2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangga dengan Bahasa Madura

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 14, 2024
in Bahasa
Bangga dengan Bahasa Madura

PENULIS pantas kagum dan bangga jika orang-orang Madura di perantauan tidak melupakan tanah nenek moyangnya. Di sana, mereka dapat berbaur dengan masyarakat asli bahkan belajar menguasai bahasa daerah tempat mereka merantau tanpa menghilangkan bahasa asli mereka, Bahasa Madura.

Meski leluhur penulis berasal dari Tanah Madura, tapi hingga saat ini penulis tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Madura dengan baik. Namun ketika kebetulan bertamu di rumah orang yang berbahasa Madura, sebaik mungkin penulis akan berkomunikasi dalam bahasa Madura.

Ya, meski pelafalan bahasa Madura penulis kedengaran kaku, tapi setidaknya penulis masih berkesempatan untuk mempelajari tata bahasa Madura. Penulis ingin punya nilai lebih sebagai orang Madura.

Penulis lahir dan besar di sebuah kota yang terkenal dengan Gunung Bromonya. Keluarga penulis berasal dari Sumenep.

Tahun 1880-an, ketika pemerintah kolonial Belanda mengadakan program transmigrasi, kakek dan nenek buyut penulis ikut program tersebut sehingga mereka pun pindah ke sebuah wilayah yang berada di Jember, Puger nama desanya.

Di sana, mereka berprofesi sebagai petani. Perlu diketahui bahwa orang-orang Madura  sejak dulu memang ahli dalam mengelola tanah pertanian dengan hasil yang melimpah.

Tidak hanya cakap dalam mengolah tanah, mereka juga banyak menguasai ilmu pembibitan dan pengairan sehingga petani Jember pun lambat laun turut banyak yang menguasai ilmu pertanian.

Setelah berhasil mengajarkan ilmu tani di Jember, kakek nenek buyut penulis lalu hijrah ke utara: Banger, sekarang dikenal sebagai kota Probolinggo. Mereka membangun rumah dengan gaya rumah-rumah priyayi Sumenep. Pondasi rumah dibuat tinggi dan berundak. Di emperan teras terdapat pilar-pilar dan kanopi yang menjulur ke depan. Persis rumah lora-lora yang sering penulis lihat di foto tua.

Tak berselang lama kemudian, lahirlah anak-anak mereka. Tapi penulisng, kakek buyut meninggal dunia karena sakit. Enam tujuh tahun kemudian, nenek buyut menyusul beserta tiga orang anaknya yang lain akibat keracunan krathok.

Alhamdulillah, ketiga anaknya yang lain selamat dari maut, termasuk nenek penulis sendiri. Setelah kepergian ibunya, nenek penulis dan kakaknya merantau ke Surabaya, Malang, Situbondo, dan Bondowoso dengan bekerja sebagai babunya Londo dan Cina.

Setelah dewasa, kakak nenek penulis menikah dengan keturunan Sidi Waseso sehingga darinya kelak lahir kakak sepupu penulis yang menjadi Amangkurat di Keraton Astatinggi, Sumenep. Sedangkan dari nenek, lahirlah penulis. Tidak banyak yang tahu jika penulis masih memiliki darah keturunan keraton Sumenep. Termasuk para kiai di Jawa yang memiliki tali darah dengan keluarga penulis.

Cukuplah itu. Di sini, penulis tidak akan membahas tentang asal-usul keluarga. Bagi penulis, tidaklah penting meskipun penulis memiliki nasab dari adipati Sumenep. Penulis hanya ingin menjadi rakyat biasa sehingga mudah bergaul dengan orang lain tanpa sekat.

Nah, kembali ke bahasa Madura. Jujur, meski penulis keturunan orang Madura, namun penulis tampak kaku dalam pengucapan bahasa Madura. Akan tetapi, setelah penulis menikah dengan istri yang berasal dari lingkungan orang-orang berbahasa Madura, penulis  pun jadi terdorong untuk mempelajari bahasa Madura dengan baik dan benar.

Kerap kali penulis temukan banyak kesalahan pelafalan, baik yang diucapkan maupun yang berseliweran dalam rupa tulisan di media-media sosial. Adakalanya susunan kalimat dalam percakaan dan penulisan di media sosial berupa dialek gado-gado antara bahasa Madura Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Penulis merasa geli dan sering mengoreksi logat yang mereka ucapkan. Meski sebenarnya mereka bisa berkomunikasi dalam basa Madura, tapi betapa masih banyak orang-orang Madura yang berada di Madura sendiri maupun yang ada di daerah Tapal Kuda (Baca: Pantura, Jawa) yang tidak bisa menulis ejaan Madura dengan baik dan benar.

Berikut ini beberapa contoh kekeliuan penulisan yang sering penulis jumpai, berikut revisinya berdasarkan 2 kaidah ejaan bahasa Madura, yakni kaidah ejaan Madura sesuai hasil Sarasehan 1973 dan kaidah ejaan Madura hasil Konsinyasi (Kongres) Balai Bahasa Jawa Timur (2008-2011).

Lokah tapeh tak adere. Penulisan yang benar untuk kalimat tersebut adalah: “Loka tape tak adhara”, atau dengan ejaan yang baru — Loka tapè ta’ aḍârâ

Cek lopah: Ja’ loppa atau Jhâ’ loppa

Abe’en dibik: Ba’na dibi’ atau Bâ’na dhibi’

Emak sakek: Emma’ sake’ / Emma’ sakè’

Tolesannah lanjeng: Tolesanna lanjang / Tolèsanna lanjhâng

Bapak deteng deri sabe= Eppa’ dhateng dhari saba / Eppa’ ḍâteng ḍâri sabâ

Burawi ngakan ning berung= Burawi ngakan neng e barung / Bhurawi ngakan neng è bârung

Kyaeh bhuru deteng deri konjengan= Kyae buru rabu (dhateng) dhari onjangan / Kyaè bhuru rabu (ḍâteng) ḍâri onjhângan.

Catatan: ada yang menyebut Ma’ Kaè, karena orang Madura jaman doeloe menyebut Eppa’ dengan Mama’, Emma’ dengan Embu’. Jadi, dengan menisbatkan pada panggilan Eppa’ (lelaki), sebagian orang Madura menyebut Kyaè (lelaki sepuh yang terhormat) dengan sebutan Ma’ Kaè.

Lanjut, sekadar diketahui, berikut ini beberapa contoh macam-macam dialek bahasa Madura berdasarkan wilayah atau daerah masing-masing. Coba penulis kelompokkan menjadi 4 bagian: 1) Sumenep bagian timur, 2) Sumenep bagian barat dan Pamekasan, 3) Sampang, 4) Bangkalan.

Sebenarnya, perbedaan antara dialek Sumenep bagian timur, Sumenep bagian barat, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan hanya terletak pada penyebutan kata ganti orang yang diajak bicara, yakni KAMU.

Masyarakat Sumenep bagian timur menyebut KAMU dengan ba’na/bâ’na (Baca: be’na), sementara mayoritas masyarakat Sumenep bagian barat (Lenteng ke selatan-ke utara dan ke barat) juga warga Pamekasan menyebut KAMU dengan kata: ba’en/bâ’en (baca: be’en).

Sedangkan masyarakat Sampang dan Bangkalan memiliki sebutan tersendiri yang sama sekali tidak mirip dengan penyebutan KAMU bagi orang Sumenep dan Pamekasan. Orang Sampang menyebut BA’NA atau BA’EN dengan KAKEH (baca: kakèh), sementara orang Bangkalan menggunakan Hedhah atau Hèḍâh (baca: hèdeh).

Di bawah ini 4 contoh kalimat atau okara percakapan bahasa Madura berdasarkan 4 dialek yang ada.

DIALEK SUMENEP TIMUR

Be’na alako apa jreya ma’ ta’ lem mare molae kelle’? (KELIRU)

Ba’na alako apa jareya ma’ ta’ gellem mare molae gella’? Atau, Bâ’na alako apa jârèya ma’ ta’ ghellem marè molaè ghellâ’? (BENAR)

DIALEK SUMENEP BARAT & PAMEKASAN

Be’en re lako nemmo pei, ce’ tuliyana kan la mare parkarana ciah! (KELIRU)

Ba’en re lako nemmo bai, ja’ duliyana kan la mare parkara jiyah! Atau, Bâ’en rè lako nemmo bhâi, jhâ’ dhuliyâna kan la marè parkara jiyâh! (BENAR)

DIALEK SAMPANG

Tettih kakeh entar ka tang bungkoh? (KELIRU)

Daddi kakeh entar ka tang bengko. Ada pula yang mengatakan tang bengko dengan “tang roma”. (BENAR berdasarkan ejaan hasil Sarasehan 1973).

Atau, jika ditulis berdasarkan ejaan yang baru (Kongres BBJT, 2013), maka menjadi: Dhâddhi kakèh èntar ka tang bengko.

DIALEK BANGKALAN

Hedeh ma’ puru dateng, de’emma bhai molae ghellak? (KELIRU)

Hedhah ma’ buru dhateng, dha’emma bai molae gella’? Atau, Hèḍâh ma’ bhuru ḍâteng, ḍâ’emma bhâi molaè ghellâ’? (BENAR)

Menulis kek gitu aja kok repot! Payah loe. Hhe..

Penulisan ejaan-ejaan di atas kadang membuat penulis geli. Pernah penulis bertanya kepada anak-anak santri dari Kuripan.

“Le, kamu orang mana?”

“Penulis orang Madura, Mas.”

“Madura mana?”

“Tidak tahu.”

“Masa loe enggak tau asal-usul loe? Atau jangan-jangan loe berasal dari Pluto, Conk!” umpatku sambil guyon.

Jawaban yang aneh. Ditanya berasal dari Madura mana, jawabnya tidak tahu. Lha kan aneh, to!? Mestinya, paling tidak dia pernah bertanya kepada orangtuanya agar memberitahukan asal-usul keluarganya.

Sebelum menutup, penulis merasa bangga dengan adanya media online yang fokus meramaikan bahasa Madura dengan penulisan yang baik dan benar pula. Seperti dimadura.id, alangkah baiknya jika dijadikan sarana untuk saling sharing dalam melestarikan Bahasa Madura, sehingga bahasa nenek moyang kita ini, sangkolan Bhâsa Madhurâ ini, tidak punah karena distorsi bahasa luar (asing).

Sekian, dan mari kita bersama-sama belajar bahasa dan budaya Madura, rawat serta lestarikan peninggalan nenek moyang yang telah mendirikan kerajaan di Madura ini dengan hati yang indah. [T]

Mobil Si Pino
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya
Gemoy dan Omon-Omon: Bentuk Kedinamisan Bahasa
Tags: Bahasabahasa daerahBahasa MaduraMaduraOrang Madura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pj Bupati Buleleng: Pentingnya Kolaborasi dalam Program Percepatan Akses Keuangan Daerah

Next Post

Suami yang Baik atau Ayah yang Baik?

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Suami yang Baik atau Ayah yang Baik?

Suami yang Baik atau Ayah yang Baik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co