1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Poster film Pengkhianatan G30S PKI / Google

 

ISU kebangkitan Partai Komunis Indonnesia (PKI) menjadi wabah sistemik yang membuat bangsa Indonesia mengalami anomali berkepanjangan. Padahal Pancasila dan komponen-komponen vital yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara seperti UUD 1945 dan Undang-undang dibawahnya tidak sedikitpun memberikan ruang kepada paham komunis untuk masuk dalam NKRI. Karena dari segi garis pemikiran komunisme dan Pancasila merupakan dua Ideologi yang sangat berseberangan.

Semisal dari pemahaman atau keyakinan dalam beragama Pancasila secara nyata dalam bunyi sila pertama yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”, sudah jelas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkeyakinan pada Iman yang diajarkan oleh agama, sedangkan bagi komunis sendiri agama merupakan sesuatu candu masyarakat yang harus dijauhkan dari hidup manusia, karena dengan adanya agama dapat menyebabkan fanatise individu/golongan hingga mengganggu eksistesi negaranya.

Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya tidak perlu khawatir, seperti apa yang disampaikan  oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah pidatonya, “Segala sesuatu yang bertengan dengan 4 konsensus dasar Pancasila, UUD 194, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus ditumpas”. Belum lama Presiden menyampaikan hal ini di tengah-tengah isu logo palu arit (simbol komunisme) tahun lalu.

Bedanya dengan hari ini yakni akan ditayangkannya Film G30S/PKI dan lagu Genjer-genjer yang dianggap menjadi ikon lagu PKI hingga seiap orang yang menyanyikan lagu Genjer-genjer merupakan orang-orang keturunan PKI. Pemutaran Film G30S/PKI tentu bertujuan baik pastinya agar kejadian yang menjadi bab gelap sejarah tidak terjadi pada masa sekarang. Sudah seharusnya kita berpikir dan menyikapi kritis.

Misalnya lagu Genjer-genjer yang diisukan dinyanyikan oleh orang-orang Bantuan Lembaga Hukum (BLH) dalam ruangan hingga terjadi serbuan oleh ratusan massa dengan tujuan akan mengganyang dan mematikan orang-orang PKI. Seperti yang diberitakan oleh CNN Indonesia (baca: amuk massa, genjer-genjer dan trauma kebangkitan PKI).

Padahal lagu genjer-genjer merupakan gambaran kondisi warga Banyuwangi saat penjajahan Jepang. Lagu tersebut diciptakan oleh Muhammad Arief (seniman Using) yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ialah “Ibu si gadis membelli genjer sembari membawa wadah ayaman bambu, genjer-genjer akan dimasak, genjer-genjer masuk periuk air mendidih setegah matang ditiriskan untuk lauk, nasi sepiring sambal jeruk di dipan, genjer-genjer dimakan dengan nasi”

Membaca arti lagu tersebut tentu jika saya tangkap maknanya ialah masyarakatt Banyuwangi yang hanya makan nasi dan lauk genjer saat Jepang menjajah Banyuwangi, lagu Genjer-genjer itu sempat dinyanyikan di Istana negara pada saat kepemimpinan Ir. Soekarno namun karena lagu ini populer dan tenar maka lagu genjer-genjer digunakan PKI untuk berkampanye menarik suara rakyat, bukan menjadi simbolis bahwa yang menyanyikan lagu genjer-genjer itu PKI. Menurut saya itu salah persepsi karena genjer-genjer sendiri dirillis jauh sebelum PKI mencomot lagu tersebut untuk kampanyenya lebih tepatnya merupakan lagu daerah masyarakat Banyuwangi bukan lagu PKI.

Kita sebagai bangsa yang cerdas jangan hanya melihat dari sudut pandang yang menimbulkan perspektif menyalahkan salah satu pihak saja dengan memojokkan orang-orang PKI yang memiliki sejarah buruk dengan bangsa Indonesia. Jika isu komunis dianggap merupakan doktrinasi sistemik  dari China sebagai pusat komunis, tentu negara-negara yang sudah maju seperti China pijakan ideologinya bukan lagi komunisme murni. Bahkan mereka terlihat seperti bangsa dengan sistem monopoli industri seperti orang-orang kapitalisme, artinya mereka sibuk membangun negaranya agar bersaing di kancah global dengan sibuk memikirkan tahun depan dia harus punya tekhnologi canggih melebihi robotik.

Kita hari ini bangsa Indonesia masih disibukkan dengan perang ideologi yang sejatinya ideologi yang diributkan sudah mati atau susah berkembang di negara kesatuan Republik Indoneisia. Kita bangsa Indonesia harus mengacu pada apa yang telah dikatakan oleh pahlawan nasional Tan Malaka bahwa “Komunisme tidak akan hidup dalam masyarakat yang masih memiliki agama dan unsur kesukuan”.

Maka hari ini kita terlalu berlebihan menyikapi komunisme akan bangkit lagi. Sekalipun bangkit dari kuburnya, hantu bernama komunis ini, adalah tugas negara untuk menumpas dan negara tentu jeli melihat situasi seperti hari ini. Kredibilitas dan loyaitas TNI dan POLRI sebagai garda terdepan menumpas paham-paham radikal seperti komunisme tidak usah kita ragukan lagi. Mereka sangat tegas untuk hal-hal sensitif yang berkaitan dengan kehanan nasional. karena dasar hukum PKI, paham dan ajaran serta ideologi komunis dilarang TAP MPRS NO 25 tahun 1966 tentang pembubaran PKI dan UU RI No. 27 tahun 1999 berkaitan dengan kejahatan terhadap negara.

Isu PKI hari ini seperti kita takut pada hantu pocong namun kita ketahui pocong itu tidak pernah ada, ada hanya sebatas mempolitisir mengada-ngada agar anak-anak kecil yang susah tidur malam hari itu menjadi takut dan cepat tertidur, kira-kira seperti itu saya menganalogikan. Masyarakat harus lebih dewasa dalam hal ini jangan sampai menimbulkan justifikasi pada salah satu pihak atau golongan, sehingga di tubuh bangsa ini timbul kecurigaan yang berujung perpecahan bangsa. Pasalnya seperti yang disampaikan Menteri Kemaritiman Luhut B. Panjaitan dalam statemennya di CNN Indonesia saat ditanya soal isu PKI beliau berkata “Nggak ada kerjaan urus PKI, Partainya saja Cina komunis, tetapi lebih fokus kembangkan ekonominya dengan tekhnologi canggih”.

Film G30S/PKI rencananya akan diputar ulang oleh TNI dengan maksud agar kita mawas diri untuk tidak mengulangi luka yang terjadi di musim lalu bukan diisukan Komunisme bangkit lagi, banyak tokoh-tokoh besar berasumsi bahkan Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa jika mau memutar film tersebut buat film versi baru agar tidak menimbulkan stigma negatif bagi masyarakat. Pasalnya film tersebut pada masa orde baru dijadikan senjata propaganda untuk melanggengkan kekuasaan dengan syarat pemutaran ataupun pembuatan versi barunya harus korektif. Hal ini juga sependapat dengan pendapat Gatot Nurmantyo yang setuju agar pemutarannya nanti dibuatkan film versi baru agar tidak menimbulkan stigma negatif dari berbagai pihak.

Pengalihan Isu Kasus E-KTP

Di balik isu komunisme akan bangkit di Indonesia tentu membuat sebagian dari mereka mengeluarkan statemen masing-masing terkait adanya hantu komunisme. Bahkan hal ini seperti anomali berkepanjangan bagi bangsa Indonesia jika dikaitkan dengan luka lama pemberontakan G30S/PKI tahun 1965.

Akan tetapi jika kita telisik lebih dalam lagi apa bukti kebangkitan komunis di Indonesia? Apakah ada partai komunis yang punya indikasi membangkitkan komunisme, siapa tokoh komunis yang mau membangkitkan paham tersebut?

Tentu kita harus punya dugaan disertai dasar yang kuat tentang obsesi bangkitnya paham komunisme di Indonesia ini. Jika sebaliknya hanya sebatas dugaan tanpa dasar yang jelas maka kita hanya termakan isu media yang telah di-setting oleh pemilik kepentingan dan fokus kita akan dialihkan pada sebuah permasalahan yang lain dengan tujuan agar kita lupa akan kasus besar yang telah menyesengsarakan bangsa Indonesia itu sendiri, seperti kasus korupsi yang makin hari semakin marak.

Analisa kotor saya kasus apa yang paling besar dan banyak merugikan negara? Tentu yang aktual adalah kasus E-KTP yang memakan anggaran negara hingga kurang lebih 6 triliun. Lantas dengan adanya isu Komunisme yang dibuat maka lambat laun kasus tersebut akan hilang dan tidak lagi menjadi sorotan publik untuk dikritisi, pengawalan hukum dan sebagainya berkaitan dengan sanksi.

Seperti beberapa hari lalu misalnya isu komunis yang dijadikan kedok saat terjadi penangkapan pemuda di Makassar yang mengenakan kaos Palu Arit sebagai simbol komunisme yang dibesar-besarkan oleh media, sehingga yang terjadi berita ini menjadi viral diberbagai media, sehingga yang terpojokkan ialah mereka eks anak-anak keturunan PKI serta kecurigaan yang semakin membabi buta.

Tapi ternyata komunis di Indonesia hari ini tak kunjung berdiri baik dari segi partai, Ormas, atau kepemudaan karena dasarnya jelas di Pancasila dan UUD 1945 bahwa tidak ada ruang untuk paham komunisme berkembang di Indonesia. Yang ada dan tidak diamati oleh kita bagaimana Freeport menjalani ikatan kontrak baru dengan Amerika Serikat hingga aset tersebut tak bisa secepatnya untuk kita kelola kembali.

Lantas apakah isu komunisme juga seperti tahun yang lalu? Tentu bisa saja saya katakan iya, karena melihat kasus yang sedang dijalani oleh  Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) yang gencar-gencarnya membrantas koruptor menjadi dugaan kuat bahwa Isu komunisme hanya sebatas untuk mengalihkan penglihatan kita dari masalah besar dan fokus pada masalah kecil yang sebenarnya hanya sebuah bentuk politisir. (T)

Tags: filmIdeologiPKI
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Gunung Agung Meletus dan ‘Pangéling-Éling’ Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn

Next Post

Rimba

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post

Rimba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co