26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
in Kritik Sastra
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Geguritan Jerum ke novel

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung?

Ide itu tiba-tiba saya lontarkan ketika menjadi penguji pada ujian promosi doktor sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jumat, 18 Juli 2025. Yang ujian promosi doktor waktu itu adalah I Wayan Juliana, dosen Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, yang mempertahankan disertasi berjudul Wacana Satya Lintas Genre: Transformasi Ideologi Kesetiaan Kidung Jerum Kundangdia dalam Novel Jerum. Yang hadir saat ujian itu cukup banyak. Selain mahasiswa S3 FIB Unud, juga dosen-dosen sahabat Juliana dari IAHN Mpu Kuturan.

Ujian promosi doktor sastra I Wayan Juliana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jumat, 18 Juli 2025

Alih wahana, objek kajian disertasi itulah, menjadi sumber inspirasi. Oka Rusmini mengadaptasi Kidung Jerum Kundangdia—sebuah karya puisi naratif tradisional Bali yang ditulis dalam bentuk kidung—menjadi novel berjudul Jerum yang diterbitkan pada 2020 oleh Grasindo. Kidung Jerum terdiri atas 325 bait pupuh, seluruhnya menggunakan pupuh Jerum, dan ditulis dalam bahasa Kawi. Geguritan atau puisi naratif ini memuat lapisan-lapisan nilai religius, etis, dan sosial yang khas Bali.

Dalam versi novelnya, Oka Rusmini mentransformasikan karya tersebut menjadi narasi sepanjang 186 halaman, berbentuk novel, berbahasa Indonesia, menjadikannya lebih mudah diakses oleh pembaca modern tanpa kehilangan kekayaan simbolik dan filosofis dari versi kidung. Alih wahana ini menjadi contoh bagaimana warisan sastra klasik bisa dihidupkan kembali melalui pendekatan sastra modern. Pembaca yang tidak paham bahasa Bali pun bisa menikmati cerita ini dalam versi novel.

Dari geguritan ke Novel Tantri, Perempuan yang Bercerita karya Cok Sawitri

Sebelumnya, Cok Sawitri juga melakukan alih wahana dengan mengadaptasi cerita Geguritan Ni Dyah Tantri, yang berasal dari tradisi sastra Jawa dan Bali atau mirip kisah berbingkai Seribu Satu Malam, menjadi novel modern berjudul Tantri: Perempuan yang Bicara (2003). Novel ini mentransformasikan kisah klasik penuh alegori pelecehan perempuan oleh raja tersebut menjadi narasi yang lebih reflektif dan berorientasi pada kesadaran perempuan dalam masyarakat kontemporer. Alih wahana ini tidak hanya mengubah bentuk naratif dari lisan atau geguritan ke prosa modern, tetapi juga menyesuaikan sudut pandang dan ideologi sesuai konteks zaman.

Dalam kajian sastra, istilah alih wahana merujuk pada proses pengalihan atau transformasi sebuah karya dari satu bentuk media ke bentuk media lainnya, tanpa menghilangkan inti atau makna utama karya tersebut. Secara etimologis, “alih” berarti memindahkan, sedangkan “wahana” berarti sarana atau media. Dengan demikian, alih wahana adalah bentuk adaptasi kreatif dari satu medium ke medium lain, misalnya dari teks ke visual, dari tulisan ke audio, atau dari narasi menjadi pertunjukan. Pengertian alih wahana bisa diperluas menjadi penggubahan bentuk geguritan menjadi novel; dari bentuk tradisional ke bentuk modern.

Kalau geguritan atau kidung bisa diadaptasi menjadi novel yang menarik, mestinya novel juga bisa digubah ke dalam geguritan atau kidung. Jika ide ini mendapat sambutan, terbayang bagaimana novel Sukreni Gadis Bali atau I Swasta Setahun di Bedahulu, keduanya karya Panji Tisna, akan lahir menjadi Geguritan Sukreni Gadis Bali atau Kidung I Swasta Setahun di Bedahulu. Kita juga mungkin akan melihat Geguritan Tarian Bumi sebagai alih wahana dari novel Tarian Bumi (2000) karya Oka Rusmini, atau Geguritan Katemu ring Tampaksiring gubahan atas cerita pendek berbahasa Bali karya I Made Sanggra. Novel-novel klasik yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya, juga bisa diadaptasi menjadi geguritan seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli atau Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya.

Secara teknis, alih wahana ini tidak sulit. Secara estetik, tentu tergantung pada kemampuan penggubah. Yang jelas, prosesnya mungkin lebih mudah karena sudah tersedia pakem pupuh dengan aturan padalingsa yang ketat, tinggal penggubah mematuhi ketentuan itu. Alih wahana prosa ke dalam geguritan bukan hal baru. Geguritan Sampik Ing Tay adalah salah satu contoh. Cerita rakyat Cina yang mengisahkan percintaan tragis antara Sampik dan Ing Tai ini pertama kali disadur dari prosa bahasa Mandarin ke dalam bahasa Melayu oleh Boen Sing Hoo pada tahun 1885. Saduran prosa naratif ini kemudian diadaptasi dan disesuaikan ke dalam bentuk geguritan oleh Ida Ketut Sari dari Desa Sanur pada tahun 1915.

Meskipun demikian, tidak ada konsensus mengenai siapa yang pertama kali menulis Geguritan Sampik ini dalam bahasa Bali. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pengarangnya anonim, sementara yang lain menyebut Ida Ketut Sari sebagai penggubahnya. Yang jelas, cerita ini sangat terkenal di Bali, dan telah dialihwahanakan ke dalam pertunjukan drama gong maupun diadaptasi ke dalam lagu pop Bali, salah satunya dinyanyikan oleh Widi Widiana.

Novel karya Marah Rusli dan Pandji Tisna

Jika alih wahana novel ke geguritan atau kidung bisa terjadi, niscaya karya-karya tersebut dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia dan sastra Bali, serta memperkuat karakteristik heterogenitas sastra di Bali. Selain itu, kita akan mulai bisa—dan lama-lama terbiasa—mendengarkan kidung Gita Shanti di acara ritual Bali, Geguritan I Swasta di Bedahulu atau Geguritan Sukreni Gadis Bali, dan Geguritan Siti Nurbaya yang nilai pendidikan dan moralnya tak kalah dari geguritan lain. Tergantung kemampuan juru artos (penafsir) dalam gita shanti.

Pendek kata, alih wahana atau adaptasi novel (sastra modern) ke bentuk kidung atau geguritan (sastra tradisional Bali), akan memberikan empat keuntungan berikut:

  1. Menjaga api apresiasi sastra, karena adaptasi karya pasti diawali dengan membaca dan menikmati karya sastra yang akan dijadikan target adaptasi.
  2. Menjaga semangat kreativitas, karena adaptasi adalah kegiatan kreatif. Makin banyak yang tertarik melakukannya, semangat kreativitas akan makin kuat dan memberikan hasil yang memikat.
  3. Menambah kuantitas khazanah teks Gita Shanti. Bukan saja karya tradisional memperkaya sastra modern, tetapi karya modern pun dapat memperkaya sastra tradisional.
  4. Menyediakan variasi kisah dalam penembangan ritual, tak hanya berkutat pada Geguritan Jayaprana-Layonsari, Cupak-Grantang, Lubdaka, atau Ni Dyah Tantri, tetapi juga Geguritan Sukreni Gadis Bali atau mungkin Geguritan Siti Nurbaya.

Salam sastra, salam kreatif. [T]

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I NYOMAN DARMA PUTRA

Kumpulan Puisi “Renganis” Karya Komang Sujana dari Buleleng Meraih Hadiah Sastra Rancage 2025
“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Tags: geguritannovelProf. Darma PutraUnud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Destinasi Bikin Kapok, Alarm bagi Industri Pariwisata

Next Post

Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

Puisi-puisi Gm. Sukawidana | Upacara Kelahiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co