23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gde Dana dan Made Suke, Penganyam Bambu dari Tajun — “Keben” dan “Sokasi” yang Khas dan Estetik

Komang Sujana by Komang Sujana
January 6, 2023
in Feature, Pilihan Editor
Gde Dana dan Made Suke, Penganyam Bambu dari Tajun — “Keben” dan “Sokasi” yang Khas dan Estetik

Jro Gde Dana dan hasil kerajinan anyaman bambu berupa wakul dan keben

SEJAK TAHUN 1990-AN masyarakat Desa Tajun di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, pasti tidak asing dengan keben atau sokasi  tempat banten buatan Gde Dana dan Made Suke.

Tidak sedikit masyarakat Desa Tajun menggunakan keben buatannya saat upacara keagamaan. Bahkan sampai sekarang produk keben dan produk anyaman bambu lain dari Gde Dana dan Made Suke tetap eksis di masyarakat. Bisa disebut, kakak-beradik itu adalah penganyam bambu legendaris dari Desa Tajun.

Gde Dana (44) dan Made Suke (43)  adalah dua bersaudara yang lahir di Desa Tajun dari keluarga sederhana pasangan Putu Ngurah dan Made Mirah. Orang tuanya hanya bisa menyekolahkannya sampai SD. Mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan membuat kerajinan bambu baik di sekolah maupun di masyarakat.

Lantas bagaimana ceritanya, mereka bisa menjadi perajin anyaman bambu yang produknya tidak hanya digunakan oleh masyarakat Desa Tajun dan sekitarnya tetapi beredar sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar?

Jero Gde Dana, begitu ia dipanggil sekarang. Nama Jro di depan namanya adalah sebutan kehormatan karena ia kini menjadi salah satu pamangku kahyangan desa di Desa Tajun sejak tahun 2000.

Ia mengenal anyaman bambu sejak kelas 1 SD. Adalah bibinya, Made Subanda, yang pertama kali mengenalkannya pada anyaman bambu.

 Saat itu ia memerhatikan bibinya membuat anyaman bambu yaitu pangukusan (alat untuk menanak nasi). Jero Gede Dana kemudian tertarik untuk bisa menganyam. Ia belajar autodidak. Ia mencermati contoh anyaman bambu yang sudah ada. Akhirnya Jero Gede Dana berhasil menjual anyaman pangukusan pertama kali saat kelas 4 SD.

Made Suke dari Tajun sedang mengayam

Sadar bahwa anyaman bambu bisa mendatangkan uang, Jero Gede kemudian benar-benar menekuni kerajinan anyaman bambu. Saat kelas 6 SD, ia dan adiknya Made Suke latas belajar bersama untuk bisa membuat produk lain, seperti keben dan wakul.

Kata Made Suke, saat itu keben milik orang tua yang sudah jadi ia bongkar untuk bisa mencontoh pola anyamannya. Setelah bisa meniru secara utuh, ia lantas secara kreatif mengembangkan pola anyaman sehingga produknya khas.

Kondisi orang tua yang tidak mampu adalah penyebab utama Jero Gde Dana dan Made Suke menggeluti kerajinan anyaman bambu. Lahir dari keluarga sederhana, mereka sadar betul tidak bisa bersekolah lebih tinggi.

Namun, mereka tidak patah semangat. Justru kondisi ini menjadi pemantik dua bersaudara ini untuk terus belajar agar setelah tamat SD bisa memiliki keterampilan yang menghasilkan untuk meringankan beban orang tua.

Tidak hanya  mampu meringankan beban orang tuanya. Jero Gede Dana dan Made Suke merasakan betul hasil kerajinan anyaman bambu mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Pada tahun 2001, Jero Gede Dana bahkan pernah menjadi tutor membuat anyaman bambu tingkat kecamatan di Desa Bontihing. Pada tahun itu juga pemerintah memberikan legalitas usaha berupa SK Nomor 299/KBU/PLS/TJN/2001  dengan nama Kejar Usaha Anyaman Bambu “Sidha Karya”. Bantuan modal usaha juga pernah diperoleh dari pemerintah untuk mengembangkan usaha kerajinannya.

 Jero Gede Dana mengatakan walaupun di sela-sela kesibukannya sekarang sebagai melayani umat dirinya tetap menerima pesanan dan menganyam. Ini karena sudah menjadi janji dan komitmen bahwa tidak akan pernah meninggalkan profesi perajin yang sudah memberikan  kehidupan yang luar biasa.

Jenis Produk

Produk yang pertama kali ia buat adalah keben untuk tempat banten. Gede Dana dan Made Suka membuatnya dalam tiga jenis ukuran sesuai pesanan, yaitu ukuran besar 60 cm, menengah 40 cm, dan kecil 25 cm. Oleh karena hasil karyanya diminati, mereka lantas membuat produk anyaman lain seperti wakul tempat daksina dan tas gandek tempat bajra atau genta.

 Motif Khas, Estetik, dan Tahan Lama

Produk anyaman yang dibuat memiliki kekhasan dan keunggulan sehingga tetap diminati sampai sekarang.

 Motif yang unik adalah ciri khas anyaman bambu Jero Gede Dana dan Made Suke. Motif anyaman mulai dari motif pita, cakra, swastika, windu, sampai motif rantai.

 Selain motif tersebut, produk kreatifnya juga bisa diisi tulisan seperti nama sesuai dengan permintaan pembeli. Ini membuat keben dan wakul semakin estetik.

Produk keben dan wakul hasil olah tangan Gde Dana dan made Suke

Keben dan wakul yang dibuat juga kuat atau tidak lemas karena dibuat dari bambu pilihan. Bambu yang digunakan adalah jenis bambu (tiing) tali. Made Suke membelinya dari masyarakat Desa Tajun.

 Bambu terlebih dahulu dicat kemudian dibelah tipis-tipis. Setelah itu baru dianyam. Dengan ini warnanya pun menjadi lebih mengkilap dan tahan lama.

Pemasaran Sampai ke Gianyar

Pembeli produk-produk anyaman bambunya pada awalnya adalah masyarakat Buleleng khususnya Desa Tajun dan desa-desa sekitarnya. Oleh karena motif yang unik dan kualitas yang bagus pemasarannya sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar. Made Suke menuturkan pada tahun 2010 sempat kewalahan memenuhi pesanan dari Gianyar. Bahkan semua pesanan saat itu berisi nama.

Mengenai harga tentu tidak menguras isi kantong. Harga keben ukuran kecil misalnya, tidak lebih dari Rp 50 ribu. Sedangkan ukuran menengah harganya Rp 80 ribu, dan yang besar Rp 150 ribu.  Pun dengan harga wakul daksina berkisar Rp 40 ribu.

Seiring perkembangan zaman, berbagai jenis keben pun hadir di pasaran, seperti berbahan kayu dan plastik. Namun, produk-produk Jero Gede Dana dan Made Suke, seperti keben, wakul, tas gandek masih tetap diminati. Ia sampai sekarang menerima pesanan langsung di rumahnya juga melalui media sosial seperti facebook dan whatsapp.

Produknya tetap diminati selain karena kualitas bagus dan harga terjangkau, tentu juga karena motif unik dan estetik. [T]

Bukan Hanya Cengkeh dan Tuak, Desa Tajun Punya Atlet Voli, Karate Hingga Motocross
Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera
Dari Tajun, Komang Lolak Sastrawan yang Anak Buruh itu, Mendunia Lewat Karate
Wisata Spiritual “Malukat” di Pura Bukit Sinunggal | Suci di Dalam, Suci di Luar
Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan
Tags: Desa TajunKerajinan BambuUMKMusaha rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Subagia Jual Teh dan Krupuk Beras Merah Hingga Dubai

Next Post

Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co