23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

I Luh Febi Lorensa by I Luh Febi Lorensa
January 3, 2023
in Feature
Putu Mara, Transmigrasi dari Buleleng ke Sumatera: Tantangan Awalnya, Sukses Akhirnya…

Putu Mara bersama istri di daerah transmigrasi di Sumatera Selatan

TIGA PULUH tahun lalu, tepatnya tahun 1992, Putu Mara, memantapkan diri untuk menjelajah kehidupan baru di daerah yang baru. Ia pun bersiap untuk bertualang, tepatnya bertransmigrasi dari desanya di Anturan, Buleleng, Bali, menuju Sumatera Selatan.

Selama 30 tahun itu banyak liku-liku hidup yang dilaluinya. Penuh suka, juga duka. Penuh tantangan, penuh pelajaran. Hingga kini, di usianya yang ke-65, Putu Mara boleh dibilang sebagai salah satu warga transmigran Bali yang sukses.  

Tantangan pertama ia hadapi ketika naik kapal untuk berangkat ke bumi Sumatera melalui laut. Untuk pertamakalinya, saat itu. Ia naik kapal laut.

“Saya ingat, saat itu saya menempuh perjalanan menggunakan kapal laut selama dua hari dua malam dan terjadi gelombang laut yang sangat besar,” cerita Putu Mara mengenang awal perjalanannya menuju Sumatera.

Peristiwa itu membuatnya trauma. Ditambah lagi, saat di kapal laut itu, terdapat warga transmigrasi lain yang mengalami serangan jantung dan meninggal di tempat. Namun trauma itu berusaha ditelannya. Putu Mara bersama warga transmigrasi lainnya tetap memiliki prinsip dan tujuan yang teguh untuk mengubah nasib.

Alasan Putu Mara bersama warga transmigrasi lainnya dengan rela meninggalkan tanah kelahiran karena factor ekonomi.

“Meski Bali adalah tanah kelahiran saya, tetapi pada saat itu saya tidak mempunyai apa-apa. Saya mempunyai saudara kandung laki-laki banyak, sedangkan saya anak pertama yang sudah berkeluarga tidak memungkinkan untuk saya tinggal satu atap di rumah orang tua saya yang kecil. Jadi saya memutuskan untuk ikut program transmigrasi inidengan  harapan saya pada saat itu dapat mengubah nasib saya,”  kata Putu Mara.

Setelah melewati tantangan di laut lepas, Putu Mara bersama keluarga dan warga transmigran lainnya pun tiba di daratan. Mereka naik kendaraan menuju dearh di mana mereka akan tinggal dan menyambung hidup. Daerah yang ditempati Putu Mara bernama Desa Penilikan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan.

Di tempat itu, Putu Mara mendapatkan bekal untuk memulai kehidupan baru. Ia mendapatkan sebuah rumah berbahan dasar kayu, tanah seluas 1 hektar beserta bibit pohon karet, dan tanah seluas 1 hektar lagi lengkap dengan bibit pohon kelapa sawit.

“Kami merasa senang dengan hal itu dan membuat perjalanan kami tidak sia-sia,” kata Putu Mara.

Putu Mara langsung bersiap untuk bekerja. Tekadnya sudah bulat ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik, meski berada di negeri orang.

Namun, mengubah kehidupan bukanlah pekerjaan instans. Lahan yang diserahkan oleh pemerintah itu masih berupa hutan.

“Kami harus benar-benar dari nol merintis perkebunan, mulai dari menebang hutan, hingga menanam jatah bibit yang telah diberikan oleh pemerintah,” katanya.

Setelah itu, Putu Mara dan kawan-kawan harus menunggu bertahun-tahun, hingga belasan tahun baru bisa menuai kerja keras itu.

Sehari-hari Putu Mara melakukan pembersihan lahan, pembibitan, pengairan, hingga pemupukan tanaman. Tak jarang Putu Mara dan kawan-kawan juga mendapatkan gangguang hewan buas seperti beruang, tapi semuanya dihadapi dengan sabar dan penuh perjuangan.

 “Semua itu dilakukan dengan sabar dan  tidak sedikit modal dan tenaga yang telah dikeluarkan sehingga ia akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan seperti sekarang ini,” ujar Putu Mara.

Kini Putu Mara hidup berkecukupan di Dusun 1, Desa Penilikan, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

Saat ini ia sudah memiliki aset tanah yang sudah atas namanya sendiri yaitu seluas 6 hektar. Dari 6 hektar itu, sebanyak 2 hektar berupa perkebunan kelapa sawit, dan 4 hektar perkebunan karet.

Putu Mara juga memilik dua rumah dengan model yang berbeda-beda. Satuu rumah mengikuti bangunan modern sesuai model bangunan rumah warga asli Sumatra Selatan karena kebanyakan rumah warga Bali di  daerah itu memang mengikuti model rumah yang sama, agar dapat berbaur dengan warga lokal.

Satu rumah lagi adalah rumah kayu yang didapatinya saat pertama kali datang ke daerah itu sebagai warga transmigran.

“Rumah itu masih saya rawat dengan baik karena mengandung banyak kenangan sehingga enggan untuk mengganti rumah itu,” kata Putu Mara.

Putu Mara pun mendukung dengan serius pendidikan dan pekerjaan anak-anak-anaknya. Ia memiliki empat anak, yakni 3 laki-laki san seorang perempuan. Anak-anak laki-lakinya sudah menikah dan mempunyai rumah sendiri-sendiri mereka juga dibekali perkebunan karet.

Anak perempuannya sedang menempuh pendidikan S1 di Pulau Bali dan satu anak laki-lakinya juga merupakan lulusan S1 pendidikan olahraga di kampus PGRI Palembang.

Warga etnis Bali di daerah transmigrasi Desa Penilikan dan sekitar hidup rukun sesama warga Bali maupun warga lokal. Putu Mara dan warga Bali lain masih memegang erat tradisi menyamabraya atau saling bantu-membantu saat ada upacara adat dan upacara agama, seperti upacara pengabenan dan  tiga bulanan anak.

Pada saat Hari Raya Galungan dan Kuningan warga etnis Bali di daerah masih tetap mendirikan penjor di depan rumah sehingga suasana Galungan di daerah itu sama dengan di Bali. Pada saat Hari Raya Nyepi warga masih menerapkan rentetan yang menyesuaikan tradisi di Bali seperti melasti, mengarak ogoh-ogoh keliling desa, dan menerapkan catur brata penyepian.

Putu Mara menjelaskan, kini tercatat kurang lebih warga Bali yang mendiami Desa Penilikan sekitar 113 KK. Mereka berasal dari berbagai desa di Bali, seperti dari desa-desa di Buleleng, di Nusa Penida di klungkung, Desa Seraya di Karangasem, dari Bangli, dan kabupaten lain dinya.

Warga etnis Bali di desa itu memiliki balai banjar dan desa itu memiliki akses jalan yang dibeton dan lumayan bagus, meski masih terdapat sejumlah jalan tanah yang becek dan licin jikalau musim hujan.

Saat menyamabraya mereka biasa saling mendatangi satu rumah dengan rumah lain dengan melewati akses jalan di desa itu. Jika menyamabraya keluar desa, misalnya menghadiri upacara warga Bali di daerah lain, warga Bali di Desa Penilikan tak jarang harus melewati jalan yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit dan karet.

“Karena saking kuatnya hubungan antara warga etnis Bali di desa satu dengan desa lainnya, sekaligus untuk menjaga tradisi leluhur di daerah transmigrasi, warga tetap bertekad untuk melewati jalan yang becek dan jauh bahkan kadang dengan mengendarai sepeda motor. Itu demi menjaga tradisi leluhur,” kata Putu Mara.[T]

Riset BRIN | Etnik Bali di Daerah Transmigrasi Sultra: Melestarikan Bahasa Bali, Menyesuaikan dengan Bahasa Etnik Lain
Ketut Suci dari Tejakula, dan Kesetiaan Menjual Bubur Mengguh
Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”
Tags: balibulelengdaerah transmigrasiperkebunanpertanianSumatera Selatantransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelestarian Gebug Ende: Dari Seraya Culture Fest di Karangasem Hingga Desa Sumberkima di Buleleng

Next Post

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

I Luh Febi Lorensa

I Luh Febi Lorensa

Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails
Next Post
Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Galungan dan Representasi Budaya Bali Dalam Kumpulan Puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” Karya Wayan Esa Bhaskara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co