26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hari Ibu”, “Mulut”, “Tua”: Tiga Perempuan Mematangkan Jiwa Keaktoran dalam Diri

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
February 2, 2018
in Ulasan

Desi Nurani saat mementaskan lakon Mulut karya Putu Wijaya dalam Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya di Kampus Undiksha, Kamis 23 Maret 2017. /Foto: Mursal Buyung

DENGAN sangat percaya diri harus diakui Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya memberi sumbangan yang besar dalam membentuk aktor untuk menjadi lebih matang. Aktor muda meningkatkan kepercayaan dirinya untuk belajar, berproses, dan bereksperimen, agar pada pementasan berikutnya ia menjadi lebih jago mengusai tubuh sendiri sekaligus menguasai panggung, baik panggung pementasan maupun panggung kehidupan teater yang lebih luas.

Hal itu bisa dilihat pada hari kedua serangkaian pembukaan Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya yang berlangsung pada hari Kamis 23 Maret 2017 pukul 19.00 di ruang teater  Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha. Malam itu ditampilkan tiga pementasan dengan aktor/aktris yang semuanya perempuan. Ketiga-tiganya masih bisa disebut muda secara usia maupun pengalaman pentas.

Hari kedua Festival Monolog Putu Wijaya itu dimulai dengan orasi budaya oleh Hardiman Adiwinata. Setelah itu dilanjutkan dengan monolog “Hari Ibu” oleh Teater Kampus Seribu Jendela. Pementasan monolog kedua oleh Komunitas Mahima yang mementaskan “Mulut”. Pementasan terakhir oleh Teater Arik Sariadi yang memainkan naskah “Tua”.

Pembukaan diawali dengan orasi budaya oleh Hardiman Adiwinata tentang “Seni, Ambiguitas dan Manusia”. Secara garis besar, Hardiman mengatakan bahwa teoritikus dan kritikus yang membaca karya seni pada hari ini banyak mengabaikan ‘apa yang tampak,’ semacam persoalan bentuk, wacana, tubuh, teks.

Para teoritikus dan kritikus lebih tertarik kepada isi, muatan, atau konteks atau ‘apa yang disampaikan’. Pembacaan yang tenang dengan tata cahaya yang agak redup, Hardiman menyampaikan orasi selama sekitar 13 menit. Selama itu pula, penonton tetap duduk santai dan sesekali mengabadikan orator yang pada saat itu berada di pojok kiri ruang teater.

Hari Ibu

Dilanjutkan pementasan Teater Kampus Seribu Jendela dengan aktor Yusna Safitri dan disutradarai langsung oleh Hardiman Adiwinata. Pementasan dengan judul Hari Ibu itu dimulai dengan tembakan LCD ke arah kain putih yang menampilkan lukisan perempuan. Tentu saja, sebagian kecil sinar LCD menembus kain putih sehingga membuat langit-langit ruang teater ikut terkena cahaya, namun hal itu justru menambah keindahan artistik pementasan ini.

Yusna Safitri mementaskan lakon Hari Ibu karya Putu Wijaya dalam Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya di Kampus Undiksha, Kamis 23 Maret 2017. /Foto: Mursal Buyung

Suara nyanyian serta percikan air ditampilkan secara live di sisi kiri ruang teater. Lalu siluet aktor yang muncul di tengah-tengahnya. Impresi awal yang luar biasa. Yusna semacam memberi keteduhan satir seorang ibu. Tidak ada emosi yang meledak-ledak dan terkesan bermain tegang namun santai. Hal menarik dari pementasan ini adalah repetisi dari salah satu adegan yang cukup membuat penonton kebingungan.

Sehingga tepuk tangan penonton terjadi lebih dari tiga kali. Satu hal yang disayangkan adalah tehnik muncul aktor. Pada dasarnya, jika kostum dan make up sudah dikenakan maka disitulah aktor harus sudah menanggalkan identitas dirinya dan mulai mengenakan identitas panggung.

Sedangkan pada pementasan ini, aktor muncul seolah-olah belum berakting atau barangkali memang sengaja dibuat demikian. Selain hal itu, pementasan ini luar biasa.

Mulut

Berlanjut ke pementasan kedua oleh Komunitas Mahima dengan aktor Desi Nurani dan Sutradara Kadek Sonia Piscayanti. Pementasan berjudul Mulut ini lebih minimalis dan memfokuskan pada kekuatan aktor. Bisa dikatakan minimalis karena tata suara hampir tidak ada dan artistik di panggung hanya sebuah kursi, sebuah meja dan satu kotak kecil make up.

Desi Nurani bermain total saat mementaskan lakon Mulut karya Putu Wijaya. /Foto: Mursal Buyung

Panggung dibuat lebih sempit dengan tata cahaya yang hanya berfokus pada bagian kanan panggung. Memang, keaktoran Desi Nurani layak diacungi jempol. Mulai dari pengaturan tempo sampai stamina mampu dijaga dengan sangat baik dan yang terpenting, pesan dari naskah ‘Mulut’ sampai ke telinga penonton.

Terlepas dari sedikit adegan di mana Desi hampir terperosot akibat lantai yang agak licin dan kursi yang salah satunya kakinya patah akibat dihentakkan terlalu keras, pementasan ini tidak kalah menarik.

Tua

Pementasan terakhir, naskah ‘Tua’ oleh Teater Arik Sariadi yang dimainkan dan disutradarai oleh Arik Sariadi. Tidak jauh berbeda dengan pementasa sebelumnya, pementasan ini juga mengambil tempat yang sama dengan setting lampu yang lebih general. Tata suara pementasan ini hanya biola dan gitar yang dimainkan secara live di belakang layar.

Arik Sariadi memainkan lakon Tua karya Putu Wijaya. /Foto: Mursal Buyung

Memanfaatkan kursi patah yang digunakan saat pementasan tadi dan kain berwarna biru, Arik Sariadi memainkan naskah Tua dengan sangat ciamik. Permainan tempo Arik Sariadi sangat rapat sehingga hampir tidak ada jeda bagi penonton untuk sekedar menghembuskan nafas lega. Suasana agak mencekam dari awal sampai akhir ditambah tata suara yang demikian pas, membuat penonton tidak bisa memalingkan mata dari panggung.

Pada hari kedua ini, fokus pementasan memang lebih banyak ke aktor. Terlepas dari perbedaan naskah, ketiga aktor bisa dibilang bermain dengan porsi yang cukup. Tentu keaktoran untuk setiap naskah berbeda-beda. Sehingga agak tidak mungkin mengatakan pementasan A lebih baik dari pementasan B. begitu pula sebaliknya.

Sehingga barangkali apa yang paling penting dari sebuah pementasan bukanlah hari H saat pementasan. Melainkan proses menuju pementasan. Perlu diingat bahwa proses tidak akan menghianati hasil. Maka jalanilah proses dengan sungguh-sungguh. Salam budaya dan selamat menyaksikan monolog selama tahun 2017. (T)

Singaraja, 2017

Tags: baliFestival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologPutu Wijayaseni pertunjukanTeaterUndiksha
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Semua Kucing itu ada di Penjara

Next Post

Film Dokumenter sebagai Perangkat Penelitian Antropologi

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Film Dokumenter sebagai Perangkat Penelitian Antropologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co