27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 5, 2023
in Esai, Pilihan Editor
“Poetry, Sound and Sense”, Ketika Miley Cyrus Membius Dunia dengan Flowers

Miley Cyrus | Foto hasil tangkap layar dari youtube Miley Cyrus - Flowers (Official Video)

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Apakah anda sedang menyanyikan sebuah lagu yang sangat populer saat ini?

Yes. Anda sama dengan saya. Kita barangkali semua sedang dibius oleh lirik lagu Miley Cyrus. Sepakat dengan kebanyakan manusia di bumi ini, sekitar 165 juta orang (saat tulisan ini dibuat) yang menonton lagu ini di youtube, 100 juta kali putar di Spotify dan memuncaki Billboard Hot 100 selama hampir dua puluh hari.

Bagaimana lagu ini bisa melekat dan mencengkeram kepala kita? Dia menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang yang patah hati dan kembali bangkit. Dari respon yang meledak di youtube dan social media lainnya, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar orang mengatakan terkesan dengan lagu ringan sekaligus berat ini. Bagaimana ceritanya lagu ringan ini menjadi berat sekaligus?

Saya tidak akan membedah Miley secara personal, karena kalian bisa membacanya di ribuan sumber lain, kali ini saya ingin membedah  lirik lagunya.

Saya akan membedah lagu ini dari sudut pandang poetry, sound and sense, imagery, dan voice.

Sound and Sense

Sound and Sense adalah sebuah judul buku teori puisi karangan Laurrence Perrine yang mengatakan bahwa sastra adalah sebuah verbal works of arts. 

Dalam konteks puisi, sebagai kata kerja yang mengandung nilai seni, kata-kata dalam puisi bukanlah sembarang kata. Ia mengatakan sesuatu yang sederhana menjadi lebih intense dan padat, kata-kata menjadi lebih padat, menjadi lebih kuat, karena diberi tenaga atau diberi kuasa untuk menyampaikan pesan.

I can buy myself flowers
Write my name on the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand

Sound yang kita dengar adalah keserasian bunyi dan jumlah suku kata tiap barisnya. Baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua dengan 6 suku kata, baris ketiga dengan 7 suku kata, dan baris keempat dengan 7 suku kata. Flowers berima dengan hours. Sand berima dengan understand. Ketika dinyanyikan, baris ini terasa singkat, padat, cermat.

Maknanya “aku bisa membelikan diriku sendiri bunga”, “menulis namaku di pasir”, “bicara pada diriku sendiri berjam-jam”, “tentang hal yang tak kau pahami”.

Mengapa kata-kata itu terbit demikian rupa. Mengapa harus dia memilih kata-kata semacam flowers, memilih pasir, memilih bicara pada diri sendiri,  tentang kata-kata yang tak dipahami.

Flowers sering sekali menjadi symbol cinta, yang biasanya diberikan oleh laki-laki kepada perempuan. Seringkali flowers menjadi harapan akan cinta yang mekar, berwarna, indah, harum, dan segala hal baik lainnya. Biasanya perempuan suka berharap pasangannya memberi bunga, seolah dia ingin dipuja, dicinta, disayang.

Dalam lagu Miley, justru sebaliknya, dia mengatakan “Aku bisa membeli bunga untuk diriku sendiri,” sebagai sebuah perlawanan pada stereotype perempuan suka bunga, tepatnya dihadiahi bunga atau dibelikan bunga.

Lagu ini mengatakan, tidak perlu kau belikan, aku beli sendiri mampu. Apalagi Cuma bunga murahan, cuihh. Tak sudi. Seolah begitulah yang ingin dia katakan. Bagian lagu ini menjadi viral di mana-mana, seolah menjadi anthem atau lagu kebangsaan perempuan perkasa di luar sana.

Beberapa komentar di social media mengatakan inilah lagu yang menginspirasi kemandirian perempuan. Di youtube misalnya ada komentar yang saya kutip sebagai berikut.

Nothing better than self love. I think this song is inspiring to all women. It helps us see we should all look for love within ourselves rather than depending on someone else for that. Especially when that person is unreliable, and puts you down.

Dari komentar ini kita tahu bahwa lagu Miley membangkitkan semangat mencintai diri sendiri dan tidak bergantung pada laki-laki, khususnya dalam konteks hubungan yang tidak sehat.

Jadi lirik lagu Miley tak hanya puitis, namun juga mengandung logika yang bermakna sangat luas dan memberi dampak pada feminisme global setidaknya memberi semangat pada perjuangan perempuan untuk tidak mencari validasi kebahagiaan pada laki-laki. Kerapnya lagu ini diputar di berbagai platform menjadi semacam reminder bahwa perempuan harus punya tujuan dan bahagia dengan diri sendiri.

Imagery

Dalam puisi terdapat salah satu jenis metafora yang disebut imagery. Imagery adalah sebuah gaya bahasa yang membuat kita seolah-olah mampu melihat image atau gambar yang jelas dan nyata dalam sebuah kata.  

Lirik lagu Miley mengandung imagery dalam bait berikut.

We were good, we were gold
Kinda dream that can’t be sold
We were right til we weren’t
Built a home and watched it burn

Ada sebuah gambar yang disajikan disini, ada sebuah image tentang emas, mimpi, lalu sebuah rumah, dan bagaimana rumah itu terbakar. Kekuatan imagery ini menjadi sebuah tenaga yang sangat kuat dalam bangunan lagu.

Pikiran kita menjelma menjadi sebuah peta tentang mimpi yang indah bagai kilau emas, bangunan rumah yang sempurna, lalu sia-sia ketika terbakar. Terlepas dari cerita nyata soal lagu ini, Miley telah berhasil menyulap pengalaman pribadinya menjadi puisi yang enak dan gurih. Terasa sangat nyata, terbayang di mata, dan sampai di jiwa.

Apakah ini kebetulan belaka. Saya rasa tidak. Miley telah menghitung semua dengan cermat, pilihan kata, pilihan suku kata, rima, dan irama, menjadi sebuah paket yang menjadikan lagu ini bukan saja easy listening tapi kuat secara utuh.

Bait lainnya yang juga menyajikan imagery yang kuat adalah bait berikut ini.

I can take myself dancing
And I can hold my own hands
I can love me better than you can

Secara visual kita bisa membayangkan, seseorang menari dengan dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiannya sendiri. Dia juga bisa memegang tangannya sendiri dan mencintai dirinya sendiri lebih baik, sebab mengapa tidak? Mengapa tidak.

Tak heran, dalam hanya tiga minggu sejak dirilis 13 Januari 2023, lagu ini telah ditonton 165 juta kali (dan terus akan bertambah) di youtube, menjadi lagu hits nomor satu selama hampir dua puluh hari. Ini menjadi inspirasi ribuan orang melakukan peniruan atau meme menggunakan lagu Miley di berbagai platform social media.

Voice

Mengapa lagu ini menjadi sangat fenomenal? Voice yang dibawa, pesan di balik lagu ini tentang pentingnya menjadi diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan mencintai lebih sendiri, adalah semacam pengingat bahwa tidak perlu orang lain untuk hadir dalam memvalidasi kebahagiaan kita.

Dengan lirik yang membakar seperti itu, tak berlebihan rasanya Miley kini menjadi simbol kekuatan perempuan dalam membahagiakan dirinya sendiri. Perjuangan Miley dalam kehidupan pribadinya sendiri rupanya telah dilihat publik sebagai sebuah proses pendewasaan Miley yang mengubahnya dengan total.

Banyak yang menghubungkan lagu ini dengan kisah cinta Miley dengan Liam Hemsworth aktor Hollywood yang menjalani hubungan asmara on and off atau putus nyambung, menikah di tahun 2018 dan bercerai di tahun 2020.

Rumor mengatakan Liam terlibat skandal dengan perempuan lain selama masih bersama Miley. Dan, jika rumor itu benar, lagu ini barangkali sebuah tamparan bagi Liam, dirilis tepat di hari ulang tahunnya pula!

Pada bait ini tercermin bangkitnya semangat Miley kembali.  

I didn’t wanna leave you I didn’t wanna lie
Started to cry but then remembered I
I can buy myself flowers
Write my name in the sand
Talk to myself for hours
Say things you don’t understand
I can take myself dancing
And I can hold my own hand
Yeah I can love me better than you can

Intinya adalah aku bisa mencintai diriku lebih baik dari kamu. So, tidak perlu sibuk menunggu kamu membahagiakanku.

Inti dari semangat mencintai diri sendiri inilah yang menjadi pesan Miley kepada semua orang di dunia. Ini semacam pengingat bahwa apapun yang terjadi, cintailah diri sendiri sehingga kamu bahagia.

Singkatnya, selamat Miley dan selamat bangkit semua pejuang hidup yang belum pernah mencintai diri sendiri, namun berusaha mencintai orang lain, kini waktunya untuk kembali mengingat makna bahagia itu di dalam diri sendiri.

Dan apakah sesungguhnya kita menunggu Miley untuk mengatakan itu baru kita percaya, bahwa self-love itu baik dan berguna? Sepertinya tidak, namun dengan reminder global yang disuarakan terus menerus di setiap detik, sepertinya kesadaran itu bangkit kembali, karena bukankah demikian fungsinya seni, fungsinya sastra, membangkitkan kekuatan yang sudah ada, dengan nafas baru yang lebih segar dan bertenaga. [T]

Singaraja, 4 Februari 2023

[][][]

BACA artikel lain dari penulis KADEK SONIA PISCAYANTI

Exploring Society of Mind and Mind of Society in Colors of Bali
“Het Achterhuis” | Catatan Anne Frank 12 Mei yang Menggetarkan Hati Dunia
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: artis dunialaguMyley CyrusPerempuanPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hantu yang Selalu Perempuan dalam Film Indonesia dan 5 Film Horor yang Wajib Ditonton

Next Post

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
0
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

Read moreDetails

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
0
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

Read moreDetails

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
0
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

Read moreDetails

Negeri Pesugihan

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

Read moreDetails

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali”

Anak-anak Hindu dan Muslim Berbaur dalam Lomba Menggambar “Satua Bali"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co