BULAN suci Ramadhan, bisa menjadi satubulan yang penting sebagai refleksi umat manusia semua kelas. Ada banyak pesan di bulan ini bisa dipetik hikmahnya, yaitu berbagi, dan memahami rasa kebersamaan sebagai “manusia” melalui rasa lapar yang sama.
Bagi seorang Muslim yang tidak gila, tidak berhalangan, dan yang sanggup atau sudah akil baligh—wajib hukumnya melaksanakan puasa. Yakni, menahan lapar dan haus dahaga dari mulai terbit matahari hingga matahari tenggelam. Puasa mengandung banyak pesan selain hanya menahan perut keroncongan. Tapi juga menahan hawa nafsu.
Nafsu bukan perkara sepele. Karena nafsu justru menjadi perang tersengit dan tersulit bagi umat manusia sepanjang sejarah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW ratusan tahun lalu ketika seorang sahabat bertanya, perang apa yang lebih besar dan banyak pahalanya. Maka, beliau menjawab, ialah “ Jihad (perang) Hawa Nafsu”.
Nafsu di dalam diri manusia memang seakan menjadi sebuah kebuasan—yang melebihi buasnya harimau dan serigala, atau ular kobra di alam liar. Manusia bukan hanya bisa menerkam atau mematok dirinya sendiri karena tak pandai meredam hawa nafsu, tetapi juga bisa menerkam secara bengis manusia lain secara kolektif bahkan.
Sehingga, spiritualitas berpuasa tidak hanya dilihat dari bagaimana seseorang bisa menahan rasa lapar dirinya selama delapan jam itu. Tetapi juga mestilah sanggup menahan kebuasan dirinya sendiri terhadap sesamanya, juga lingkungannya—atas dorongan nafsu.
Oleh Tuhan, manusia memang sudah dituntut harus menjadi pemimpin di muka bumi, gak boleh enggak. Harus! Tapi bagaimana kepemimpinan manusia bisa menghidupi secara jasmani dan rohani bagi rakyatnya, justru merupakan problem utama di muka bumi.
Dari banyaknya pelatihan untuk menjadi seorang pemimpin, nyaris semua gagal. Dan nyaris tidak ada pelatihan untuk mengelola nafsu selain tersempil di setiap bulan Ramadhan ini. Sehingga tak ayal, ada banyak para pejabat yang ingkar terhadap sumpahnya sebab menyepelekan puasa nafsu, dan lapar.
Korupsi, misalnya, adalah satu kejahatan yang begitu agung di abad ini setelah peperangan, yang juga tak pernah usai hingga sekarang. Yang akhirnya membuat semua manusia menjadi rugi berkepanjangan. Lebih-lebih pada bangsa ini, korupsi seakan sudah bukan lagi dianggap budaya haram, karena banyak yang melakukannya secara berjamaah.
Pada sabda Nabi SAW tadi, jika dilakukan oleh setiap manusia—bahwa memerangi nafsu sendiri adalah penting, maka angat mungkin bangsa ini akan dipenuhi oleh para pemimpin yang berkesadaran tinggi untuk tidak korupsi. Untuk tidak berbuat jahat. Sebab kata Iwan Fals, rakyat bisa cari akhlak sendiri.
Bukan untuk mengatakan bahwa harus dihilangkan sistem kepemimpinan di muka bumi ini, agar manusia tak mengenal birahi kekuasaan di bumi, lalu membiarkan setiap individu mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada setiap orang. Ini juga cukup sulit ketika semua ruang tak lagi organik. Ketika semua pertemuan tak lagi organik.
Memang, rasanya hanya dongeng untuk bisa hidup bersih tanpa ada yang korupsi di bangsa ini. Tapi bukan berarti perkataan Luhut Pandjaitan, “…mau bersih-bersih amat di sorga sajalah kao!”— itu juga tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat.
Pada galibnya, manusia harus terus berjuang untuk dapat menahan nafsunya untuk tidak berbuat mungkar. Dan secara sosial, bulan Ramadhan sangat bernilai—karena mendidik manusia lintas kelas dan usia secara moral; melawan hawa nafsu, adalah PR bagi semua manusia. PR bagi semua pemimpin bangsa ini; mulai dari Presiden hingga ke tingkat RT.
Spirit dalam menanamkan diri sendiri tentang kesadaran kolektif terkait hidup yang baik, menjadi perjuangan siapapun bagi mereka yang masih waras untuk memupuk jiwanya tetap sehat, juga jiwa orang terdekat.
Tapi paling tidak, untuk dirinya sendirilah lebih penting, sebelum ditebar ke orang-orang sakit secara vertikal maupun horizontal. Baik melalui media sosial maupun toa masjid, bahwa nafsu itu merupakan binatang jalang yang bersemayam di dalam tubuh manusia. Waspadalah!
Dan yang paling terpenting lagi, bulan Ramadhan ini bukan hanya menjadi ajang untuk berbuat baik bagi mereka yang miskin agar semakin terampil menahan lapar. Justru lebih khusus menjadi momentum bagi para pejabat dan elit pengusaha untuk bisa memahami apa itu perut kosong, dan apa itu penderitaan orang lain yang gemar berharap dan bekerja keras, tapi gak kaya-kaya—sebab kutukan sistem.
Jadi, sederhananya, melalui puasa, manusia bisa merasakan penderitaan orang lain melalui lapar dirinya sendiri. [T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole





























