24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
April 28, 2025
in Esai
Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung

Foto Ida I Dewa Agung Jambe, Raja Klungkung dan Putranya I Dewa Agung Gede Agung yang Gugur dalam Puputan Klungkung | Foto diambil dari Tempo.co

“Ketika puputan selesai, penelitian dilakukan pada [jenazah] orang-orang yang gugur. Maka di antara korban terdapat putra raja yang berusia dua belas tahun, adalah satu-satu[nya] (putra mahkota pewaris tahta). Ia tergeletak di tengah-tengah (serakan mayat) dan sejumlah banyak wanita-wanita. Apakah ia ingin memperlihatkan bahwa adat Bali yang suci dan luhur lebih tinggi dari kehidupan?”

Itulah petikan catatan Soerabalasch Handelsblad sebagai himpunan informasi pascaperang Puputan Klungkung yang ditulis oleh Belanda. Mengalahkan Kerajaan Badung melalui perang berdarah pada tanggal 20 September 1906, ternyata belum sepenuhnya membuat hasrat menjajah dan menjarah pemerintah Kolonial Belanda puas. Sebab, satu kerajaan lagi yang dihormati sebagai sasuhunan raja-raja lain di Bali yakni Klungkung tak mau tunduk. Meski berbagai perjanjian dagang telah diatur dan adat masatya telah dilarang di daerah ini, Raja Klungkung tampaknya bukan tipe yang kompromis untuk dikendalikan oleh Belanda.

Lantas kalau Kerajaan Klungkung tak mau tunduk, cara apa yang dapat dilakukan untuk membuat sang raja bertekuk lutut?

Di siniah persoalannya. Apabila kita mencermati Kidung Bwāna Winaṣa karya rakawi Ida Padanda Ngurah dari Gria Gde Belayu, alasan bertempur dengan Kerajaan Klungkung ini terkesan kurang diperhitungkan dengan matang oleh pihak Belanda. Apabila dibandingkan dengan penyerangan terhadap Kerajaan Badung, pemerintah Kolonial Belanda tampak memainkan strategi yang lebih rapi. Pertama-tama, mereka mengirim kapal dagang Sri Komala untuk berlabuh di Sanur, lalu menuduh masyarakat setempat merampok isinya. Dari peristiwa ini Belanda menuntut Raja Denpasar untuk membayar ganti rugi sebesar 3600-ringgit sebagai sanksi atas pelanggaran hukum tawan karang.

Tentu Raja Denpasar sesungguhnya sangat mampu membayar tuntutan itu. Akan tetapi, persoalannya tidak terletak pada jumlah materi, melainkan martabat dan harga diri seorang ksatria. Akibat menolak sanksi sepihak tanpa melalui proses peradilan ini, Kerajaan Badung akhirnya diserang Belanda dan berakhir dalam tragi yang dikenang dalam kening masyarakat sebagai puputan.

Peristiwa Puputan Badung yang merenggut ribuan korban jiwa ternyata tak menyebabkan nyala dari nyali Kerajaan Klunglung meredup. Mungkin dalam bayangan Belanda, Raja Klungkung akan gentar melihat betapa sebelumnya lautan darah dan gunung mayat memenuhi alun-alun Kerajaan Denpasar. Usaha teror untuk menyerang psikologis rakyat Klunglung sebelum menyerang fisik mereka secara langsung melalui perang gerilya tampak sia-sia.

Dengan alasan yang sangat sepele, yaitu terbakarnya Gudang Candu (opium) berikut mantrinya yang diduga diprovokasi dan dimotori masyarakat Klungkung, serdadu Belanda datang tanpa kata-kata, tetapi senjata! Mereka merangssek masuk ke dalam istana Klungkung melalui Pelabuhan Kusamba. Meriam, bedil, dan granat yang sebelumnya telah memakan ribuan nyawa di Badung digunakan lagi untuk meremukkan lebih banyak tulang-belulang manusia.

Foto Ida I Dewa Agung Jambe, Raja Klungkung dan Putranya I Dewa Agung Gede Agung yang Gugur dalam Puputan Klungkung | Foto diambil dari Tempo.co

Meski demikian, Raja Klungkung yang saat itu dipimpin oleh Ida I Dewa Agung Jambe menyambut kedatangan Belanda dengan cara yang ksatria. Bahkan, putra mahkota yang masih sangat belia karena baru berumur 12 tahun turun langsung ke medan laga. Para ksatria yang lainnya juga mengangkat berbagai senjata pusaka.  Keris, tombak, dan meriam kanon bernama I Bangke Bahi yang sebelumnya telah ditiupi mantra juga telah dipersiapkan. Maka di depan istana yang sehari-hari ditujukan untuk pentas berbagai kesenian itu, senjata Bali vs Barat bertubrukan mengadu tuahnya.

Perhiasan Kalung Ida I Dewa Agung Gede Agung, Putra Mahkota yang Gugur dalam Puputan Klungkung Sempat Dijarah Belanda Kini Dikembalikan ke Museum Nasional | Foto: Museum Nasional Republik Indonesia

Di antara riuh perang Puputan Klungkung yang bergejolak dari medio hingga berpuncak pada 28 April 1908 itu, Ida Padanda Ngurah-rakawi Kidung Bwāna Winaṣa mencatat pijar keberanian para perempuan yang ternyata tidak tinggal diam menghadapi perang. Mereka yang kerap distigmakan hanya menghuni ruang seperti sumur, dapur, dan tempat tidur ternyata tak bergeming untuk turun ke medan tempur.

Tentu ini bukan kali pertama terjadi di bumi Klungkung. Ida I Dewa Agung Istri Kanya sebagai raja perempuan yang pernah bertahta di Smarapura itu juga pernah melawan Belanda dalam pertempuran di Kusamba sebelumnya. Spiritnya seolah memberi teladan untuk menggerakkan batin dan badan para puan sehingga tak ragu menyerang. Terlebih, Jendral Michelle yang terkenal kejam berhasil ditaklukkannya dalam kecamuk di tepi laut Kusamba.

Maka dengan sangat mengharukan, Kidung Bwāna Winaṣa yang juga berjudul Bali Sanghara ini mencatat peran perempuan yang gugur sebagai kusuma bangsa.

Sagrehan para wadu sigra lumampah, prasama telas wisianti, keneng brahmasara, dewagung ndah tan kabranan, sigra tikel dening mimis, sama wus pejah, para istri ndah tan kari. (Kidung Bwanā Winaṣā, Pupuh Durma, bait 19)

Terjemahan.

Para wanita serempak menyerang, [tetapi] semuanya habis terbunuh, terkena tembakan peluru, saat itu Dewa Agung [Jambe] tidak terluka, [namun] dengan cepat terkena tembakan beruntun, sehingga akhirnya bersama-sama gugur, para perempuan tidak satu pun yang masih hidup.

Dari petikan Kidung Bwana Winasa di atas, kita bisa melihat bara semangat para perempuan untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Klungkung atas intervensi Kolonial Belanda.  Turunnya para perempuan di Perang Puputan Klunglung ini tidak saja menepis isu gender yang tidak membumi di Bali (gender equality). Tetapi melampaui semua itu, perempuan yang turun ke medan perang dapat dibaca sebagai puncak perlawanan habis-habisan Bali vs. Belanda. Sebab sesungguhnya kaum perempuan, anak-anak, dan seseorang yang tak memegang senjata pantang diserang dalam etika perang ‘dharma yuddha‘.

Apabila mereka sampai turun dalam Perang Puputan Klungkung, artinya ada tanah-air kelahiran yang harus dibela dengan tumpah darah. Mereka tak perlu memohon anugerah Yaksa seperti Srikandi untuk mengubah jenis kelamin sehingga dapat berperang melawan Bhisma ketika perang Bharata Yuddha terjadi. Dalam ayunan langkah mereka yang menapak aroma anyir sisa darah dan serakan mayat, Durga Mahisa Sura Mardini tidak hanya hadir dalam cerita, tetapi dalam kehidupan yang nyata.

Meski akhirnya kemenangan ada di pihak Belanda, para perempuan Klungkung yang turun ke medan tempur itu telah menghaturkan persembahannya yang paling utama. Luka dan lebam raga yang menghijau adalah rekah daun sebagai alas sesaji (patraṃ). Darah yang mereka pertaruhkan adalah salaksa tirta dari mata air dan sungai terpilih Negeri Bharata Warsa (toyaṃ). Hembus nafas mereka adalah aroma dupa yang dinyalakan dari homa keberanian (dupaṃ). Tubuh mereka yang berbusana serba putih adalah mekar bunga yang tak pernah layu (puṣpaṃ).

Itulah persembahan perempuan Bali di tengah kecamuk perang Puputan Klungkung. Mereka yang saban hari terampil membuat sesaji kepada para dewata, tak disangka di penghujung perang juga berani menyerahkan jiwa dan nyawa. Kepada para puan yang tak tercatat sebagai pahlawan, tetapi menghaturkan satu-satunya miliknya, yaitu ‘nafas’, penulis menundukkan kepala. [T]

Paris, 27 April 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
Tags: KlungkungPerempuanPuputan KlungkungPutu Eka Guna Yasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangi: Ruang Baur Street Art Bali

Next Post

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co