23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Son Lomri by Son Lomri
August 31, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Ilustrasi tatkala.co

Peluru Coklat Putih

: Randa

Timah timah
Bekas peluru ditembakkan
Di lapang itu,

Kita gali seperti
Menggali kubur dengan
Badan setengah merunduk
Hingga tangan belepotan tanahtanah.

“Bisa dijual itu timah,” katamu.
Lima puluh meter dari tentara kemarin sore
—kurang ajar menembaki gundukan tanah.

Tapi kita mau menjilati
Malam sampai
Ke dubur pagi

Kita berdoa banyak perang terjadi
Hari esok agar banyak peluru bisa digali

Biar besok tidak sulit makan
Biar besok tidak sulit minum arak

Mari kita belajar
Menghitung
Peluru pada tanah
Sebelum mayat mayat
Dadanya terbuka ketika
Hari perang sudah tiba.

Dalam perang,
Peluru tak ada harganya
Seperti nyawa perut kosong
Menatap nyalang hidup
Minum arak sisa semalam
Lalu berjalan sempoyong keluar ke pantai
Untuk menurunkan baju jirah perang
Pada angin pada ombak
Pada gagang panci piring gelas milik ibu

Mari kita hitung waktu mundur,
Pada hari hari maaf di jalanan;

Di jalan raya,
Di sampingnya gereja
Tuhan menatap kita
Seperti domba tersesat
Mencuri coklat di padang rumput
Milik orangorang pelit di toko toko zaman

Tuhan agaknya tersenyum
Menyaksikan pencuri kecil
Sedang menuntaskan rasa laparnya
Mencabik coklat putih panjang
Setelah menjilati malam ke dubur pagi

Di mana lagi waktu chaos itu,
Bisa dilumat seperti coklat
Putih tahun lalu?

Singaraja, Juli 2025

Jalan ke Rumahku


: Randa

Jalan pulang menuju rumahku itu,
Melewati 10 tiang listrik
Dari pangkalan ojek
Pengkolan Minggu

Melewati rumah rumah tetangga
Dengan pagar kayu penuh daun
Juga besi karatan

Melewati beberapa mushola
Dan hamparan luas sawah
Dilingkari gunung-gunung itu,
juga jalan menuju rumahku.

Berbeton jalannya lurus berbelok
Dan sungai warnanya kuning
Mengalir di sisinya menguarkan
Bau tanah—getih kelahiran.

Bayangkan itu, kau
Ikut pulang ke rumahku
Dengan langit biru diiringi lagu
Bin Idris – Bebas Hambatan.

Turun dari kereta, misalnya,
Pergi kita menaiki angkot dari Palima.
Diantar Mang Sopir ke tempat tempat tadi,
Juga tempat duduk kecil terpisah sepanjang jalan
Pinggiran sawah;

Tempat para remaja nakal itu menyandarkan motornya
Usai balap liar sore—lanjut terus mabok malam.

Juga anak-anak kecil,
Belajar nakal menghisap rokoknya sebelum berangkat mengaji
Mereka, juga duduk di sana bergantian sebelum Maghrib.

Tapi beberapa rumah mungkin sudah kosong
Ditinggal anak-anak sebesarku sekarang.

Jauh-pergi melewati hari raya
Melewati hari libur

Meninggalkan tempat duduknya
Dan inti sari botol botol kosong,
Juga rokok melingkar sebaya
Sudah padam.

Sepuluh anak anak kecil itu juga sekarang,
Barangkali sudah besar besar. Pergi,
Melewati tidur siangnya seperti aku.

Tapi di mana aku sekarang,
Di mana mereka
Di mana jalan masuk ke rumahku
Lalu bagaimana kabar ibuku kabar abahku,
Dan tetanggaku juga sawah
Samar aku ingat—sekarang.

Sekarang, rasanya aku hanya bisa mengingat sekilas,
Dan mencium aliran sungai bau basah tanah
Dari kiriman bekal orang tua semakin sedikit.

Tapi, bagaimana kabarmu?

Singaraja, Juli 2025

Kota Tua Pesisir Berjalan di Kakimu

: Pemulung Perempuan

Perempuanku,
Aku mengerti keadaanmu sekarang.
Di kesepian kau duduk dan matamu terlepas
jatuh ke sungai deras.
Sementara di keramaian–asing dengan udara panas
Kota tua pesisir berjalan di kakimu
Menyusul dadamu terjatuh pada jurang
Paling hampa dari hidup yang licin.
Orang-orang mendongak tak pernah ke bawah memang,
Karena habis meliuk malam—pagi hari. Dan,
Ia datang setelahnya meraih sesuatu,
Lalu menemuimu
Di antara sisa sisa bar dan resto
Yang sulit dimengerti di tepi pantai
Dan sawah menggantikan bintang bulan
Kunang kunang,
2–3 kilo sisasisa,
Kau menimbangnya pada nasib.
Aku tahu rasanya dihimpit angka besar uang kecil,
Yang membuat tubuhmu semakin menciut.
Lantas kau pergi pulang-tidur,
Diantar angin dipeluk malam. Dan,
Tubuhmu merebah pada kasur
Sehalus mimpi di kamar rumah gubuk kita.

Singaraja, 2025

Ratu Amélia—Cahyani

: Kekasihku dulu

Telah melewati banyak tahun
Bunga layu masih aku bawa
Ke mana saja. Diselip di kantong,
Diselip di buku.

Baunya masih tetap sama
Kelopaknya utuh
Warnanya merah
Seperti dipotek kali pertama
Disisipkan pada surat
Diantar malu malu kencan kita
Di warung bakso makan dengan uang
Masih patungan.

Bunga layu itu aku bawa
Melewati banyak bentuk jalan hidup

Disimpan seperti ajimat
Penangkal lupa
Penangkal ingkar

Mataku satu perih menahan asing
Rasa ngilu mimpi indah janji janji

Yang sekarang jadi kering,
Tangkainya hilang entah ke mana.

Singaraja, Agustus 2025

Nanti Saja Aku Pulang

Bu,

Masih
ngisi-
Kolom
Tekateki

Singaraja, Agustus 2025

Menumbuhkan Liar Aku

Robek dagingku
Dilempar
Batu karang kayukayu

Di sela daging menganga
Tulangku nyaris nongol

Langit mengerang
Kesakitan

Menjatuhkan banyak sekali bintang
Bintang di pundak
Kaki dengkul—
Merobek kulitku itu,
Membentuk seperti palung.

Dan laut menjerit tumpahkan
Garam angin sakit
Di dalamnya bau tubuhku
Kemarau panjang.

Tanah juga berdarah
Warnanya coklat
Bau getah pepohonan

Engkau 20 sifat wujud
99 nama baik di belantara
Tempat keluh kesah tumbuh
Memborok rasa sakit manusia

Dengar ini bukan doa
Tapi semacam hutang

Aku mau minta hujan
Satu gelas kopi pait
Dua batang rokok eceran
Seporsi tipat pengganjal rasa lapar
Rasa panas rasa dingin

Puahkan kepadaku itu.

Dibayar kontan nanti—
Selepas getahgetah
Mengering seperti
Kulit kulit mati mengering
Terkelupas sekujur tubuhku

Atau kontan
Di hari-hari
Mati
Waktu
Satu
Satunya
Yang setia akan datang. Setelah,
Tak lagi liar hidupku ditutup
Tanah ditaburi bunga bunga duka. Yang,
Merebahkan aku menciumMu mesra
Lebih dekat lebih dalam—tanah.

Puah,
Puahkan kepadaku hujan deras
Tubuhku panas kemarau panjang
Dilewati ular tikus kadal liar dalam kejaran.

Robek. Sumuk.

“Aku tak pernah
mengelak
Aku terus berjalan
Tumbuh
Membau,”

Aku gulma kering di tepi jalan jalan tandus
Yang dilewati mata kaki buta mereka—
Malam tiba gigil tubuhku

Dan,
Aku menutup mata
Membayangkan itu
Kematian dekat
Memeluk satu-satunya
Lebih hangat dan wangi

Dan mereka berhenti berjalan,
Datang kepadaku menabur bunga
Mengembalikan bintang bintang di pundak
Kaki-kengkul di mata kakiku—
Semula, ke langit.

Singaraja, Agustus 2025

.

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hidupkan Malam Banjar Jawa, Singaraja:  STT Yowana Taruna Wirahita Luncurkan Sanggar Seni Adi Bajra Hita

Next Post

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails
Next Post
Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co