2 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
July 30, 2023
in Ulas Pentas
Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran

Pentas "AH" Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar | Foto: Darma Putra

IKUT TERPUKAU bersama penonton saat menikmati pentas “AH” dari Teater Mandiri pimpinan sastrawan maestro Putu Wijaya dalam rangka Festival Seni Bali Jani di Ksirarnawa Taman Budaya, 29 Juli 2023. 

Kehebatan akting para pemain dan kekhasan lakon yang menteror mental gaya Putu Wijaya merupakan dua unsur utama penampilan Teater Mandiri yang membuatnya menjadi memukau selama hampir dua jam. Karena terpukau, waktu serasa cepat selesai atau terlampau tak terpantau.

Pentas “AH” Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, 29 Juli 2023 | Foto: Darma Putra

Relatif sedikit yang datang menonton pertunjukan hebat itu. Di barisan kursi depan, ada Bunda Putri Suastini Koster dan beberapa sahabat lamanya di Teater Mini Badung. Di belakang itu, ada budayawan, dosen, mahasiswa yang berminat pada teater, atau merupakan sahabat dan fans sastrawan maestro Putu Wijaya. Di sebelah saya duduk, misalnya, ada ahli filsafat Tommy F. Awuy, yang pensiun di Bali sambil terus meneliti kebudayaan.

Pentas ditayangkan lewat Youtube, jadi sebagian lainnya menonton secara daring.

Sedikit atau banyak penontonnya, pentas “Ah” Teater Mandiri benar-benar menghipnotis audiens. Pentas diawali dengan monolog oleh Putu Wijaya sendiri, di sisi utara panggung, di atas kursi roda. Dalam kondisi usia dan kesehatan yang agak akut, Putu Wijaya masih hebat tampil dengan konten cerita yang membolak-balik pikiran pendengarnya. Istilah Putu adalah konten yang disampaikan berupa ‘teror mental’, tujuannya mengganggu orang untuk berfikir dan terus berfikir. 

Berhenti berpikir adalah sesuatu yang tidak diinginkan Putu Wijaya. Pesannya seolah bahwa siapa berhenti berpikir akan dilanda beku, sebaliknya siapa terus berfikir, inovasi kiranya akan hadir.

Pentas “AH” Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, 29 Juli 2023 | Foto: Darma Putra

Lakon ‘Ah’ ditulis dan dimuat dalam buku kumpulan naskah drama Putu Wijaya berjudul Tontonan Teror Mental (2021), diterbitkan dalam rangka HUT ke-50 Tahun teater Mandiri. Lakon “AH” tertuang dalam 42 halaman, dibagi ke dalam beberapa babak. Lewat sahabat dramawan Putu Satria, saya mendapat bingkisan buku ini dari Putu Wijaya. Tahun 1992/3 saya pernah jumpa dan ditugaskan mengantar Putu Wijaya di Sydney oleh Prof. Peter Worsley, terutama menjelang melakukan rekaman wawancara untuk korpus data pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing di Australia.

Ketika beliau masih sehat, Putu sesekali bertukar kabar dan pokok pikiran lewat SMS/WA. Kalau dia ada karya yang terbit, atau link video yang layak saya sebar untuk mahasiswa, Putu Wijaya suka-cita membagi untuk saya teruskan.

Lakon ‘Ah’ ditulis dan dimuat dalam buku kumpulan naskah drama Putu Wijaya berjudul Tontonan Teror Mental (2021) | Foto: Darma Putra

Sekitar 20 hari sebelum pentas ‘AH’, Putu Wijaya juga mengirim flyer ke WA saya untuk saya teruskan ke kawan-kawan atau mahasiswa lewat berbagai grup WA. Dalam WA itu, Putu menulis “Senang sekali bila berkenan hadir”. Dalam situasi kesehatan yang terbatas, tulisan WA sepotong itu sangat berharga.

Kembali ke “Ah”. Kisah aktual, tema universal, dan pemain yang berpengalaman membuat pentas Tetaer Mandiri senantiasa memukau.

Teater Mandiri sudah tampil beberapa kali di arena Festival Seni Bali Jani, membuat festival yang dirintis oleh Bunda Putri Suastini Koster ini berkelas. 

Pertunjukan Puncak

Dramawan, pemain, penulis naskah, dan sutradara teater terkemuka Bali, Putu Satria Kusuma dalam status FB-nya menyampaikan, Teater Mandiri menjadi pertunjukan puncak Festival Bali Jani V melalui lakon “AH”

Permainan yang cepat dengan teknik bermain yang cukup rumit dibawakan secara apik oleh para aktor dari awal adegan sampai akhir. Pingpong dialog pendek pendek sambil melakukan aktivitas yang disuguhkan oleh dokter, pembantunya, kakek, lalu ke dukun, kepala suku, anak perempuan, anak kepala suku, menunjukan kematangan aktor yang mumpuni, yang hanya bisa diekspresikan dengan keren oleh aktor-aktor yang sudah terlatih.

Selain itu, sentuhan surealis yang mengingatkan pada gaya teater rakyat hadir menarik dan unik dalam adegan telepon-menelpon kakek dan cucunya si dokter yg bertugas di pedalaman. Si cucu yg menerima telepon dari ruang berbeda bisa nyelonong masuk meninggalkan ruangnya yg jauh lalu masuk ke ruang kakek untuk memutus pembicaraan. Ini menarik dan dahsyat.

“Bagi saya Putu Wijaya sebagai penulis lakon dan sutradara melalui pertunjukan ini memberi pelajaran yang berharga untuk semua pelaku seni teater, khususnya di Bali, tentang teknik bermain, dan capaian capaian artitistik pengadegan teater,” tulis Putu Satria.

Di akhir komentarnya, Putu Satria yang banyak terlibat dan membantuk suksesnya Festival Bali Jani menyampaikan: “Suksma Bli Putu Wijaya dan semua anggota Teater Mandiri. Suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster, Kadisbud Bali, dan semua kurator atas pertunjukan ini.”

Tahun 2019, Putu Wijaya diundang tampil dan saat itu mereka mementaskan ‘kisah klasik’ “Bila Malam Bertambah Malam”. Tak tanggung-tanggung, pemain yang muncul memperkuat waktu itu adalah Ninik L. Karim, pemain teater yang sukses menjadi bintang film, antara lain main dalam film “Ibunda”.

Dari kiri: Putri Suastini Koster, Dewi Pramunawati (istri Putu Wijaya), Putu Wijaya, dan Putu Satria Kusuma | Foto FB Putu Satria

Tahun 2018, Putu WIjaya dan Teater Mandiri menampilkan “JPRUTTT” pentas dalam dalam rangka Proklamasi Kemerdekaan 19 Agustus 2018. Lakon juga dibangun dengan tema ‘teror mental’ itu menyenggol, menyayat, mengkritik berbagai hal dalam konteks, politik, kejujuran, keterbukaan, dan juga kepalsuan.

Menurut penyair sastrawan Warih Wisatsana, salah seorang kurator Festival Seni Bali Jani, Putu Wijaya dan Teater Mandiri-nya setiap tahun hadir, selama 5 tahun. 

“Teater Mandiri sudah tak  ada soal teknis lagi, perangkat aktor sudah organis dengan diri masing-masing,” ujar Warih. 

Warih menambahkan,bahwa bagi Putu Wijaya absurditas bukan lagi kehampaan ala Albert Camus, Sarte dll sudah menjadi bagian kekinian kita kini. “Dan Putu berhasil menghadirkannya ke panggung sebagai pengalaman penciptaan yang mempesona,” ungkap Warih.

Ninik L Karim (kanan) dalam “Bila Malam Bertambah Malam”

Untuk Bali, Putu Wijaya (kelahiran Puri Anom, Tabanan, 11 APRIL 1944) yang rendah hati dan murah hati itu selalu sedia tampil baik berbagi mutiara sastra dan budaya. Dulu, saat masih sehat, dia sering datang ke Bali baik untuk seminar, diskusi, atau syuting film. Di sela-sela kesibukan acara pokoknya, Putu juga sudi memenuhi fans atau mahasiswa untuk berbagi. 

Dalam pentas di Taman Budaya 29 Juli 2023, saya terharu ketika usai pentas, tatakala semua kru diperkenalkan, tersebut pendukung Teater Mandiri dari Bali. Di antara mereka, tampak mahasiswa kami ari Prodi Sastra Indonesia FIB Unud. Senang melihat mereka bergabung dan yakin akan bisa belajar banyak dari Putu WIjaya dan Teater Mandiri.

Suatu kali dulu awal 2000-an, kami mengundangnya ke kampus Fakultas Sastra dan di sana dia membaca cerpen, monolog, membaca cerpen “Merdeka”, isinya juga teror, tentang seorang anak bernama “Merdeka” yang berjalan terbalik karena dia memasang kelamin almarhum ayahnya di dahi, sebuah teror terhadap pikiran normal. Dari sana, berbagai tafsir tentang norma, nilai, kebenaran diungkapkan, itulah proses berfikir-dan berfikir yang didambakan Putu agar selalu terjadi pada setiap orang.

Bintang dan kru Mandiri, termasuk mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unud | Foto: Darma Putra

Selain selalu ditemani istrinya, Putu juga dalam pentas-pentas di Bali belakangan ini, didampingi anaknya, Taksu Wijaya. Taksu memiliki bakat hebat, senantiasa memainkan (salah satu peran) tokoh utama, termasuk saat mementaskan “Bila Malam Bertambah Malam” (2019) dan “AH” (2023).

Dalam usianya memasuki 80 tahun dan kondisi fisik yang rentan seperti terlihat mesti memakai kursi roda, Putu Wijaya terus berkarya, menulis cerita dengan satu jari di HP, terus menyuburkan sawah ladang kehidupan sastra budaya teater Indonesia.

Sehari setelah pementasan, Putu Wijaya yang rendah hati itu pun kembali berkabar ringaks lugas: “Matur sukma atas kehadiran dan apresiasinya. Salam hormat.”

Saya membalasnya di WA dan di sini: Salam hormat kembali Putu Wijaya. Sehat selalu happy senangtiasa teriring doa PUJA untuk Putu Wijaya. [T]

Suka-cita usai pentas, penulis (kiri) dan penyair kurator Warih Wisatsana (baju kotak-kotak) | Foto Diah Suthari

  • BACA artikel ULAS PENTAS yang lain
“Nguber Berita ka Nusa”: Perpaduan antara Sastra, Komedi, dan Realita
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  
Tags: Festival Seni Bali JaniPutu WijayaTeaterTeater Mandiri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gamelan Mulut (Gamut) Mengocok Perut  Orang Eropa

Next Post

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails
Next Post
Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. ‘Ada Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co