25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jayaprana Layonsari Rasa Rujak Campur – Sebuah Catatan Kecil

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Ulasan

Pementasan Jayaprana Layonsari oleh Komunitas Mahima di Pesta Kesenian Bali, Taman Budaya Denpasar, 21 Juli 2017./ Foto-foto: Dea Chessa LS

DI tengah sajian kesenian bernuansa konservasi budaya konvensional Pesta Kesenian Bali ke-39 di Art Centre Denpasar. pementasan Jayaprana Layonsari oleh Komunitas Mahima, Buleleng, Singaraja menawarkan lakon yang berkesan “nyeleneh” dari wacana tersebut, 21 Juli 2017.

Sebelas penari wanita atau badan properti membentuk  formasi lingkaran di atas panggung. Mereka memakai gelung kepala berwarna emas dengan hiasan sederetan bunga jepun kuning, wajahnya bermake-up bak penari Bali. Tapi ada yang janggal dengan pakaiannya, mereka tidak memakai atribut khas penari, melainkan mengenakan baju dan celana panjang ketat berwarna putih mirip penari balet.  Sebuah selendang merah melingkar di pinggang, bagian yang tidak melingkar mejuntai hingga ke lutut. Di tangan, mereka menggenggam sejumlah dupa, kemudian melakukan gerakan-gerakan tangan-tubuh sekilas seperti gerakan yoga.

Sejurus kemudian narasi dibacakan, mengisahkan tentang  Ida I Dewa Kaleran raja dari kerajaan Kalianget yang ingin mensejahterakan rakyatnya. Berbarengan narasi tersebut sebelas badan properti membentuk sebuah komposisi presisi di tengah panggung, komposisi tersebut tidak hanya mengandalkan tubuh, juga tangan, badan, kaki, serta ekspresi wajah.

Sementara sang raja berpakaian  hampir senada dengan badan properti,  ia berdiri di atas salah satu badan properti hingga kedudukannya lebih tinggi dari komposisi. Komposisi ini menyiratkan kemegahan, kekuasaan, serta keagungan dari Ida I Dewa Kaleran. Tiba-tiba raja melompat ke depan melewati dua badan properti di bawahnya, sontak hal itu mengagetkan penonton.

Selanjutnya dimulailah jalan cerita pementasan. Seperti yang kita tahu cerita Jayaprana dan Layonsari mengisahkan kisah cinta sepasang insan manusia yang berakhir tragis karena ketamakan seorang raja. Layonsari mengakhiri hidupnya setelah mendengar kabar Jayaprana meninggal dunia dalam sebuah misi tipuan yang diperintahkan oleh sang raja melalui sang patih. Sebab sang raja ingin menyingkirkan Jayaprana untuk mendapatkan kecantikan Layonsari.

Kekuatan Narasi

Saya mencatat keutuhan pementasan yang disutradarai Kadek Sonia Piscayanti  sangat bergantung pada teks narasi. Rajutan fragmen, impresi peristiwa, serta emosi yang dibangun seolah hampa tanpa kehadiran narasi, kendati cerita Layonsari dan Jayaprana ini telah kita hafal di luar kepala, khususnya bagi masyarakat Bali.

Kehadiran pemain setelah atau berbarengan pembacaan narasi memiliki peran kuat untuk menghadirkan imaji teks dalam benak penonton, di tambah dengan dialog yang bertumpu pada karakterisasi aktor. Narasi juga paduan penonton untuk membaca setiap komposisi yang hadir di atas panggung oleh badan properti tadi. Sebab komposisi yang dibentuk memiliki berbagai tafsir, untuk meminimalisir tafsiran itulah kehadiran teks narasi dibutuhkan.

Hemat saya hantaran narasi ini sangat berpengaruh pada tangkapan penonton.  Bangunan rasa, emosi, imaji yang telah di pupuk sejak awal pementasan, dapat memudar karena pembacaan narasi membutuhkan waktu. Sementara tik-tok adegan berlanjut tanpa berjeda, apalagi  ketika memasuki adegan tegang. Untuk itu mungkin saja kehadiran narasi ini tidaklah menjadi benang merah yang kuat untuk mengelem seluruh adegan, tapi menjadi benang samar yang kehadirannya ditakar sesuai kebutuhan agar tidak mengorbankan estetika permainan.

Komposisi Badan Properti

Pementasan yang berlangsung hampir 60 menit tersebut  terasa sistematis, jauh dari kesan konvensional yang salah satu cirinya penuh improvisasi. Selain keluar masuk pemain peradegan, wujud sistematis juga dihadirkan dalam berbagai komposisi oleh  badan properti, untuk menguatkan hadiran visual di atas panggung. Badan properti ini menjadi pembeda dari sejumlah pementasan lainnya.

Ini bagian adaptasi yang dilakukan oleh sutradara. Adaptasi yang bertujuan untuk mencari bentuk pementasan yang lebih liar, jenaka, dan unik namun tidak meninggalkan akar budaya tradisionalnya. Seperti yang dijelaskan oleh dramawan Abu Bakar dalam diskusi sastra Adaptasi Naskah di Bentara Budaya Bali (30/6) bahwa manusia selalu melakukan adaptasi setiap hari, tomyang atau capcai contohnya, walaupun isiannya berbeda karena keterbatasan bahan di setiap negara, tapi namanya tetap. begitu juga berteater.

Teater juga merespon atas reaksi kekinian, kendati tidak menjadi bagian yang ingin diceritakan secara harafiah, namun hanya mengambil bagian biasnya saja. Seperti kehadiran badan properti yang mungkin saja mengadaptasi dari bentuk grup boy band, girl band, dance modern yang kita tahu selalu beranggotakan banyak orang.

Catatan saya, dari awal hingga akhir pementasan kehadiran badan properti ini mewarnai setiap adegan. Seperti menjadi air yang membanjiri desa, menjadi singgasana raja, menjadi tembok pembatas jalan, menghadirkan impresi pasar, menjadi gerakan api dan lain sebagainya. Komposisi ini juga menghadirkan tantangan baru bagi sutradara untuk memilah komposisi yang tepat dan seberapa takaran yang dihadirkan di atas panggung. Agar tidak terasa sebagai tempelan yang hanya mengejar bentuk visual tanpa mempertimbangkan alasan di baliknya serta pesan yang ingin disampaikan.

Tapi sayang, sutradara belum mengolah badan properti secara maksimal. Sebab secara garis besar mereka hanya menjadi benda, masih banyak potensi dan ruang tubuh yang perlu digali dan eksplorasi, yang tidak hanya menghadirkan suasana perstiwa tapi mampu mengolah emosi penonton dari gerakan badan properti tersebut.

Yang lebih penting lagi semestinya pementasan tersebut dibawakan pada malam hari atau di ruang gelap, dengan menggunakan efek lampu untuk memunculkan kesan dramatis.  Bayangkan komposisi badan properti yang dibentuk jika di tembak oleh lampu. Tentu menghasilkan bayangan tertentu, kesan ini akan menimbulkan dimensi emosi yang hadir dalam perjalanan pementasan.

Sayangnya hari itu pementasan dilakukan pada siang hari, pukul 11.00 wita, alhasil banyak adegan serta badan properti yang tidak terlalu kuat hingga menurunkan performa pementasan.

Sejumlah adegan juga tampak lemah tanpa kehadiran efek lampu, misalnya adegan Layon Sari yang di perankan oleh Ni Kadek Desi Nurani Sari bunuh diri lalu terjatuh ke lantai. Adegan tersebut semestinya sangat sedih dan mengharukan, tapi yang sampai ke penonton mereka malah sibuk mengkhawatirkan gelung yang dipakai Layonsari karena saat terjatuh sangat keras menghantam lantai. Juga adegan raja yang diperankan oleh I Gede Pasek Budi Wira Kusumahendak membopong Layon Sari yang terbaring setelah bunuh diri. Namun sang raja hampir jatuh saat proses membopong tersebut. Hasilnya adegan dramatis itu  penyap bersama tawa penonton yang menertawai raja.

Bacaan Tersirat

Tapi jika ditelisik dari pemain yang didominasi oleh perempuan, ada sebuah gerakan terselubung yang ingin di sampaikan oleh sutradara. Mengingat Layon Sari dalam cerita sebagai subjek korban, Sementara dominasi perempuan dalam pementasan adalah hal sebaliknya, menyuratkan eksistensi perempuan itu sendiri. Bahwa perempuan juga dapat beradu saing dengan laki-laki dalam segala lini. Pementasan tersebut juga menyodorkan kita fakta sebuah perubahan, budaya yang semakin hari kian dinamis. Dilihat dari adaptasi gerak kontemporer namun masih mengambil unsur tradisi dan gabungan  musik dari gitar listrik, organ tunggal, ceng-ceng dan gangsa. Komponen itu saja sudah mampu menyadarkan bahwa budaya adi luhung yang sedang dilestarikan juga berkomproni dengan budaya baru.

Maka tidak salah, saya menyebut pementasan itu seperti memakan rujak campur, kuah pindang sebagai idiom tradisionalnya, lalu dicampur dengan berbagai buah yang mewakili idiom perubahan itu sendiri.

Satu pesan penting dari saya, jika menonton pementasan jangan datang dengan kepala yang penuh terisi berbagai konsep atau bayangan pementasan lainnya. datanglah lalu duduk dengan baik, kemudian nikmati pementasan seperti memakan rujak campur, nikmati kecutnya mangga, asemnya belimbing, sepatnya pepaya, tapi tetap kuah pindangnya terasa dalam setiap gigitan. Setelah usai pementasan jabat tangan sutradaranya lalu berkata:  “Rujak campurnya enak sekali!” atau “Rujaknya kurang pedas lho! Atau “mangganya terlalu matang” atau “pepayanya kurang muda itu” dan berbagai lainnya.

Salam. (T)

Tags: Pesta Kesenian Baliseni pertunjukanTeater
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Pukul 5.15 Pagi

Next Post

Masa Depan Itu Nisbi – Sebuah Renungan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Masa Depan Itu Nisbi – Sebuah Renungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co