PAGI di kawasan pantai, di Buleleng bagian timur, sinar matahari menghangatkan orang-orang yang pergi untuk bekerja di pantai. Aroma laut dan rempah menempel di udara. Di tepi pantai berdiri petak-petak garam tradisional yang tak kenal pabrikasi, warisan turun-temurun yang masih bertahan karena lautnya masih setia memberi—seolah menyalami setiap kristal garam yang terbingkaikan.
Di warung kopi dekat dermaga, obrolan pagi itu nyampur antara harga hasil kebun, kabar cuaca, dan isu yang lebih besar dari secangkir kopi: “Kalau cuaca makin panas, garam cepat kering, tapi cepat habis juga,” kata seorang warga, Ketut Gatra sambil terkekeh.
“Cepat habis uangnya, maksudnya,” sahut Wayan, membuat seisi warung tertawa.
Made Sugi, salah seorang petani garam, masih setia mengayak pasir laut di atas palungan—metode yang diwariskan sejak nenek moyangnya, menghasilkan garam putih halus tanpa rasa pahit. Tapi ia tahu, jumlah petani garam sudah jauh berkurang. “Dulu ramai, sekarang kadang saya kerja sendirian. Yang lain sudah pindah kerja jadi sopir atau buka warung,” katanya sambil menepuk-nepuk pasir.
Di sinilah dukungan yang tepat jadi penting. CIMB Niaga, lewat program sustainable finance, memberi ruang bagi petani seperti Sugi untuk bertahan. Modal ringan bisa dipakai membangun usaha garam yang lebih kokoh, atap gudang hemat energi, bahkan panel surya untuk pompa air. Bukan hanya untuk efisiensi, tapi juga untuk menjaga proses ini tetap ramah pada laut dan lingkungan sekitar.
Di warung kopi, Wayan yang dari tadi sibuk main ponsel tiba-tiba menyelutuk: “Sekarang, jual garam pun bisa lewat HP. Kirim foto, nego harga, kirim rekening. Dulu mau jual, harus nganter sampai Singaraja. Sekarang cukup kirim dari sini, sambil nunggu kopi panas.”
Tradisi dan teknologi bertemu di palungan-pangunan garam di sejumlah desa di Buleleng bagian timur. Kristal-kristal putih itu tak hanya bercerita soal rasa asin, tapi juga soal daya tahan. Dan di antara ombak, tawa warung kopi, serta sinyal 4G yang kadang naik-turun, masa depan garam ini terus diaduk—bukan hanya oleh tangan petani, tapi juga oleh ide-ide yang membuatnya bertahan di dunia yang berubah cepat. [T]



























