25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 27, 2025
in Esai
Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara

RA Kartini, Chairil Anwar, Ki Hajar Dewantara | Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Foto diambil dari berbagai sumber

TUJUH hari setelah perayaan Hari Lahir Kartini, 21 April, adalah perayaan kematian Chairil Anwar, 28 April. Empat hari setelah perayaan kematian si binatang jalang adalah Hari Lahir Ki Hadjar Dewantara, 2 Mei, sebagai hari Pendidikan Nasional.   

Tiga tokoh monumental yang dikenang secara beriringan oleh bangsa Indonesia itu memang memiliki kesamaan dalam visi buat bangsanya. Ketiganya memiliki visi memerdekakan bangsanya dengan jalan Pendidikan. R.A. Kartini mengedukasi melalui gerakan emansipasi wanita yang berintikan kesetaraan gender. Chairil Anwar  mendidik dan memerdekakan bangsanya dengan kekuatan kata-kata untuk memasuki ruang batin bangsanya. Sementara itu, Ki Hadjar Dewantara memerdekakan bangsanya melalui lapangan jurnalistik dan Perguruan Taman Siswa.

Perayaan Hari Kartini mengingatkan kita pada buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku itu adalah kumpulan korespondensi Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda yang menjadi sumber inspirasi bagi emansipasi wanita. Dari surat-surat R.A. Kartini itu, kita membaca kegigihannya melawan penjajah sekaligus melawan bangsanya sendiri. Di satu sisi, R.A. Kartini muak dengan penjajah Belanda yang mengkrangkeng kaum perempuan pribumi tidak boleh melihat dunia luar melalui Pendidikan yang mencerahkan, di sisi lain ia juga memberontak kaum laki-laki dari bangsanya sendiri yang memperlakukannya dengan feodal.

Walaupun demikian, bersyukurlah R.A. Kartini punya sahabat Belanda yang membukakan pintu untuk melihat dunia luas. Artinya, penjajahan Belanda pun masih memberikan ruang bagi R.A. Kartini mengenyam pendidikan walaupun hanya sebatas Sekolah Rakyat. Tidak sementereng capaian laki-laki. Namun, patut diacungi jempol, semangat literasi R.A. Kartini sangat menakjubkan. Buktinya ia juga mendirikan Perpustakaan untuk kaum putri.

Dengan modal Pendidikan Dasar, R.A. Kartini mampu berkomunikasi dengan Profesor dari Belanda. Jika tidak cerdas, mustahillah ia mampu menerjemahkan pikiran dan perasaannya yang menyentuh koleganya di Belanda. Itu pula menyebabkan ia ngotot untuk mendirikan sekolah keputrian yang menyiapkan kaum perempuan menjadi ibu. Sekolah didirikan di bawah Yayasan Kartini disebut Sekolah Kartini (1912) tersebar di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon.

Sungguh menyala cita-cita Kartini untuk memajukan kaumnya. Pendidikan diyakininya sebagai obor penerang kegelapan. Keyakinan itu diterjemahkan dengan memperluas pergaulan dengan orang-orang Barat berkemajuan. Dalam suratnya ditujukan kepada Nona E.H. Zeehandelaar, yang ditulis di Jepara 25 Mei 1899, R.A. Kartini menyatakan,

Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang “gadis modern” yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat, dan keasyikan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan diri-sendiri, tetapi berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama. Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru. Ya, bisa dikatakan bahwa saya dalam pikiran dan perasaan, melampaui zaman Hindia Belanda ini, melainkan hidup bersama para wanita saudara saya nun jauh di Barat.

Kepiawaian R.A. Kartini merangkai kata menunjukkan ia adalah wanita cerdas yang melampui zaman. Berkenalan dengan gadis modern Barat juga mencerminkan luasnya pergaulan. Keberterimaan gadis modern Barat pada R.A. Kartini menunjukkan, ia adalah wanita yang berhasil melepaskan diri dari belenggu feodal bangsanya sendiri. Merdeka dari belenggu patrilineal. Ia berhasil membangun kesetaraan gender ketika wanita masih dirundung kegelapan. Wanita yang kecerdasannya melampaui zamannya. Tidak berlebihan, bila W.R. Supratman mencatat namanya dalam syair yang dinyanyikan sepanjang zaman oleh anak-anak sekolah, “Ibu kita Kartini, Putri sejati, Putri Indonesia, Harum Namanya…”

Sebagai tokoh pergerakan emansipasi wanita, R.A. Kartini pantas menyandang ibu negara. Bukan semata-mata karena anak bangsawan Jawa, melainkan karena gagasan, cita-cita, dan keberaniannya mendobrak ketidakadilan bagi kaumnya. Namun, ia menempatkan etika sebagai panduan perjuangan. “Bila orang hendak bersungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan”, tulisnya sebagai petunjuk mendarahdagingnya ilmu mendidik.

Seperti juga Kartini yang hadir mendobrak melampaui zamannya, kehadiran Chairil Anwar juga mendobrak mengikuti elan nafas zaman. Ia meninggalkan diksi Pujangga Baru dalam puisi-puisinya. Diksinya singkat, padat, berani, dan berisi sebagai penanda perpuisian Angkatan ’45. Pendobrak zaman kolonial menuju Indonesia Merdeka melalui pena runcing dengan ketajaman kata-kata.

Tema garapan Chairil Anwar pun variatif dalam usia sangat muda. Cinta dilirik. Perjuangan digarap. Patriotik – nasionalis dicatat. Religiusitas diimani. Pahlawan ditulis. Sejarah dilahap. Begitu luas ladang garapannya. Jika diandaikan petani, ia menggarap ladang yang luas dengan sistem diversifikasi. Hasilnya pun bervariasi dalam tema dan bentuk.  Puisinya panen raya mengisi kemerdekaan negeri memasuki ruang-ruang kelas. Menyapa anak negeri entah sampai kapan. “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, tulisnya dalam puisi, “Aku”.

Mirip dengan R.A. Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904), Chairil Anwar juga mati muda (26 Juli 1922 – 28 April  1949). Namun keduanya meninggalkan legasi penyemangat bagi bangsanya.  Kematian Chairil Anwar selalu dirayakan insan Sastra Indonesia, dengan berbagai aktivitas : baca puisi-puisinya, seminar, lomba/sayembara sastra seputar Chairil Anwar. Koran-koran mengenangnya. Media sosial mengunggahnya. Kampus-kampus sastra memuliakannya. Perdebatan tentang Chairil Anwar juga terus mengalir antara tuduhan plagiat dan keaslian karya puisinya. Semua itu membuka ruang dialog terhadap eksistensi Chairil Anwar di dunia perpuisian Indonesia.

Sesempit pengetahuan saya, R.A. Kartini belum terdengar ruang perdebatan terhadap eksistensinya memperjuangkan kaum wanita. Berbeda dengan Chairil Anwar, hadir dengan perdebatan-perdebatan tanpa berkesudahan di ruang-ruang akademik, tetapi umumnya berakhir dengan pemuliaan terhadap proses kreatifnya. Ibarat masakan, puisi-puisinya daging  semua. Bergizi dan menyehatkan tubuh bangsa di ruang batin apresiasi kemerdekaan berpikir : bersenjata kata-kata.

Chairil Anwar membuktikan, kata-kata adalah senjata yang perlu dan wajib dirawat, diasah, sehingga ketajamannya mampu menusuk pertahanan lawan. Namun, sayang keduanya berpulang dalam usia muda. Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan anak pertama, Raden Mas Soesalit dalam usia 25 tahun. Kabar berpulangnya R.A. Kartini sampai kini masih kontroversial, antara dibunuh atau pendarahan akibat melahirkan. Kepergiannya terasa abu-abu seperti kepulangan Munir tokoh pejuang Hak Asasi Manusia zaman Orde Baru.

Berbeda dengan Chairil Anwar berpulang dalam usia menjelang 27 tahun akibat tifus, infeksi, dan usus pecah. Sebelumnya, ia juga menderita TBC. Dalam dialog dengan ibunya, yang disebut gajah, menyebut, “Bila umurmu panjang, kamu bakal masuk penjara”. Jawab Chairil Anwar, “Bila umurku pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku, tabur bunga”.

Jawaban Chairil Anwar benar adanya dan terbukti hingga kini. Diksi “tabur bunga” yang digunakan bermakna konotatif sebagaimana puisi. Barangkali maksudnya ia selalu disebut dan diapresiasi karya-karyanya. Ramalan Chairil Anwar itu “disambut” oleh Ki Hadjar Dewantara yang berumur panjang, 69 tahun (2 Mei 1889 -26 April 1959). Ki Hadjar yang menjadi Menteri Pendidikan dan Pengadjaran pada awal Kemerdekaan, telah mengapresaisi karya-karya puisi Charil Anwar melalui anak-anak sekolah. Tradisi itu berlanjut sampai kini walaupun belasan  kali Kurikulum berubah dan Menteri berganti. Puisi-puisi Chairil Anwar selalu mengisi ruang batin anak bangsa di ruang-ruang kelas.

Begitulah Chairil Anwar dibaca di ruang-ruang kelas. Api semangatnya terus dinyalakan. Sejak Ki Hadjar Dewantara menjadi menteri Pendidikan dan Pengadjaran hingga kementerian itu berubah menjadi tiga kementerian, puisi-puisi Chairil Anwar tetap dijadikan bahan ajar.  Makna puisinya pun selalu mengikuti nafas zaman. Hanya karya yang bermutu yang tidak lekang oleh semangat zaman. Chairil membuktikan dan Ki Hadjar Dewantara menyediakan karpet merah untuk memasuki ruang kelas.

Begitulah tiga tokoh bangsa masuk ruang kelas dengan cara berbeda untuk tujuan yang sama. Benang merah dari ketiga tokoh ini adalah semangat literasinya yang tiada tanding. Ketiganya kutu buku. Sari-sari isi buku dianalisis dan disintesiskan untuk memperkuat perjuangan. Nyatalah, mereka orang yang kreatif, inovatif, dan berpikir kritis tetapi tetap komunikatif.  Mereka mengedukasi menyongsong fajar harapan masa depan yang tidak mudah, tetapi tak pernah menyerah.  Terima kasih Kartini, terima kasih Chairil Anwar, terima kasih Ki Hadjar Dewantara. Semoga semua hidup berbahagia. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Tags: Chairil AnwarHari KartiniKartiniKi Hadjar DewantaraPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudah Saatnya Membangun “Eco Office” di Tempat Kerja

Next Post

Pemerintahan yang Gagal Berkomunikasi dengan Rakyat

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Pemerintahan yang Gagal Berkomunikasi dengan Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co