25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Antara Penyair dan Karya, Siapa yang Lebih Dulu Mati?

Yogi Dwi Pradana by Yogi Dwi Pradana
January 17, 2024
in Esai
Di Antara Penyair dan Karya, Siapa yang Lebih Dulu Mati?

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

perjalanan pendek ini,

panjang sekali.

(“Nafas”)

Sajak “Nafas” muncul sebelum sajak “Cahaya”. Radhar sangat mensyukuri setiap tarikan napas yang ia perjuangkan dengan berat dan melelahkan.

Hal ini hampir sama dengan sajak “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Dalam sajak tersebut hanya berisi satu kalimat, tapi dapat ditafsir dengan sangat banyak. Sitor menulis “Malam Lebaran” saat berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer pada malam lebaran. Sitor tertarik pada sebuah tembok putih di rumah Pram—melengok di atasnya ada kuburan. Sitor kemudian memainkan objek lain pada sajaknya, yaitu bulan.

Bulan di atas kuburan.

(“Malam Lebaran”)

Dalam sajak Emi Suy yang berjudul “Alarm Sunyi”, sudah menggambarkan kontras dari dua kata pada judul itu. Emi Suy memaknai bahwa kesunyian adalah suatu cara untuk menjaga keseimbangan jiwa. Lalu, apakah maksud Emi Suy dalam sajaknya “Alarm Sunyi” tersebut sunyi di dalam diri seperti suara alarm? Menurut Emi Suy, sunyi adalah bunyi waktu yang mengingatkan manusia untuk selalu merefleksikan kembali hakikat dan arah hidupnya agar terbebas dari ambisi-ambisi semu.

Nama Sitor Situmorang adalah yang paling sering mencipta sajak-sajak tentang pulang. Bahkan, hampir beberapa penyair sering memilih tema pulang pada sajaknya. Sitor Situmorang dalam sajaknya “Tatahan Pesan Bunda” menulis bahwa dia ingin dikubur di tanah kelahirannya. Sitor meninggal di Belanda dan dikuburkan di Danau Toba—di samping makam ibunya.

Bahkan, Iman Budhi Santosa, seorang sastrawan, juga pernah melakukan perjudian dengan berani meninggalkan kariernya sebagai PNS dan memilih menjadi seorang penyair. Iman Budhi Santosa kini dikenang sebagai seorang legenda dalam perpuisian di Indonesia. Bayangkan, bilamana beliau dulu jadi PNS, mungkinkah beliau akan dikenang banyak orang seperti sekarang?

Akhir-akhir ini juga ada beberapa sastrawan kecintaan kita yang disayangi oleh Tuhan untuk menghadap-Nya terlebih dahulu. Beberapa nama sastrawan yang lebih dahulu dipanggil Tuhan, seperti: Romo Agus Sunyoto, Radhar Panca Dahana, Iman Budhi Santosa, dan Umbu Landu Paranggi. Beliau-beliau ini boleh saja jasadnya terkubur, tapi saya meyakini karyanya akan tetap abadi.

Hampir semua orang mengenal Chairil Anwar, lalu darimana mereka berkenalan? Padahal, sosok Chairil Anwar adalah sosok sastrawan angkatan 45. Sudah tentu, mereka mengenal Chairil Anwar karena namanya sering disebut, gaya hidupnya yang sangat menarik, buku puisinya sering dicetak ulang, dan tentu hari kematiannya diagung-agungkan—serta diperangati sebagai Hari Puisi Nasional.

Pembicaraan mengenai sosok pengarang angkatan 45 tersebut sudah sangat sering muncul di beberapa media—sehingga menjadi sebuah keklisean. Namun, dalam buku yang berjudul “Berguru kepada Puisi” (2019) karya Joko Pinurbo, ulasan terbaik tentang Chairil Anwar pantas diberikan kepada Sapardi Djoko Damono dengan judul ulasan “Chairil Anwar Kita”.

Saras Dewi, seorang intelektual, di antara kenyamanan rumah ilmu dan dunia di luar ia menemukan sastra sebagai jembatan yang menghubungkan keduanya, jembatan permenungan yang mengautkan pengetahuan dan kenyataan.

Sajak imajis dalam puisi melukiskan apa saja dengan hidup yang diamati, tanpa memberikan komentar atau pendapat tentang pemandangan itu, maka dapat dikatakan itu adalah sebuah sajak imajis. Salah satu sajak imajis yang sangat bagus adalah milik Taufik Ismail yang berjudul “Pantun Terang Bulan” (1971).

Sajak liris dalam puisi adalah sajak yang mengekspresikan emosi atau perasaan penyair. Biasanya ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Di sini penyair tak lagi hanya melukiskan seperti sajak imajis tadi, tapi menyatukan perasaannya di sana. Salah satu penyair yang sering menulis sajak liris adalah Abdul Hadi WM dengan judul sajaknya “Sajak Samar” (1967).

Menurut Joko Pinurbo, sajak-sajak Fadjroel telah memberikan pelajaran bahwa bagi seorang penyair memainkan pena untuk melawan laknat politik merupakan pergulatan yang bukan tanpa risiko. Joko Pinurbo dalam bukunya yang berjudul “Berguru kepada Puisi” (2019) juga mengatakan bahwa ia menemukan pena yang telah berlumuran darah saat selesai menulis puisi—entah darah penyair atau darah musuh.

Bahkan, bisa jadi puisi ditulis sudah menggunakan pena yang berlumuran darah. Darah dalam sajak Fadjroel bukan hanya darah yang mengucur dari luka, tapi darah yang memberi warna kehidupan. [T]

Yogyakarta, 28 April 2021-11 Mei 2023.

Traumatis yang Dibalut Komedi dalam Cerpen “Ayat Kopi” Karya Joko Pinurbo
Gara-gara Kutukan dan Sumpah | Sejumlah Kisah Tentang Ajal
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: Emi SuyJoko PinurboPenyairPuisiSastra IndonesiaSitor SitumorangUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital

Next Post

Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Pinge, Desa Wisata Berbasis Tri Hita Karana

Yogi Dwi Pradana

Yogi Dwi Pradana

Seorang editor di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak dan online. Bisa disapa melalui IG: @yogidwipradana.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Pinge, Desa Wisata Berbasis Tri Hita Karana

Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Pinge, Desa Wisata Berbasis Tri Hita Karana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co