22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
September 21, 2023
in Esai
Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Pemutaran film dari Doha Film Institute di Minikino Film Week 2023 | Foto: Dok. tatkala.co

SELAIN berolahraga, menonton film juga menjadi hiburan alternatif, untuk hanya sekadar bersantai, menghilangkan rasa bosan atau melepaskan penat dengan rutinitas sehari-hari. Selain itu, menonton film juga dapat digunakan sebagai terapi, atau cinematherapy bagi penontonnya. Untuk sekadar informasi saja, cinematherapy merupakan proses penggunaan film-film layar lebar atau televisi untuk tujuan terapi kesehatan.

Menurut Gary Solomon, Ph.D, psikolog dari College of Southern Nevada, ketika menonton film, seseorang bisa meluapkan semua perasaannya, dari menangis, berteriak, hingga merenung tanpa mengkhawatirkan opini dan penilaian orang lain.

Film juga memungkinkan penontonnya ikut tenggelam ke dalam cerita, menjadi satu dengan tokoh, hingga memperoleh pesan yang terselip dalam cerita. Hal ini bisa membantu proses terapi kesehatan mental, dan memperoleh inspirasi positif untuk perkembangan diri.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan diatas, bagi saya, menonton film, selain menjadi sebuah hiburan, juga menjadi media belajar yang akhir-akhir ini saya gemari.

Di Singaraja, misalnya, terdapat platform Singaraja Menonton, yang fokus memutar film-film pendek, screening film dan workshop yang diinisiasi Kardian Narayana—saya lebih akrab memanggilnya Bang Cotex, yang belakangan saya tahu, selain seorang jurnalis Kompas TV, ia juga salah satu programer film Indonesia Raja.

Dari Singaraja Menonton, kegemaran saya menonton film dimulai. Karena, selain disuguhkan serial film yang barangkali tidak ada di Yutub maupun media sosial lainnya, di platform tersebut kami diberi kesempatan untuk menyempaikan penfasiran, kritik film, berbagi cerita, pengalaman, dan lain sebagainya.

Tapi, entah bagaimana ceritanya, ketika menonton film, luar negeri maupun film lokal, untuk sekarang, saya lebih fokus kepada subtitle-nya daripada visual grafiknya. Padahal, seingat saya, dulu waktu masih kecil, barangkali masih sekolah dasar, ketika menonton film saya hanya tertarik melihat visualnya saja.

Maka tak heran, dulu saya lebih hafal gerakan-gerakan kungfu yang ada pada film Shaolin Soccer (2001)—yang dibintangi Stephen Chow sekaligus merangkap sebagai sutradaranya itu—misalnya, daripada narasi yang disampaikan dalam film tersebut.

Atau gaya bertarung Takiya Genjie yang diperankan Shun Oguri pada serial film Crows Zero (2007) karya Hiroshi Takahashi lebih menarik untuk ditiru dari pada memahami alur ceritanya.

Namun, sepertinya siklus menonton film memang seperti itu. Ketika masih kecil, apa yang kita lihat di film seakan-akan adalah sebuah kahurusan yang harus ditiru. Saya masih ingat, dulu, waktu masih SMP, ketika keluar kelas atau jam pelajaran sedang kosong, kami sering melakukan tindakan yang diadaptasi dari film Punk In Love (2009) besutan Ody Harahap seperti, misal, ketika tokoh Arok yang diperankan Vino G Bastian sedang berkelahi, meniru gaya berpakaian Yoji, atau meniru gaya berbicara Mojo—yang meledak-ledak seperti orator ulung itu.

Sekarang, saya malah tidak mendapatkan perasaan itu. Perasaan untuk meniru, baik gaya berbicara maupun style-style tokoh yang ada pada film yang saya tonton. Saya lebih asik dengan, sekali lagi, subtitle-nya daripada visualnya.

Untuk ukuran orang awam seperti saya, orang yang tidak benar-benar mengerti—atau dalam bahasa Jawa nol putul—bahasa Inggris, membaca subtitle dapat sedikit membantu memahami apa arti dari film yang saya tonton. Sehingga, saya tidak mengalami kesalahan memaknai sebuah film. Meskipun ada juga orang-orang yang memang dapat memahami makna suatu film hanya dengan melihat visualnya saja.

Dulu, saya mengira, film Shaolin Soccer hanya sebatas film tentang permainan sepak bola, tetapi setelah saya menonton ulang, tentu menonton yang saya maksud di sini bukan sekadar melihat visualnya, melainkan fokus kepada subtitle-nya, ternyata film tersebut menceritakan kecurangan mafia-mafia bola dalam memainkan sebuah pertandingan dan penggunaan dopping dalam dunia sepak bola. Meskipun dalam film Shaolin Soccer juga banyak dibumbui dengan efek-efek yang menurut saya berlebihan.

Kesalahan selanjutnya, saya mengira film Crows Zero hanya sebuah perebutan penguasa sekolahan saja, tapi lebih daripada itu, ada informasi mengenai budaya Yakuza di Jepang dan permasalahan tentang cinta.

Juga tentang film Punk In Love, dulu saya mengiranya mereka hanya sekumpulan anak punk yang dalam istilah punk disebut “ngestreet” —melakukan perjalanan dengan cara nggandol di bak-bak truk yang lewat—melainkan tentang jati diri anak muda yang ingin terbebas dari segala peraturan dan sebuah tekat yang harus dibuktikan kepada orang yang dicintainya.

***

Soal film-film impor, yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asal film tersebut, saya memiliki kisah konyol yang terjadi baru-baru ini.

Saat ini saya sedang diajak salah seorang kawan untuk menghadiri salah satu festival film di Bali. Namanya Minikino Film Week-9 Bali International Short Film Festival. Salah satu tempatnya ada di MASH Denpasar di Jl. Pulau Madura No. 3, Denpasar Barat.

Karena acaranya berskala international, tentu filmmaker yang hadir bukan hanya orang Indonesia, tapi juga orang-orang dari luar negeri seperti Kanada, Iran, Korea Selatan, dan lain sebagainya. Dan sudah pasti, film yang diputar juga bukan hanya film yang menggunakan bahasa Indonesia, tapi juga menggunakan bahasa asal film tersebut.

Sehingga, benar saja, setelah beberapa hari menonton film, selama itu juga, saya lebih fokus menonton atau membaca subtitle-nya alih-alih menikmati sajian visualnya. Jadi, kalau sudah balik ke Singaraja, barangkali saya tidak akan bisa menceritakan adegan-adegan dalam film yang diputar dengan detail. Karena, selain tidak bisa bahasa Inggris dan bahasa lain di luar bahasa Indonesia, saya pikir—-setidaknya menurut saya—-memahami inti cerita dari sebuah film lebih menarik daripada hanya sebatas menikmati sajina visualnya, bukan.

Namun, rencana awal saya untuk fokus menonton subtitle itu ternyata tidak berjalan lancar. Mengingat, tidak semua film menggunakan subtitle bahasa Indonesia. Akhirnya, nasib lucu—atau lebih tepatnya sial itu—datang juga.

Begini, dalam serangkaian Minikino film week -9 ini, saya sempatkan menonton program film dari Doha Film Institute dan kebetulan filmmaker-nya hadir dalam pemutaran film tersebut—untuk memberi sambutan dengan Bahasa Inggris, yang entah apa artinya, saya tak paham.  Saat itu saya merasa seperti penonton bayaran saja, kalau audiens tertawa, saya ikut tertawa, dan kalau semua tepuk tangan, saya pun ikutan tepuk tangan.

Saya pikir kesialan ini sudah sampai pembukaan film saja, ternyata dugaan saya salah besar. Firasat saya sudah tidak enak sejak awal dan ternyata benar, film yang diputar menggunakan bahasa Arab, dan lebih sialnya lagi subtitle-nya menggunakan bahasa inggris dan kadang juga bahasa Arab.

Jadi, bukannya menikmati film, saya malah merasa sedang belajar mengaji seperti sebelas tahun silam. Alhasil, jangan tanya bagaimana kelanjutan film itu, sebab, belum benar-benar selesai diputar, saya memutuskan keluar ruangan layaknya orang habis kena tipu. Ternyata, dalam hal ini, meski ada subtitle-nya, tapi itu tidak dapat membantu apa-apa. Sial![T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya YUDI SETIAWAN

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: esaifestival filmfilmMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu

Next Post

“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

"Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co