan fragmen-fragmen informasi serupa.

Tapi, dalam bentuknya yang ekstrem, aktivitas menonton cenderung mengurangi, bahkan menghilangkan peluang untuk memeriksa koherensi bagian-bagian atau elemen-elemen yang terdapat dalam narasi.

Semuanya datang dan pergi dengan cepat sehingga kadang tampak sebagai kolase yang membentuk timbunan narasi. Dalam narasi semacam itu seringkali tidak terdapat kaitan logis di antara elemen-elemennya sehingga tampak seperti serakan kain perca, tanpa ujung tanpa pangkal, juga tanpa bingkai, muncul seperti semburan-semburan acak sehingga tiba-tiba orang terseret dalam gelombang kenikmatan tanpa konteks.

Dalam tindakan “pembacaan” semacam itu, secara langsung maupun tidak langsung, akan membuat orang tidak peduli dengan logika dan koherensi, karena yang dicari adalah sejenis kenikmatan naratif dari sesuatu yang acak, tak berpola, dari kilasan-kilasan imaji, sabetan-sabetan impresi.

Kawan yang baik,

Salah satu implikasi gelombang pasang ingar-bingar dunia citraan-tipografis itu adalah sikap yang tidak hirau terhadap kedalaman, kepaduan dan koherensi teks.

Yang dicari adalah justru keterpecahan, ketercerai-beraian, fragmentasi, segregasi, benturan-benturan acak, atau semacam histeria permainan bentuk-bentuk narasi.

Kemabukan citraan-tipografis itu juga telah menghilangkan dimensi-dimensi umum pada paradigma lirerer, terutama dimensi logika proposisional yang berkaitan dengan arti (sense) dan makna (meaning).

Citra yang berpilin dengan citra, gambar yang tumpah dalam buncahan dan serpihan gambar, cukuplah diterima atau dikunyah sekadarnya sebagai empasan sensasi yang menyentuh indera penglihatan dan karenanya tak perlu diusut hal ihwal di baliknya serta tidak penting benar apakah teks itu mengandung makna atau sekadar “nonsens”.

Yang dikejar di situ adalah apa yang dalam bahasa Prancis disebut “jouissance”, yakni suatu kenikmatan atau kegembiraan yang dihasilkan dari permainan permukaan bentuk yang dangkal dan wantah, dan bukannya “plaisir” yang mengarah pada kenikmatan intelektual dan mengandung dimensi-dimensi maknawi yang lebih dalam.

Boleh jadi kondisi semacam itu berkaitan dengan perkembangan lanjut dari moda produksi dan proses penyerapan bentuk narasi.

Sebagaimana diketahui pada masa awal (yang berlangsung di Barat hingga dekade ke-2 abad 20) bentuk narasi yang dominan adalah yang berorientasi pada ketepatan dalam menampilkan realitas yang tersusun dari fakta-fakta. (Kaum jurnalis menyebut-nyebut 5 W 1 H, berikut alasan “kenapa” suatu peristiwa diyakini penting dan adekuat untuk ditulis dan disebarkan atau dijual).

Bentuk-bentuk narasi pada periode tersebut cenderung menekankan paradigma literer, yaitu tulisan sebagai representasi atas “realitas” dalam konstruksi ketat sebagai proposisi yang dibuat sejujur-jujurnya untuk menampilkan kenyataan se-obyektif mungkin. Yang gamblang dan koheren.

Lalu sekitar dekade 1920-1950, muncul pendekatan yang berorientasi pada “makna”. Suatu teks literer tidak hanya merepresentasikan “kenyataan objektif”, tapi juga dibuat berdasar sudut pandang tertentu agar dapat dijadikan wahana reflektif bagi individu pembacanya.

Dalam tulisan jurnalistik mulai dipertimbangkan aspek-aspek “etis”, “sosial”, bahkan “estetik”. Tapi pada masa ini juga ditandai dengan kian menguatnya dimensi visual dalam jurnalisme. Dan pada dekade 1950-1970, aspek visual itu semakin marak.

Juga gejala pembocoran dunia personal dan “privat” ke wilayah “publik”, – diskusi ihwal batas-batas antara yang “privat” dengan yang “publik” menjadi relevan – yang dipicu oleh maraknya tabloid atau koran “kuning” yang mengekspos dunia personal tokoh publik dan para pesohor dunia pop.

Di situ rincian hal-hal kecil dan sepele bukan sekadar bumbu penyedap, melainkan justru menjadi semacam inti teks.

Dan sejak dekade 1980-an, muncul pendekatan yang semakin heterogen dengan mempertimbangkan segmentasi pasar (sasaran pembaca). Pada periode ini juga ditandai dengan menguatnya bentuk narasi gaya hidup berikut gambaran pencarian identitas masing-masing jenis dan karakter segmen yang diangkat untuk dirayakan.

Kawan yang baik,

Kita tahu bahwa dalam budaya konsumer, proses produksi dan penyerapan narasi, apa pun bentuknya, diasumsikan sama belaka dengan produksi dan konsumsi produk industrial lainnya.

Hal itu terkait dengan meluasnya arus globalisasi yang telah mengaburkan atau bahkan menghilangkan batas-batas tradisional negara, budaya, komunitas, bahkan juga batas-batas etnik. Arus lalu lintas barang, produk-produk teknonogi, informasi, pemikiran, ide-ide dan ideologi-ideologi pun semakin cepat dan mudah.

Dalam bentuknya yang ekstrem, ide-ide dan ideologi di pasar global itu statusnya sama dengan komoditas atau benda-benda: suatu saat dapat dikonsumsi dan pada saat yang lain ditolak, suatu saat dapat diambil dan pada saat yang lain dapat dibuang jika dianggap sudah tidak berguna atau tidak relevan dengan kebutuhan.

Sebuah pemikiran maupun ideologi hanyalah sesuatu yang “fashionable” belaka dan siap berubah setiap saat.

Artinya budaya konsumer telah menunjukkan kepada kita bahwa segalanya dapat direifikasi: sebuah agama, ideologi, mitos, moralitas, sama nilainya dengan sebuah mobil yang seksi, arloji dan sepatu yang mengilap, hamburger, lipstick, parfum, sepotong baju atau ponsel pintar.

Apa yang tampak dan dapat kita sentuh adalah apa yang dapat dijangkau secara temporal, datang dan pergi dengan preferensi yang terus berubah: sesuatu yang hari ini tampak menarik, barangkali esok sudah asing dan usang sehingga dapat dibuang dan diganti dengan cakepan baru.

Narasi apapun akan diterima sebagai kilasan-kilasan sesaat sebagaimana proses reproduksi komoditas belaka.

Berkat perkembangan teknologi digital dan virtual segalanya dapat disebarkan secara serentak serta lebih mudah diakses oleh siapa saja. Sesuatu dinyatakan dalam narasi bukan untuk “mengabadikan” hal-hal substansialnya, melainkan justru untuk membuatnya tidak abadi. “Realitas” atau “peristiwa” di-upload bukan untuk diawetkan, melainkan justru untuk dihapus.

Tentu, bentuk-bentuk narasi yang diserap dalam budaya semacam itu terkadang tak berkaitan sama sekali dengan “realitas” yang hendak ditampilkan, dirujuk, atau direkonstruksi. Ia bahkan dapat bertentangan dengan “realitas” yang sesungguhnya.

“Realitas” yang diciptakan oleh narasi adalah satu hal, sedangkan “realitas” faktual adalah hal lain. Terkadang orang tak dapat membedakan keduanya karena memang tidak merasa butuh atau perlu membedakannya.

Setelah “realitas” baru itu didesakkan terus menerus, kapan saja di mana saja, tiap jam, bahkan tiap menit, di gadget, melalui internet dan dunia virtual lainnya, di tempat kerja, di pasar, di jalanan, di terminal-terminal, di tempat tidur maupun di kamar mandi, akhirnya diterima sebagai “kebenaran” yang baru pula.

“Realitas” buatan itu “taken for granted”, sebagai kebenaran yang ada begitu saja dalam bentuk-bentuk yang kian beragam. Ia datang bertubi-tubi lalu bertumpuk dalam memori konsumen yang memang tak hirau lagi dengan logika ini-itu.

Antara yang “faktual” dan yang “imajiner” dapat dioplos sedemikian rupa untuk mendapatkan kenikmatan baru pula.

Itulah kemabukan atau ekstase bentuk-bentuk narasi sebagai penanda utama realitas citraan-tipografis.

Jadi, engkau benar ketika berkata bahwa pada saat ini berlaku adagium “Kedangkalan adalah kunci”, atau “Kebanalan adalah mulia”, atau seruan “Ayo kita rayakan kebanalan ini. Kita syukuri kenikmatan Tik-tok yang mempesona ini”.

Mari. Mari. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis WICAKSONO ADI
Tags: Bahasapidatoseni grafisSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Next Post

Dari Subak ke Super-App Digitalisasi yang Mengalir di Bali

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dari Subak ke Super-App Digitalisasi yang Mengalir di Bali

Dari Subak ke Super-App Digitalisasi yang Mengalir di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co