4 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Son Lomri by Son Lomri
August 31, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Ilustrasi tatkala.co

Peluru Coklat Putih

: Randa

Timah timah
Bekas peluru ditembakkan
Di lapang itu,

Kita gali seperti
Menggali kubur dengan
Badan setengah merunduk
Hingga tangan belepotan tanahtanah.

“Bisa dijual itu timah,” katamu.
Lima puluh meter dari tentara kemarin sore
—kurang ajar menembaki gundukan tanah.

Tapi kita mau menjilati
Malam sampai
Ke dubur pagi

Kita berdoa banyak perang terjadi
Hari esok agar banyak peluru bisa digali

Biar besok tidak sulit makan
Biar besok tidak sulit minum arak

Mari kita belajar
Menghitung
Peluru pada tanah
Sebelum mayat mayat
Dadanya terbuka ketika
Hari perang sudah tiba.

Dalam perang,
Peluru tak ada harganya
Seperti nyawa perut kosong
Menatap nyalang hidup
Minum arak sisa semalam
Lalu berjalan sempoyong keluar ke pantai
Untuk menurunkan baju jirah perang
Pada angin pada ombak
Pada gagang panci piring gelas milik ibu

Mari kita hitung waktu mundur,
Pada hari hari maaf di jalanan;

Di jalan raya,
Di sampingnya gereja
Tuhan menatap kita
Seperti domba tersesat
Mencuri coklat di padang rumput
Milik orangorang pelit di toko toko zaman

Tuhan agaknya tersenyum
Menyaksikan pencuri kecil
Sedang menuntaskan rasa laparnya
Mencabik coklat putih panjang
Setelah menjilati malam ke dubur pagi

Di mana lagi waktu chaos itu,
Bisa dilumat seperti coklat
Putih tahun lalu?

Singaraja, Juli 2025

Jalan ke Rumahku


: Randa

Jalan pulang menuju rumahku itu,
Melewati 10 tiang listrik
Dari pangkalan ojek
Pengkolan Minggu

Melewati rumah rumah tetangga
Dengan pagar kayu penuh daun
Juga besi karatan

Melewati beberapa mushola
Dan hamparan luas sawah
Dilingkari gunung-gunung itu,
juga jalan menuju rumahku.

Berbeton jalannya lurus berbelok
Dan sungai warnanya kuning
Mengalir di sisinya menguarkan
Bau tanah—getih kelahiran.

Bayangkan itu, kau
Ikut pulang ke rumahku
Dengan langit biru diiringi lagu
Bin Idris – Bebas Hambatan.

Turun dari kereta, misalnya,
Pergi kita menaiki angkot dari Palima.
Diantar Mang Sopir ke tempat tempat tadi,
Juga tempat duduk kecil terpisah sepanjang jalan
Pinggiran sawah;

Tempat para remaja nakal itu menyandarkan motornya
Usai balap liar sore—lanjut terus mabok malam.

Juga anak-anak kecil,
Belajar nakal menghisap rokoknya sebelum berangkat mengaji
Mereka, juga duduk di sana bergantian sebelum Maghrib.

Tapi beberapa rumah mungkin sudah kosong
Ditinggal anak-anak sebesarku sekarang.

Jauh-pergi melewati hari raya
Melewati hari libur

Meninggalkan tempat duduknya
Dan inti sari botol botol kosong,
Juga rokok melingkar sebaya
Sudah padam.

Sepuluh anak anak kecil itu juga sekarang,
Barangkali sudah besar besar. Pergi,
Melewati tidur siangnya seperti aku.

Tapi di mana aku sekarang,
Di mana mereka
Di mana jalan masuk ke rumahku
Lalu bagaimana kabar ibuku kabar abahku,
Dan tetanggaku juga sawah
Samar aku ingat—sekarang.

Sekarang, rasanya aku hanya bisa mengingat sekilas,
Dan mencium aliran sungai bau basah tanah
Dari kiriman bekal orang tua semakin sedikit.

Tapi, bagaimana kabarmu?

Singaraja, Juli 2025

Kota Tua Pesisir Berjalan di Kakimu

: Pemulung Perempuan

Perempuanku,
Aku mengerti keadaanmu sekarang.
Di kesepian kau duduk dan matamu terlepas
jatuh ke sungai deras.
Sementara di keramaian–asing dengan udara panas
Kota tua pesisir berjalan di kakimu
Menyusul dadamu terjatuh pada jurang
Paling hampa dari hidup yang licin.
Orang-orang mendongak tak pernah ke bawah memang,
Karena habis meliuk malam—pagi hari. Dan,
Ia datang setelahnya meraih sesuatu,
Lalu menemuimu
Di antara sisa sisa bar dan resto
Yang sulit dimengerti di tepi pantai
Dan sawah menggantikan bintang bulan
Kunang kunang,
2–3 kilo sisasisa,
Kau menimbangnya pada nasib.
Aku tahu rasanya dihimpit angka besar uang kecil,
Yang membuat tubuhmu semakin menciut.
Lantas kau pergi pulang-tidur,
Diantar angin dipeluk malam. Dan,
Tubuhmu merebah pada kasur
Sehalus mimpi di kamar rumah gubuk kita.

Singaraja, 2025

Ratu Amélia—Cahyani

: Kekasihku dulu

Telah melewati banyak tahun
Bunga layu masih aku bawa
Ke mana saja. Diselip di kantong,
Diselip di buku.

Baunya masih tetap sama
Kelopaknya utuh
Warnanya merah
Seperti dipotek kali pertama
Disisipkan pada surat
Diantar malu malu kencan kita
Di warung bakso makan dengan uang
Masih patungan.

Bunga layu itu aku bawa
Melewati banyak bentuk jalan hidup

Disimpan seperti ajimat
Penangkal lupa
Penangkal ingkar

Mataku satu perih menahan asing
Rasa ngilu mimpi indah janji janji

Yang sekarang jadi kering,
Tangkainya hilang entah ke mana.

Singaraja, Agustus 2025

Nanti Saja Aku Pulang

Bu,

Masih
ngisi-
Kolom
Tekateki

Singaraja, Agustus 2025

Menumbuhkan Liar Aku

Robek dagingku
Dilempar
Batu karang kayukayu

Di sela daging menganga
Tulangku nyaris nongol

Langit mengerang
Kesakitan

Menjatuhkan banyak sekali bintang
Bintang di pundak
Kaki dengkul—
Merobek kulitku itu,
Membentuk seperti palung.

Dan laut menjerit tumpahkan
Garam angin sakit
Di dalamnya bau tubuhku
Kemarau panjang.

Tanah juga berdarah
Warnanya coklat
Bau getah pepohonan

Engkau 20 sifat wujud
99 nama baik di belantara
Tempat keluh kesah tumbuh
Memborok rasa sakit manusia

Dengar ini bukan doa
Tapi semacam hutang

Aku mau minta hujan
Satu gelas kopi pait
Dua batang rokok eceran
Seporsi tipat pengganjal rasa lapar
Rasa panas rasa dingin

Puahkan kepadaku itu.

Dibayar kontan nanti—
Selepas getahgetah
Mengering seperti
Kulit kulit mati mengering
Terkelupas sekujur tubuhku

Atau kontan
Di hari-hari
Mati
Waktu
Satu
Satunya
Yang setia akan datang. Setelah,
Tak lagi liar hidupku ditutup
Tanah ditaburi bunga bunga duka. Yang,
Merebahkan aku menciumMu mesra
Lebih dekat lebih dalam—tanah.

Puah,
Puahkan kepadaku hujan deras
Tubuhku panas kemarau panjang
Dilewati ular tikus kadal liar dalam kejaran.

Robek. Sumuk.

“Aku tak pernah
mengelak
Aku terus berjalan
Tumbuh
Membau,”

Aku gulma kering di tepi jalan jalan tandus
Yang dilewati mata kaki buta mereka—
Malam tiba gigil tubuhku

Dan,
Aku menutup mata
Membayangkan itu
Kematian dekat
Memeluk satu-satunya
Lebih hangat dan wangi

Dan mereka berhenti berjalan,
Datang kepadaku menabur bunga
Mengembalikan bintang bintang di pundak
Kaki-kengkul di mata kakiku—
Semula, ke langit.

Singaraja, Agustus 2025

.

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hidupkan Malam Banjar Jawa, Singaraja:  STT Yowana Taruna Wirahita Luncurkan Sanggar Seni Adi Bajra Hita

Next Post

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 3, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co