25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup”: Relasi Antara Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Jaswanto by Jaswanto
November 1, 2023
in Ulas Pentas
“Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup”: Relasi Antara Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Jacko dan Wail dalam pertunjukan "Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup" / Foto: Medy

DI ATAS dua karung berisi beberapa jagung, Wail duduk dengan santai. Ia membawa kitab bersampul oranye tanpa judul. Kupluk dan sarung yang ia kenakan seolah menegaskan ia berasal dari mana. Dan sesaat sebelum Wail membuka kitabnya, di samping kanan lantai pertunjukan, Jacko sedang memperagakan gerakan mencuci tangan, seperti orang sedang mengambil wudhu.

Sementara Jacko masih melakukan gerakan tersebut, Wail mulai membuka dan membaca isi kitab yang dibawanya. Suaranya melengking, merdu, menyayat, penuh nasihat. Kitab itu berbahasa Madura.

Potongan adegan di atas berasal dari pertunjukan bertajuk Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup karya yang dipentaskan Jacko Kaneko, Mohammad Wail, dan Ninok Sulistyowati. Karya ini digelar di Black Box Studio 1 Produksi Film Negara pada Kamis (26/10/2023) sore dalam program Laku Cipta pada gelaran Pekan Kebudayaan Nasional 2023.

Di dalam karya ini, Jacko dkk. bekerja dengan Akbar Yumni (fasilitator); Tony Broer (dramaturg); Moch. Zam Zam Mubarok (penata cahaya/artistik); Heri Windi Anggara (musik); Palapa Cahaya Bintang (kru produksi); Medy Mahasena (dokumentasi); dan produser, yakni Agus Wiratama.

Secara teknis, dalam pandangan awam, jika Anda berkesempatan menonton pertunjukan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, barangkali Anda sepakat bahwa pertunjukan tersebut seolah menampilkan dua pertunjukan yang berbeda dalam satu panggung. Mohammad Wail, dengan segala kemampuannya mengolah suara dan tubuhnya, menampilkan isu pangan (jagung) di Madura, pulau kelahirannya, sedangkan Jacko Kaneko dan Ninok Sulistyowati menyuarakan tentang isu higienitas dan bagaimana riwayat pangan diolah langsung oleh tubuh—Jacko memberi contoh kedelai yang diproses menjadi tempe.

Jacko Kaneko dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Jacko, sebagai seorang koreografer, merepresentasikan gerak tubuh orang-orang mengolah tempe dan menjaga kebersihan diri (personal hygiene). Selama pertunjukan ia tak bergumam sedikit pun. Hanya saja, tubuhnya terus bergerak. Apa yang dilakukan Jacko sedikit banyak dijelaskan oleh monolog panjang Ninok Sulistyowati. Dan itu menarik. Ninok bukan pemain teater, ia seorang ibu pemilik rumah makan di Bali yang dekat, dan bersentuhan langsung dengan isu higienitas.

Pada karya Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, sebagaimana telah di jelaskan dalam narasi pengantar pertunjukan, Jacko dkk. berangkat dari pembacaan atas pangan dan tubuh, yakni persepsi orang-orang terhadap tubuh yang kerap disejajarkan dengan simbol kekotoran, noda, dan materi.

Akibatnya, persepsi tersebut membentuk anggapan bahwa makanan yang bersentuhan langsung dengan tubuh dianggap telah tercemar—meskipun pada kenyataannya, tubuh berkaitan erat dengan pangan. Bahkan, kaitan tersebut, dalam proses pengolahan makanan secara tradisional, misalnya, tubuh menjadi ukuran, dan kebersihan bukan semata-mata tentang yang materi atau yang fisik.

Jacko Kaneko dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Alhasil eksplorasi ini menjadi satu refleksi yang baik. Jacko dkk. menantang stereotip negatif yang eksotis atas apa yang disebut keterbelakangan dan higienis-tak higienis, modern-tradisional, serta layak-tak layak. Mereka memilih jagung dan tempe sebagai representasi atas stigma tersebut. Kedua benda (baca: makanan) yang telah disebutkan, selama ini dipandang sebagai keterbelakangan di satu sisi, dan tidak higienis jika diolah secara tradisional, di sini lainnya.

Sebuah Keganjilan

Mengenai pangan, makanan pokok di suatu daerah dipengaruhi oleh hasil alamnya. Jika alamnya lebih banyak menghasilkan jagung, maka jagung menjadi makanan pokok. Seperti Madura, misalnya. Dulu, orang Madura menjadikan jangung sebagai makanan pokok di samping umbi-umbian, sesekali, sebagai penggantinya. Selama bertahun-tahun, lidah mereka telah menyatu dengan rasa nasi jagung yang khas.

Dalam karya Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, Wail menghadirkan adegan orang Madura memipil jagung. Ia sampai harus mengeluarkan banyak tenaga untuk menggebuk-gebukkan beberapa jagung dalam karung ke lantai pertunjukkan. Sedangkan layar di belakangnya menampilkan sosok perempuan—yang wajahnya tak terlihat—sedang memipil jagung. (Dalam beberapa pertunjukan Wail memang selalu mengangkat lokalitas Madura, seperti dalam Biografi Garam atau Tabak—pertunjukan tentang tembakau Madura.)

Mohammad Wail dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Namun, saat ini tidak semua orang Madura menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Selain karena sudah ada beras, di daerah perkotaan, dengar-dengar, jagung memang sulit didapatkan. Apalagi ada stigma bagi masyarakat yang sehari-hari makan beras dengan makan jagung atau umbi-umbian. Masyarakat yang makanan pokoknya beras maka status sosialnya digolongkan lebih tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang makan jagung atau umbi-umbian status sosialnya dianggap lebih rendah atau digolongkan kelompok miskin.

Data Bapanas mengungkapkan, memang ada pergeseran pola pangan di Indonesia. Pada 2009, pola konsumsi pangan di wilayah timur Indonesia masih beragam. Selain makan beras, pada tahun itu orang masih dominan mengonsumsi jagung, ubi jalar, dan sagu. Namun, pada 2020 konsumsi beras dan terigu semakin mendominasi di Indonesia timur. Dan itu, mungkin, sedikit banyak dipengaruhi oleh beras-isasi pada masa pemerintahan Soeharto.

Banar. Dalam laporannya di tirtoi.d, Reja Hidayat mengungkapkan, beras-isasi pada masa pemerintahan Soeharto sedikit banyak memengaruhi sejarah keberagaman pangan masyarakat lokal di Indonesia. Beras menggusur Sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT), menggantikan Sagu di Papua. Diversifikasi ‘merangkak’ ini terjadi kira-kira selama dua dekade di masa Orde Baru, periode 1970 hingga 1980-an.

Mohammad Wail dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Ketika budaya beras masuk, lidah masyarakat—termasuk Madura—beralih yang awalnya biasa makan jagung kini harus nasi beras. Petani atau masyarakat pada umumnya, kalau belum makan nasi disebut belum makan—walaupun sudah makan ubi resbus sepiring.

Mengenai hal tersebut, beberapa orang menganjurkan untuk kembali mengonsumsi makanan lokal, tapi pada kenyataannya tidak mudah dilakukan. Butuh tenaga ekstra untuk mengubah cara berpikir masyarakat dan mengembalikan kepercayaan diri untuk mengonsumsi makanan lokal. Meskipun sejatinya mereka tahu, makan pangan lokal bukan berarti status sosialnya lebih rendah dibandingkan makan nasi.

Tetapi, bagi Wail, anjuran untuk kembali mengonsumsi pangan lokal ini adalah sebuah keganjilan. Hal itu menurutnya aneh. Dulu masyarakat seolah ‘dipaksa’ untuk mengonsumsi beras, sekarang, saat lidah orang desa sudah familiar dengan nasi putih, malah dianjurkan untuk kembali mengonsumsi pangan lokal. Ia merespon keganjilan tersebut dengan membaca dan menjelaskan isi kitab yang berbahasa Madura—yang bersampul oranye tanpa judul—dalam pertunjukan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup.

Pangan, Tubuh, dan Higienitas

Seperti yang sudah disampai di awal, bahwa Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup merupakan pembacaan atas pangan dan tubuh, yakni persepsi orang-orang terhadap tubuh yang kerap disejajarkan dengan simbol kekotoran, noda, dan materi. Persepsi tersebut, sekali lagi, membentuk anggapan bahwa makanan yang bersentuhan langsung dengan tubuh dianggap telah tercemar—meskipun pada kenyataannya, tubuh berkaitan erat dengan pangan.

Mohammad Wail dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Relasi antara pangan dan tubuh sebenarnya sangat erat. Makanan atau pangan sangat mempengaruhi tubuh manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makanan merupakan bahan utama untuk mengatur seluruh proses dalam tubuh, mulai dari pembentukan energi hingga penggantian jaringan dalam tubuh. Meskipun begitu, tak semua makanan baik bagi tubuh manusia. Apalagi kalau makanan tersebut diolah tanpa mengindahkan aspek higienitas.

Upaya hygiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makanan, penyimpanan makanan, dan penyajian makanan.

Makanan yang tidak dikelola dengan baik dan benar oleh penjamah makanan, bagi beberapa orang, dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi. Faktor kebersihan penjamah atau pengelola makanan yang biasa disebut hygiene personal merupakan prosedur menjaga kebersihan dalam pengolahan makanan yang aman dan sehat.

Sebagai orang yang secara langsung mengelola makanan, penjamah makanan akan sangat memungkinkan menjadi perantara masuknya suatu penyakit ke dalam makanan. Peran penjamah makanan sangat penting dan merupakan salah satu faktor dalam penyediaan makanan/minuman yang memenuhi syarat kesehatan. Personal hygiene dan perilaku sehat penjamah makanan harus diperhatikan.

Ninok Sulistyowati dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Narasi di atas barangkali hanya dipahami dan diperhatikan oleh orang-orang kelas menengah ke atas. Orang-orang desa-tradisional tak terlalu mengindahkan soal-soal demikian. Urusan higienitas adalah urusan ke sekian. Maka dari itu, dalam mengolah makanan, orang-orang di desa kadang masih menggunakan tubuh secara langsung, tanpa alat, tanpa mesin.

Dalam pertunjukkan Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup, Jacko menggunakan tempe sebagai objek laku ciptanya. Saya tidak paham betul atas pilihan tersebut, yang jelas, dalam konteks higienitas, produksi tempe, bagi sebagian orang, memang masih memiliki masalah tersendiri.

Benar. Pada kenyataannya, masih sedikit pengusaha tempe yang melakukan proses produksi dengan menggunakan peralatan secara modern dan bersih. Bahkan masih banyak proses produksi tradisonal yang, sekali lagi bagi sebagian orang, dilakukan secara tidak sehat seperti kedelai diinjak dengan kaki agar kulitnya terkelupas—dalam hal ini Jacko menampilkan gerakan menginjak-injak kedelai dengan artistik ke dalam pertunjukkanya.

Namun, menurut kacamata awam saya, dalam pertunjukkan ini Jacko seolah tak mau langsung membenarkan asumsi atau persepsi tersebut. Alih-alih ikut mengatakan bahwa hal tersebut tidak higienis, ia justru membuka ruang percakapan atas nilai sosial dan kultural yang melekat pada tubuh dan pangan. Seolah ia mengajukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab: Apa benar kedelai yang diinjak-injak itu otomatis tidak higienis? Bukankah dengan hadirnya mesin pengupas kulit kedelai justru kemudian menimbulkan  isu baru seperti segregasi antara modern-tradisional, layak-tak layak, atau higienis-tak higienis?

Ninok Sulistyowati dalam pertunjukan “Pangan dan Kata-Kata yang Tak Cukup” / Foto: Medy

Atau, siapa yang tahu jika makanan/minuman yang disajikan di restoran atau hotel bintang lima lantas diolah secara higienis? Bukankah, menurut cerita Ninok dalam pertunjukan, ia memiliki seorang teman yang pernah meludahi makanan yang hendak disajikan untuk tamunya? Lalu, siapa yang bisa menjamin higienitas?

Alih-alih memberi jawaban, dalam pertunjukannya Jacko seolah hanya melemparkan isu semata; hanya menjadi pemantik belaka. Sebagai penonton kita diajak untuk merefleksikan, merenungkan, dan menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan tersebut. Meski pada akhirnya, mungkin, kita tahu bahwa persoalan higienitas adalah urusan masing-masing. Namun, terlepas dari itu, yang jelas, sekali lagi, dalam sejarah peradaban manusia, pangan dan tubuh memang memiliki hubungan yang erat—bahkan tak bisa dipisahkan, sekalipun ada mesin yang siap menggantikannya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait PEKAN KEBUDAYAAN NASIONAL 2023 atau artikel lain yang ditulis JASWANTO

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Tags: pekan kebudayaan nasionalseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Riwayat dan Prestasi Tim Bola Voli Padang Bulia Serta Persoalan yang Dihadapinya

Next Post

Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Teater dan Oleh-Oleh dari Jogja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co