25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 11, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA tahun terakhir ini kita lihat penggunaan media sosial oleh anak-anak nampaknya semakin tak terkendali. Dampaknya juga tak main-main, banyak anak yang kecanduan, gangguan fokus belajar, hingga pada erosi nilai-nilai moral.

Di tengah gempuran gelombang digitalisasi ini, pemerintah akhirnya mengambil suatu kebijakan salah satunya yaitu dengan membatasi akses media sosial bagi anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, bahwa pemerintah tengah mengambil langkah tegas dengan membentuk Tim Penguatan Regulasi Perlindungan Anak di Ranah Digital. Salah satunya menyiapkan regulasi Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN). Dalam pengamatan penulis hal ini bukan hanya soal mengurangi ketergantungan digital, tetapi juga sekaligus suatu upaya serius untuk menyelamatkan perkembangan rohani anak-anak Indonesia.

Namun, bagaimana sebenarnya perkembangan rohani anak bisa terancam oleh media sosial? Dan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan mereka tumbuh dengan nilai-nilai spiritual yang kuat? Adanya kebijakan dari Komdigi memang membawa angin segar dan harapan. Namun bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab utama dalam perkembangan rohani anak tetap berada di tangan orang tua dan keluarga.

Keyakinan yang Tergerus di Dunia Digital

Anak-anak, sesuai masanya, memerlukan fondasi nilai moral dan spiritual yang kokoh. Namun, algoritma media sosial justru menyajikan konten tanpa filter moral. Hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya flexing (pamer kekayaan) semakin mengikis nilai-nilai kebaikan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Memang dengan membatasi akses media sosial, anak-anak diharapkan dapat lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan moral melalui interaksi nyata dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya, bukan dari seleb TikTok yang hidupnya penuh kepalsuan dan rekayasa.

Menurut psikolog perkembangan Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah fase kritis dalam pembentukan identitas moral. Jika anak tidak mendapatkan arahan yang jelas dari orang tua dan lingkungannya, mereka akan mencari nilai-nilai tersebut dari sumber lain, termasuk media sosial, yang sering kali tidak sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut keluarga.

Teladan yang Tergantikan Layar

Anak-anak banyak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi justru yang paling kuat adalah dari contoh nyata. Sayangnya, saat ini banyak orang tua yang justru ikut tenggelam dalam dunia digital, alih-alih jadi panutan mereka malah menciptakan generasi anak yang lebih akrab dengan ponsel daripada berinteraksi dengan mereka sebagai orang tua dan dengan lingkungan sosial. Misalnya, biar anak tidak rewel, dari kecil sudah diberi gadget, biar bisa asyik sendiri.

 Diharapkan, dengan pembatasan media sosial, orang tua kembali memiliki ruang untuk menjadi role model yang nyata, bukan sekadar figur yang hanya ada secara fisik tetapi pikirannya terjebak dalam notifikasi dari ponsel. Albert Bandura dalam teorinya tentang pembelajaran sosial menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Oleh karena itu, jika orang tua ingin anak-anak mereka memiliki nilai-nilai moral yang kuat, mereka mau tak mau harus lebih dulu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya.

Sesuai masanya, anak-anak selalu dipenuhi rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Namun, kita lihat sekarang ini mereka tidak banyak bertanya kepada orang tua atau guru, mereka lebih sering mencari jawaban instan di Google atau media sosial macam TIkTok.

Padahal, algoritma media sosial lebih cenderung menampilkan informasi sensasional daripada kebenaran. Dengan mengurangi akses ke media sosial, tentu saja diharapkan anak-anak dapat kembali belajar berpikir kritis dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mendalam mereka dengan orang tua atau siapa pun yang dianggap lebih dewasa di dalam keluarga sebagai manusia nyata, bukan bertanya ke mesin pencari.

Sejalan dengan psikolog Jean Piaget dalam teorinya tentang perkembangan kognitif, dia menyatakan bahwa anak-anak harus mengalami interaksi langsung untuk membangun pemahaman yang kokoh akan lingkungannya. Tanpa diskusi dan refleksi yang nyata, mereka hanya akan menjadi konsumen pasif yang diterpa banjir informasi tanpa kemampuan untuk menilai kebenaran secara kritis. Hal ini tentu terjadi karena tidak adanya pendampingan oleh orang yang lebih tua yang notabene memiliki kebijaksanaan dan pengalaman.

Tergantikan Scrolling Tanpa Akhir

Dulu, kegiatan seperti doa bersama, membaca kitab suci, atau berbagi cerita moral adalah bagian dari keseharian anak saat lepas bersekolah. Kini, kegiatan itu tergeser oleh scrolling terus menerus yang tak memberikan manfaat berarti. Dengan kebijakan pembatasan media sosial ini, orang tua diharapkan perannya untuk kembali mendampingi anak-anak menikmati aktivitas spiritual yang bermakna tanpa gangguan notifikasi dan dorongan untuk terus melihat layar.

Peran orang tua di sini adalah secara aktif menciptakan lingkungan yang mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan spiritual, bukan hanya mengandalkan sekolah atau tempat ibadah. Seperti yang diungkapkan oleh Lisa Miller, seorang psikolog klinis dari Columbia University, bahwa spiritualitas yang berkembang sejak kecil terbukti meningkatkan ketahanan mental dan kebahagiaan anak di masa dewasa. Tentu hal ini tidak main-main mengingat dampaknya sangat besar membentuk kepribadian bangsa.

Kita bisa mengacu pada John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam teorinya tentang keterikatan, anak-anak yang merasa aman dalam lingkungan keluarganya akan lebih percaya diri dan stabil secara emosional. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa kehadiran mereka benar-benar terasa oleh anak-anak, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional.

Orang Tua Tetap Garda Terdepan

Kebijakan pemerintah dalam membatasi media sosial bagi anak-anak, dalam hal ini bukanlah upaya untuk mengekang kebebasan, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan generasi mendatang dari degradasi nilai spiritual dan moral. Namun, kebijakan ini hanya akan berhasil jika didukung oleh peran aktif orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl, seorang psikolog dan filsuf, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain adalah bagian penting dari mencari makna hidup.  Oleh karena itu, orang tua tidak bisa hanya menyerahkan peran ini kepada pemerintah atau sekolah. Mereka harus kembali menjadi pusat pendidikan rohani bagi anak, mengambil tanggungjawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan kaya akan nilai-nilai moral.

Jika kita ingin menyelamatkan anak-anak dari bahaya media sosial, kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Kita harus menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan rohani mereka. Pembatasan media sosial memanglah suatu permulaan yang baik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermakna.

Jadi perlu diingat, kita sebagai orang tua pertama-tama harus memberi contoh dengan meregulasi diri sendiri dulu, agar tidak kecanduan media sosial. Jika tidak bisa, ya akhirnya sama saja. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma
Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya

                                                                                               

Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konservasi Lontar I Nengah Werden di Jembrana: 10 Ikat Lontar Rusak dari 24 Cakep Lontar yang Ada

Next Post

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co