12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rasa Dongkol Profesor karena Buku – Catatan Aktor Sebelum Pentas Monolog Buku

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Ulasan

 

MEMENTASKAN monolog bisa dibilang mudah mudah susah. Pentas Monolog bisa disutradarai dan diperankan sendiri oleh aktor. Artinya, seorang aktor bisa merangkap menjadi seorang sutradara. Pentas monolog bisa juga menyusahkan, dikarenakan menguras energi dan pikiran.

Aku pertamakali mengenal monolog pada Sekolah Menengah Atas (SMA). Seseorang itu, kakak kelas yang telah kukenal, ia melakukan pentas di halaman tengah. Ia ngobrol sendiri, berteriak-teriak, dan menimpali dialognya sendiri. Tanpa teman, sendirian. “Gila,” kataku dalam hati waktu itu.

Murid-murid yang lewat cuek saja, mereka lebih memilih pulang dari pada menyaksikan seeorang yang tidak jelas, tak dikenal dibawah terik matahari. Aku yang justru semakin penasaran, kemudian mendekat dan menyaksikan dari dekat. Setelah selesai, ia ternyata sedang bermonolog dengan tujuan merekrut anggota teater. Itulah gambaran awal bagaimana aku mengenal monolog.

PERKENALAN DENGAN NASKAH “BUKU”

Monolog “Buku” sangat menarik ketika pertama kali aku membacanya pada pertengahan Agustus lalu. Disadari atau tidak, aku larut dalam naskah. Aku merasa bahwa aku adalah tokoh dalam naskah monolog “Buku”.

Sebagaimana dalam membaca karya apapun, kita tak pernah lepas dari belenggu romanisme. Kita selalu ingin, begitu ingin menempatkan diri pada sebuah karya (cerita) sebagai tokoh. Kita selalu ingin mencari padanan peristiwa yang serupa dalam hidup. Seolah kita ingin menguang, mempraktikkan apa yang telah kita baca.

Naskah awal diawali dengan sebuah kalimat “Seorang Profesor berbaring di atas tumpukan buku atau buku raksasa. Sebagai pecandu surealisme, mungkin itulah yang membuatku tertarik dengan naskah tersebut. Surealisme selalu menyajikan hal-halyang tak terduga.

Selanjutnya, ada yang membuatku lebih kagum lagi, dan mengumat kagum, “Dalam detik-detik yang berat ini, yang menjadi laporan batinku bukannya rencana pertemuanku dengan Tuhan, tetapi bagaimana menyelamatkan buku-bukuku itu. . . .”.Dalam hati, aku berkata “Keren, Eksistensi nih”. Sebagaimana film-film Sci-Fi barat yang bertemakan eksistensi, yang tidak mengakui adanya Tuhan. Heuheu

Kemudian kami (Komunitas Puntung Rokok) membedah naskah tersebut, untuk sekedar mendapat apa pesan yang ingin disampaikan, bagaimana mementaskan dan lain-lain. Kemudian, Aku mengajukan diri sebagai aktor dan diberi kebebasan memilih sutradara. Sutradara dalam pementasan monolog “Buku” adalah Dany Mahatma Gandhi. Ia pernah sebagai aktor dalam pentas monolog “Nol” pada bulan Maret lalu.

Yang aku dasarkan mengapa aku melilihnya dan kupercaya sebagai sutradara adalah didasarkan pengalaman dan ilmu serta kemauan untuk terus belajar dan berkarya. Ia pernah bilang, “ibaratkan naskah ini kekasihmu, ajak bermain, ajak tidur, kalau perlu cumbui naskah tersebut, kau akan lebih dapat mendalami peran.

Saat bedah naskah, monolog “Buku” seperti semacam cerpen, atau seperti “Story Telling” yang dibawakan oleh profesor (aktor), yang bercerita tentang dirinya sendiri di masa lalu. Ia bercerita tantang masalalunya sebagai kutu buku yang kemudian mengidap sakit yang tak kunjung sembuh. Pertentangan dengan keluarga kecilnya, kehendak istri yang memaksa profesor menjadi seorang pedagang. Anaknya yang tak mau membaca sekalipun telah didera dengan kejam. Namun, setelah buku-buku itu dijual habis, justru profesor sembuh.

Naskah “Buku” menyajikan sebuah realitas yang tak semua orang mengalaminya. Tapi bisa saja, pengalaman dengan buku, meski tidak sama persis dengan apa yang dialami profesor bisa menjadi memorabilia bagi seseorang. Setiap orang, semasa hidupnya, tentu tak pernah lepas dari membaca, dari “buku”, terlebih orang yang dekat dengan dunia akademisi. Buku menjadi produk segar dari budaya populer yang merambahi hidup setiap orang. Ada yang menganggap penting dan memuja, ada yang acuh tak acuh, ada yang setengah-setengah.

Dalam pemahaman kami, naskah “Buku” merupakan sebuah naskah yang satire. Bahasa yang satire mudah kita temui di manapun. Menyindir, Mengolok-olok, konyol, melecehkan, menertawakan kebodohan dan sifat-sifat apa saja. Tentu saja tujuannya untuk mendobrak sesuatu.

Rasa dongkol profesor terhadap buku diucapkan dengan kalimat-kalimat sindiran yang kasar. Buku semakin tenggelam, tidak diminati, kalah dengan ilmu dagang. Misalnya dalam kalimat ini “Kalau tidak kudidik jadi kutu buku, tetapi dididik untuk mempelajari kiat-kiat dagang, kita sekarang sudah punya pekerjaan. Buku membuat kita jadi pendeta gaek yang loyo, letoi dan memble, lebai dan bete! Takut pegang duit. Akibatnya orang lain kaya, kita mampus. ……”

Sebagaimana dikutip dalam wawancara tirto.id dengan Putu Wijaya, naskah beliau menjadi semacam “teror mental”. Beliau mengatakan “Walau sudah merdeka, konsep kolonialismean masih ada. Kita masih menunggu sehingga butuh terapi. Merdeka itu bukan kamu bebas dan nunggu diurus, tapi kamu harus bisa berbuat. Juga harus bisa melihat kemerdekaan orang lain. Kalau mengganggu kemerdekaan orang lain, ya kamu kena penalti”.

Sebuah gambaran klasik tentang konsep “Teror Mental” sangat jelas dalam naskah Buku. Katakanlah si profesor, yang hidupnya sudah terjamin dengan gaji dan tunjangan malah sakit gara-gara buku. Hal ini adalah sindiran, bahwa buku di Indonesia tergolong mahal. Sampai profesor pun jatuh miskin (hanya) karena gara-gara buku. Heuheu. Di akhir adegan, Si profesor asik membaca e-book lewat layar smartphone. Di tengah mahalnya harga buku, orang lebih memilih apa apa yang lebih murah, sekalipun tak berjiwa. Bagi kami, e-book dan buku sangat berbeda. Buku beraroma, e-book tidak.

Selain itu, kehadiran seorang lurah yang membeli buku Machiavelli milik Profesor adalah gambaran bagaimana bahaya orang yang hanya baca satu buku. Kita semua tahu bahwa buku Machiavelli (IL PRINCIPE) adalah buku panduan untuk diktaktor. Politik licik. Setelah mendapatkan buku tersebut, pak lurah jadi tahu bagaimana caranya memimpin dan mengendalikan warga desa (ada dalam naskah). dan kemudian pak lurah menjadi pmimpin yang sangat disegani dan kaya raya.

Ada banyak sisi yang bisa dikupas di naskah monolog buku. Tergantung pemaknaan. Bagi kami, naskah “Buku” mengajak kita untuk membaca buku sampai selesai alias tidak setengah-setengah. pun, dengan perkembangan teknologi, katakanlah smartphone, buku dapat dibaca dengan mudah dan praktis.

PROSES KREATIF

Menyusun konsep pementasan memang suatu yang harus ada dalam setiap proses kreatif. Naskah yang telah terbedah memberi ruang untuk merumuskan sebuah konsep pementasan. Sebisa mungkin, pementasan dapat ditangkap oleh penonton dari berbagai kalangan, baik penikmat seni pertunjukan atau orang yang hanya sekedar menonton. Kami tidak mau ketika orang-orang selesai menyaksikan pertunjukan, ketika pulang tak memberi kesan apapun.

“Naskah menentukan bagaimana pementasan dilakukan. Tapi, jika naskah dan segala petunjuk yang ada didalamnya tak memberi rasa nyaman bagi sutradara, aktor, serta kru, pementasan tak akan memberi rasa apapun pada penonton.”

Dengan prinsip tersebut, kami mulai mengobrak-abrik naskah. Sebab pementasan akan monoton jika tetap mengikuti naskah. Sebagaimana telah dijelaksan diatas, naskah seperti story telling, sebuh juru cerita yang menceritakan masa lalunya. Sebuah cerita dari mulut, yang kemudian didengar lewat telinga hanya bisa dibayangkan. Penonton hanya membayangkan.

Kita belajar dari film, katakanlah sebuah film yang diadaptasi dari novel, dengan kerja cinematografi yang sedemikian ciamik membuat orang-orang terkesima. Film bisa membuat orang-orang takjub. Apa yang ia baca, yang ternyata difilmkan menjadi sebuah gambar yang sedemikian memesona. Ada hal-hal tak terduga, yang tak pernah  terfikirkan oleh kita. Kami merombak naskah tanpa mengubah esensi. Mengubah menjadi beberapa adegan.

Adegan pertama, tetap berpedoman pada naskah, dengan seorang juru cerita (aktor) yang bercerita tentang dirinya sendiri, tentang rasa dongkolnya pada buku, serta rasa kecewa yang bermuara dalam hati.

Adegan kedua, berganti latar. Di sini kami menghadirkan sebuah perfomence art yang menggambarkan bagaimana masalalu profesor sebagai penggila buku. Rasa candu terhadap buku kami ibaratkan seperti orang yang candu pada narkoba (Shabu). Sebab, aroma buku begitu khas pada kali pertama dibuka.

Namun si aktor (Profesor) tak pernah membaca sampai habis, begitu ada buku baru, ia selalu ingin dan ingin. Lalu si Profesor kehilangan satu persatu buku. Ia menjadi sedih. Ia kemudian menemukan sebuah buku, yang hanya satu, ia kemudian membaca dan terus membaca (namun serupa orang lagi nyabu), kemudian bosan.

Kerena tak ada buku, ia menjadi sakau. Ia mencari buku yang hanya sisa satu, karena takut kehilangan, ia menuliskan seluruh isi buku pada badannya tanpa sadar. Serupa orang sakau narkoba yang melukai bagian tubuhnya.

Adegan tiga, adalah adegan di mana si profesor jatuh sakit, ia membantah istrnya, ia tak rela buku-bukunya dijual untuk membiayai pengobatannya. Namun, si profesor yang sekarat tapi bisa mengelak dari takdir. Ia sakit, tapi tak bisa berkehendak apapun selain teriak-teriak penuh kekesalan. Kehadiran istri yang menginginkan suaminya berhenti menjadi kutu buku justru menambah kekesalan dan kemarahannya. Dan kemudian ia tahu bahwa di dalam perpustakaan buku-buku sudah banyak yang terjual. Ia menjadi histeris dan tambah sekarat.

Adegan empat, kembali pada juru cerita (aktor), dengan latar yang sama seperti adegan pertama.

Pementasan monolog “Buku” adalah serangkaian dari Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya yang digarap oleh Komunitas Puntung Rokok. Bisa disaksikan pada tanggal 12 November 2017, pukul 19.00 WITA (kalau nggak ngaret) di besement Fakultas Bahasa dan Seni (Kampus Bawah). Salam Budaya. (T)

Tags: BukuFestival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologTeater
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

Pernikahan Sederhana ala Pak Fahri, Barangkali Maksudnya Inovasi Terkini

Next Post

Tentang Mahasiswa, Dosen, dan Tugas Kampus – Kebenaran dalam Perspektif Thomas Kuhn

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Tentang Mahasiswa, Dosen, dan Tugas Kampus - Kebenaran dalam Perspektif Thomas Kuhn

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co