6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Konsumsi

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 21, 2021
in Esai

Foto: Google Image

I

Puisi menggelayut di antara dua kutub: pamflet dan khotbah.

Sebagai salah satu bentuk ujar manusia, dalam bentuk kata-kalimat, puisi dipercaya sebagai cara berungkap yang paling “canggih”. Di sana penghayatan rasa dan pencapaian basa dituntut hadir secara bersama. Dengan kemampuan menangkap kelebat kehalusan rasa suara cemara yang berderai, seseorang belum tentu secara serta merta mampu mengungkapkannya menjadi puisi sebelum ia mencapai pencapaian “ba(ha)sa” yang memadai.

Rasa menyangkut persoalan ketulusan, kejujuran, kejernihan, dan keterbukaan seseorang untuk memasuki “ruang di dalam diri”. Basa menyangkut keuletan untuk mengekplorasi kata di wilayah semantik dan sintaksis, menyangkut gairah seseorang untuk mencari kemungkinan berungkap agar tidak terjebak klise sehingga hanya mungkin diraih oleh seorang yang dengan gigih memasuki “ceruk dan ruangan di dalam kata”.

Sekalipun tidak lagi seseorang terantuk pada persoalan basa, kecenderungan besarnya niatan seseorang untuk menggurui dan memceramahi pembaca akan membuat ia terayun ke arah penulisan khotbah. Atau, jika ia berniat untuk mempropagandakan ide, gagasan dan ideologinya, ia akan terayun ke sisi yang lainnya: pamflet.

Khotbah meliputi penyederhanaan janji-janji surgawi, keyakinan semu tanpa nalar dalam meraih pencapaian batiniah, bermuatan pesimisme pada kehidupan yang berciri khas menyalahkan kehidupan (bahkan membencinya) dan terkadang memilih mati untuk menyudahinya. Seolah-olah kehidupan ini adalah ruang antara belaka, satu-satunya yang eksis adalah “kehidupan setelah kematian”. Walhasil, kehidupan ditampik.

Sementara yang berada di sisi lain adalah pamflet. Di sini segala sesuatu cenderung dianggap punya dalil yang pasti dan kata-kata “diringkus” untuk menjabarkan sesuatu, tetapi sesungguhnya menyerderhanakan kompleksitas kehidupan. Walaupun mengandung ajakan untuk bergerak, bersekutu, dan “berjuang”, dalam pamflet kehidupan menjadi persoalan matematik yang beku.

Politikus dan ahli pemasaran adalah makhluk yang paling sering menggabungkan khotbah sekaligus pamflet dalam kiat-kiat mengaet konstituen dan konsumen. Iklan atau pidato menjustifikasi diri untuk membuat “surga di dunia” dengan “dalil-dalil” yang dikemas dalam bahasa pamflet.

Keduanya adalah sah, pamflet maupun khotbah memiliki posisinya dalam sebuah masyarakat, mempunyai perannya untuk “mendorong paksa” atau menjadi “kompor”, tetapi keduanya ini tidak membuat kita “tergetar-haru”. Lantas, apa istimewanya sebuah puisi yang tidak terjerumus ke arah khotbah dan pamflet yang banal, dengan sebuah puisi yang terlalu berayun-ayun ke arah dua kutub itu?

Daya ungkap yang baik, yang muaranya dari tanggapan rasa yang sungguh dan jujur, akan melahirkan kebeningan. Pesan sebuah puisi yang mampu memadukan pencapaian rasa dan basa, sekalipun tidak vulgar dan bertele-tele, berpotensi lebih bening dan transparan muatan rasa atau pesan yang hendak dituturkannya.

Untuk berbagi tentang bagaimana seseorang bisa menghayati keberadaan Sanghyang Parama Kawi (Tuhan Sang Pencipta Yang Agung), seorang kavya atau penyair Jawa Kuno, tidak memberikan sebuah formula instan. Ia menggambarkan bahwa bayangan bulan akan tampak dalam sebuah tempayan yang airnya tenang. Pesan itu sungguh transparan dalam sebuah metafora pilihan sang kavya, sebuah imaji yang mudah terbayang dan bergoyang dalam benak pembaca seperti goyang air dalam tempayan.

Pembaca yang jeli dan punya “keterbukaan” untuk mendengar bisikan kata yang tertulis, tak bisa dikelabuhi dengan tumpukan kata-kata yang “gelap” sekalipun secara sintaksis “masuk akal”. Ketidakjujuran (barangkali kebingungan) penyair yang tersurat dalam sajak-sajak tertentu akan membuat “pembaca yang terbuka” seperti diguyur atau dibanjiri limbah. Bukan pencerahan atau “penyucian” yang dituai ketika usai membaca puisi, malah perasaan sesak datang menusuk.

Seseorang pembaca yang jujur, bila berhadapan dengan puisi yang penuh kalimat-kalimat gelap tanpa kejujuran rasa, jejal “makna tak bermakna” yang berhamburan, bisa jadi akan merasa muak dengan puisi tersebut. Jadi, di samping puisi berayun seperti bandulan ke arah pamflet dan khotbah, dia berisiko menuntun kita memasuki lorong kegelapan yang tidak berujung, dan tidak ada cahaya di dalamnya.

Dalam dunia yang berlimpah informasi (cetak dan siar), kesanggupan penyair untuk menyuguhkan “kejernihan”, yang bersumber dari rasa dan pencapaian basa adalah sebuah “jalan sempit” yang dimiliki oleh para penyair. Andai para penyair menyuguhkan sesuatu yang tidak “jernih” maka serakan iklan yang terus ditayangkan setiap detik selama 24 jam, berbagai propaganda dan pamflet politik atau selebaran sebuah partai, serta gosip yang menggejala di tengah keseharian kita akan menutup “jalan sempit” yang dimiliki penyair yang (sekiranya) berikhtiar untuk ikut mengambil peran serta dalam “penghalusan peradaban” kita. Ruang yang dipenuhi informasi komersial cenderung kedap terhadap keberadaan dan usaha-usaha “kemanusiaan” yang ingin disuguhkan dalam karya-karya sastra atau puisi.

II

Di tengah “industri kebudayaan” (Horkheimer dan Adorno), “industri kesadaran” (Enzensberger), “industri ilusi” atau “industri pengalih perhatian” (Haug), puisi dan karya-karya sastra, disadari atau pun tidak, sedang digusur dengan “estetika konsumsi”.

Ruangan-ruangan keluarga telah betul-betul dihimpit oleh TV yang setidaknnya setiap 10 menit menayangkan iklan. Puisi tak punya tempat di siaran TV. Anak-anak memasuki “dunia kata” lewat bujuk rayu iklan. Susunan kalimat yang utuh yang bisa disusun oleh seorang anak kecil tidak jarang berasal dari celetukan sebuah iklan. Anak-anak juga belajar “puisi” dari iklan. Sebuah iklan bisa lebih “puitis” dari sebuah puisi pemenang sebuah lomba puisi bergengsi sekalipun. Sebuah ajakan berbelanja bisa lebih canggih dalam diksi dan bentukan kalimatnya dibanding sebuah puisi. Namun, ini bukan kabar gembira. Maka kata, tidak jarang, oleh anak-anak pertama-tama dipahami dalam konteknya sebagai alat yang berfungsi untuk membujuk seseorang, terutama untuk berbelanja.

Seandainya ba(ha)sa mereka sadari pertama-tama sebagai alat transaksi dan sarana periklanan, dalam masa yang paling dini kehidupan seseorang, secara kognitif ia telah dijatuhkan ke dalam kepalsuan. Pemahamannya terhadap kata (selanjutnya bahasa) bukan lagi sebagai sarana untuk memahami kedalaman kemanusiaannya, tetapi sarana transaksi, baik yang menyangkut untung rugi emosional maupun finansial. Inilah agenda “estetika komersial”.

Estetika konsumsi atau estetika komoditas (seperti apa yang dirumuskan Wolfgang Fritz Haug dalam Critique Commodity Aesthetics: Appearance, Sexua1ity and Advertising in Capitalist Society, 1986) meliputi janji kebahagiaan yang direkayasa oleh para pengiklan melalui konsumsi citra-citra yang menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan sensualitasnya.

Konsep itu mendeskripsikan cara-cara estetika diintegrasikan ke dalam produksi, distribusi dan pemasaran komoditas secara lebih spesifik, estetika komoditas mengacu pada “suatu keindahan yang dikembangkan untuk membantu pewujudan nilai tukar, dengan cara itu komoditas-komoditas dirancang untuk merancang di dalam diri para penonton keinginan untuk memiliki dan dorongan kuat untuk membeli” (Haug 1986, h. 8). Dengan kata lain, estetika komoditas menggunakan estetika untuk menjual produk dan kapitalisme konsumen dalam bentuk iklan, pengemasan, pemasaran, dan pameran.

Estetika komoditas membentuk nilai-nilai, persepsi-persepsi dan tingkah laku konsumen daripada individu dalam masyarakat kapitalis kontemporer sehingga mengintegrasikannya dalam gaya hidup kapitalisme. Estetika (termasuk kekuatan puitika kata dan visual) dikemas untuk menjadi hamba sahaya yang berbaris untuk memanipulasi, menjadi kekuatan yang mampu memancing hasrat terdalam kita untuk membeli produk yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan oleh individu-individu, seakan akan hidup yang baik (a better life) hanya bisa diperoleh dengan jalan mengkonsumsi sebanyak mungkin.

Dalam tahun-tahun belakangan, di negeri kita ini hampir setiap dua kali sebulan berbagai merek telepon genggam meluncurkan produk terbarunya dengan “inovasi estetika”; sehingga telepon yang lainnya, yang baru hanya terpakai satu bulan sudah terasa usang.  Inilah yang disebut sebagai “keusangan yang direncanakan”. Kehidupan terasa tak bergerak tanpa fesyen yang memberi ilusi yang menipu dan jika kita tak mengikutinya, kekuatan estetika komoditas itu membuat kita merasa ada yang salah dengan kehidupan kita, seakan membeku tanpa mengikuti fesyen. “Penampakan selalu menjanjikan lebih banyak dan lebih banyak lagi dan pada yang dapat diberikannya. Dengan cara ini ilusi menipu” (Haug, 1986, hlm. 50).

Baudrillard (1970) juga melihat bagaimana estetika komoditas mempengaruhi individu untuk menginginkan atau membeli produk tertentu. Ia merumuskan hal ini sebagai “ekonomi politik tanda” yang membuat individu-individu terintegrasikan ke dalam  masyarakat konsumen. Bagaimana deskripsi Haug mengenai bagaimana pencakupan estetika dalam iklan, pengemasan, pemajangan, dan lain-lain senada dengan analisis Baudrillard mengenai bagaimana “keambrukan” estetika dan komodifikasi dalam masyarakat kapitalis kontemporer memberikan estetika komoditas dan suatu komodifikasi seni dan estetika. Fenomena ini tentu saja jelas dalam iklan yang memanfaatkan teknik estetika yang paling maju untuk menjual komoditas dan mempromosikan konsumsi sebagai suatu cara hidup (Keller, 2004).

Industri ilusi itu demikian kuat memberangus kehidupan kita. Demi fesyen dan penampakan luar (bergaya trendy), kalau dihitung mungkin jutaan karyawan dan ibu rumah tangga rela berhutang. Koran-koran memberitakan tindakan nekad-konyol siswa-siswa mencuri sepeda motor atau HP temannya. Hasrat yang ditiupkan estetika komersial menjadi “pemantik” tindakan-tindakan yang “tidak proposional” itu.

Denpasar atau pun kota-kota lainnya di seluruh dunia, penduduknya sedang menghadapi “realitas” yang sama. Realitas kehidupan hari ini adalah manusia dibujuk oleh hasratnya untuk menenggelamkan diri dalam nama-nama atau merek dagang dan berkompetisi dalam citra-citra yang ditimbulkannya. Industri iklan yang sedemikian cerdas-bahaya, meringkas ceramah pemasaran yang panjang dalam bentuk visual yang melintas di televisi dalam hitungan detik, sebuah pemrogaman tubuh yang sangat efektik, dan hidup dirancang menjadi fesyen yang mampu menutupi hasrat sensualitas manusia (khususnya anak muda). Kehidupan bukan lagi persoalan untuk mencapai keteguhan batiniah, namun telah termakan kesibukan berkonsumsi yang dimotori oleh iklan dengan berbagai teknik-teknik industri ilusi atau pengalih perhatian.

Apakah ada ruang tersisa bagi puisi atau sajak?

Dalam dunia yang ditutupi oleh bayang-bayang industri ilusi, masih ada ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh estetika konsumsi (kapitalisme). Ruang-ruang itu, dalam pandangan Haug, hanya dapat diisi oleh sosialisme (1986, hlm.121—22). Dalam hal ini tentu tidak semua orang sepakat dengan Haug.

Ruang-ruang kosong itu adalah peluang bagi semua kemungkinan kreativitas dan penggalian manusia, bukan hanya monopoli -isme tertentu. Ruang itu terbuka untuk semua sisi kemanusiaan kita yang tidak mengabdi kepada pengukuhan konsumsi sebagai jalan terbaik yang harus ditempuh untuk mencapai “hidup yang baik”. Pada ruang inilah puisi punya kemungkinan untuk turut memberi andil pada peradaban.

Konsumsi menyibukkan kehidupan kita untuk berurusan dengan penampakan luar dan ilusi, lupa pada nilai-nilai batiniah; puisi memberikan kita kesempatan melihat ke dalam diri, merenung untuk menghayati kemanusiaan kita untuk terlepas dari segala ilusi dan “tempelan merek”.

Puisi-puisi pada abad ini ditantang untuk merebut ruang-ruangan kosong itu. Semakin banyak puisi dilahirkan di abad ini akan semakin baik karena mereka dilahirkan untuk tidak membiarkan “estetika komoditas” hidup tanpa pesaingan. Kesadaran inilah yang harus dibangun untuk tetap menulis dan mempublikasikan puisi dan karya-karya sastra karena membiarkan “estetika komoditas” tumbuh liar tanpa kehadiran puisi dan sastra adalah sama artinya membiarkan modal mengkolonisasi kebudayaan dan kehidupan sehari-hari kita; sama artinya membiarkan estetika (semata-mata) menjadi hamba untuk mendukung konsumsi. (T) 

Catatan:

Beberapa pemikiran dan kutipan dalam bagian II bersumber dari karya Wolfgang Fritz Haug (Critique Commodity Aesthetics: Appearance, Sexuality and Advertising in Capitalist Society, 1986), silahkan bandingkan dengan buku Dr. Douglas Keller (Teori Sosial Radikal, 2003) dan dasar teori Jean P Baudrillard dalam La societe de consummation, 1970 (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Masyarakat Konsumsi, 2004).

  • Tulisan ini dibacakan dalam acara “Temu Penyair Bali” dan peluncuran buku “Edisi Hitam Putih Antologi Puisi Bali” digelar di Taman Budaya Bali, Sabtu 20 Mei 2006.
Tags: BahasaiklanPuisi
Share70TweetSendShareSend
Previous Post

Pecinta Ahok Susah “Move On”, Begini Cara Mereka Mengungkapkan Isi Hati

Next Post

Bakta dan Bakti

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post

Bakta dan Bakti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co