6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

Agus Arta Wiguna by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
in Kritik Seni
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025. Tahun ini, dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya lima kabupaten/kota yang mengirimkan dalang untuk ikut utsawa.

Menariknya, dalang-dalang yang dikirim menjadi duta adalah para dalang muda. Bahkan Kabupaten Badung menampilkan seorang dalang perempuan—pemandangan langka yang memberi warna baru dalam parade wayang tahun ini.

Malam itu, ketika saya hadir di PKB,  giliran duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh Sanggar Ratu Kinasih, Banjar Kelod, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, tampil untuk mempertunjukkan permainan wayang kulit di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Centre, Denpasar.

Saya cukup terkejut melihat banyaknya warga yang duduk lesehan di depan kelir yang sudah terpasang. Mereka duduk di rerumputan pinggir tukad (sungai) di areal Taman Budaya itu. Entah mereka memang sengaja datang untuk menonton wayang, atau sekadar beristirahat setelah lelah berkeliling di pasar malam, atau karena pada jam itu tidak ada pementasan lain yang bisa mereka saksikan.

Saya berharap semoga saja memang benar-benar datang untuk menyaksikan wayang, bukan karena sekadar tidak ada pilihan lain.

Di belakang kelir, tampak pula banyak akademisi dan praktisi seni yang ikut menyaksikan dan memperhatikan jalannya pertunjukan.

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten klungkung 2025

Bagi saya, tempat penonton duduk di areal taman di tepi tukad (sungai) Taman Budaya itu sebenarnya kurang ideal, dikarenakan lokasi pementasan yang tepat didepannya adalah akses jalan menuju Panggung Ayodya di sebelah timur.

Di jalan itu, di antara kelir wayang dan penonton, arus lalu-lalang manusia tidak terhindarkan. Pandangan penonton seringkali terhalang orang-orang yang berseliweran.

Saat itu teman yang ikut menonton sedikit mengumpat, ”Klee… sing ngelah inisiatif nutup jalan ape engken nah?! Masak nak mebalih wayang sambil mebalih nak sliwar sliwer!”  Intinya, temasn saya itu berjata dengan nada kesal, kenapa tak ada inisiatif menutup jalan. “Masak, nonton wayang sambil menonton orang lalu-lalang!”

Satu hal lagi  yang tak kalah mencuri perhatian adalah deretan kursi kosong yang diletakkan ngandang (melintang) di depan kelir. Konon kata MC saat saya tanya, kursi dan meja itu disiapkan untuk undangan. Namun dari awal hingga akhir pertunjukan, tak satu pun undangan yang saya lihat duduk di sana. Mungkin mereka memang tidak hadir. Atau barangkali ada yang lebih memilih lesehan bersama penonton. Atau, jangan-jangan kursi-kursi itu disediakan untuk undangan tak kasat mata alias makhluk maya-maya.

Utsawa Wayang Kulit duta Kabupaten Klungkung 2025

Lakon yang dibawakan dalang dari Nusa Penida malam itu berjudul Rempong Bisma. Cerita diawali dari peparuman antara Krisna dan Arjuna, dimana Arjuna merasakan kesedihan mendalam setelah kematian putra Wirata dan lakon  diakhiri dengan terbunuhnya Bagawan Bhisma.

Secara struktur, pementasan ini cukup lengkap: dimulai dari petegak, nyejer wayang, pemungkah, alas arum, penyacah parwa, pengalang, hingga mesem dan adegan ngerebong pun dihadirkan. Tak ketinggalan, sastra kekawin turut diselipkan, memperkuat kesan bahwa wayang kulit adalah pertunjukan sastra. Apalagi lakon Bharatayuda memang biasanya kaya akan petikan kekawin, meski pada pertunjukan ini jumlahnya tidak sebanyak pada lakon Bharatayuda yang pernah saya tonton dalam pertunjukan seorang dalang Sukawati.

Namun disayangkan, sepertinya semangat dan gairah sang dalang yang besar tidak sepenuhnya tersambut oleh audiens. Penonton tampak bersikap datar-datar saja, tepuk tangan hanya terdengar ketika pementasan dimulai dan berakhir. Selebihnya mereka sibuk dengan percakapan sendiri, ada yang asyik dengan ponsel sambil sesekali melirik ke layar wayang, bahkan ada pula yang memilih untuk meninggalkan pertunjukan.

Tawa yang muncul justru bukan karena adegan-adegan atau kata lucu dari pementasan wayang, melainkan dari obrolan mereka sendiri. Tentu saya tidak mengatakan pertunjukan yang disajikan sang dalang tidak bagus atau tidak berkualitas, namun memang situasi itu juga yang kerap terjadi ketika pertunjukan wayang dihadirkan di masyarakat masa kini.

Pertanyaan pun muncul dalam benak saya: apakah wayang kulit tradisi di Bali memang membosankan dan sulit dipahami oleh masyarakat masa kini? Ataukah penonton malam itu datang hanya karena di panggung lain tidak ada pementasan yang bisa ditonton? Apakah wayang hanya menjadi pilihan kedua?

Kalau ingin kesenian ini mampu melangkah lebih maju, pertanyaan-pertanyaan ini bagi saya penting dijadikan bahan evaluasi untuk perhelatan Utsawa (parade) wayang di masa mendatang. Tujuannya supaya orang-orang yang datang memang berniat menonton pertunjukan wayang, seperti halnya masyarakat yang dengan hebohnya datang untuk menyaksikan Wimbakara (Lomba) Baleganjur dan Bapang Barong. Bahkan mungkin perlu dipertimbangkan untuk memperbanyak variasi materi yang dipertunjukkan dalam perhelatan PKB agar seni pewayangan/pedalangan  memiliki ruang yang lebih banyak, sebagaimana pada seni-seni lain.

Lihat saja seni karawitan.  Ada baleganjur, gong kebyar, semar pegulingan, dan berbagai kategori lainnya. Begitu juga seni tari, pementasannya sangat banyak di PKB. Lalu mengapa wayang tidak diperlakukan serupa dengan menata beberapa kategori sajian?

Sebut saja ide untuk menampilkan wayang legendaris dari I Gusti Made Darma Putra dalam tulisannya berjudul ”Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya” yang termuat di tatkala.co (https://tatkala.co/2025/04/24/ketiadaan-wayang-legendaris-di-pesta-kesenian-bali-sebuah-kekosongan-dalam-pelestarian-budaya/).

Menampilkan wayang legendaris adalah salah satu ide bagus yang patut dipertimbangkan. Menarik pula jika ada materi pagelaran wayang inovasi.

Sepertinya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan pihak-pihak terkait sudah saatnya memikirkan agar PKB menjadi ajang yang lebih inklusif bagi semua bidang seni. Bukan hanya satu atau dua bidang yang merasakan euforia yang luar biasa besar, tetapi seluruh cabang seni, termasuk seni pewayangan/pedalangan bisa lebih diikutkan dalam pesta dan tidak terkesan sekedar ada. Karena ini Pesta Kesenian Bali, sepatutnya semua kesenian bisa merasakan berpesta dan berdansa bersama dalam acara besar ini. [T]

Ubud 19 Juli 2025

Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya
Anak-anak Main Gender Wayang: Tak Sekadar Cepat, Tapi juga Kuasai Spirit Gending
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya
Tags: DalangNusa PenidapedalanganPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2025wayangwayang Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Next Post

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Agus Arta Wiguna

Agus Arta Wiguna

Panggilannya Nuno. Nama lengkapnya I Made Agus Arta Wiguna. Lahir dan tinggal di Kedewatan, Ubud, Gianyar. Ia lulusan S1 Program Studi Seni Pedalangan, ISI Bali

Related Posts

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

by I Gusti Made Darma Putra
July 19, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

DALAM dunia seni, sebuah kompetisi sejatinya lebih dari sekadar ajang unjuk bakat. Ia adalah wadah pengembangan, ruang pembinaan, dan panggung...

Read moreDetails

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

by Made Chandra
April 26, 2025
0
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

KETIKA menyoal seni tradisi, tentu kita akan berkelindan dengan istilah ”pakem”. Sebuah istilah yang sering kali mengalami miskonsepsi oleh masyarakat...

Read moreDetails

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

by I Gusti Made Darma Putra
April 24, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

PESTA Kesenian Bali (PKB) adalah sebuah ajang penting yang menjadi representasi kebudayaan Bali, di mana setiap elemen seni disajikan dalam...

Read moreDetails

“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

by I Ketut Pany Ryandhi
June 25, 2024
0
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

BEBERAPA hari ini, perbincangan antar seniman di Buleleng diramaikan dengan penampilan tari Wiranjaya yang dibawakan oleh Sekaa Gong Darma Pradangga,...

Read moreDetails

Memeriksa Kembali Geliat Kreatif Seniman Muda Bali Utara

by I Ketut Pany Ryandhi
July 9, 2023
0
Memeriksa Kembali Geliat Kreatif Seniman Muda Bali Utara

DI KALANGAN musisi Bali, Buleleng memang terkenal akan musik kebyarnya atau lebih jamak disebut gong kebyar. Pendapat semacam ini tentu...

Read moreDetails

“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

by Dewa Purwita Sukahet
February 18, 2023
0
“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

MENGHUBUNGKAN TUMPEK KRUWLUT dengan kata ‘lulut’ yang dalam Jawa Kuna berarti kasih sayang, cinta, asmara, rindu, hasrat cinta kasih, mabuk...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co