24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 10, 2024
in Esai
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

Salah satu bangunan di Singapura | Foto-foto: Gede Maha Putra

SINGAPURA memiliki luas wilayah yang relatif kecil,  bahkan yang paling kecil, jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, negara ini justru menjadi yang paling sejahtera secara ekonomi, paling siap secara infrastruktur, paling maju dari sisi pendidikan, serta memiliki pendapatan per-kapita paling tinggi di kawasan yang, secara tradisional, merupakan titik pertemuan perdagangan antara China dan Jepang di timur, dan India, Arab, serta Eropa di barat. Posisinya yang strategis inilah yang bisa dioptimalkan menjadi sumber pembangunan negara-kota ini.

Keuntungan dan keunggulan yang dimilikinya membuat Singapura menjadi magnet sejak masa prakolonial.

Penduduk Singapura merupakan campuran berbagai etnis di Asia dan kini juga etnis Eurasia. Kondisi ini serupa dengan kota-kota pelabuhan pada masa prakolonial hingga masa kolonial.

Pada masa itu, pelabuhan-pelabuhan menjadi kawasan metropolitan. Penguasa pribumi di pedalaman menjadi pemasok hasil pertanian sementara pengelolaan pelabuhan ditangani oleh etnis China yang sekaligus juga menjadi pemasok bahan dagangan dari kawasan Asia Timur.

Penduduk etnis India dan Arab memasok material dari Asia Barat hingga Eropa. Penduduk berbeda etnis ini menjakankan adat budaya dan agamanya masing-masing serta tinggal di kampung yang saling terpisah antara satu kelompok dengan yang lain. Di pelabuhan terjadi divisi pekerjaan yang membuat tata kelola pelabuhan dapat berjalan. Kepentingan ekonomi merupakan alat yang menyatukan kelompok yang berbeda ini. Ini adalah Plural society yang disebutkan oleh JS Furnival.

Kemajuan ekonomi yang diperoleh Singapura melalui cara kerja tersebut mampu secara pesat meningkatkan perekonomian negaranya. Lapangan pekerjaan yang kini tersedia melimpah di kota pelabuhan ini menarik minat orang dari negara lain, terutama negara tetangga, untuk datang mengadu peruntungan.

Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari seperempat dari total 5,64 juta penduduk adalah pendatang. Artinya, satu dari setiap empat orang penduduk merupakan yang tidak lahir di negara tersebut. Tingginya aktivitas ekonomi membuat jumlah penduduk luar negara terus bertambah.

Tingkat pertumbuhan jumlah penduduk ada di angka 3,4% dari bulan Juni 2021 ke Juni 2022. Angka ini cukup jauh dari pertumbuhan penduduk dunia sebesar 1.19 % per tahun selama periode 2011-2021.

Jumlah penduduk tersebut mendiami pulau yang minim sumber daya alam. Laporan Singapore Food Statistik tahun 2021 menyebutkan hanya 1% lahan negara tersebut disiapkan untuk memproduksi makanan. Akibatnya, 90% bahan pangan harus diimpor.

Keterbatasan lahan nampaknya juga mempengaruhi strategi pembangunan fisik yang dilakukan termasuk upaya penyediaan permukiman.

Selama tiga hari berkeliling ke beberapa tempat, gedung-gedung kotak tinggi mendominasi pemandangan di luar jendela bus. Itulah rumah susun hingga apartemen di mana penduduk tinggal. Pemerintah sangat membatasi rumah tapak demi menghemat lahan.

Pembangunan gedung-gedung tinggi membutuhkan material-material beton dan tenaga kerja dalam jumlah besar. Keduanya juga dipenuhi oleh supply dari luar negara. Beton-beton struktural dibungkus dengan material lembaran-lembaran metal dan kaca berbagai ukuran sebagai kulit utama bangunan.

Salah satu gedung di Singapura | Foto: Gede Maha Putra

Bahan-bahan bangunan tersebut bukanlah yang ramah terhadap lingkungan dan sering dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan. Akan tetapi, kebutuhan ruang yang terus bertambah membuatnya terus dipakai. Untuk itu, bangun-bangunan harus dibuat tahan lama untuk bertahan ratusan tahun. Selain menghemat biaya konstruksi, ini juga bertujuan memperpanjang usia bangunan, mencegah bongkar-bangun yang akan semakin merusak lingkungan.

Proses konstruksi bukan satu-satunya faktor merusak lingkungan dalam dunia tantangan bangun. Justru operasional dan perawatan bangunan bisa menjadi penyumbang dampak buruk terbesar. Kebutuhan energi untuk menerangi ruangan, menurunkan suhu di dalam bangunan agar para pengguna gedung merasa dan, untuk mesin-mesin yang membantu menaikturunkan manusia dari lantai ke lantai bisa menyumbangkan dampak negatif yang sangat besar.

Hal ini mendorong pemerintah mendukung setiap pembangunan yang memberi ruang hidup yang memadai bagi tumbuhan dan hewan melalui pemberian insentif. Insentif diberikan jika pengembang mampu meyakinkan pemerintah bahwa aktivitas pembangunan fisik yang mereka lakukan mampu menekan penggunan energi semaksimal mungkin hingga mendekati nol bahkan surplus, mampu mengelola air hujan dan limbah di dalam wilayah propertynya dan hal positif lain.

Di National University of Singapore, para perancang dan kontraktor bekerja bahu membahu untuk membangun pengetahuan yang mampu mendukung upaya mengurangi penggunaan energi dalam proses konstruksi dan operasional bangunan sekaligus menjamin keberlanjutan  negara dengan keterbatasan luas wilayah ini. Mempelajari kembali pengetahuan nenek moyang dan menerapkanya dengan penyesuaian terhadap konteks hari ini menghasilkan bangunan yang hemat energi.

Salah satu gedung di Singapura | Foto: Gede Maha Putra

Bangunan-bangunan dibuat porous, tidak masif, sehingga angin dapat bergerak bebas di sebagian ruangan yang sengaja dirancang minim sekat. Atap dibuat lebar sehingga bayangannya menaungi permukaan bangunan sekaligus menghindari tempias hujan.

Dalam kondisi dimana sekat tidak terelakkan, pendingin ruangan diatur untuk bekerja dalam suhu 28 derajat. Pendinginan dibantu kipas sehingga suhu 28 derajat tersebut terasa sekitar 24 derajat saja. Strategi ini meringankan kerja mesin, mengurangi penggunaan daya, sekaligus memperpanjang usia pakainya.

Finishing bangunan diaplikasikan seperlunya. Sebagian besar plafond dibiarkan terbuka memperlihatkan jaringan utilitas pipa air dan kabel listrik. Selain menghemat bahan, ini juga bisa menjadi bahan ajar bagi mahasiswa arsitektur.

Tindakan dan intervensi strategi desain baru untuk menjadikan bangunannya ramah lingkungan tidak hanya terjadi di bagian interior tetapi juga eksterior. Pohon-pohon besar dan kecil mendominasi halaman. Sekilas nampak seperti hutan.

Rewilding, demikian penjelasan salah satu profesor arsitektur tentang konsep tata hijau kampus terkemuka di dunia ini. Rewilding kurang lebih memiliki makna memberikan kesempatan kepada pepohonan untuk tumbuh sesuai kodratnya. Seperti di hutan. Ini juga membuat species berbagai binatang hadir di kampus.

Serangga, mamalia, juga burung hidup berdampingan, beraktivitas bersama para mahasiswa. Ini sering juga disebut dengan istilah biophilia sebagaimana dicetuskan oleh Edward O. Wilson.

Biophilia sebagai strategi desain nampaknya cocok dengan kondisi Singapura dimana keterbatasan lahan harus berhadapan dengan tingginya intensitas pembangunan. Membiarkan unsur alam untuk turut hadir dalam bangunan bisa menjadi penyeimbang tumbuh pesatnya tiang-tiang beton vertikal.

Baik pemerintah maupun masyarakat sepertinya menyadari keterbatasan sumber daya yang mereka miliki. Hal ini memberi sedikit tekanan bagi arsitek, desainer dan pengembang untuk terus melakukan inovasi.

Sekolah-sekolah arsitektur tidak hanya menjadi penyumbang lulusan tetapi sekaligus berperan sebagai laboratorium uji coba temuan atau ide baru, menghasilkan penelitian tepat guna yang membantu terwujudnya visi bersama.

Hasil dari kesadaran  bersama  dengan dukungan kebijakan pemerintah dan sumbangan pemikiran serta hasil kerja perguruan tinggi nampak nyata. Dalam lebih dari satu dekade terakhir banyak bangunan-bangunan yang telah diwujudkan untuk bekerja dalam konsep biophilia. Ini tentu membantu menciptakan ruang hidup yang baik bagi penduduk serta lingkungan alamiah negara tetangga Indonesia ini.

Akan tetapi tantangan tidak hanya datang dari dalam tetapi juga dari luar. Impor bahan makanan yang sangat tinggi rentan gangguan masalah distribusi. Persoalan pada rantai pasok bisa mengakibatkan kekacauan.

Ruang hijau pada salah satu gedung di Singapura | Foto: Gede Maha Putra

Upaya untuk menanam edible food di taman serta mengembangkan pertanian vertikal kini diupayakan. Selain itu, ada persoalan lain yang muncul dari strategi arsitektural yang terlihat seragam. Meski saya merasakan kenyamanan, entah mengapa tidak terasa hal yang menyentuh ‘rasa’.

Ada rasa tidak terkoneksi secara emosional. Pernyataan ini tentu sangat personal dan cenderung bias karena latar belakang saya yang tumbuh dan berkembang di lingkungan dengan latar belakang ikatan budaya yang kental. [T]

Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Pendidikan Arsitektur Berbasis Kearifan Lokal Nusantara
Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja
Tags: arsitekturarsitektur kotaKotapendidikan arsitekturSingapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Nikah!

Next Post

Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya…

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya…

Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co