23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Berat-Ringan Tak Perlu Timbangan – Cukup Berperan Bodoh Seperti I Belog

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

“Bagaimanakah caranya mengajarkan berat-ringan kepada anak usia dini pada PAUD? Apakah harus dengan menimbang benda-benda dengan timbangan yang menampilkan angka-angka? Sedangkan, mereka belum memahami konsep bilangan,” pikir Made Adi.

Di sisi lain, anak seumuran PAUD merupakan masa kanak-kanak bukan anak SD. Masa kanak-kanak merupakan masa bermain yang selalu ada dalam pikiran anak. Oleh karena itu, tidak mungkin langsung mengajarkan tentang berat.

“Anak-anak, hari ini kita belajar tentang berat. Mari kita menimbang benda-benda ini dengan timbangan,” misalnya ucap guru dalam pembukaan kelas. Tentu, anak-anak SD akan langsung paham yang harus mereka kerjakan. Bagaimana dengan anak PAUD?

Tentu, anak-anak seumuran itu akan kesulitan melakukannya. Mereka hanya akan memain-mainkan saja benda-benda itu seperti menekan-nekan timbangan, membentur-benturkan benda-benda yang dipegangnya. Mereka akan sibuk memainkan benda-benda itu sesuai keinginan imajinasinya.

“Oh, mengapa aku tidak menceritakan ‘I Belog Membeli Bebek’ untuk memperkenalkan berat ringan? Dulu, ketika  belum ada namanya sekolahan PAUD, anak-anak bersuka cita menikmati cerita I Belog dari bawah sinar terang bulan. Mereka tak mau menjadi seperti I Belog. Mereka ingin menjadi anak yang cerdas. Dari cerita I Belog, kakek nenek menjadi guru dan sekaligus menjadi sekolah PAUD,” ucap Made Adi dalam hati seakan baru bangun dari lamunannya.

Keesokan harinya, Made Adi masuk ke kelas PAUD. Ia menyapa dan menanyakan kabar anak-anak. Anak-anak dengan antusias menyambut Made Adi. Sebab, Made Adi hanya dua kali seminggu menemani anak-anak bermain.

“Anak-anak, mau dengar cerita dari kakak, nggak?” kata Made Adi.

“Mau, Kak.” ucap anak-anak serentak.

“Kalau begitu, dengarkan baik-baik cerita kakak,” pinta Made Adi.

Made Adi mulai menceritakan kisah “I Belog Membeli Bebek”.

***

Dikisahkan, I Belog hidup bersama ibunya. Suatu hari menjelang piodalan Pura Kumulan, ibunya sibuk membuat sesajen. Namun, ibunya belum membeli bebek untuk persembahan di Pura Kumulan. Ibunya berencana meminta I Belog untuk membeli bebek di pasar.

“Belog, tolong belikan ibu satu bebek di pasar! Beli bebek yang berat dan besar! Jangan membeli bebek yang ringan!” pinta ibunya.

“Ya bu, aku akan pergi membeli bebek di pasar,” ucap I Belog.

“Ini uangnya Rp 100.000.“ ucap ibunya sambil menyodorkan uang.

I Belog mengambil uang pemberian ibunya dan lekas pergi ke pasar. I Belog berjalan ke pasar menyusuri pinggiran sungai. I Belog berjalan sambil mengingat-ingat pesan ibunya yang harus membeli bebek yang berat dan besar.

“Gedebuuuuuk,” I Belog terjatuh kesandung batu besar karena tidak memperhatikan jalan.

“Aduh, sakit. Siapa sih yang menaruh batu besar ini di jalan,” ucapnya lirih. I Belog menggosok-godok kskinya yang sakit.

“Batu sialan ini,” ucap kesal I Belog mengangkat batu besar itu dan melemparnya ke sungai. Batu itu hilang tertelan sungai.

I Belog melanjutkan perjalanannya ke pasar. Sampailah I Belog di pasar. I Belog segera menuju ke pedagang bebek. “Pak, beli satu bebek.Aku beli bebek yang berat dan besar. Jangan kasih bebek yang ringan!” pinta I Belog.

“Ada, Nak. Bebek-bebek yang bapak jual di sini semuanya bagus-bagus,” jawab pedagang bebek.

Pedagang bebek pun mengambil bebek yang paling besar dan berat. “Ini bebeknya. Sudah bapak pilihkan yang paling berat. Harganya Rp 50.000,” ucap pedagang bebek memberikan bebek itu kepada I Belog.

“Benar ini bebeknya yang paling berat? Bapak tiadk bohong kan?” tanya I Belog sambil memberi uang Rp 100.000 kepada pedagang bebek.

“Benar, Nak. Mana bapak berani bohong. Kalau bapak bohong, nanti pembeli yang lain tidak mau beli bebek bapak lagi,” jawab pedang bebek sambil memberi uang kembalian Rp 50.000 kepada I Belog.

Ketika sudah membeli bebek sesuai pesanan ibunya, I Belog pergi pulang membawa bebek. Dalam perjalanan pulang, I Belog kembali melewati jalan yang sama ketika jalan ke pasar. Namun, I Belog menghentikan langkahnya tepat di jalan ketika ia terjatuh saat berangkat ke pasar.

“Aku di sini tadi jatuh tersandung batu besar. Batu tadi itu berat, buktinya tenggelam di sungai,” pikir I Belog.

I Belog lama memikirkan kejadian ia jatuh karena batu itu. “Ah, mengapa aku tidak membuktikan beratnya bebek ini? Kalau bebek ini berat, pasti akan tenggelam seperti batu tadi. Coba buktikan sajalah dari pada dimarahi sama ibu karena membeli bebek ringan,” ucap I Belog dalam hatinya.

I Belog melempar bebeknya ke sungai. Ternyata, I Belog melihat bebeknya mengambang tidak tenggelam seperti batu yang dilemparnya tadi.

“Dasar pembohong pedagang bebek itu. Aku diberikan bebek yang ringan. Kalau aku tahu, tidak akan pernah membeli bebek di tempatnya,” kata I Belog kesal karena merasa di bohongi.I Belog pergi pulang meninggalkan bebek di sungai sendirian.

Dengan penuh rasa kesal, sampailah I Belog di rumah. I Belog pun duduk di teras rumah. Mendengar anaknya datang, ibunya keluar dari dapur ingin mengambil bebek.“Belog, mana bebeknya? Kamu kok tidak bawa apa-apa?” tanya ibunya bingung karena tidak melihat ada bebek.

“Ah, aku tinggal bebeknya di sungai. Abisnya, aku dibohongi sama pedagang bebek. Katanya bebeknya berat, tapi aku lempar ke sungai tidak tenggelam,” ucap I Belog yang masih kesal.

“Haaaaa, I Belog-ku sayang, jelas bebeknya tidak tenggelam. Bebek itu bisa berenang. Walaupun bebek itu berat, tidak akan pernah tenggelam,” ucap ibunya tersenyum melihat ketidaktahuan anaknya.

Mendengar perkataan ibunya, I Belog loncat lari meninggalkan ibunya. “Mau ke mana kamu Belog?” tanya ibunya I Belog.

“Aku mau ngambil bebeknya di sungai,” jawab I Belog.Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia takut bebeknya tak ada lagi di sungai itu.

“Bebeknya pasti sudah pergi. Beli lagi saja bebeknya di pasar,” teriak ibunya. Benar saja, ketika I Belog sampai di sungai itu, bebeknya sudah tidak ada lagi.

“Kemana ya bebeknya pergi?” pikir I Belog penuh penyesalan.

Ketika I Belog menyadari kesalahannya, ia pergi ke pasar membeli lagi bebek dengan sisa uang dari ibunya. Dengan menahan rasa malunya, I Belog pulang membawa bebek pesanan ibunya.

Ibunya tersenyum melihat anaknya membawa Bebek. “I Belog-ku sayang, besok-besok kalau belum ngerti dengan permintaan ibu, tanya dulu,” pinta ibunya.

“Iya bu, aku ngerti,” jawab I Belog.

Mengingat kejadian itu, I Belog selalu bertanya semua hal yang tidak dimengerti kepada ibunya.

***

Mendengar cerita I Belog itu, anak-anak PAUD protes terhadap kebodohan I Belog. “Mana mau bebeknya tenggelam. Bebeknya bisa berenang kok,” celetuk salah satu anak.

Kebodohan I Belog memberikan pengalaman awal bahwa benda yang besar bentuknya pasti berat. Kemudian, benda yang dilihatnya kecil pasti ringan. Anak akan mampu menganalisis pengalamannya jika diberikan dua perbandingan benda yang sangat jauh ukurannya.

Tapi ingat, benda yang dibandingkan adalah benda yang memiliki sifat yang sama. Sebab, pengalaman anak PAUD selalu berkembang dengan membandingkan pengalaman sebelumnya. Ini seperti perkembangan teori dalam ilmu pengetahuan yang akan terus berubah ketika menemukan bukti baru. Kemudian, anak-anak akan semakin tajam menyimpulkan pengalamannya ketika kita pura-pura bodoh dalam merangkai pengalamannya.

Made Adi mengambil gelas dan ember kecil yang diisi penuh pasir. Lalu, Made Adi mengangkat gelas dan ember itu di depan anak-anak. “Oh, berat sekali pasir di gelas ini. Tapi, pasir di ember ini ringan sekali,” ucap Made Adi pura-pura bodoh.

“Yang itu berat, Kak,”  ucap salah satu anak menunjuk pasir yang ada di ember.

“Bukan pasir di ember ini, tapi pasir di gelas ini yang lebih berat,” ucap Made Adi menentang pendapat anak itu.

“Aku ngangkat, Kak,” celetuk salah satu anak mendekati Made Adi.

Made Adi memberikan gelas dan ember kecil penuh pasir pada anak itu. Anak itu mengangkat dan membanding-bandingkan.

“Ah, ini beratan yang ini,” ucap anak itu memperlihatkan ember yang diangkatnya.

Semua dalam kelas PAUD itu pun riuh ingin mencoba  membuktikan dengan mengangkat gelas dan ember kecil penuh pasir itu. Made Adi pun memeberikan kesempatan kepada anak-anak PAUD itu mencoba mengangkatnya.

“Kakak ne, bodoh kayak I Belog,” ucap anak-anak PAUD itu protes.

Made Adi hanya tersenyum mendengar keriuhan ucapan anak-anak.Made Adi menyadari bahwa pura-pura bodoh bukan keseriusan membodohi anak-anak, tetapi keseriusan mengambil peran bodoh pada saat yang tepat. Sebab, keseriusan mengambil peran bodoh seperti I Belog akan semakin membangkitkan pengalaman belajar anak.

Karena paling mendasar, ilmu akan muncul ketika saat mengerjakan, memainkan obyek-obyek di lingkungan kita. Karena kita akan terlibat aktivitas pengamatan yang pada akhirnya menghasilkan pengalaman yang memberikan pemahaman dan ilmu.

Ini seperti mendengar kisah Newton menemukan gravitasi, dulu ketika sedang jalan-jalan di kebun, ia melihat apel jatuh dari pohon. Kemudian, langsung teori gravitasi muncul dalam pikirannya. Hal ini dikenal sebagai lelucon atau kebodohan di seluruh dunia. Namun, dari lelucon itu, Newton melakukan pengamatan dan penelitian bertahun-tahun yang menghasilkan pengalaman rumit sehingga memahami sebagai hukum gravitasi. Dari lelucon atau kebodohan, Newton memaknai dan mempertanyakannya sehingga membawanya sebagai bapak gravitasi.

“Ah, sungguh serius peran bodah itu. Apakah mungkin, selama ini peran pintar yang terlalu serius membuat anak-anak menjadi bodoh?” pikir Made Adi. (T)

Tags: anak-anakdongengpendidikan usia dini
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Arnata Pakangraras# Kota Ini Hanya Cahaya

Next Post

Pilgub Jakarta, Rasa Pilpres atau Hanya Simulakra Dunia Televisi

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post

Pilgub Jakarta, Rasa Pilpres atau Hanya Simulakra Dunia Televisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co